Thursday, November 1, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 10 Part 2

Sumber: jtbc


Eun Ho sengaja menunggu Sa Ra. Sa Ra bertanya, apa Eun Ho menunggunya? Eun Ho membenarkan. Lalu Sa Ra menyuruh sekretarisnya masuk lebih dulu.


Sa Ra: Kenapa? Kau ingin aku melakukan hal baik lainnya?

Eun Ho: Tidak. Akulah yang ingin melakukan hal baik.

Eun Ho membawa keik karena ia tahu Sa Ra belum makan keik sama sekali, karena Sa Ra tidak makan banyak. Padahal sedang berulang tahun.


Eun Ho mengeluarkan keiknya dan menyalakan satu lilin di atasnya. 

Eun Ho: Aku tidak akan menyanyi karena kurasa kau tidak akan menyukainya. Tiup lilinnya.

Sa Ra: Aku dapat tumbuhan... i hari ulang tahunku. Tumbuhan itu berarti... "Kebahagiaan yang ditakdirkan terjadi". Aku tahu tidak seharusnya seperti ini, tapi jika aku dapat memiliki kebahagiaanku, kurasa itu adalah dirimu.

Eun Ho: Apa?

Sa Ra: Aku menyukaimu. Kurasa, begitu.

Eun Ho: Aku... Aku baik pada semua orang. Jadi, mudah untuk salah paham padaku. Tapi, satu-satunya yang kucintai hanya Tuhan. Aku ingin mengikuti jalan Tuhan.

Sa Ra: Baiklah.

Eun Ho: Aku sering sekali mengatakannya. Sejak aku SD. Jadi, kau tidak perlu merasa kecewa...

Sa Ra: Katamu, kau tidak menyukai orang jahat. Tapi, kenapa kau jahat padaku?


Sa Ra meniup lilinnya dengan kasar. Ia berkata kalau ia  benci keik. Dan ia meninggalkan Eun Ho. 

Eun Ho sepertinya juga ada perasaan untuk Sa Ra.


Sa Ra tidak bisa konsen bekarja. Ie melihat sekitar sebelum melakukan sesuatu.

Sa Ra berdoa, "Meski aku tidak memiliki keyakinan, tapi aku agak terdesak. Tolong berikan pria itu padaku. Jika terkabul, aku akan banyak berdonasi ke gereja. Aku yakin dapat memberikan nominal yang bahkan tidak terkira. Aku mengajak untuk bernegosiasi. Jadi, berikan pria itu-- Berikan Ryu Eun Ho kepadaku. Aku akan menanti jawaban positif."

Sa Ra mengatakan doanya dalam hati, ia tidak mengucapkannya dengan lantang.


Se Gye, Eun Ho dan Woo Mi melakukan perawatan kuku bersama.

Se Gye: Ada apa denganku?

Eun Ho: Ada apa denganku?

Woo Mi: Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa? Apa lagi kali ini?

Se Gye: Kenapa aku selalu menyesal di kemudian hari? Aku seharusnya mencoba melakukan yang terbaik. Aku semestinya berusaha lebih keras.

Eun Ho: Aku setuju. Kenapa aku selalu menyesal kemudian? Aku tidak seharusnya mencoba melakukan yang terbaik. Seharusnya aku tidak berusaha lebih keras.

Woo Mi: Omong apa sih kalian berdua? Ini semacam pesan tersembunyi, ya?


Ibu menelfon Se Gye, tapi Se Gye tidak menjawabnya, alasannya karena tangannya sedang tidak bebas. Lagi pula tidak ada gunanya menjawab. Ibunya akan mengatakan hal yang sama.

Woo Mi: Hal yang sama?

Se Gye: Menikah. Semacam itulah.

Woo Mi: Sudah? Tidak boleh!

Se Gye: Kau menentang sebagai seorang Presdir atau sebagai teman?

Woo Mi: Sebagai keduanya, aku menentang.


Eun Ho: Hei, sanalah menikah saja. Lakukan selagi aku masih luang. Begitu masuk seminari, aku tidak akan bisa datang ke pernikahanmu.

Se Gye: Kali ini, kau sungguh akan pergi?

Eun Ho: Aku mendaftar kemarin.

Woo Mi dan Se Gye: Apa?

Woo Mi akan memukul Eun Ho, tapi ia tida boleh bergerak. Akhirnya Woo Mi menggunakan kakinya. 


Se Gye: Aigoo, ini benar-benar seperti drama komedi.

Eun Ho: Kau sendiri? Kau seperti bintang opera sabun.

Se Gye: Aku boleh menggerakkan kakiku, 'kan?

Petugas: Kuku Anda sudah selesai.

Dan Se Gye langsung menjewer Eun Ho. 

Eun Ho: Kenapa tiba-tiba seperti ini, sih? Sakit.


Se Gye mendapat telfon daro nomor tak dikenal. Se Gye mengangkatnya.

"Siapa ini?"

"Anda wali Han Sook Hee?"

"Apa?"


Se Gye langsung berlari, ia tidak memperdulikan pandangan orang-orang terhadapnya.


Se Gye membuka sebuah pintu dan ia melihat ibunya ada di dalam dengan baju pasien. Se Gye berkaca-kaca.


"Kenapa Ibu di sini?"

"Hari ini kau tidak ada jadwal, 'kan? Ibu kira kau terlalu sibuk untuk datang."

"Sedang apa Ibu di sini? Kenapa Ibu berbaring di sini?"


Dokter menjelaskan kondisi ibu pada Se Gye, "Sulit untuk mendeteksi kanker pankreas pada stadium awal. Gejala awalnya bahkan mirip dengan sakit perut biasa. Jika pun ditemukan gejala lain, pada mayoritas kasus, terjadi saat kankernya sudah menyebar. Ketika dia sampai di IGD, dia sudah mengetahui tentang kankernya."

"Apakah ada kemungkinan bertahan hidup?"

"Untuk pasien ini... kurang dari 10%."

"Kalau begitu, berapa lama... Berapa lama waktunya yang tersisa?"

"Paling lama... sebulan."

Se Gye tidak bisa menahan airmatanya. "Tidak bisa dipercaya. Aku sungguh tidak bisa memercayainya."


Di kamarnya, ibu mulai menyulam. Se Gye bertanya untuk apa ibu menyulam. Ibu menjawab untuk kingkang saat cuacanya dingin.

"Itu yang sungguh Ibu inginkan sekarang?"

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

"Ibu tidak marah? Ibu tidak merasa frustrasi?"


Ibu jelas marah. Ibu juga frustrasi. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan.

Se Gye: Ibu... tahu yang kulakukan? Sebelum kemari, aku melakukan perawatan kuku. Saat Ibu sedang sakit dan bertarung melawan penyakitnya, aku melakukan perawatan kuku.

Ibu: Se Gye-ya. 

Se Gye: Saat tadi Ibu meneleponku, aku... bahkan tidak tahu yang sedang terjadi. Aku pikir Ibu menelepon untuk mengomeliku lagi. Makanya, aku tidak menjawab teleponnya.

Ibu: Tak apa. Kau tidak tahu.


Se Gye: Lalu kenapa Ibu tidak memberitahuku? Kenapa tidak memberi tahu dan menjadikanku anak durhaka? Jika saja... Jika tadi adalah momen terakhir Ibu, aku pasti akan membenci diriku sendiri selamanya. Bagaimana aku bisa hidup... jika tadi sungguh adalah momen terakhir?

Ibu: Maafkan Ibu. Ibu hanya berpikir kau akan... sangat hancur.

Se Gye: Lagi-lagi, Ibu hanya memikirkan aku. Ibu dan aku terus memikirkan diriku saja. Kenapa Ibu hanya memikirkan aku sepanjang hidup?

Ibu: Karena kau putri Ibu. Kau satu-satunya putri Ibu.


Keduanya langusung berpelukan haru.


Do Jae datang menjengu ibu disaa ibu masih menyulam.


Do Jae mendekat dan memberi salam. Ibu membahas soal cuaca hari ini yang bagus. 

Ibu: Jangan sampai sakit. Aku menyukaimu. Bukan karena kau berada di sisi putriku. Hanya saja aku menyayangimu, sebab itulah aku ingin kau selalu sehat dan tidak sakit. Aku ingin kau bahagia. Terima kasih untuk hadiahnya.

Do Jae: Itu bukan apa-apa.

Ibu: Aku ingin merasakan pengalaman itu. Kupikir, itu satu-satunya kesempatanku, jadi aku menebalkan muka dan melakukannya.

Do Jae: Aku senang Anda melakukannya.

Ibu: Jika aku melepaskan tangannya, kau harus langsung menggenggamnya. Aku memercayakan dia kepadamu, mengerti?

Do Jae: Ya.

Ibu: Aku ingin tahu apakah film baru Se Gye sudah selesai.

Do Jae: Kita harus pergi menontonnya bersama.

Ibu: Kau mau membelikan popcorn?

Do Jae: Aku juga akan membelikan tiket dan minuman.

Ibu: Kalau begitu, aku akan dengan senang hati pergi. Karena kau menawarkan untuk mentraktirku.


Narasi Do Jae, "Kami membuat janji, meski tahu... tidak akan dapat ditepati. Untuk menjadi lebih berduka? Atau untuk mengurangi duka itu sendiri? Aku tidak tahu apa alasannya, tapi mungkin... karena kami secara tulus ingin menepati janji itu."


Se Gye menghabiskan lebih banyak waktu untuk ibunya.

Narasi Se Gye, "Meskipun kematian tampak jauh, sebenarnya hal itu berada dekat dengan kita. Ketika kita menyadari akan arti keberadaan, kematian terlanjur berdiri tepat di samping kita, dan kita tidak dapat melarikan diri darinya."


Baju untuk Kingkang sudah selesai. 

Se Gye: Imut sekali. Sangat bagus. Ini barang paling menggemaskan di dunia.

Ibu: Tentu saja. Ibu hanya membuat sesuatu yang cantik.

Se Gye: Aigoo. Tentu, tentu, Nyonya.

Ibu: Ini hadiah Ibu untuk Kingkang. Ibu ingin Kingkang tinggal bersamamu dalam waktu yang lama, bahkan tanpa terserang flu.


Narasi Se Gye, "Karenanya, aku harus mengatakan padanya."

Se Gye memegang kedua tangan ibu dan mengatakan kalau ia mencintai ibu. 


Se Gye juga membuat rekaman soal pengakuan cintanya pada ibu.


Se Gye terus mengatakan ia mencintai ibu dimanapun.


Saat ibu kesakitan. Se Gye memegang tangan ibunya dan mengatakan ia mencintainya.

"Waktu selalu... berjalan lebih cepat dari yang kita bayangkan."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap