Saturday, October 6, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 1 Part 3

Sumber: tvN


Alarm Jin Kang berdering, tapi Jin Kang malah menutupi dirinya dengan selimut. Jin Kook kesal karena berisik sekali. Ia membuka kamar Jin Kang lalu mendekatkan alaram itu pada Jin Kang agar adiknya itu bangun.


Jin Kook mengantar Jin Kang dan ia mengeluhkan Jin Kang yang tidak makan sarapan buatannya, dasar pemalas!

"Apa kamu keramas setidaknya empat hari sekali? Karena inilah kamu lajang." Lanjut Jin Kook.

"Kakak tidak tahu? Aku punya pacar. Hubungan kami serius."

"Pacar? Yang benar saja. Selama dua tahun ini, tidak ada hal yang mencurigakan. Kamu tidak pernah menginap di luar selama dua tahun ini. Membeli pakaian dalam seksi pun tidak pernah. Juga tidak pernah mengangkat telepon diam-diam. Apalagi saat ulang tahunmu, Natal, dan Hari Kasih Sayang. Tidak ada barangmu yang seperti hadiah dari pacar. Misalnya, cincin, anting-anting, dan kalung."

"Astaga."

"Piss. Ayolah, kakak detektif berbakat, veteran di antara veteran. Saat masuk kepolisian, semua senior memuji kakak. Katanya kakak sangat berbakat dan terlahir menjadi detektif."

"Yakin, Manajer Yoo?"


Jin Kook langsung berhenti, bertepatan juga itu tempat pemberhentiak mereka dan Jin Kang langsung keluar. Jin Kook kesal, apa kata Jin Kang?

"Setahuku, Kakak tidak pernah menjadi veteran. Hasilnya, Kakak dijuluki Manajer Yoo. Kenapa? Karena Kakak tidak seperti detektif. Karena Kakak seperti pegawai kantoran."

"Bagaimana kamu tahu?"

"So Jung yang membocorkannya."

"Sial. Enyahlah. Kakak terlambat. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa. Semangat, Manajer Yoo!"

Dan keduanya saling tersenyum.


Jin Kang mengendap-endap masuk ke kantor, tapi CEO hwang tetap tahu. Ia penasaran dengan tanggapan Woo Sang. Jin Kang menunduk, memasnag wajah sedih.

"Apa? Jangan bilang kamu belum memberikannya."

Jin Kang kembali diam saja. CEO Hwang kesal, katakan itu tidak benar. Dan Jin Kang kembali diam saja.

"Penjualan tahunan mereka 300.000 dolar, astaga. Lelangnya sengit. Kenapa tidak memanfaatkan koneksimu?"

"Dia sekadar pacar temanku..."


Dan itu malah membuat CEO Hwang kesal. Jin Kang menyemangati, mereka akan baik-baik saja. Ia rasa mereka akan menang. Ia akan menampilkan presentasi yang cemerlang.

"Sudahlah. Aku membencimu."

Lalu CEO Hwang kembali masuk ke ruangannya.


Jin Kang menoleh pada So Yeon, mengatakan kalau ia juga membenci dirinya sendiri. So Yeon hanya tersenyum.


Detktif Lee melakukan presentasi hasil penyidikan kepada semua detektif di kantor mereka. 

"Nama korban, Jeong Mi Yeon. 22 tahun. Jurusan tari di Universitas Seongmin. Dia cuti pada tahun ketiga. Dari kamera di dasbor mobil yang diparkir di depan kebun bunga tempat dia jatuh, dia jatuh pukul 3.04 kemarin. Penyebab kematiannya patah tulang leher akibat jatuh. Tapi dari uji reaksi luminol, ditemukan banyak bekas darah. Diduga bagian belakang kepalanya sudah terluka parah akibat benda tumpul sebelum jatuh. Saat dia sembunyi di teras, seseorang pasti mendorongnya. Pelakunya membersihkan TKP sebelum lari."


Juga menunjukkan foto yang diambil saat kali pertama kami memasuki TKP. Seperti yang tampak, TKP sangat bersih. Kemudian menunjukkan reaksi luminol pada bekas darah.


Salah satu detektif menanggapi, "Aigo.. Sebaiknya aku menyerahkan diri daripada membereskannya. Menghapus bekas darah itu melelahkan."


Pintu terbuka dan Jin Kook baru masuk, cuma Cho rong yang menyambutnya.


Detektif Lee melanjutkan, "Saat pemeriksaan pertama, ditemukan pecahan logam di belakang kepalanya. Diduga itu pecahan trofi dari kompetisi menari, tapi kami masih menganalisisnya. Trofinya tidak terlihat di TKP. Dari arah bekas luka di kepala korban, tampaknya pelaku kidal."


"Kidal? Ada tersangka?"

"Ya. Pacarnya. Choi Sang Hoon, adalah tersangka utama. Bekas DNA pria ditemukan di bawah kuku korban. Selain itu, dari keterangan kenalan mereka, mereka sering bertengkar belakangan ini. Lalu, pagi itu, mobil Choi Sang Hoon..."


Detektif Lee menyuruh Jae Min yang melanjutkan, "Kami memperoleh rekaman yang menunjukkan mobil Sang Hoon diparkir di tempat parkir TKP dari pukul 2.08 hingga 4.24."

Detektif tadi kembali bertanya, "Apa dia sudah ditemukan?"


Anggota tim Detektif Lee yang lain menjawab, "Dia meninggalkan negeri. Dia pergi ke Kanada sehari setelah insiden. Dia sulit dihubungi hingga kini."


Jin Kook sedari tadi tidak bicara, ia hanya mengamati.


Tak So Jung menyusul Jin Kook saat makan di kantin. Mereka membahas soal kasus itu, benar pembunuhan? Tanya So Jung dan Jin Kook membenarkan.

"Kasusnya dilaporkan pukul 8.47." Lanjut Jin Kook.

"Sayang sekali. Tidak bisakah mereka bersabar 13 menit? Jika dilaporkan pukul 9.00, pasti Tim Empat yang mengurusnya."

"Benar sekali."

"Kamu tidak tahu malu. Lagi pula kamu tidak banyak pekerjaan, Manajer Yoo."

"Astaga, berhenti memanggilku begitu. Kamu juga memberi tahu Jin Kang."

"Astaga. Seharusnya tidak boleh? Apa? Dia kecewa?"

"Bicara apa kamu? Bagi dia, aku pahlawan."

"Pahlawan? Aku tidak bisa makan lagi."


Kemudian Jin Kook menunjuk Cho Rong yang kebetulan menjatuhkan sumpitnya. Jin Kook meminta pendapat So Jung mengenai Cho Rong. 

"Uhm Cho Rong? Kurasa dia manis."

"Kamu ingin kuberi tahu sesuatu?"

"Apa?"

"Uhm Cho Rong itu.. orang bodoh. hhhh."

"Sungguh? Kamu yakin? Apa yang kamu sukai darinya?"

"Bagaimana kamu tahu?"

"Aku mengenalmu luar dalam. Saat kamu mengejek seseorang dengan sebutan bodoh, artinya kamu mengaguminya. Apa aku salah?"


Jin Kook membenarkan, ia memang tertarik kepadanya. Tujuannya adalah untuk mengenalkannya dan Jin Kang. 

So Jung langsung memukul dahi Jin Kook, "Dia bukan tipe Jin Kang."

"Kamu yakin?"

"Tunggu. Dia lulusan Akademi Kepolisian dan sudah menjadi polisi tingkat tujuh. Dari resumenya, dia memang kekasih idaman."

"Benar, bukan?"

"Tapi.. Akankah dia menyukai Jin Kang?"

"Apa? Maksudmu, Uhm Cho Rong yang bodoh itu.."


So Jung kembali memukul Jin Kook agar bicara dengan pelan. Jin Kook melajutkan dengan berbisik, "Jin Kang kurang baik untuknya?"


Jin Kang melihat sebuah foto yang tertempel di penyekat mejanya, ada Moo Young di foto itu. 

Jin Kang mengingat pertanyaan Jin Kook, apa mereka pernah bertemu Moo Young sebelumnya.


Seung Ah melukis gelang hadiah dari Moo Young.

Lalu ia mengeluarkan  kertas dari dalam tasnya, itu adalah catatan nama dan nomor telfon Moo Young yang ia dapat dari pegawai pameran. 


"Dia dari Arts Brewery. Itu tempat pembuatan bir skala kecil yang sangat populer. Dia salah satu pembuat bir di sana." Kata petugas.

Seung Ah menulis momor Moo Young di ponselnya, tapi ia tidak menghubunginya.


Moo Young dan Hee Joon kembali akan melakukan pengantaran. Dan saat akan naik mobil, Moo Young melihat Seung AH ada di depan gerbang.


Moo Young kemudian mendekati Seung Ah, ia bertanya mau ke mana Seung Ah? Seung Ah hanya diam saja. Lalu Moo Young bertanya lagi, apa Seung Ah datang untuk menemuinya? Seung Ah mengangguk. 

"Bagaimana ini? Aku masih ada pekerjaan."

"Teruskan saja."

"Ikutlah."

Dan Seung Ah setuju, mereka melakukan pengantaran bertiga.


Hee Joon mengenalkan dirinya sendiri pada Seung Ah karena Moo Young tidak akan mengenalkannya. Moo Young  menambahi kalau ia dan Hee Joon rekan kerja. Moo Young lalu menyalakan lagu.

Hee Joon: Kamu Seung Ah Noona, bukan? Kemarin aku melihatmu saat pameran. Itu sungguh keren.


Jin Kook tiba-tiba membuka pintu mobil saat Cho Rong baru menjalankan mobilnya. Cho Rong sampai latah menyebut ibunya. 

"Ibu"? Kamu anak manja? Ayo jalan."

"Ke mana?"

"Pokoknya jalan."

"Aku mau ke TKP. Mau kuturunkan di jalan?"

Tapi Jin Kook malah tiduran.


Akhirnya mereka sampai di lokasi terakhir. Seung Ah tidak diam saja, ia membantu mengangkat tabung bir tapi Moo Young langsung menyahutnya.


Di tempat terakhir itu Hee Joon sibuk sekali karena pelanggannya banyak. Ia terus bolak balik untuk melayani pelanggan. Ia meminta Seung Ah menunggu.


Setelah Moo Young memasang tabung ke mesin, Moo Young mengajak Seung Ah pergi. Seung Ah menanyakan soal Hee Joon. Moo Young mengatakan kalau Hee Joon bekerja paruh waktu disana. 


Hee Joon kembali dan ia memelas, apa Seung Ah sungguh akan pergi? 


Seung Ah tidak tega dan ia pun membantu mengisi gelas. Hee Joon sangat dipermudah, tapi Moo Young sama sekali tidak mau membantu.


Tapi Seung Ah tidak masalah, malah tersenyum melihat Moo Young malas-malasan begitu.

Saat Seung AH akanmelayani pelanggan, ia tidak sengaja memutuskan gelang pemberian Hee Joon. Gelang itu putus dan manik-maniknya berceceran di lantai.

0 komentar

Post a Comment