Sunday, October 14, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 5 Part 2

Sumber: jtbc


Joon Young ke bar Sang Hyun dan menceritakan semuanya.

Sang Hyun: Hei. Dia itu dokter bedah plastik yang sukses. Tingginya lebih dari 180cm, dan wajahnya tampan. Dan dalam situasi seperti itu, dia pasti lancar mengatasinya. Kepribadian dia juga bagus? Dia itu penipu.

Joon Young: Benar, 'kan?

Sang Hyun: Dia memang mirip penipu. Aku tidak tahu dia anaknya siapa, tapi mereka bagus juga membesarkannya. Hei, biarkan aku jujur denganmu. Kau tak ada apa-apanya dibanding dia. Walau pacarmu belum tentu berselingkuh dengan dia, suatu hari nanti dia pasti bakal selingkuh. Hei. Pria itu karnivora sedangkan kau herbivora. Dia itu singa, sedangkan kau kungkang. Kau bahkan tidak bisa melawannya. 



"Joon Young-ah. Alam dunia ini terlalu keras dan merepotkan bagi herbivora seperti kau. Jadi, jangan sia-siakan dan turutilah hukum alam, oke?"

Joon Young lemas seketika.


Joon Young kembali mengintai Young Jae.

"Aku tahu betul Young Jae. Dia pasti latihan sendirian sampai larut malam."


Dia mengikuti Young Jae dari kejauhan.

"Selama kereta bawah tanah masih beroperasi, dia tidak pernah naik taksi mau selelah apapun dia."


Sambil menunggu kereta datang, Young Jae memijit bahunya dan Joon Young melihat semua itu. Young Jae tiba-tiba menguap lebar.

"Aku tahu betul dia tidak menutup mulutnya saat dia menguap."


Tiba-tiba Young Jae mengirim pesan dan itu membuat Joon Young takut ketahuan karena suara dering ponselnya. Joon Young pun agak menjauh.

"Kau sadar kita belum bertemu selama empat hari, 'kan? Aku merindukanmu." Tulis Young Jae. 

Young Jae melanjutkan,

"Aku tahu kau sudah membacanya, kenapa tidak dibalas?"
"Kau cari mati?"


"Aku tahu betul Young Jae, jadi aku tahu ini tidak serius. Tapi aku masih tidak mau menjawabnya. Ya. Aku marah."


Joon Young kembali memandangi Young Jae. 


Ada penumpang mabuk yang mendekati Young Jae. Joon Young siap mendekat kalau penumpang itu berbuat macam-macam pada Young Jae, untungnya tidak. 


Bahkan Joon Young mengikuti Young Jae sampai ke dalam kereta. Ada seorang yang turun, Young jae mau menduduki bangkunya, tapi keduluan dengan ibu-ibu.

Joon Young mendesah, seharusnya naik taksi saja.


Ada satu kursi kosong karena penumpangnya turun. Pria yang dekat Joon Young mau mendudukinya, tapi Joon Young menahan tangannya, akhirnya Young Jae yang mendapatkan kursi itu. 

Joon Young minta maaf pada pria itu, ia pura-pura merasa pria itu temannya tapi ternyata tidak.


Young Jae memejamkan matanya dan Joon Young melihatnya sambil tersenyum. 


Joon Young ingat sesuatu, tadi Young Jae membawa map saat di kursi tunggu, tapi sekarang tidak membawa. Wah gawat! Joon Young panik sendiri.


Ia langsung turun di pemberhentian selanjutnya dan langsung berlari naik kereta ke stasiun awal tadi. 


Map itu berisi semua desain Young Jae dan saat ini ada orang yang membukanya. 


Joon YOung gugup di dsalam kereta, ia bahkan berdiri tepat di depan pintu dan setelah kereta berhenti, ia menjadi orang pertama yang keluar.

Joon Young memeriksa setiap bangku, tapi tidak ada.


Untung ia menemukan orang yang membawa map Young Jae, ia mengejar mereka dan meminta mereka mengembalikannya. 


Young Jae turun dari kereta dan ia baru sadar kalau mapnya ketinggalan. Young Jae panik dan kembali masuk stasiun.


Besoknya, Young Jae bercerita pada Joo Ran. Ia langsung menelepon pihak stasiun, tapi mereka tak menemukan apapun. Ia minta mereka meneleponku kalau buku sketsa itu ketemu.

Joo Ran: Kau baru saja kehilangan sejarahmu sebagai seorang desainer. Kau membawa buku sketsa besar di era digital seperti ini. Baguslah kalau hilang.

Young Jae: Di situ ada semua  konsep rambut dan sketsa makeupku buat peragaan busana. Haruskah kulapor ke polisi?

Joo Ran: Mereka mana mungkin menganggapnya serius.

Young Jae: Ah.. Aku harus bagaimana?


Young Jae mendapatkan paket, ia membukanya dan isinya adalah buku sketsanya. Young jae sangat senang, begitu pula Joo Ran. 

Young Jae: Tapi siapa yang mengirim ini? Tahu darimana kantorku?

Joo Ran: Kartu namamu 'kan terpasang di halaman depan. Langit berpihak padamu. Fokuslah kau.

Young Jae: Ya ampun. Mereka harusnya kasih nomor mereka biar aku bisa kasih kompensasi. Mungkin seorang malaikat mengirimkan ini padaku.


Salah satu perawat di Klinik Ho Chul memberitahu kalau dia datang lagi. Iblis itu ada di ruangan Ho Chul.


Yang dimaksud Iblis oleh perawat adalah So Hee. Ho Chul datang ke ruangannya saat So Hee menelfon. 

So Hee: Kenapa kerjamu tidak becus setelah bertahun-tahun? Maka kau harus cari pekerjaan lain. Dasar payah. Akan kusuruh CEO memecatmu.

Ho Chul berdehem lalu masuk. So Hee tiba-tiba mengubah bicaranya menjadi lembut.


Perawat bergosip, padahal So Hee bukannya mau operasi plastik disana, jadi kenapa So Hee datang ke sana mengeluh soal hal-hal seperti suhu ruangan? So Hee bertingkah seolah dia VIP di sana. Orang mungkin mengira So Hee sebagai istri dr. Choi.

"Dia seperti itu karena dia ingin menikah dengannya."

"Mana mungkin. Aktris kasar dan menjengkelkan itu mana bisa menikah dengan dr. Choi."

"Hei, apa kau tak bisa lihat? Padahal dia jelas sekali mendekatinya."


So Hee memberitahu Ho Chul kalau ia akan mengisi final peragaan busana mendatang oleh Perancang Hong dan artikel soal itu sudah keluar. Apa Ho Chul sudah baca?

"Begitu, ya? Selamat, kalau begitu."

"Pak Hong bilang wajahku mewakili kecantikan Asia. Ini semua berkatmu."

"Kenapa berkatku?"

"Waktu aku pemula, agensiku menyeretku ke sini agar aku operasi plastik, tapi kau membujuknya. Aku masih ingat setiap kata yang kau katakan hari itu. "Sangat sulit dilahirkan dengan wajah sepertimu. Kenapa kau rela kehilangan keindahan yang unik lewat operasi?" Aku tidak mengerti saat itu. Jika kau tidak menghentikanku saat itu, aku pasti akan menjadi keindahan operasi plastik lainnya."

"Kau masih ingat itu?"

"Masih apa maksudnya? Aku tidak akan pernah melupakan itu. Kau menyelamatkan hidupku. Kau harus bertanggung jawab untukku."

Ho Chul terkejut, sampai menumpahkan kopi yang barusan diminumnya. 


Seorang perawat masuk, mengatakan kalau operasinya sudah siap. Ho Chul pun pamit pada So Hee. So Hee tiba-tiba mengulurkan tiket. 

"Ini tiket ke peragaan busana Perancang Hong. Kau harus datang, ya?"

"Entah aku bisa meluangkan waktunya."

Perawat mengungkapkan kekagumannya pada acara Pak Hong, pasti banyak selebriti yang datang kesana, kan?

So Hee: Maka kalian semua harus datang bersama. Aku akan memberitahu manajerku agar mendapatkan tiket yang cukup untuk kalian semua.

Perawat: Aku pasti akan mengajak dr. Choi bersamaku.

So Hee: Ya, pastikan kalian datang bersama.

Perawat: Ya, aku janji akan kuajak dia.


Young Jae sedang mengajari anak didiknya. Ia memberi contoh, selanjutnya anak didiknya harus mencoba satu per satu.

Noo Ri mendapat giliran yang pertama, tapi ia melakukannya tidak seperti yang dicontohkan. 

"Noo Ri-ya, kau berlatih atau tidak?" Tanya Young Jae. 

"Sudah."

"Tapi cuma segini? Kau ingin gagal ujian lagi?"

"Maaf. Maaf."

Young Jae pun menyuruh Noo Ri mengulanginya lagi.


So Hee datang dan ia langsung bicara santai pada Young Jae. Young Jae nanya, ada apa kesana?

"Aku 'kan merekomendasikanmu buat peragaan busana. Jika kau tak becus, nanti aneh jadinya. Bukankah aku harus memeriksa kerjaanmu?"


Para anak didik Young Jae pun bubar. Mereka menyilahkan So Hee duduk. So Hee bilang ia haus, ia meminta Noo Ri membelikannya es kopi.

"Ya. Silakan tunggu sebentar." Jawab Noo Ri.

"Oh, bukan dari sini. Tahu kedai kopi di seberang jalan, bukan? Aku cuma bisa minum kopi dari sana."

"Baik."


So Hee juga memerintah anak-anak lainnya, ia minta dibelikan sandwich organik, iatak boleh lupa makan karena anemia.


Young Jae bertanya, harus ia apakan rambutnya? So Hee menyerahkannya pada Young Jae. 

So Hee: Jika aku suka tatanan rambutnya, aku mungkin mulai datang ke salonmu tiap waktu. Bukankah kalau aku jadi pelanggan, salonmu bakal ramai, 'kan?

Young Jae memaksakan diri untuk tersenyum.


Staf Young Jae berlari membawakan sandwich pesanan So Hee. Tapi Sataf Young Jae salah membelikannya. 

So Hee: Bagaimana ini. Kau pasti sangat kepanasan. Terima kasih. Bukankah aku menyuruhmu beli yang tak ada bacon-nya? Semua orang tahu aku ini vegetarian.

Staf: Biar kubelikan yang baru lagi.

So Hee: Baiklah. Maaf, ya.


Lalu kopi So Hee datang. So Hee menerimanya, tapi ia berkata kalau ia tidak menginginkannya lagi, ia ingin yang manis-manis, ingin caramel macchiato.

Staf: Anda mau tukar?

So Hee: Mana bisa aku minta tukar padahal aku sudah minum ini? Belikan saja yang lain untukku. Kau pasti sangat kegerahan. Maaf. Minumlah ini. Biar tenang.


Young Jae jelas kesal dengan kelakuan So Hee itu. Tapi ia sebisa mungkin menahannya. 


So Hee: Aku jadi ingat masa lalu. Kau jadi asisten penata rambut di salon rambut di kota kumuh itu. Hebat sekali. Kau pun sudah sampai seperti ini.

Young Jae: Kaulah yang hebat.

So Hee: Hei, aku dari dulu memang sudah hebat. Orang-orang di industri ini bilang kau cukup hebat di kerjaanmu, tapi itu pasti dibesar-besarkan saja. Ini tidak terlihat alami sama sekali, dan kau membuatku tidak nyaman.

Young Jae: Oh, ya? Maaf.


Seorang pelanggan mendekati So Hee untuk minta tanda tangan. So Hee dengan senang hati memberikannya. 


Joo Ran tidak menyerah melakukan kencan buta dan kali ini teman kencan butanya sepertinya lebih muda, mereka makan di rstoran Korea. 

"Sebenarnya, ini kencan buta pertamaku di restoran Korea, tapi ini lumayan juga." Kata teman kancan Joo Ran. 

"Semoga kau suka makanan di sini."

"Banyak restoran mahal menyajikan makanan yang bahkan tidak bergizi. Aku pergi ke tempat-tempat seperti itu karena para wanita menyukai mereka, tapi sebenarnya itu bukan seleraku."


Batin Joo Ran: Seseorang yang tinggal sendirian. Seorang pria yang ingin berkencan dengan wanita yang lebih tua. Apa yang dibutuhkan pria seperti itu? Tentu jelas. Makanan rumahan dan rasa nyaman. Pengetahuan seperti itu berasal dari pengalaman.


Teman kencan menimun anggur dan ia memuji rasanya, ia tak menyangka kalau makanan Korea bisa dipasangkan dengan anggur, enak sekali.

Batin Joo Ran: Anggur mahal itu cocok dengan apa pun.


Joo Ran menyentuh kakinya, Teman Kencan melihat kalau Joo Ran lah yang sepertinya tidak nyaman. Ia menyuruh Joo Ran duduk yang nyaman saja. 

Joo Ran: Aku? Aku sangat nyaman sekarang.



Joo Ran di toilet, ia memperbaiki riasannya sambil menelfon.

"Terakhir kali, aku mengepalkan tanganku. Jadi kali ini, mereka mengirim seorang pria yang cukup muda untuk menjadi keponakanku. Pria muda yang tampan. Ah.. Aku harus pilih tempat duduk. Aku terus khawatir soal suara perutku. Aku harus bilang begini, pria itu sangat naif. Dia sangat polos. Dia seperti lembar kertas putih murni."


"Pasti dia tidak tahu berapa umurmu. Jika dia tahu umurmu, dia pasti ada masalah. Cari tahu apa dia punya utang." Jawab Young Jae.

"Dasar. Temperamenmu jelek sekali, dan kau susah percaya."

"Berhentilah membuang-buang waktumu sama pria tak berguna itu. Ayo kita makan yang pedas-pedas. Kim So Hee tadi cari ribut di sini. Dia benar-benar membuatku stres."

Joo Ran: Pergilah sana sama pacarmu.


Young Jae: Tahu sendiri dia tidak bisa makan pedas. Lihat yang merah-merah saja, dia keringatan. Mana bisa aku mengajaknya?

Joo Ran: Aku harus mengubah pria polos itu menjadi pria sejati hari ini. Dah.


Young Jae kemudian menghubungi Joon Young, tapi tidak diangkat, lalu ia menelfon So Jae, tapi tidak diangkat juga.

Young Jae pun menyerah, "Dasar tak ada gunanya."
-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment