Sunday, October 7, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 3 Part 3

Sumber: jtbc


Young Jae mengikuti Joon Young yang sudah mebuk berat dari belakang.

Narasi Young Jae: Aku juga tidak baik-baik saja. Aku juga.. memikirkanmu dari waktu ke waktu.


Young Jae bertanya, apa Joon Young baik-baik saja. Joon Young mengatakan kalau ia baik-baik saja.

Joon Young tiba-tiba muntah di bawah pohon.

Young Jae: Berubah apaan. Kau belum berubah sedikitpun.


Young Jae meninggalkan Joon Young di depan minimarket untuk membeli minuman pereda mabuk, tapi saat ia kembali Joon Young malah tertidur pulas. Young Jae membangunkan tapi Joon Young sama sekali tidak mendengar.

Young Jae membuka ponsel Joon Young untuk menghubungi keluarga Joon Young tapi ponselnya diberi sandi. Young Jae menghela nafas, ia membangunkan Joon Young lagi tapi tidak berhasil.

"Bagaimana ini?" Gumam Young Jae.


Paginya, Joon Young membuka matanya dan ia melihat pemandangan ruangan yang asing. Disana ia melihat Soo Jae. Soo Jae berkata kalau Joon Young akan menderita karena mabuk.


Joon Young langsung bangun, ia bertanya siapa Soo Jae. Soo Jae balik bertanya, lalu kenapa Joon Young ada di rumahnya jika tidak kenal dirinya? Joon Young juga bingung, kenapa ia disana?

Soo Jae: Ada secangkir kopi Kona dari Hawaii tepat di sampingmu. Mark Twain pun sangat memujinya dan kopi ini memang pantas dipuji.

Joon Young: Apa?

Soo Jae: Rasa pengar mengubah kesenangan semalam menjadi kesakitan dan menderita keesokan paginya. Kopi itu akan membebaskanmu dari pengarmu.


Joon Youn pun meminumnya dan ia memuji rasanya yang nikmat.

"Tentu saja nikmat. Karena dibuat oleh orang yang menang Kejuaraan Barista ke-38. Apa kau tahu siapa itu?"

"Entah."

"Aku."

"Ah.."


Joon Young melihat ada kertas aneh di meja, ia mengambilnya dan Soo Jae bilang itu kartu namanya. Soo Jae yakin itu pasti sangat berguna suatu hari nanti. Joon Young harus memasukkannya ke dalam sakunya. Joon Young pun melakukannya.


Lalu Soo Jae memberinya buku dan menyuruh Joon Young membacanya. Itu adalah tulisan tangan Soo Jae. 

"Pria bertopi dan bertopeng memukul kepala gadis itu dengan palu." Satu kalimat yang dibaca Joon Young.

Soo Jae beranya bagaimana pendapat Joon Young. Joon Young bilang mengerikan.

"Berarti.. aku telah berhasil.  Ini film thriller kejahatan. Jadi jika adegan pertama membuatmu merinding, maka aku telah berhasil. Ini tentang pembunuh berantai psikopat yang menewaskan total 14 orang. Itu ditulis berdasarkan kisah nyata. Kau ingat kasus pembunuhan berantai di distrik barat daya?"

"Ya, tentu saja."

"Aku ingat hari itu, si pembunuh ditangkap. Hari itu, Young Jae dan hidupku juga berubah."

"Young Jae? Kau kenal dia?"

"Young Jae menyuruhku membangunkanmu jam 8 pagi."


Joon Young melihat jam dan ia terkejut karena sudah jam setengah sepuluh. Ia langsung berterimakasih dan permisi pulang.


Anggota Tim Joon Young tertawa karena Joon Young akhirnya bisa terlambat juga, tapi itu manusiawi kok. Joon Young mint maaf.

"Buat apa minta maaf? Aku mengutus dua personel ke Badan Forensik. Setelah kita mengecek, kita bisa langsung ke kantor. Aku tahu kita akan pergi karena kita menerima laporan. Tapi ini soal orang yang melarikan diri setelah menggelapkan uang perusahaannya."


Mereka menuju rumah tersangka, tapi anggota Tim Young Jae tak mengira tersangka akan ada di rumah, mungkin lagi hidup enak di suatu tempat, pasti mereka cuma buang-buang waktu di sana. Young Jae memegangi perutnya yang mulai terasa tidak enak.


Mereka membuka rumah tersangka dan ternyata orangnya ada di rumah. Orang itu langsung kabur lewat jendela saat mereka datang.


Joon Young mengejarnya, tapi larinya tidak maksimal karena efek mabuknya.


Beruntung rekannya tadi memblokir jalan si tersangka dan berhasil menangkap tersngka. Joon Young kembali muntah.

Anggota Tim Joon Young heran, habis makan apa Joon Young memangnya? Joon Young  tidak sanggup menjawab, ia menuruh Anggota Timnya pergi saja duluan.


Waktunya makan malam, tapi Joon Young tidak mau makan karena perutnya sedang tidak enak. 


Ayah terus melihat ponsel saat makan dan ibu kesal, ibu merampas ponsel ayah.

Ibu: Berhenti melihat pasar saham, dan makan saja kau. Kau sebaiknya tidak usah beli saham lagi.

Ayah: Tak akan. Uang saja tak punya. Semua gaji bulananku 'kan kukirim ke rekeningmu.

Ibu: Beraninya kau bertingkah sebagai wakil kepsek?


Ri Won berkata kalau Joon Young menginap di luar semalam. Ibu dan Ayah langsung tertarik, menginap di luar? Joon Young mengelak, cuma masalah kerjaan kok.

Ri Won: Joon Young seorang psiko mesum menderita OCD yang membawa celana dalam dan kaos kakinya walau dia lagi dalam pengintaian. Tapi dia memakai celana dalam yang sama selama dua hari kerja berturut-turut. Berarti dia nginap di luar.

Joon Young: Apa maksudmu? Tadi aku lagi memecahkan kasus.

Ri Won: Ya, pasti itu kasus yang sangat serius.


Ibu bertanya penuh harap, apa akhirnya Joon Young berkencan? Joon Young akan menjawanya, tapi ayah menyela.

Ayah: Jangan berkencan sama PNS. Apalagi guru. Mereka jadi lebih otoritatif dan kasar seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Ibu merasa tersindir dan langsung menoleh ke ayah. Ayah diam dan melanjutkan makannya.


Ri Won: Ini rasanya mirip saat dia nginap di luar tujuh tahun lalu. Ini kedua kalinya dia nginap di luar setelah tujuh tahun. Apa ini kasus nginap di luar berantai?

Joon Young tidak menanggapi, ia memilih masuk ke kamarnya. Ayah bertanya lagi, jadi Joon Young benar berkencan atau tidak? Joon Young tidak menjawab.


Joon Young kesal dengan adiknya yang usil itu. Lalu ia mendapat telfon, ternyata adiknya yang menelfon. Joon Young ini kebiasaan langung mengangkat telfon tanpa melihat siapa yang menelfon.

"Aku benar, 'kan? Ini kasus berantai. Dan lawannya mungkin wanita yang sama dari tujuh tahun lalu." Kata Ri Won.

Joon Young langsung menuju pintu dan saat ia membukanya, R Won sudah ada tepat di depan kamarnya. Joon Young sangat terkejut.


Ri Won masuk sambil melanjutkan bicara di telfon, "Kau pulang kesini jam segini berarti kau pulang kerja. Dan begitu kau selesai bekerja, kau tidak pernah keluar lagi. Berarti aku bisa pakai mobilmu."

Ri Won langsung keluar setelah mendapatkan kunci mobil.

Joon Young: Kalau sudah kau pakai mobilnya, langsung dicuci.


Joon Young kembali kepikiran Young Jae, apalagi saat Young Jae bilang tidak punya alasan khusus untuk mencapakkannya.

Young Jae melamun di ruangannya.


"Rasanya seperti aku berjalan di dalam awan gelap sepanjang hari. Insiden yang terjadi tujuh tahun lalu.. membuatku merasa gelisah dan terus menggangguku seharian."

Young Jae tidak bisa lupa saat Soo Hee menghinanya dulu.

"Semua orang menghinaku.. kalau aku anak yang menyedihkan yang dibesarkan oleh nenekku  karena orang tuaku sudah meninggal."


Ia juga ingat saat Joon Young mendatanginya di salon untuk mengembalikan tasnya, Joon Young bilang akan menunggunya.

"Dan ketika nenekku meninggal, aku masihlah anak yang menyedihkan yang ditinggalkan sendirian dengan kakakku."


Setelah salon tutup, Young Jae mendapat telfon dari pacarnya Soo Jae.

"Tapi itu tidak menggangguku.. karena aku masih punya kakak yang bisa diandalkan."


Young Jae ke rumah sakit dan disana pacarnya Soo Jae menangis di depan ruangan operasi.

"Kakakku adalah ibuku, ayahku, dan nenekku. Kukira, aku sudah merasa cukup dengan kakakku saja. Dia lebih dari cukup."


Staf Young Jae ijin pulang lebih awal karena ibunya sakit. Young Jae mengijinkannya tanpa bertanya apapun.


Joo Ran lalu masuk, ia heran melihat Young Jae bersikap lunak pada stafnya padahal biasanya tegas. Sekali lihat, staf Young Jae pasti tadi bohong.

"Dia pasti punya alasan di balik itu." Jawab Young Jae.

"Alasan apa? Pasti dia lagi malas kerja."

"Aku selalu galak sama mereka, jadi tak apa sekali-kali aku membiarkan mereka. Aku bisa kerjakan ini sendirian."

"Dia itu hanya berperan sebagai pendukung drama. Kenapa dia ingin menata rambutnya di sini untuk syuting malamnya?"


Young Jae menyinggung dandanan Joo Ran yang begitu luar biasa, mau kemana emang?

"Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan selain mengikuti sarannya. Aku sudah bergabung dengan komunitas salsa. Tapi, kenapa kau kelihatan murung?"

"Kau memang mengenalku."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap