Tuesday, October 9, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 4 Part 1

Sumber: jtbc


Joon Young dan Young Jae jalan berdua. Joon Young yang memulai pembicaraan, bertanya, hari ini hari pertama mereka kan?

"Kekanak-kanakan sekali." Tanggapan Young Jae. 

"Kata orang, kencan memang membuat semua orang jadi kekanak-kanakan. Tapi tepatnya, hari ini sebenarnya hari kedua kita, 'kan?"

"Ya, ini hari ke-2 kita setelah tujuh tahun berlalu."

"Lebih tepatnya, 6 tahun 11 bulan."


Soo Jae yang sedang menulis kehabisan ide, ia kemudian memandang keluar jendela dan terlihatlah Young Jae-Joon Yung. Ia membuat cerita karangannya sendiri dengan tokoh mereka berdua.

Young Jae: Oppa, tak bisakah kau berhenti jadi polisi? Aku takut sekali.
Joon Young: Sebelum aku menangkap brengsek itu, aku takkan menyerah. Jangan khawatir. Aku akan melindungimu.
Cahaya bulan yang mengerikan. Dan di balkon, ada bayangan gelap yang diam-diam mengawasi mereka berdua.

Soo Jae puas dengan inspirasi itu. 


Tiba-tiba mereka berciuman. Soo Jae salah tingkah, ia sampai menutupi wajahnya.


Mereka berdua harus pisah deh, karena Young Jae harus pulang. Walaupun begitu, Joon Young tetap tersenyum.


Young Jae masuk dan terkejut melihat kakaknya ada disana, ia bertanya, apa dari tadi kakaknya disitu?

"Ya, kau tahu lah..." Soo Jae menjawab, lalu bertanya "Kau masih tak ada hubungan dengan dia? Sepertinya kau tidak ingat, ya. Maksudku apa kalian berdua sudah memutuskan pacaran?"

Young Jae tersenyum membenarkan. Soo Jae bertanya lagi, dia seorang polisi? Young Jae membenarkan. Soo Jae lalu menyuruh Young Jae istirahat karena Young Jae pasti lelah.


Joon Young datang ke kantor dengan semangat baru, ia menyapa semuanya dengan ceria. Anggota Tim-nya heran, kenapa Kaptennya itu semangat sekali padahal masih pagi? Semalam mimpi tentang cinta pertama, ya?

"Aku mimpi tentang cinta pertamaku? hahahaha.. Ada pepatah, "Mimpi bisa jadi kenyataan". hahaha"


Joon Young mendapat telfon, ia menjawab dengan ramah, iya.. selamat pagi~. Tapi setelah tahu siapa yang menelfon, ia menjadi patuh.


Joon Young menghubungi Young Jae, ternyata tadi yang menelfon adalah Soo Jae, memintanya datang ke rumah. Young Jae khawatir, memintamu datang ke rumah? Tak ada bilang yang lain?

"Ya. Dia nanti memberitahuku kalau aku sudah sampai sana. Wajarlah begitu. 'Kan dia satu-satunya keluargamu. Dia sudah seperti orang tuamu."

"Sebenarnya sebelum dia kecelakaan, dia ingin menjadi polisi. Dan sekarang, kau itu seorang polisi. Aku seharusnya tidak perlu khawatir, tapi aku tak enak saja."

"Tak apa. Jangan merasa tak enak."


Joo Ran mengikuti kursus sepeda gunung. Huu.. pakaiannya seksi abis. Dan sepertinya ada yang merasa tersaingi olehnya.


Pria di sebelah Joo Ran menyapa, baru pertama kalinya bergabung ya? Joo Ran memberkan. 

"Kalau begitu kau bisa mengandalkanku dan ikuti aku." Kata pria itu membuat Joo Ran bergembira.


Kemudian cewek yang merasa tersaingi itu menyapa sang pria, manja-manja gitu dengan memanggilnya Oppa. Mereka sudah kenal lama dan wanita itu baru bergabung kembali karena kesibukannya.

Joo Ran melihat pakaian wanita itu, ia tenang, menurutnya ia jauh lebih baik dari wanita itu.


Perjalanan di mulai, pria tadi mendekati Joo Ran, memastikan apa Joo Ran baik-baik saja. Walaupun Joo Ran ngos-ngosan tapi ia bilang kalau ia baik-baik saja.

"Aku akan menjadi pacemaker-mu, jadi semangatlah."

"Terima kasih." Jawab Joo Ran.

"Ini benar-benar berbeda dari menari salsa." Batin Joo Ran sambil melihat paha kekar pria itu.


Dan si wanita menghampiri lagi, ia berusaha menjauhkan pria itu dari Joo Ran.

"Oppa, kenapa kau naik sepedanya lama sekali?"

"Haruskah kupercepat sedikit?"

"Tentu. Ayo."

Tapi sebeumnya ia ijin dulu sama Joo Ran, apa Joo Ran gak keberatan ia duluan. Joo Ran tentu gak enak bilang keberatan, jadi ia menjawab tidak keberatan.


Di tempat istirahat, Joo Ran kepanasan banget, keringatnya bercucuran. Riasannya sudah hancur. Ia tidak bisa membiarkannya, jadi ia mempolesnya lagi.


Saat ia keluar dari toilet, pria itu menghampirinya lagi dan lagi-lagi bertnaya, apa Joo Ran baik-baik saja. Joo Ran mengepalkan kedua tangannya. Tentu saja! 

"Pastikan kau ikuti aku. Setelah kita sampai sana, kita nanti makan pajeon dan minum anggur beras."


Namun apa daya, stamina Joo Ran udah abis, ia ketinggalan dengan yang lainnya, tapi pra itu masih menemaninya. Joo Ran tidak enak, jadi ia menyuruh pria itu duluan saja, ia akan menyusul nanti.

Maka pria itu pun menggoes sepedanya dengan kencang.


Joon Young datnag sesuai permintaan Soo Jae. Soo Jae bertanya, apa Joon Young sudah makan?

"Ya, sudah."

"Yang nyaman saja duduknya."

"Aku sudah nyaman, kok."

"Kalau begitu izinkan aku bertanya."

"Baik."


Soo Jae mengeluarkan pena dan buku catatan sebelum bertanya. Pertama yang ditanyakan adalah keluarga Joon Young. Joon Young mengatakan ia punya ayah ibu dan adik perempuan.

"Orang tuamu kerja apa?"

"Ibuku wakil kepala sekolah, kalau ayahku guru."

"Adikmu?"

"Dia mahasiswa."

"Berapa tinggimu?"

"182.8cm."

"Beratmu?"

"71kg."

"Hobimu?"

"Bersih-bersih."

"Apa keahlianmu?"

"Memasak."

"Kampung halamanmu?"

"Sanbon-dong, Gunpo-si, Provinsi Gyeonggi."

"Sekarang tinggal dimana?"

"Yeonnam-dong."

"Apartemen?"

"Rumah."

"Makanan kesukaan?"

"Aku suka semuanya."

"Kau tak bisa makan apa?"

"Makanan pedas."

"Kau ada riwayat penyakit?"

"Tidak ada."

"Alergi?"

"Tidak ada."

"Berapa kali kau coba ujian polisi?"

"Cuma sekali saja."

"Uji kemampuan fisikmu dapat nilai berapa?"

"Nilai sempurna."


"Sekarang pertanyaan terakhirku. Ada seseorang yang membunuh  kekasih seorang polisi. Apa pendapatmu tentang balas dendam pribadi seorang polisi?"

"Apa?"

Soo Jae menunjukkan skenarionya, Aku Akan Membunuhmu. Soo Jae menjelaskan kalau ia bukan penulis terkenal, jadi ia butuh seseorang buat membaca karyanya.

"Oh, skenario."

"Kenapa? Kau tak mau membacanya? Padahal aku satu-satunya keluarga Young Jae. Aku ini sudah seperti orang tuanya. Kau tidak punya pilihan selain membantuku."

"Tidak, Hyungnim. Dengan senang hati, akan kubacakan. Aku akan berusaha membantumu semampuku. Jadi haruskah aku mulai membaca?"


Joo Ran kebingungan karena ia ketinggalan jauh. Dan karea sudah kelelahan ia tidak bisa mengendalikan sepedanya, akhirnya ia jatuh ke parit. Poor Joo Ran.  Ponselnya rusak.


Joo Ran masih di jalan saat matahari sudah terbenam, ia berusaha menyetop mobil tapi tidak ada yang berhenti.

Sialnya lagi hujan turun. Joo Ran dapat tumpangan sih, tapi di mobil bak terbuka, dan ia harus duduk di belakang bersama ayam. Kasiahan banget..


Joon Young sedang mengintai, tapi ia mengajak Young Jae nonton film sedih jam 8 malam. 

"Ah.. Aku sudah beli tiket film sedih. Aku tak suka film yang membuatku menangis."

"Tapi kau sudah janji mau nonton film yang kupilih hari ini."

"Baiklah. Kau yakin tidak akan terlambat? Mungkin butuh waktu lebih lama menangkap pelakunya."

"Aku akan menangkapnya agar aku bisa cepat menemuimu."


Tiba-tiba Joo Ran datang membentak semuanya. Jadi mereka semua harus kembali bekerja dan Young Jae pun harus mengakhiri telfonnya.


Seorang hubae menghampiri. Joon Young terkejut banget. Hubae itu menduga Joon Young sedang kencan, Joon Young mengelaknya dan mengaku barusan itu telfon dari kepala. 

"Aee.. Mana ada orang yang tersenyum seperti itu pas ditelepon sama kapol. Aku 'kan sudah lama jadi polisi."

"Detektif Lee, bisakah kau merahasiakannya?"

"Jangan khawatir. Nama panggilanku ini... Kunci. Kunci."


Dan saat rekannya masuk mobil, langsung bertanya, apa Joon Young gelisah karena mau ada kencan? Joon Young terkejut, tahu darimana?

"Detektif Lee memberitahuku. Kapten tak tahu? Julukannya Detektif Lee itu Kunci. Kunci yang rusak. Aku tahu kau dibutakan oleh cinta, tapi kau harus bisa profesional. Kita tidak tahu kapan pengintaian kita selesai, jadi berkencan dengannya itu tak profesional.."


Tapi Joon Young malahan pergi padahal rekannya itu belum selesai bicara. 

Ternyata Joon Young melihat tersangka dan ia tidak mau membuang waktu, jadi ia segera berlari untuk mengejar.


Joon Young bertekad banget mengejar tersangka itu dan akhirnya usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil menangkap si tersangka.

Joon Young memborgol sendiri si tersangka baru kemudian menyerahkan sisanya pada anggota tim-nya.

"Tolong urus sisanya." Kata Joon Young kemudian meniup rambutnya. Kereeeeennn

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap