Monday, October 1, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 2 Part 1


Sumber: jtbc


Acara popo mereka terhenti karena lagu romantis dari radio segera berubah menjadi lagu patriotis. Baik Young Jae maupun Joon Young sama-sama canggung setelah Popo itu.


Bahkan setelah selesai, mereka tidak mampu memandang mata masing-masing. Young Jae berpesan agar Joon Young kKeramas kalau sudah sampai rumah, kalau tidak nanti rambutnya rontok.

"Ya." Jawab Joon Young.

"Besoknya, jangan dikeramas rambutnya. Kalau keramas, nanti keritingnya tak bagus."

Joon Young mengangguk dan Young Jae kembali menyuruhnya pergi.


Joon Young sudah melangkah beberapa langkah, tapi kemudian ia kembali, ia menanyakan apa Young Jae tak pulang?

"Aku harus beres-beres dulu."

Joon Young mengerti dan langsung berlari pulang.


Young Jae masih malu dengan kejadian tadi, tapi ia senyam-senyum setelahnya.


Sampai di rumah, ia terkejut karena Soo Jae masih melek sambil menghadap buku. Soo Jae mengatakan kalau ia sudah menyisakan ayamnya untuk Young Jae.

"Tak usah." Jawab Young Jae.

"Lee Young Jae."

"Kenapa?"

"Sepertinya ada yang mencurigakan."

"Mencurigakan apaan? Aku cuma tak lapar saja."

"Apa yang kau lakukan sampai selarut ini? Aku sampai heran kau tak kelaparan."

"Aku tadi latihan menata rambut."

"Siapa kau beraninya membohongiku? Kau itu sudah berada di telapak tanganku. Rambut siapa yang kautata?"


Young Jae agak terkejut jugakarena kakaknya memergokinya. Soo Jae melanjutkan, orang yang mempercayakan rambutnya pada Young Jae saja, berarti mereka berdua sangat dekat, piapa dia? Cepat katakan!

"Siapa lagi? Dia cuma pelanggan." Jawab Young Jae dan langsung masuk kamarnya.


Young Jae tak bisa melupakan kejadian tadi dan itu membuatnya senyum-senyum sendiri.


Joon Young selesai keramas, ia menatap bayangan dirinya di cermin lalu menyentuh rambutnya lalu menyentuh bibirnya. Joon Young juga belum bisa lupa.


Ibu keluar kamar mau ke kamar mandi dan ia sangat terkejut melihat Joon Young di kegelapan. Ibu memanggil Joon Young Ahjumma.

"Ahjumma, kau siapa? Ibu?"

Joon Young diam saja dan melanjutkan jalannya ke kamar.


Ri Won masuk ke kamar Joon Young begitu Joon Young masuk kamar. Ri Won ini selalu mengamati kakaknya.

"Lihatlah kau. Sekarang jam 01:25. Ini pertama kalinya kau nginap  di luar semalaman."

"Dik. Aku tidak nginap semalaman. Sekaranglah aku mau tidur."

"Ini 'kan sudah lewat tengah malam, jadi hari sudah berganti. Dan itu artinya kau nginap keluar semalam."

Tapi Joon Young malah girang banget, ia senyum lebarrr.

"Kenapa kau.. senyum begitu?"

"Kenapa memang? Bukannya aku mirip Lee Jung Jae?"

"Kau pulang dengan rambut anehmu.. dan otak yang aneh pula."

Ri Won langsung keluar.


Joon Young gak bisa tidur, ia tidak bisa berhenti tersenyum juga. Pokoknya seneng banget dia.


Bahkan hal itu berlanjut sampai pagi. Joon Young terus tersenyum saat menyiapkan sarapan. Ri Won sampai mengernyit melihat kelakuan aneh kakaknya itu.


Soo Jae membangunkan Young Jae, tapi entah kenapa Young Jae nya sudah mandi dan sekarang sedang menata rambutnya.


Joon Young masih belum bisa berhenti tersenyum, ia terus tersenyum dan bergoyang bahkan saat berdesak-desakan di kereta. 


Di kelas pun Joon Young masih terus tersenyum, ia bahkan tidak konsen pada pelajaran dan tidak menulis saat dosen mencatat di papan.

Teman dibelakangnya kesal karena kepala Joon Young menghalangi pandangannya ke papan.


Di salon, Young Jae juga ceria kembali tidak seperti kemarin.


Joon Young melihat pengumuman, soal bar satu hari dan harus hadir dengan pasangan. Joon Young membayangkan Young Jae adalah pasangannya.


Sang Hyun mengumumkan pada anak-anak agar datang semua: Jurusan kita menyelenggarakan bar satu hari untuk mengetahui reaksi kimia antara pria dan wanita. Kalian harus datang, ya. Siapa tahu kalian benar-benar jadi pasangan.


Young Jae jadi baik banget sekarang, ia tidak marah karena kakaknya tidak menaruh sepatu bau di dalam rumah, ia malah menata sepatunya serapi mungkin.


Joon Young pulang-pulang langsung mengecek ponselnya. Sekarang ada 3 kontak di ponselnya, Ibu, Ayah, dan Young Jae. Joon Young tersenyum membaca nama Young Jae.


Joon Young tiba-tiba berlari ke pintu dan langsung menguncinya. Kemudian ia menelfon Young Jae.


Dan betapa terkejutnya dia saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Young Jae refleks memencet tombol rijek. Ternyata itu adalah kerjaan Ri Won yang membuka kamarnya dengan kunci cadangan.

"Kenapa pintunya kaukunci? Jangan-jangan kau nonton film porno gay, ya?"

"Keluar kau!"

"Jangan kunci pintunya. Karena aku akan menerobos masuk dan mengecek kegiatanmu."

"Keluar!"

Joon Young mendorong adiknya keluar dan kembali menutup pintu kamarnya.


Young Jae menelfon Joon Young balik. Joon Young tarik nafas dulu sebelum manjawab dan ia berusaha senatural mungkin menjawabnya.

"Ya, Young Jae. Ada apa?"

"Kau sendiri tadi yang meneleponku. Kenapa kaututup teleponnya?"

"Oh, iya. Aku yang meneleponmu. Jadi begini... Semalam, aku sampai rumah dengan aman, jadi apa kau juga pulang dengan aman kemarin?"

"Karena itu kau menelepon?"

"Tidak. Jadi begini... Aku tak yakin entah karena keritingnya atau apa, tapi penggunaan sampoku jadi lebih banyak daripada biasanya. Jadi aku ingin bertanya apa ini normal. Bukan maksudku ini tidak normal. Karena menurutku ini normal. Besok kau ada waktu?"

HAHAHAHAHA


Soo Jae bekerja dibangunan ternyata dan disana ia terkenal sangat semangat.


Saat istirahat, ia menelfon Jeong In untuk menceritakan tentang Young Jae yang tiba-tiba tersenyum tanpa alasan dan gaya bicaranya beda sekali sekarang. Entah dia sakit atau dia punya cowok. Tapi mana mungkin dia sakit. Maksudnya dia saja ibarat bisa mengunyah besi.

"Sudah saatnya dia punya pacar. Young Jae itu jarang dandan, tapi dia sangat cantik."

"Pria macam apa yang suka sama cewek tomboy seperti dia? Dia setidaknya harus berpakaian seperti wanita. Aku tahu itu memang tak cocok buatnya, tapi belikanlah dia pakaian tercantik dan suruh dia pakai baju itu, Aku sudah mengenalnya selama 20 tahun dan dia tidak pernah beli baju mahal. Nanti kau kukasih uang, jadi jangan khawatir soal harganya." Pinta Soo Jae.

"Tapi aku tak mau."

"Kenapa?

"Karena aku yang  akan membelikannya sendiri."

Young Jae tiba, jadi Jeong In harus menutup telfon.


Jeong In langsung mengatakan yang ia dengar bahwa Young Jae punya pacar. Young Jae menggerutu, kakaknyamemang tukang gosip.

"Tidak, dia bukan pacarku." Elak Young Jae dan hanya ditanggapi senyuman oleh Jeong In.

Lalu Jeong In memilihkan baju untuk Young Jae, gaun merah polkadot.

"Aku ini mau kasih hadiah buatmu."

"Karena itu kau menyuruhku ke sini? Tak usah."

"Tak bisakah kau mencobanya?"

"Ini mahal sekali. Tidak. Ini terlalu mahal."


"Ini tidak gratis. Aku ini ingin kau menghargai usahaku. Kita mungkin sudah dekat sekarang, tapi kau bisa saja berubah menjadi adik ipar yang jahat setelah aku menikah."

"Tak usah, Unni."

Tapi Jeong In terus memaksa Young Jae untuk mencobanya.


Joon Young bersiap, ia mencari baju denim barunya yang tidak ada di lemari.

"Kau menaruhnya di keranjang cucian. Ada di mesin cuci." Jawab ibu saat Joon Young bertanya.


Joon Young pun langsung menuju mesin cuci dan mengambil bajunya, tapi bajunya basah kuyup sudah.

"Kenapa Ibu mencuci baju ini sekarang?"

"Kalau begitu pakai saja baju putih."

"Aku 'kan sudah pakai itu waktu itu. Mana bisa aku pakai baju yang sama lagi."

"Memangnya kalau kau sudah makan malam, kau jadi tak makan siang?"


Joon Young langsung membawa bajunya ke kamar dan tanpa di peras jadi airnya berceceran di lantai. Ibu heran melihat kelakuan Joon Young itu.

Tapi sebelum ibu berkomentar, Joon Young segera mengelap ceceran air di lantai.


Young Jae mencoba gaun itu dan kelihatan cocok banget, tapi Young Jae gak nyaman memakainya, canggung sekali katanya.

"Pacarmu pasti tambah suka kalau kau berdandan juga." Komantar Jeong In.

"Dia bukan pacarku."


Joon Young mengeringkan bajunya dengan menyetrikanya sambil menggumamkan rencananya untuk bertemu dengan Young Jae nanti.

"Hari ini, aku akan mengajaknya makan spageti di Fugili dan baca buku dengannya di Toko Buku Teman."


"Terus kita minum kopi di Coffee Brings Love dan menonton "Pride and Prejudice" di Life Theatre. Film itu mungkin film sedih."


Joon Young juga menyiapkan hadiah, sebuah CD dan tak lupa ia memilih sapu tangan yang nanti akan dibawanya.

"Dan tepat sebelum busnya datang, aku akan menanyakan soal bar satu hati padanya."


"Oke. Perfect."


Young Jae keluar dari stasiun bawah tanah dan ternyata Joon Young sudah menunggunya. Young Jae tertawa melihat gaya Joon Young itu, tapi saat sudah dekat, ia menghilangkan tawa di bibirnya.


Young Jae berkata rambut Joon Young terlihat cocok dan itu membuat Joon Young tersenyum.

"Kau 'kan yang menatanya. Jadi, terima kasih." Balas Joon Young.

"Aku tidak terlambat, 'kan?"

"Ya."

"Tapi kenapa kau datang lebih cepat dan menungguku? Aku jadi kelihatan seperti orang yang kurang ajar. Tapi kenapa kau ingin menemuiku?"

"Sebenarnya.. ada yang ingin kukatakan padamu."

"'Kan bisa dikatakan lewat telepon."

"Tetap saja, lebih tepat mengatakannya secara langsung begini."

"Karena aku sudah datang, jadi katakan saja."

"Tidak, nanti aku akan memberitahumu."

"Terus kita sekarang mau apa?"

"Sebenarnya.. aku sudah buat rencana."

"Kata siapa?"

"Makanya.. Aku akan bertanya padamu lebih dulu."

"Tanyakanlah."

"Jadi begini.. rencanaku.."


Ternyata Young Jae tidak suka dengan rencana Joon YOung itu, ia saja sudah makan siang terlambat hari ini. Dan Joon Young ingin membaca buku di toko buku? Sudah gila apa? Dan iacuma bisa minum kopi instan manis. Kalau ia minum kopi pahit, nanti ia tak bisa tidur. Kalau ke bioskop, tak masalah.

"Ya, 'kan?" Joon Young senang.

"Tapi "Pride and Prejudice" tidak bagus. Judulnya saja sudah membosankan."

"Begitu, ya?"

"Hei, ada film gila yang baru saja dirilis."

"Film apa?"


Film pilihan Young Jae serem banget, masa tokohnya menggergaji kakinya sendiri. Joon Young jantungan melihatnya. Tapi Young Jae sih anteng saja menikmati adegan demi adegan.


Usai menonton, Joon Young mengelus dadanya. Young Jae berkomentar, Joon Young penakut sekali sebagai seorang pria.

"Namanya prasangka kalau menganggap pria tidak bisa merasa takut."

"Kau bisa jadi PNS, tapi jangan jadi polisi."

"Polisi? Aku tidak akan pernah mau jadi polisi."

"Bukan karena kau tak mau. Tapi kau pasti tidak bisa. Kau itu penakut. Mana bisa menangkap penjahat."

"Bukannya aku tidak bisa. Tapi aku takkan mau."

"Baiklah, anggaplah kau tidak mau. hehe. Tapi bukannya ada yang ingin kaukatakan? Katakan saja."


Akhirnya Joon Young meminta Young Jae datang ke bar satu hari dari jurusannya sebagai Partnernya.

"Partner?" Ulang Young Jae.

"Tapi kalau kau sibuk, kau  tak perlu datang."

"Berarti aku takkan datang."

"Karena pekerjaan sambilanmu?"

"Bukan, cuma itu agak tidak nyaman."

"Bukannya kita pacaran, ya?"

"Apa?"

"Kita 'kan sudah popo."

"Memangnya kalau popo, artinya pacaran?"

"Baiklah."


Joon Young lemas, tapi ia tetap memberikan hadiah yang sudah ia siapkan. Dalam CD itu ada lagu-lagu terbaik Sung Si Kyung. Young Jae menerimanya walaupun mengatakan kalau ia tidak suka Sung Si Kyung. ZONK!!


Dan bus Young Jae datang. Joon Young mengucapkan selamat tinggal dengan lemas.

Tapi sebelum naik Young Jae memanggil Joon Young, "Ohn Joon Young. Kalau aku datang, artinya kita pacaran. Kalau tak datang, artinya kita tak pacaran."

Joon Young kembali semangat lagi karena artinya ia masih memiliki kesempatan.

0 komentar

Post a Comment