Friday, November 2, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 10 Part 4

Sumber: jtbc


Yu Ri, Sutradara Park dan Asisten Sutradara melayat. Yu Ri menanyakan dimana Se Gye pada Woo Mi saat SUtradara Park dan Asisten Sutradara pergi duluan. 

Woo Mi: Dia keluar sebentar untuk menenangkan diri.

Yu Ri mengerti.


Yu Ri ke toilet dan disana ia bertemu Se Gye yang terus menangis dengan keras. Sebenarnya bukan hanya Yu Ri yang heran melhat Se Gye menangis seperti itu.

Yu Ri horor melihat Se Gye terus menangis, ia pun cepat-cepat meninggalkan toilet sampai lupa membawa lipstiknya.


Se Gye merasakan sesuatu, waktunya ia kembali, ia pun berhenti menangis, "Kenapa aku... Kenapa aku tidak berubah... sedikit lebih cepat?  Jadi Ibuku bisa melihat wajahku sebelum pergi."


Yu Ri sadar kalau lipstiknya ketinggalan, ia pun kembali dan berpapasan dengan Se Gye di pintu. Yu Ri sempat heran, "Tidak ada siapa pun di sini. Aku tidak melihatnya keluar."


Do Jae mendampingi Se Gye. Semua orang membicarakan mereka diam-diam, membahas soal mereka yang kembali berkencan.


Se Gye: Kau tidak perlu seperti ini. Aku tidak ingin... membuat situasimu menjadi sulit.

Do Jae malah menggenggam tangan Se Gye, "Kau yang saat ini sedang dalam situasi sulit dan sedih. Jangan bersikap bodoh. Ini bukan saatnya untuk memikirkan aku."


Sa Ra juga datang melayat. Ia memberi penghormatan untuk ibunya Se Gye. Kemudian mendekat pada Se Gye.

Sa Ra: Apa yang akan kau lakukan sekarang? Bahkan Ibumu sudah meninggal.

Do Jae: Kau...

Sa Ra: Setelah sebuah peristiwa sedih, semua kata-kata baik untuk menenangkan... tidak lagi terasa tulus. Aku mengalaminya. "Bertahanlah, semangat". Dibanding kata-kata semacam itu, "Bagaimana kau akan menjalani hidupmu mulai sekarang?" Hatiku mengingat.. orang yang mengatakan hal itu padaku. Sebab itulah aku bertanya.

Se Gye: Kukira, kau membenciku.

Sa Ra: Kau adalah orang yang disukai oleh kakakku. Itulah sebabnya aku kemari. Tetap saja, dia adalah kakakku.

Do Jae: Terima kasih.. sudah datang.

Se Gye: Aku tidak akan melupakan kau berbagi dukamu.. denganku hari ini.

Sa Ra: Kau tidak perlu mengingat hal semacam itu. Aku sungguh.. tidak ingin mengatakan ini. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Bertahanlah. Aku tulus mengatakannya.

Dan Sa Ra langsung pergi. 


Sa Ra berpapasan dengan Eun Ho. 


Mereka kemudian minum kopi bersama di luar. 

Sa Ra: Dia sengaja pura-pura tegar. Dia bahkan mungkin menyinggung duluan tentang lukanya. Dia mungkin tertawa dan membuat lelucon atas lukanya. Tapi, tidak satu pun yang nyata. Aku terbiasa seperti itu. Ketika menjadi jelas bahwa Ibuku tidak ada lagi untukku. Jaga temanmu dengan baik. Dengan cinta. Karena kau akan menjadi pelayan Tuhan.

Sa Ra pamit, ia tidak datang untuk menggoda Eun Ho. Ia sungguh datang untuk menghiburnya. Sampai jumpa. Terima kasih kopinya.

Eun Ho hanya diam menatap kepergian Sa Ra.


Woo Mi menyuruh Se Gye istirahat saja. 

"Mana mungkin bisa? Aku tidak bisa tidur."

"Kalau begitu, menangislah."

"Tuan rumah tidak seharusnya menangis. Kalau aku menangis, orang lain akan ikut menangis."

"Menangislah. Aku yang akan menggantikanmu, jadi menangislah. Sampai akhir aku tidak akan menangis, jadi kau menangislah, bodoh."


Woo Mi memeluk Se Gye, ia janji akan menahan tangisnya. Se Gye menangis dan Woo Mi pun tidak bisa menahan airmatanya. Eun Ho yang menggantikan WoOo Mi.

Eun Ho: Kalian berdua menangislah.

Mereka berdua pun mengeluarkan tangisnya.


Woo Mi dan Eun Ho tertidur. Tapi Se Gye masih terjaga. Se Gye terus menatap foto ibunya.

Do Jae mendekat, mengajaknya keluar sebentar bersamanya.


Se Gye: Menurutmu.. Ibuku tahu? Bahkan meski dengan wajah itu, dia langsung mengenaliku.

Do Jae: Mungkin, beliau tidak tahu. Beliau tidak tahu, tapi pada saat itu, kurasa segalanya menjadi jelas bagi beliau. Itulah yang terjadi padaku. Kau berdiri penuh duka di sana, dan aku dapat langsung mengenalimu. Aku berpikir, "Kau berdiri berduka di sana". Itu pula yang mungkin terjadi pada Ibu. Ah.. "Se Gye sedang menangis. Putriku.. sedang menangis". Ibuku memiliki intuisi yang bagus.


Se Gye: Aku berpikir, "Apa yang harus kulakukan tanpa Ibuku? Kurasa, sekarang aku sendirian di dunia ini". Tapi, aku menyadari bahwa aku tidak sendirian. Aku punya Woo Mi.. Eun Ho.. dan juga kau. Orang-orang di sekitarmu juga datang dalam kehidupanku. Dan orang-orang lain... Banyak orang datang untuk menghiburku. Aku tidak sendirian. Aku juga tahu itu. Aku sangat mengetahuinya. Tapi... Tetap saja, aku merindukan Ibuku. Kenapa aku? Kenapa harus aku? Kesalahan apa yang sudah kulakukan? Kesalahan apa yang sudah kulakukan... hingga aku tidak bisa... mengucapkan perpisahan pada Ibuku dengan wajahku sendiri?

Do Jae: Han Se Gye-ssi.


Se Gye: Dan bagaimana jika... aku tidak pernah kembali pada diriku sendiri suatu hari nanti? Bagaimana jika aku mengalami kecelakaan sebagai orang lain? Bagaimana jika aku mendadak mati sebagai orang lain? Dan bagaimana jika tidak seorangpun menyadarinya? Itulah yang membuatku takut. Tidakkah kau merasa lucu? Ibuku sudah meninggal, tapi hal itulah yang justru tebersit dalam benakku.

Do Jae: Bahkan jika hal itu terjadi padamu, aku akan menemukanmu. Aku akan menemukanmu. Dan seperti ini, aku akan menggenggam tanganmu lebih dulu.

1 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap