Sunday, October 7, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 3 Part 2

Sumber: jtbc


Ri Won bekerja part time di sebuah bar. Sepertinya ia sudah lama kerja disana karena kelihatan mahir banget.


Ternyata bar itu milik Sang Hyun. Sang Hyun heran, bagaimana Ri Won mempertahankan wajah itu dari kecil? Ri Won bisa jadi tambah cantik,  tapi Ri Won selalu sama.

"Pelanggan wanita mungkin jadi makin percaya diri dengan melihatmu. Di depan pacar mereka, mereka pasti merasa sangat  percaya diri dan bangga. Kau pekerja paruh waktu terbaik." Lanjut Sang Hyun.


"Apa kau tahu kenapa aku, pekerja paruh waktu terbaik, bekerja di sini?"

"Karena bos yang menawan?"

"Hanya ada satu alasan aku bertahan dengan bos yang payah itu. Itu karena gajinya sedikit lebih tinggi dari tempat lain."

"Dasar."


Ada dua pengunjung wanita bule. Sang Hyun ingin melayani mereka sendiri dan ia menggunakan bahasa inggrisnya yang pas-pasan.  Ri Won hanya memperhatikan saja.


Sang Hyun kembali dan mengatakan pesanan wanita itu pada Ri Won.

Ri Won: Sekarang, kau rupanya tidak peduli dengan ras wanita.

Sang Hyun: Hei, itu namanya diskriminasi rasial. Tidak ada batasan dalam hal bercinta.

Ri Won: Memangnya kau PBB apa?

Sang Hyun: PBB?


Dan obrolan mereka berhenti karena kedatangan Joon Young dengan wajah ditekuk.

Sang Hyun: Lihatlah dia. Kakakmu datang menghabiskan malam terakhir liburannya di sini.


Young Jae akan naik kereta dan ia melihat seorang penyandang cacat kesulitan mengambil dompetnya yang jatuh. Padahal disana banyak orang tapi tidak ada yang membantu.

Young Jae bergegas kesana untuk membantu. Orang itu langsung berterimakasih.


Lalu datanglah dua orang wanita yang terburu-buru akan masuk kereta karena pintunya sudah terbuk. Salah satunya menyangkutkan tasnya ke kursi roda orang itu. Dia menariknya dengan kasar sampai orang itu akan jatuh, untung ada Young Jae yang membantu orang itu, tapi wanita itu bahkan tidak minta maaf.


Saat di dalam kereta, Young Jae menyuruh wanita itu minta maaf karena sudah mendorong duluan. Orang itu menyuruh Young Jae diam saja, ia mengaku kalau dirinya yang bersalah.

Tapi wanita itu malah kesal karena tasnya tergores, padahal harga tasnya mahal banget dan edisi terbaru. Menyebalkan sekali.

"Padahal dia gratis naik kereta bawah tanah. Kenapa dia jadi merepotkan orang lain?" Kata wanita yang berjaket hitam.


Young Jae kesal dan kembali menyuruh si pemilik tas itu untuk minta maaf.

"Makanya, kenapa juga dia naik kereta bawah tanah di jam sibuk begini? Dia harusnya tahu diri, dan tidak merepotkan orang lain."

"Beraninya kalian sembarangan bicara! Minta maaf. Minta maaf!"

"Apaan coba?"

Lalu wanita yang memakai jeket hitam itu mengajak menjauh, mengatakan kalau Young Jae tidak waras.


Young Jae menarik tas wanita itu, menyuruhnya untuk cepat minta maaf. Wanita itu tetap tidak mau dan menarik tasnya balik, akhirnya tali tasnya putus.


Sang Hyun menduga Joon Young sedang memikirkan wanita itu. Joon Young mengelaknya.

"Ya. Mungkin saja buat orang sepertimu, yang belum pernah pacaran dengan siapa pun."

"Apa maksudmu? Itu bukan masalah bagiku."

"Baiklah. Tujuh tahun lalu, wanita itu memberimu satu hari pengalaman berpacaran. Dan kau kebetulan bertemu wanita yang sama pada tanggal 31 Desember dari semua tanggal, seperti di film-film. Kau mungkin mengira jika ini takdir. Namun kisah seperti itu hanya ada di film-film. Tidak ada yang namanya takdir buat pria biasa sepertimu. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Dan itu jugalah harapanku."


Joon Young heran, kenapa? Sang Hyun mengingatkan kalau Joon Young tidak lanjut kuliah dan malah ikut ujian rekrutmen polisi karena perpisahan yang mengerikan itu. Joon Young itu tak ada darah polisi, jadi tidak masuk akal.

"Tapi kenapa?" Tanya Joon Young lahi.

"Baiklah. Coba bayangkan aku seorang biksu... atau pendeta. Bagaimana?"


Joon Young mengangguk-angguk mengerti. Sang Hyun mengatakan kalau begitulah perasaannya dulu saat Joon Young mendaftar akademi polisi.


Ternyata sedaritadi Ri Won menguping, Ri Won tanya, apa dia wanita yang membuatnya pertama kali nginap keluar semalaman? Joon Young mengkode adiknya itu untuk diam.

"Padahal hanya ada satu wanita." Lanjut Ri Won.

Sang Hyun sangat terkejut mendengarnya, "Kau menghabiskan malam bersamanya? Dasar kau. Bisa-bisanya kau? Jangan bilang kau minta nomornya."


Joon Young: Memangnya aku gila? Kenapa pula aku begitu?

Sang Hyun: Aku takut kau terpancing karena haus akan cinta.

Joon Young: Aku tak haus akan cinta, ya!

Sang Hyun: Apa nomorku masih nomor pertama  yang disimpan di speed dial ponselmu?

Joon Young: Ya.

Sang Hyun: Jadi aku harus bagaimana? Aku hanya harus membantumu. Apa lagi yang harus kulakukan? Bagaimana kalau wanita arah jam 2?

Ri WOn kepo, wanita yang mana? Sang Hyun malah menunjukkan pelanggan yang akan memesan dan menyuruh Ri WOn segera kesana.


Sang Hyun kembali mendekati wanita bule itu. Tapi Joon Young sama sekali tidak tertarik untuk bergabung.


Young Jae dan wanita it berakhir di kantor polisi. Wanita itu menyuruh Young Jae bertanggung jawab atas tasnya. Young Jae juga menyuruh eanita itu bertanggung jwab karena bajunya robek.

"Beraninya kau membandingkan baju murahan itu dengan tasku?"

Pak polisi menengahi mereka, menyuruh mereka untuk tenang.

Young Jae: Mana bisa aku tenang di sini? Bapak kursi roda itu hampir  terluka karena mereka ini.

Wanita: Terluka? Dia terluka?

Young Jae: Perkataan sudah cukup buat melukai orang.

Polisi: Sepertinya masalahnya tidak terlalu serius. Kenapa kalian tidak berdamai saja dan menyelesaikan ini?

Wanita: Kau memihak si pria kursi roda itu, bukan? Dia ini begini karena dia gagal  merampas uang dariku. Lihatlah tasku hancur gara-gara dia. Aku yakin mereka ini dari jaringan penipuan.

Young Jae: Apa, jaringan penipuan?


Kemudian datanglah pacar si wanita itu yang merupakan atasan polisi yang bertugas. Ia menyuruh polisi itu memeriksa Young Jae. Ia percaya perkataan pacarnya kalau Young Jae adalah penipu.

Young Jae tidak terima, kenapa cuma ia yang diperiksa? Tapi polisi tetap meminta KTP Young Jae.


Sang Hyun mengatakan kalau dirinya yang terganteng nomor satu di korea dan nmor duanya adalah Sang Hyun, ia menyuruh Sang Hyun melambai. Joon Young hanya melambai sekilas.


Joon Young mendapat telfon dan terdengar suara teriakan wanita. Joon Young heran, siapa?

Ri Won kembali menguping karena mendengar suara wanita, "Itu suara wanita. Siapa dia?" Tanya Ri Won.


Ternyata yang menelfon Joon Young adalah Young Jae dan sekarang Joon Young ke kantor polisi tempat Young Jae berada.

Joon Young mengenalkan siapa dirinya, ia datang untuk menjamin Young Jae.


Young Jae mengajak Joon Young minum dan ditengah itu Joon Young mendapat telfon dari anggota timnya.

"Soal geng nomor dua.. Anak muda yang tegap itu bunuh diri. Keluarganya pasti kesulitan mengatasinya." Kata anggota tim-nya.

"Jadi mereka mengajukan otopsi, 'kan?"

"Ya, benar. Kapten memang paham sekali. Aku bahkan tidak perlu memberitahumu. Kapten tidak perlu datang ke kantor besok. Langsung saja ke Badan Forensik."

"Baik. Jam 9 pagi, 'kan? Baiklah."


Joon Young lalu kembali duduk di depan Young Jae. Young Jae memaki wanita tdi, dasar orang jahat! Korea ini memang korup sampai ke akarnya.

"Kau belum berubah sama sekali rupanya. Kau masih saja berisik, dan bahkan amarahmu itu belum berubah."

"Jadi apa aku harus membiarkan sampah itu begitu saja? Polisi yang hebat dikritik karena orang seperti mereka dan bahkan orang-orang sepertiku pun dikritik."

Young Jae lalu minum sojunya dan berkata itu pahit sekali.


Young Jae heran melihat Joon Young tidak minum sama sekali padahal ia mengajak Joon Young kesana untuk mengucapkan terimakasih. Joon Young akan pergi tapi Young Jae tidak bisa membiarkan Joon Young tidak minum, ia mengajak Joon Young menghabiskan satu botol baru pergi.


Joon Young langsung menuangkan satu botol penuh ke dalam gelasnya dan meminumnya satu kali teguk. Young Jae tersenyum. Yaa.. Joon Young sudah sewasa sekarang, sudah banyak berubah. Young Jae serius.

Joon Young: Kau sungguh baik-baik saja seperti ini?


Dan Joon Young terus minum sampai ia mabuk. Ia mengulangi pertanyaannya lagi, apa sungguh Young Jae baik-baik saja seperti ini sekarang?

Young Jae: Saat itu.. aku bingung apa aku harus meneleponmu atau apa aku harus pergi menemuimu. Aku sangat ragu-ragu. Selama tujuh tahun terakhir, kau sama sekali tak menghubungiku. Terus tiba-tiba kau meneleponku seperti ini saat kau butuh aku. Dan kau tersenyum dan memanggil namaku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Bagimu aku ini apa?


Tapi Young Jae malah tersenyum. Joon Young tidak mengerti dengan tanggapan Young Jae itu.

"Tanpa kacamata, kau jadi tampan. Kau pakai kontak lensa?" Tanya Young Jae mengalihkan pembicaraan.

"Aku operasi lasik! Apa kau.. jangan-jangan mencampakkanku karena aku pakai kacamata?"

Young Jae ketawa, ia menggeleng.

"Terus apa? Pasti karena kawat gigiku. Kau malu karena aku, 'kan?"

"Tidak. Kau itu manis."

"Manis? Padahal aku manis, tapi kenapa kau seperti itu? "Hari ini hari pertama kita, ya". Kau sendiri yang bilang. Apa sebenarnya salahku? Teganya kau mencampakkanku seperti itu?"

"Kau tak salah apa pun."

"Terus kenapa kau begitu?"


Young Jae berpikir sebelum menjawabnya, dulu.. Yah tak kenapa-kenapa. Mau bagaimana lagi.

"Dasar jahat. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun, tapi aku sebenarnya.. jadi polisi karena kau. Aku tidak bisa mempercayai semua wanita karena kau. Dasar jahat. Aku sangat membencimu."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap