Sunday, October 14, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 5 Part 3

Sumber: jtbc


Joo Ran kembali ke ruangan mereka, tapi ia berhenti saat mendengar teman kencannya bicara di telfon.

"Kubilang aku tak masalah sama wanita yang lebih tua, tapi mereka mengirim orang yang seumuran ibuku. Dia terlalu tua untukku. Umurnya? Aku tak tahu. Riasannya tebal sekali. Dia mirip bibiku. Dia terus meregangkan perutnya biar lemak perutnya tak kelihatan. Melihatnya saja aku sesak napas. Yang benar saja. Disini? Ini restoran yang sangat mahal. Kau gila? Dia sudah tua, jadi pasti dia bayar."


Joo Ran masuk dan ia langsung mengubah sikapnya, ia duduk dengan nyaman sepsrti orang tua yang duduk di depan anak-anaknya. Bahkan ia mulai bicara banmal (informal). Pria itu tegang. 

"Kau juga minum. Aku akan mentraktirnya karena aku sudah tua."

"Tak perlu."

"Sungguh? Maka kaulah yang bayar."

"Sedang apa kau? Gelasku kosong."


Pria itupun menuangkan anggur untuk Joo Ran, tapi Joo Ran langsung marah karena pria itu hanya menggunakan satu tangan. 

"Bisa-bisanya kau menuangkan anggur hanya dengan satu lengan padahal aku jauh lebih tua darimu? Dasar anak kecil. Tuang lagi. Tuang."

"Baik. Maaf. Maaf."


Young Jae keluar salon, ia tak melihat ada pemotor yang melintas dekat banget dengannya. Ia kaget dan akhirnya dokumen yang ia bawa berhamburan. Pria itu hanya minta maaf tapi langsung jalan lagi.


Kebetulan Ho Chul lewat, jadi ia membantu Young Jae memunguti kertas-kertas itu. 

"Terima kasih." Ucap Young Jae. 

"Kau pulang kerja sekarang?"

"Ya."


Tiba-tiba ada mobil lewat. Young Jae hendak mengambil kertasnya di tengah jalan tapi mobil itu tidak mau mengalah. Ho Chul pun menarik Young Jae untuk menyelamatkannya.


Young Jae fokus pada kertas gambarnya yang terlindas ban mobil. Ia kesal. 


Dan keduanya berakhir makan ceker pedas bersama.  

Young Jae: Makanan pedas memang yang terbaik menghilangkan stres.

Ho Chul: Ini seperti obat. Tapi, apa kau berencana datang kesini sendirian tadi?

Young Jae: Sebenarnya aku ingin datang sama teman, tapi dia tidak bisa makan pedas.

Ho Chul: Sayang sekali. Padahal ini rasanya enak, dan juga meredakan stres.

Young Jae: Makanya.

Ho Chul: Kau tidak perlu memakannya jika kau sangat peduli dengan kesehatanmu. Tapi makanan yang tidak sehat itu baik untuk pikiran. Dokter biasanya lebih peduli tentang kesehatan mental daripada kesehatan fisik mereka.


Young Jae mengaku, sebenarnya ia mengira Ho Chul kerja di klub, klub hiburan malam tepatnya.

"Apa? Oh! Kenapa kaubisa..."

"Kau memang mirip begitu. Kau seperti player, dan terus bicara soal wanita. Plus, kau bau alkohol."

"Tak apa. Aku juga mengira kau itu preman. Seorang wanita cantik yang berkeliling mengumpulkan pinjaman pribadi."

"Kukira kita seimbang."


Young Jae melihat kalau Ho Chul lahap banget makannya, apa sungguh tak masalah sama makanan pedas?

"Keringat yang banyak ini membuktikan betapa bagusnya ini bagi tubuh. Seolah kesehatan mentalku tengah dipulihkan."


Ho Chul lalu pesan satu botol soju.

Di botol soju itu ada gambar So Hee dan itu sukses membuat Young Jae kembali stress. 

"Siapa yang membuatmu stres?" Tanya Ho Chul. 

"Ada, orang kasar yang benar-benar terkenal. Dia jadi model utama, tapi dia bukan direktur peragaan busana."


Ho Chul paham, iapun meminta merek soju yang lain.

Ho Chul akan menuangkan untuk Young Jae, tapi Young Jae bilang tidak mau minum hari ini. Ho Chul pun minum sendirian.

"Dokter pasti sangat stres hari ini juga."

"Stres? Kau boleh menganggapnya begitu. Ada orang yang membuatku tidak nyaman walau aku sering melihatnya. Sementara itu, ada orang yang langsung membuatku merasa nyaman."

"Mungkinkah karena tidak ada perasaan pribadi yang terlibat?"

"Perasaan pribadi?"

"Semua jenis hubungan mulai terasa tidak nyaman begitu seseorang punya perasaan pribadi walau itu perasaan yang baik atau perasaan yang jelek."

Ho Chul hanya tersenyum. 


Young Jae yang membayari makanan mereka karena ia yang mengajak Ho Chul makan. 

"Itu sangat lezat dan menghilangkan stres. Terimakasih." Ucap Ho Chul. 

"Ya, aku juga. Aku tidak perlu menunggu layanan supirmu datang, bukan? Kalau begitu, aku duluan, ya."


Ho Chul kembali melihat punggung Young Jae dan ia kembali tersenyum. 


Joo Ran olahraga pagi karena masih kesal dengan teman kencanbutanya kemarin. 

"Ya. Dasar brengsek. Jika aku kesal, aku pasti akan berakhir sebagai perawan tua. Setidaknya aku mulai berolahraga berkat si brengsek itu. Aku akan menguruskan perut ini."

Joo Ran melihat orang-orang dengan tubuh bagus, "Mereka semua mungkin kesusahan mendapatkan tubuh itu. Mari kita berusaha. Aku tidak akan pernah bertemu orang brengsek seperti dia lagi. Walau jangkrik menangis keras-keras mencari jodohnya. Mari kita berusaha. Joo Ran-ah."


Joo Ran kehabisan energi. Ia di toilet sambil bergumam.  

"Ahjumma siapa? Aku ingin sekali lemak perutku hilang tapi yang hilang cuma lemak wajahku saja."


Dan tiba-tiba ia dikagetkan oleh anjing yang menjilati sepatunya. 


Joo Ran dengan susah payah membawa anjing itu keluar. Ia kesal, dimana pemilik anjing itu?

Suara pria: Maaf. Talinya tak sengaja lepas. Maaf.

Joo Ran menjawab tanpa berbalik, "Kau mana bisa membiarkan anjingmu bebas seperti ini di taman umum."


Dan Joo Ran langsung terpesona saat melihat pemilik anjing itu. Pria itu membungkun minta maaf, sungguh minta maaf.

Joo Ran: Anjingmu pasti sangat panik.


Joo Ran bangkan menggendong anjignya padahal tadi benci banget. Pria itu kembali minta maaf dan meminta anjingnya.

"Tuan Putri, kau pasti panik. Muah.. Maaf." Kata pria itu pada anjingnya.


Soo Jae berjualan di panas yang terik. Ia mendapat pembeli, tapi ia tidak punya uang kembalian, jadi ia gratiskan kopinya.


Lalu datanglah petugas dari Layanan Publik. Mereka melarang So Jae berjualan disana lagi. 



Soo Jae pun pulang dan ia mengisi bensin di jalan pulang, ia membayar menggunakan kartu debit, tapi tidak ada saldonya, petugas meminta kartu lain. 


Soo Jae sepertinya tidak punya kartu lain. Ia pun mencari bantuan. Ia menghubungi Young Jae tapi Young Jae sibuk. Soo Jae tidak bisa mengatakan sejujurnya.


Tim Joon Young akan makan siang bersama. Kebetulan mereka melewati Soo Jae. Joon Young pun menghampiri Soo Jae dan menyuruh teman-temannya makan duluan. 


Soo Jae sangat senag ada Joon Young. Joon Young pun membayar untuk Soo Jae. 

Soo Jae: Bukankah kau tipe orang yang sering salah dituduh?

Joon Young: Apa?

Soo Jae: Maksudku, tipe yang dikritik bahkan setelah membantu orang lain.

Joon Young: Apa?

Soo Jae: Seharusnya kau datang lebih cepat. Intinya, aku berhutang budi padamu.

Joon Young: Tak apa.


Young Jae sampai menggunakan taksi dan ia senang melihat kakaknya sudah bersama Joon Young. tak pikir Soo Jae tadi gak bilang sama Young Jae, ternyata dia bilang juga.


Young Jae langsung memanggil Joon Young, kenapa gak angkat telfon darinya? Kenapa kau di sana?

"Oppa, ada apa? Kau kehabisan uang?" Tanya Young Jae. 

"Tidak. Penjualan hari ini luar biasa. Besok juga pasti laris manis. Aku beli biji kopi dengan semua uangku, tapi layanan kartu debitku lagi dalam pemeriksaan. Pada saat itu, layaknya takdir, kami kebetulan bertemu di sini."


Joon Young permisi, ia bahkan tidak bicara pada Young Jae. Young Jae pun memanggilnya. Tapi Joon Young hanya menoleh saja.


Young Jae berakhir mengejar Joon Young. Young Jae gak paham kenapa Joon Young marah begitu. 

"Aku tidak marah, kok." elak Joon Young. 

"Kau itu tidak bisa bohong. Ketahuan dari wajahmu."


Akhirnya Joon Young mengaku kalau ia marah karena Young Jae bohong padanya.  

"Bohong?" Young Jae gak ngerti.


Joon Young cerita sambil jalan ke kantornya. Young Jae menjelaskan kalau Ho Chul hanya pelanggannya. Semua staf sudah pulang, dan ia sendirian, jadi mau tak mau ia melayaninya.

"Tapi tetap saja, kau sudah janji padaku kalau kau tidak akan mencuci rambut pelanggan pria. Memang apa bagusnya si bajingan itu sampai kau mencuci rambutnya?"

Young Jae malah tersneyum, tak mengira kalau Joon Young tahu kata umpatan juga. Young Jae menjelaskan kalau Ho Chul adalah dokter yang praktek di depan salon.

Joon Young menyela, iya, dia dokter bedah plastik yang kaya.

"Kau tahu darimana?" Heran Young Jae. 

"Aku mencaritahu tentang dia. Dia nafsu sekali padamu dan mencoba mendekatimu, jadi mana mungkin aku diam saja?"

"Sudahlah. Dia tidak mendekati."

"Tidak mendekati apaan? Setiap pria yang melihatmu pasti langsung menyukaimu."


Young Jae tambah ngakak. Joon Young kesal, jangan tertawa!

Young Jae kemudian mencium Joon Young karena menurutnya Joon Young sangat imut. 

Young Jae: Walau ada orang lain mendekatiku, cuma ada kau seorang bagiku.

Joon Young pun luluh, "Naiklah. Biar kuantar."
-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap