Thursday, November 1, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 10 Part 1

Sumber: jtbc


Ibu memergoki Se Gye dan Do Jae sedang bermesraan. Tapi ibu tersenyum, ia sudah menduganya.


Mereka langsung berdiri. Ibu akan bicara pada Do Jae tapi Se Gye langsung melindunginya.

Se Gye: Jangan marah padanya. Marah saja padaku.

Do Jae: Begitukah, Menantu Seo?

Se Gye: Jangan dengarkan Ibuku.

Do Jae: Ya, Ibu mertua.

Se Gye: Ibu mertua? Sejak kapan Ibuku jadi ibu mertuamu? Ibu punya putri selain aku, ya?


Selanjutnya mereka duduk satu meja. Se Gye mulai menjelaskan semuanya, bahwa sebenarnya mereka berakting seolah dalam hubungan. Kemudian mereka memutuskan untuk pura-pura berkencan, lalu sebuah artikel dirilis mengenai hal itu, tapi selanjutnya mereka sungguh-sungguh berkencan lagi.

Ibu: Omong apa sih kau ini? Kenapa rumit sekali?


Do Jae: Untuk sederhananya, aku mencintai Han Se Gye.

Ibu: Sekarang, aku paham. 

Ibu menuangkan anggur untuk Do Jae.

Ibu: Putriku itu gadis yang baik, tapi dia mudah sekali merasa malu. Ketika dia merasa malu dan mengatakan hal-hal aneh seperti ini, kau harus lebih sering menjelaskan maksud ucapannya mulai sekarang.

Se Gye: Ibu.


Do Jae balik menangkan anggur untuk Ibu tanpa menghiraukan Se Gye yang gak nyaman dengan situasi ini.

Do Jae: Aku tidak akan mengecewakan Anda. Jika ada yang ingin Anda tanyakan, silakan tanya padaku kapan saja.

Ibu: Tidak ada yang perlu ditanyakan. Aku hanya ingin minum.

Se Gye: Ibu!

Do Jae lalu menuangkan untuk Se Gye juga dan mereka bertiga bersulang.


Se Gye mengantar Do Jae keluar. Ia bertanya pendapat Do Jae mengenai ibunya.

"Beliau tertawa keras tapi memiliki nada yang lembut, serta skala suara yang rendah. Beliau memiliki kepribadian yang ceria dan jemari yang cantik. Cara berjalan beliau sama persis sepertimu."

"Maafkan aku, karena mendadak kau harus melalui ini."

"Dan, beliau memiliki satu kesamaan denganku. Kami berdua sangat mencintaimu. Selamat malam."


Do Jae sudah berjalan beberapa langkah, tapi ia kembali dan memanggil Se Gye yang juga sudah akan masuk. Do Jae memberikan kecupan manis untuk Se Gye. 

Do Jae: Tadi, kita belum selesai.

Dan Do Jae pun pergi.

Se Gye: Ya ampun. Apa dia seorang pemain?


Se Gye tidur bareng ibu, ibu bertanya, apa Se Gye yang menciumnya. Se Gye jelas mengelak, mereka tidak berciuman.

"Terus yang tadi itu kalian sedang apa?"

"Itu... Itu... Aku tersandung dan tidak sengaja jatuh."

"Apa saja yang kau lakukan selama ini sampai tidak menciumnya? Menyedihkan. Menyedihkan."

"Ibu macam apa yang bicara begitu? Terus Ibu sendiri? Kapan ciuman pertama Ibu dan Ayah?"

"Aku menciumnya bahkan sebelum kami mulai resmi berkencan."

"Wah.. Dasar wanita nekat."

Dan itu membuat keduanya tertawa.


Se Gye kemudian bertanya kapan pertemuan Ibunya dengan ayahnya. Ibu menjawab mereka dikenalkan teman. 

"Kenapa Ibu ingin mengencaninya? Mungkinkah cinta pada pandangan pertama?"

"Cinta pada pandangan pertama, omong kosong. Aku tidak benar-benar berniat mengencaninya, tapi ayahmu terus membujukku tanpa lelah."

"Bagaimana rasanya mengencani Ayah?"

"Ibu akan bilang rasanya... manis dan menggembirakan ala kadarnya."

"Lalu, kenapa ingin menikahinya?"

"Aku menyukai betapa apa adanya dirinya. Ketika sesuatu terlalu panas, entah dapat membuat mendidih, atau membuatnya lengket, kau tahu. Kupikir, kami dapat mempertahankan 'ala kadarnya' itu dan hidup demikian sepanjang sisa usia.

Se Gye: Tapi, ternyata tidak bisa. Terlalu berat.

Ibu: Nak, Kau bisa melakukannya. Ibu tidak bisa, tapi kau bisa.

Se Gye: Ibu tidak akan pulang ke rumah? Katanya perlu menyiram tanaman.

Ibu: Tanamanku mana penting sekarang!? Terserah mereka mau mati. Di antara yang pernah kutumbuhkan, kau yang terpenting bagi Ibu.


Woo Mi dan Se Gye mendatangi tempat kerja Eun Ho untuk minta kopi gratis. 

Eun Ho: Menarik sekali karena kalian selalu tahu kapan jadwalku gajian.

Woo Mi dan Se Gye tersenyum.


Eun Ho lalu tanya pada Se Gye, tidak ada syuting kah> Sudah menyerah akan karir karena sedang berkencan? Menyenangkan ya memiliki kekasih konglomerat?

Se Gye: Kalau tanya satu-satu!

Eun Ho: Baiklah.

Woo Mi: Ibunya menangkap basah dia dengan kekasihnya. Hubungan mereka seperti lelucon.

Se Gye: Hei!

Eun Ho: Kedengarannya, kau biasa tertangkap basah. Kenapa tidak kencan secara terbuka saja?

Woo Mi: Aigoo, lihat siapa yang bicara? Menyenangkan ya memilki kekasih konglomerat?

Eun Ho: Hei, dia bukan kekasihku.

Woo Mi: Kalian berdua bahkan tidak tahu cara berkencan yang benar. Kalian cuma bisa omong besar saja.


Woo Mi mendapat telfon dari pacarnya dan bicaranya manis banget, bahkan sengaja bicara seperti anak kecil. Se Gye dan Eun Ho melongo dibuatnya.


Eun Ho: Kau dengar ponselnya berdering? Aku tidak mendengarnya. Bukankah dia sedang pura-pura seseorang sedang meneleponnya?


Woo Mi yang selesai menelfon menjelaskan, "Aish. Ponselku dalam mode getar, tahu!"

Eun Ho: Hei, kau merasakan ponselnya bergetar?

Se Gye: hehehe.. Aku semestinya mengambil peran pendukung saja, jadi Woo Mi bisa memiliki cukup waktu kencan.

Woo Mi: Sebagai seorang wanita, aku ingin memintamu melakukannya. Tapi sebagai manajermu, aku harus mengatakan tidak!

Se Gye: Meski begitu, menyenangkan memiliki semua waktu luang ini. Aku juga bisa main bersama kalian begini.

Eun Ho: Maaf, ya, aku harus kembali bekerja.


Ibu menyiapkan bekal, ia membawanya ke kantor Do Jae.


Joo Hwan masuk ke ruangan Do Jae, ia langsung protes karena Do Jae menikah tanpa memberitahunya. 

"Kenapa? Muncul artikel aku akan menikah?"

"Tidak, bukan artikel. Tapi, ibu mertuamu datang. Ibu mertuamu. Dia mencarimu, menantunya."


Dan masuklah ibunya Se Gye. Do Jae memperhatikan sejenak baru ia bisa mengenalinya, ia langsung berdiri.


Ibu memasak semuanya untuk Do Jae karena ia tidak tahu apa yang Do Jae suka dan tidak. Apakah ini berlebihan?

"Aku yang seharusnya menjamu Anda."

"Tidak, aku ingin melakukan ini. Makanlah."

"Baik."


Do Jae memakan satu suap dan ia puas dengan rasanya. Ibu tersenyum lebar, ia berjanji akan memasak seperti ini untuk Do Jae setiap kali ada waktu, jadi... tolong jaga Se Gye dengan baik.

"Anda punya waktu luang setelah makan siang? Semuanya sangat lezat. Kurasa, ini giliranku untuk menjamu Anda."


Do Jae membawa Ibu ke toko pakaian. Joo Hwan menggerutu, ia tidak percaya ini merupakan bagian dari pekerjaannya. 

"Joo Hwan-ah. Aku akan memberimu bonus. Tersenyum sajalah, bisa?"

Joo Hwan pun langsung tersenyum lebar. 


Mereka berdua bereaksi kagum setiap kali ibu keluar dari ruangan pas. Dan akhirnya Do Jae memilih baju terakhir, ia langsung memberikan dompetnya pada Joo Hwan untuk mengurus pembayarannya.


Ibu pulang membawa banyak belanjaan. Se Gye langsung menodongnya. Ibu bertemu dia ya? 

"Oh. Kenapa? Apa Ibu tidak boleh menemui dia?"

"Baiklah. Anggap Ibu ke sana dan menemuinya. Aku tidak ingin mengatakan tidak masalah, tapi biarlah saja. Terus, apa semua ini?"

"Apanya? Kenapa? Ibu membuatkan dia makan siang, jadi dia membelikan ini sebagai rasa terima kasih."

"Ibu membuatku gila!"

"Hentikan, anak bandel."

"Mana bisa aku diam saja?"


Ibu kesal, kenapa ia tidak boleh menerima hadiah dari menantunya? Kapan lagi ia bisa mendapatkannya?"

"Kenapa Ibu memanggil dia seperti itu? Siapa bilang dia menantu Ibu? Dia kehilangan banyak hal sejak bertemu denganku. Kenapa Ibu harus menambah bebannya?"

"Apa katamu? Kehilangan apa? Di mana lagi dia bisa menemukan gadis sepertimu? Dia yang seharusnya bersyukur bisa bersamamu. Kau sempurna."

"Ibu tidak tahu. Tidak tahu apa pun!"


Do Jae sedang olah raga dan saat ia berhenti Se GYe menelfonnya. Se Gye tidak mengerti kenapa ibunya bersikap begitu. 

"Kenapa?"

"Kenapa coba dia ke kantormu?"

"Aku menikmati kedatangannya dan masakannya juga lezat."

"Aku yakin banyak orang melihatnya. Maafkan aku menempatkanmu dalam posisi canggung."

"Sungguh tidak apa-apa. Masakannya juga lezat, kok."

"Kurasa, kau benar-benar menyukai makanan yang dibawakannya."

"Semuanya lezat, dan menyenangkan memberikan hadiah pada Ibu dari orang yang kucintai."

"Astaga."

"Sekarang, kau merasa lebih baik?"

"Tidak. Jalanmu masih panjang untuk membuatku merasa lebih baik. Jadi, mari bertemu besok."

"Kenapa mendadak?"

"Mari bersama mulai pagi sampai malam. Hanya saja, ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Mari bicara langsung. Kau mengerti tidak? Mengerti, 'kan? Kututup."


Se Gye dan Do Jae makan di kafe. Se Gye cerita kalau berat badanku terus naik karena Ibunya memberiku makan dengan sangat baik. Jadi ia harus makan makanan rendah kalori dan Mi beras juga sangat rendah kalori, tahu.

"Kau sedang pamer, ya?"

"Ya. Sebenarnya, cuma sedikit."

"Hal itu layak untuk dipamerkan."

"Kau sangat baik pada Ibuku. Terima kasih. Terima kasih juga untuk hadiahnya. Kalau dia melakukan kesalahan--"

"Dia tidak melakukan apa pun. Tentu saja, tidak akan. Karena dia ibumu."

"Astaga, Ibuku selalu bertindak begitu. Saat aku punya pacar pertama kali ketika usia 15 tahun, Ibuku diam-diam menemuinya dan--"

"Kenapa membicarakan soal mantan kekasih?"

"Aku hanya mengambil contoh."

"Kenapa harus menjadikan mantan kekasihmu sebagai contoh?"

"Usia kami 15 tahun. Dia bahkan tidak pantas disebut mantan kekasihku. Baiklah. Baiklah. Itu hanya rasa suka."


Tapi Do Jae tetap kesal dan itu malah membuat Se Gye ketawa. Se Gye tidak berhenti, ia malah menggoda Do Jae, rasa suka yang sangat bergairah.


Se Gye dan Do Jae menggosok sesuatu. Do Jae berkata kalau ia menang, 500.000.000 won. Se Gye langsung senang, benarkah?


Do Jae menunjukkan kartunya dan Se Gye langsung mendesah, ia menjelaskan, "Itu... bukan berarti kau benar-benar memenangkan 500,000,000 won. Gambarnya harus cocok... untukmu bisa memenangkannya. Kau belum pernah beli tiket lotere, ya?"

Do Jae mengangguk.

Se Gye: Kau konglomerat yang menyedihkan. Gosok sisanya juga.

Do Jae: Ini bukan lagi soal uang. Harga diriku dipertaruhkan.

Do Jae pun menggosoknya dengan semangat.


Selanjutnya mereka main kartu. Semua berjalan lancar untuk Do Jae sepertinya. Se Gye tidak bisa membiarkannya, tiba-tiba a mengambil semua kartunya. Do Jae menahannya, sedang apa?

Se Gye: Dingin sekali. Sebuah pisau belati menargetkan hatiku. Tapi, aku tidak perlu khawatir. Tanganku lebih cepat dibandingkan tatapan matanya.


Se Gye akan menggunakan tangan satunya untuk menukar kartu yang dimilikinya, Do Jae kembali menghentikan.

Do Jae: Astaga, apa sih masalahnya? Harus sampai sejauh ini?

Se Gye: Ini bukan lagi masalah uang. Harga diriku dipertaruhkan.

Do Jae: Lepaskan!


Pertarungan selanjutnya adalah kecepatan mengetik.

Se Gye: Berapa banyak yang sudah kau tulis?

Do Jae: Sekitar 10.

Se Gye: Kecepatanmu mengetik sangat lambat.

Do Jae: Terus, kau sendiri sudah menulis berapa?

Se Gye: Sekitar 50. Tulis 30 lagi.

Owh.. ternyata mereka menulis pujian untuk Se Gye di kolom komentar.


Se Gye mencukur jenggot Do Jae dengan cara yang Do Jae ajarkan padanya. Ia mengakhirinya dengan sebuah kecupan, tapi berlanjut. 


Mereka juga jalan-jalan malam. Do Jae bertanya, apa besok Se Gye ada syuting. 

"Karena memerankan peran pendukung, aku tidak memiliki banyak adegan. Hanya satu adegan saja."

"Sayang sekali."

"Kenapa? Besok kau juga ingin bertemu? Haruskah kita bertemu?"

Do jae tersenyum.


Se Gye melihat ke gedung yang menampilkan gambarnya. 

Se Gye: Oh, itu aku. Katamu, setiap hari kau bekerja di sana. Kalau begitu, kau pasti setiap hari melihatku.

Do Jae terdiam. Se Gye sadar sudah salah bicara, ia langsung meralatnya, "Itu diedit terlalu banyak. Saat pertama kali melihatnya, aku bahkan tidak menyadari itu aku."


Do jae terus terdiam sepanjang jalan. Se gYe pun meminta maaf, ia terlalu gembira seperti orang bodoh. Ia sungguh minta maaf.

Se Gye: Aku baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja. Bahkan meski kau tidak mengenaliku--

Do Jae: Aku yang tidak baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja. Aku.. ingin melihatmu. Aku ingin dapat mengenalimu. Kurasa, beginilah jadinya. Hal-hal yang kuhadapi seorang diri, sekarang kau pun harus menghadapinya.

Se Gye: Hal yang sama berlaku untukku.


Se Gye melamun di rumahnya. Ia menutup fotonya.


Do Jae di rumahnya membuka semua catatan tentang Se Gye. Semua Se Gye yang ia temui.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap