Friday, October 12, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 3 Part 2

Sumber: tvN


Seung Ah duduk sendirian di bangku pinggir sungai, ia memikirkan Woo Sang yang mengajaknya menikah. 


Tiba-tiba seseorang melemparkan batu ke sungai, dia adalah Moo Young yang kemudian duduk disamping Seung Ah. 


Yu Ri datang ke bar. Hee Joon mengatakan kalau Moo Young tidak masuk. Yu Ri minta bir, tapi Hee Joon malah menatapnya tajam. 

"Begitukah caramu melayani pembeli? Aku ingin bicara dengannya. Kamu sungguh tidak tahu dia di mana?"


Hee Joon pun menyiapkan bir Yu Ri sambil menjawab kalau Moo Young pergi kencan dan pasti sedang bersenang-senang sekarang.

"Lantas? Berkencan atau tidak, bukan urusanku." Jawab Yu Ri.

"Kekasihnya kaya. Kamu akan terkejut jika tahu. Selain itu, ini yang wajib kamu ketahui. Kekasihnya sangat cantik."

"Lantas kenapa jika dia kaya dan cantik? Menurutmu Oppa akan mencintainya?"

"Melebihimu."

"Kalau begitu, siapa yang akan Oppa selamatkan jika aku dan wanita itu tenggelam?"

"Dasar gila. Tentu saja dia, bukan kamu."

"Silakan saja berpikir begitu."



Hee Joon tahu isi pikiran Yu Ri. Yu Ri sangat menyukai Moo Young, tapi takut mengungkapkannya karena tahu Moo Young akan langsung menolaknya.

"Apa katamu?" Kesal Yu Ri.

"Apa? Tebakanku tepat?"

"Siapa bilang aku menyukainya?! Dasar pecundang."

Yu Ri menumpahkan birnya dan langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan Hee Joon. Hee Joon kesal dengan sikap kurang ajar Yu Ri itu.


Saat berjalan menuju rumah Seung Ah, ponsel Seung Ah terus berdering, tapi Seung Ah tidak menjawabnya dan itu menimbulkan pertanyaan Moo Young. 

"Kenapa tidak diangkat? Sejak tadi berbunyi."

"Ini dari ibuku. Tadi aku mengirim SMS bahwa aku hampir sampai rumah. Ah.. Orang tuamu seperti apa?"

"Orang tuaku? Orang tuaku..."


Woo Sang mendapat informasi mengenai Moo Young dari sekretarisnya. Moo Young dibesarkan di panti asuhan sejak berusia 6 sampai 15 tahun. Namanya Panti Asuhan Jamyung, itu panti asuhan Katolik di Haesan.

"Dia yatim piatu?" Tanya Woo Sang.

"Ya." Jawab Sekretaris.


Moo Young bercerita kalau dulu ibunya sangat ketat, sering mengomel, tapi semua ucapannya benar. Jadi, ia kesal. Dan ibunya mengenakan pakaian yang sama sepanjang tahun.

"Bohong. Mana ada orang seperti itu?"

"Aku serius. Bibiku banyak. Mereka hampir seperti ibuku. Ucapan mereka benar dan pakaiannya selalu sama."

"Menarik. Bagaimana dengan ayahmu?"

"Dahulu ayahku polisi. Dia detektif yang bersemangat menangkap kriminal."


Sekretaris melanjutkan, Moo Young masuk panti asuhan di usia enam tahun. Sebelum itu, tidak ada catatan tentang Moo Young. Nama Kim Moo Young didapat dari panti asuhan itu. Moo Young pekerja keras dan diakui di tempat kerjanya. Ada magang bernama Noh Hee Jun di sana. Saat kecil, dia satu panti asuhan dengan Kim Moo Young untuk sementara sebelum diadopsi.

"Moo Young mengenal banyak wanita, tapi belum pernah berpacaran sekali pun. Dia juga tidak pernah mengajak wanita ke rumahnya."


Yu Ri memandangi sebuah gedung, ia menatap atapnya, lalu pergi.


Moo Young gantian menanyakan bagaimana orangtua Seung Ah. Seung Ah menjawab kalau orangtuanya biasa saja.

Seung Ah: Moo Young-ssi. Kakaknya Jin Kang juga detektif. Namanya Jin Gook.

Moo Young: Aku tahu. Kami pernah bertemu dengannya di dekat rumah.

Seung Ah: Dia lucu sekali. Tapi kakaknya membesarkan Jin Kang sendirian dan tidak menikah.

Moo Young: Sendirian?

Seung Ah: Ya. Orang tua mereka meninggal saat Jin Kang kecil. Kasihan sekali.

Moo Young: Kamu mengasihaninya?

Seung Ah: Ya. Aku sangat kasihan kepada Jin Kang Unnie. Jika sedang membenci ibuku, aku memikirkan Jin Kang Unnie.


Ibu Seung Ah menelfon Seung Ah sambil mengagumi gaun Seung Ah yang digelarnya di meja ruang tamu. Ibu menelfon Seung Ah tapi Seung Ah tidak menjawabnya.


Lalu ibu menyalakan layar Tv untuk memantau CCTV di depan dan ibu melihat Seung Ah bersama Moo Young, juga melihat mereka saling berpelukan.


Ibu terkejut, apa Seung Ah sudah gila? Ibu akan langsung keluar tapi berhenti saat terpikir sesuatu dan ibu malah ketawa.

"Ya ampun. Wah.. Dasar Woo Sang."

Ibu pun kembali duduk dan mengamati mereka.


Jin Kook membawa So Jung ke kedai kopi, ia bertanya apa ada kopi yang harganya 20 dolar per gelas, luwak atau semacamnya. 

Pelayan: Tidak ada kopi semacam itu. Es serut dengan krim yoghurt blueberry ini yang termahal.

Jin Kook: Tapi harganya hanya 12 dolar.


Jin Kook bertanya pada So Jung, apa itu cukup? So Jung menjawab itu terlalu dingin untuk giginya.

"Ayolah. Jangan marah lagi. Aku datang, padahal aku sedang tidak bertugas." Bujuk Jin Kook. 

"Cih.. Kamu pasti datang karena alasan lain, bukan untuk aku."

"Tidak. Perintah penahanan Choi Sang Hoon disetujui tadi pagi. Aku tidak ada urusan lain. Aku datang untuk membelikanmu kopi."

"Yakin tidak ada urusan lain?"

"Ya."

"Jangan pergi ke mana-mana usai menemuiku. Paham akibatnya, bukan? Awas kamu."


So Jung mengancam akan mencakar Jin Kook. Lalu ia pesan es kopi saja.

Jin Kook: Cukupkah? Harganya hanya 4,5 dolar.

So Jung: Jangan pikir itu impas. Kamu masih berutang 15,5 dolar lagi.


Yoo Jin mengajak So Yeon dan Jin Kang berkeliling dan ia menjelaskan semuanya. 

Yoo Jin: Mesin ini untuk proses mash dan lauter. Tangki itu untuk perebusan. Setelah cairan jadi, itu dialirkan ke mesin fermentasi melalui pipa. Setelah fermentasi, proses pematangannya di sana.

So Yeon: Menarik. Bolehkah aku memotret?

Yoo Jin: Silakan.


So Yeon mengaku agak sungkan pada Jin Kang saat Yoo Jin meninggalkan mereka. So Yeon menduga pemuda tampan itu pasti tidak masuk kerja hari ini. 


Tiba-tiba Hee Joon menyla mereka dari belakang, Aku disini!

So Yeon: Astaga.

Hee Joon: Kukira kamu mencari pemuda tampan. Aku mendengar ucapanmu.

Soo Yeon: Kalau begitu, dia di mana? Katamu kamu mendengarnya.

Hee Joon: Aku orangnya.

So Yeon cuma tersenyum.


Saat menikmati kopi, So Jung mengagumi Moo Young yang sedang memesan. Jin Kook lalu memanggil Moo Young. So Jung panik, apa-apaan sih Jin Kook ini? Gak usah! Tapi Moo Young tetap mendekat.


Jin Kook bertanya, pagi tadi Moo Young sarapan apa? Moo Young hanya diam keheranan. So Jung lalu minta maaf, mengatakan kalau Jin Kook mudah hilang kendali saat kepanasan, banyak orang seperti Jin Kook sekarang.


Moo Young kemudian menark kursi dari meja sebelah ke meja mereka. Ia bergabung. So Jung semakin panik, menyuruh Jin Kook berhenti.

Jin Kook berkata pada Moo Young kalau So Jung ingin tahu apa yang Moo Young makan hingga bisa menjadi setinggi sekarang walaupun ia sebenarnya lebih tinggi.

Moo Young: Susu? Bercanda. Aku tidak sarapan.

So Jung: Ternyata kamu tidak sarapan.

Moo Young: Dia pacarmu?

Jin Kook dan So Jung sepakat mengelak, mereka hanya kolega.

Moo Young: Sudah kuduga. Wanita ini tidak setara denganmu.

So Jung: Jangan pikirkan dia. Aku juga mengabaikan dia.

Jin Kook: Kenapa kamu kemari siang-siang?

Moo Young: Ada janji dengan teman.

Moo Young permisi karena pesanannya sudah siap. 


So Jung menanyakan alasan Jin Kook memanggil Moo Young, memangnya Moo Young siapa? Siapa?

"Kim Moo Young."

"Kim Moo Young? Dia... Kim Moo Young yang itu?"

"Ya."


Moo Young memilih duduk di pinggir jendela. So Jung dan Jin Kook memandanginya. Moo Young hanya tersenyum.



So Jung membenarkan Jin Kook, ia juga gugup dan berdebar saat melihat Moo Young. So Jung bertanya-tanya, ada apa dengannya?

"Kenapa kamu ini? Mari kita pergi? Ini pukul 12.55." Ajak Jin Kook.


Saat di pintu, Yu Ri dan So Jung tak sengaja bertabrakan, So Jung segera minta maaf tapi Yu Ri malah kesal. 

"Ouh.. Tidak sopan. Dia juga menabrakku. Makan apa mereka hingga sikapnya sekasar itu?!" Kesal So Jung.


Dan lagi-lagi Jin Kook menanyakan apa yang dimakan Yu Ri tadi pagi. Yu Ri tambah kesal. So Jung pun menariknya pergi.


So Jung kesal, apa bagi Jin Kook itu lucu? Kenapa sikap Jin Kook sekonyol ini?

"Ini karena usiaku." Jawab Jin Kook sambil nyengir.

"Usia? Kamu pasti bangga sekali. Semoga usiamu berkah."

"Ya."

"Anak-anak zaman sekarang berbeda dari kita saat belia."


So Jung menoleh ke dalam dan melihat So Jung duduk semeja bersama Moo Young. Ia kecewa dengan selera wanita Moo Young yang buruk menurutnya.



Jin Kook: Kurasa dia cukup cantik.

So Jung: Haruskah aku ditato juga?

Jin KOok: Kenapa?

So Jung: Aku ingin terlihat garang.

Jin Kook: Tato?

So Jung: Ya. Bagaimana? Apa tato cocok untukku?

Jin Kook: Aku harus pergi. Kamu santai saja.

Jin Kook berlari kembali ke kantor.


Sampai di kantor, ia melihat foto Yu Ri di peta ulang tahun itu. Ia fokus pada tato Yu Ri. 

Cho Rong heran melihat Jin Kook sampai fokus banget begitu.


Yu Ri bercerita soal Trofi itu, ia bahkan tidak tahu kalau trofi yang ia temukan itu milik Mi yeon, jadi ia membuangnya di tong sampah. Belakangan ia sadar, itu pagi hari saat Mi Yeon tewas.

Yu Ri: Artinya, Sang Hoon membuangnya ke rumahku malam itu. Tapi.. aku.. tidur dan tidak mendengar apa pun. Kenapa? Kenapa Sang Hoon membuangnya ke rumahku?

Moo Young: Tidurmu pulas malam itu? Katamu kamu tidur. Apa kini tidurmu pulas tanpa obat?

Yu Ri: Ya. Sudah lama aku tidak meminum obat. Aku tidak memerlukannya lagi setelah kita bertemu.

Moo Young: Begitu, ya.

Moo Young tersenyum.


Cho Rong menjelaskan tentang Yu Ri pada Jin Kook. Namanya Lim Yu Ri. 22 tahun. Dia satu SMP dengan Jeong Mi Yeon di Amerika. Jeong Mi Yeon kembali ke Korea tiga tahun lalu. Lim Yu Ri kembali dua tahun lalu. Pertemanan mereka berlanjut di Korea. Mereka bersahabat. Dia tinggal di studio band sambil bekerja paruh waktu. Hanya itu. Ada apa?

"Hanya itu? Bukan apa-apa. Hanya penasaran." Jawab Jin Kook.


Moo Young kembali ke pabrik, ia melamun.

Seseorang membuka payung dengn logo aneh, ia berada di depan kamar bernomor pintu 1502.


Seseorang (Moo Young kah?) dari atas melihat seseorang berjalan keluar dari kompleks apartemen menggunakan payung itu di malam hari yang berhujan.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap