Saturday, October 13, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 4 Part 2

Sumber: tvN



Jin Kook mengajak Cho Rong untuk menginvestigasi ulang. Cho Rong heran, kenapa Jin Kook baru melakukan investigasi ulang? Terlebih, hanya mereka berdua?

"Bagaimana jika pelakunya orang lain, bukan Choi Sang Hoon? Kemungkinan terburuk, akan ada korban kedua. Bagaimana jika korbannya Lim Yu Ri?"

"Korban kedua? Eih.. Tapi menurutku pelakunya Choi Sang Hoon."

"Itu hanya harapanmu atau kamu serius?"

"Keduanya."

"Jadi, kamu ikut atau tidak?"

"Tidak."


Cho Rong permisi karena ia mendapat pesan. Ternyata itu adalah pesan dari Jin Kang. Awalnya mereka janjian makan malam, tapi Jin Kang mengajak makan siang saja dan Cho Rong menyampaikannya pada Jin Kook. 

"Hei, itu tidak penting saat ini."

"Tentu saja penting."


Cho Rong ragu-ragu mau menanyakannya, tapi ia kembali untuk menanyakannya juga, kapan ulang tahun Jin Kang-ssi?

"Astaga, dasar. 7 April!"

"7 April. Baiklah, 7 April. Tapi apa kamu tahu.. waktu kelahirannya?"

"Kamu masih muda, tapi malah percaya takhayul. Kamu ingin kecocokan pernikahan kalian diramalkan? Bagaimana denganmu? Kapan ulang tahunmu? Pukul berapa, tanggal berapa, tahun berapa?"


Detektif Lee dan Hwnag Gun melihat Cho Rong sedang jalan dengan cewek. 

Hwang Gun: Kenapa dia berseragam saat tidak bertugas? Lucu sekali. Dia pasti terlihat keren bagi pacarnya.

Dan mereka ketawa.


Jin Kang minta maaf pada Cho Rong karena mereka jarang bertemu. Cho Rong tidak masalah, yang penting mereka sempat makan dan minum kopi. Mereka bisa jumpa lagi di hari libur Cho Rong berikutnya, sekarang Cho Rong bisa bersantai saat libur karena kasus besar mereka tuntas.


Detektif Lee dan Hwang Gun menyapa Cho Rong. Mereka bertnaya, apa Jin Kang pacarnya Cho Rong? Cho Rong membantahnya tapi Jin Kang langsung memberi salam.


Cho Rong mengenalkan Detektif Lee sebagai Komandan Jatanras Unit Tiga. Jin Kang mengulangi sapaannya, ia meminta bimbingan Detektif Lee untuk kakaknya. 

Detektif Lee: Oppa?

Cho Rong: Dia adik Opsir Yoo.

Detektif Lee: Opsir Yoo?

Jin Kang: Ya, aku adiknya Yoo Jin Kook, Yoo Jin Kang.

Detektif Lee: Begitu rupanya. Senang bertemu denganmu.

Detektif Lee pun mengajak Hwang Gun pergi.


Sepeninggal mereka, Cho Rong mengaku kalau ia sangat gugup. Jin Kang hanya ketawa. Dan mereka melanjutkan jalannya. 


Detektif Lee tampak melamun, melamunkan fakta bahwa Jin Kang adalah adiknya Jin Kook.


Sementara itu, Jin Kook terus menggali kasus pembunuhan Mi Yeon. Ia mencari catatan kasus di situs kepolisian, tapi ID-nya ditolak. 

Jin Kook langsung memandang meja Detektif Lee.


Jin Kang menjemput Seung Ah di rumah. 

Ibu: Temani dia bersenang-senang.

Jin Kang: Baiklah.


Ibu Seung Ah bersikap ramah pada Jin Kang tapi setelah Jin Kang dan Seung AH pergi, ia mengeluhkan kalau Seung Ah tidak mampu mencari teman, harusnya mencari teman itu yang setara. 


Seung Ah sangat senang bisa keluar, ia berterimakasih pada Jin Kang dan memeluknya. 

Jin Kang: Aku ragu tindakanku benar. Di mana mobilmu?

Seung Ah: Sudah kukembalikan. Kita naik bus saja. Aku ingin naik bus.

Jin Kang: Aku sangat ragu tindakanku ini benar.

Seung Ah: Sebab kamu tidak tahu apa pun tentang Moo Young. Kamu tidak tahu apa yang dia berikan kepadaku.

Jin Kang: Apa yang dia berikan?

Seung Ah: Emmmmm...


Jin Kook menegur Detektif Lee, kenapa tidak membuka akses kasus Jeong Mi Yeon? Sebaiknya Jangan menghentikan investigasi hanya karena kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan!

Detektif Lee: Kamu tahu benar aku tidak berniat menghentikannya. Ah.. Yoo Jin Kang?


Jin Kook langsung terdiam. Detektif Lee malanjutkan, "Yoo Jin Gook dan Yoo Jin Kang. Nama pun dibuat mirip agar dia terkesan seperti adikmu. Dia anak yang waktu itu, bukan? Dia sudah besar. Aku hampir tidak mengenalinya."

Jin Kook menatap Detektif Lee dengan tenang.

Detektif Lee: Kenapa wajahmu tegang sekali? Kenapa? Kamu khawatir aku memberitahunya? Aku tidak membocorkannya. Nafsu makanku hilang saat dia mengenalkan diri sebagai adikmu. Mana mungkin aku bisa bicara?


Ternyata So Jung mendengar percakapan mereka. 


Kemudian So Jung menyapa Jin Kook seperti tidak terjadi apa-apa. Jin Kook berusaha bersikap seperti biasanya walaupun tidak sepenuhnya ia bisa menyembunyikan tegangnya.


Jin Kook kemudian menunjukkan hasil penyelidikannya. Sebelumnya So Jung bingung kenapa Jin Kook terobsesi dengan kasus pembunuhan Mo Yeon, tapi sekarang ia tahu, sebenarnya karena Kim Moo Young.

"Kenapa kamu sangat penasaran dengannya?" Tanya So Jung.

"Begitukah kesannya?"

"Ya. Menurutku, semua itu hanya kebetulan."

"Begitukah?"

"Dia hanya pemuda biasa. Kalaupun mencari sesuatu yang berbeda darinya, aura dia cukup unik. Kamu terlalu sensitif."


Moo Young datang duluan di tepi sungai Han. Iamemang seperti pemuda biasanya, terlebih ia penyayang binatang.


Jin Kang dan Seung Ah datang. Seung Ah langsung berlari ke pelukan Moo Young. Jin Kang tersenyum bahagia melihat mereka. Ia teringat percakapan tadi. 

Seung Ah: Sebab kamu tidak tahu apa pun tentang Moo Young. Kamu tidak tahu apa yang dia berikan kepadaku.

Jin Kang: Apa yang dia berikan?

Seung Ah: Diriku. Aku merasa menjadi diri sendiri saat bersamanya.


Jin Kang lalu mendekat, ia bertanya, apa pukul 7 nanti cukup. Seung Ah menawar, pulul 7:30 deh? dan Jin Kang setuju. 

Lalu Jin Kang meninggalkan mereka untuk berduaan.


Seung Ah: Bagaimana kabarmu?

Moo Young: Begitulah. Biasa saja.

Ada yang memotret mereka.


So Jung mengajak Jin Kook minum bersama. Tapi Jin Kook menolak saat diajak bersulang karena ini masih siang. 

"Mau kupancing untuk minum-minum?" Tanya So Jung. "Aku mendengar semua ucapan Lee Kyung Chul kepadamu. Auh.. Seharusnya kamu menghajarnya. Aku tahu dia lancang, tapi beraninya dia mengusik Jin Kang? Astaga."


Jin kook tidak menanggapi, malah menyinggung mengenai makanan yang rasanya lezat.

Ada satu hal yang sangat-sangat ingin So Jung tanyakan pada Jin Kook, tapi ia akan mengatakannya setelah minum segelas. 

Tapi Jin Kook merebut minuman So Jung untuk ia minum sendiri. Jin Kook melarang So Jung mengatakannya, apa pun itu, simpan saja.

So Jung pun minum minuman Jin Kook. Dan setelahnya ia menyuruh Jin Kook melupakannya saja. Jin Kook ketawa, So Jung ini memang sulit diatur.


So Jung menjelaskan maksudnya, ia mengatakan kalau masnusia itu tidak ada istimewanya, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dan sudah 25 tahun berlalu. Itu cukup. Selama itu cukup untuk melupakan apa pun. Jin Kook kembali hanya menanggapi dengan senyum.

So Jung: Lihat betapa cantiknya Jin Kang sekarang. Kamu berhak bahagia karena telah membesarkannya hingga secantik ini.

Jin Kook: Baiklah. Kini aku ingin minum, jadi, hentikan. Mari kita minum. Ini.

Dan mereka pun bersulang.


Jin Kang jalan-jalan sendirian. Tapi aia tetap tersenyum.

Ia melihat foto masa kecilnya di ponsel. Foto ia dan kakaknya, dan itu membuatnya tersenyum tanpa henti.


Seung Ah dan Moo Young menyewa satu kamar di motel. Moo Young melihat ketidak nyamanan Seung Ah, Seung Ah bahkan tidak bisa menyentuh seprai disana.


Moo Young akhirnya mengajak Seung Ah keluar. Seung AH bingung, kenapa?

"Kamu tidak berani menyentuh seprai karena kotor."

"Tidak. Aku berani menyentuhnya." Elak Seung Ah sambil menyentuh seprainya.

"Aku tidak suka tempat seperti ini." Jawab Moo Young sambil menarik tangan Seung Ah.


Seung Ah kemudian memeluk Moo Young dan berkata kalau ia mencintai Moo Young. Tapi Moo Young hanya diam saja, cuma membalas pelukan Seung Ah.


Jin Kang mengambil foto untuk ia kirimkan pada kakanya.


Seung Ah dan Moo Young datang akhirnya.  

Seung Ah: Unnie, Kamu bosan? Apa saja yang kamu lakukan?

Jin Kang: Tidak. Aku memandangi sungai, berjalan-jalan, dan minum kopi. Waktu cepat bergulir. Kalian bersenang-senang?

Seung Ah: Ya, berkat kamu.


Dan datanglah ibunya Seung Ah. Ibu memandang Moo Young kesal, tapi Ibu malah menampar Jin Kang dengan keras. Ibu akan menampar untuk kedua kali, tapi Seung Ah menghalanginya.

Ibu: Dasar rendahan. Ini salahmu.

Seung Ah sangat terkejut ibu mengatakan semua itu untuk Jin Kang. Ibu lalu menyeret Seung Ah agar ikut masuk mobil. Moo Young hanya diam saja.


Setelah Ibu dan Seung Ah pergi pun Moo Young dan Jin Kang hanya diam saja. Moo Young akan mendekat, tapi Jin Kan buru-buru melanjutkan jalannya. 


Moo Young mengikutinya sambil menggerutu kalau Ibunya Seung Ah tadi menakutkan sekali. Ia bertanya, apa ini kali pertama Jin Kang ditampar? Melihat Jin Kang hanya diam saja, pasti memang yang pertama. 

"Mau makan? Kamu belum makan. Pasti terasa berat jika kamu makan sendiri setelah ini." Lanjut Moo Young. 


Dan itu membuat Jin Kang kesal, "Lantas? Aku harus makan bersamamu? Benar. Ini kali pertamaku ditampar. Padahal aku tidak tahu apa-apa. Aku malu sekali. Ini tidak adil dan menyakitkan. Haruskah aku makan bersamamu? Kamu tadi menikmatinya. Mau makan untuk lebih menikmatinya? Kenapa AKU?"

"Jangan makan jika tidak mau."

"Memang tidak! Aku tidak mau. Semua ini salahmu. Wajar ibu Seung Ah bersikap begitu. Aku juga tidak akan suka. Ibu mana yang suka jika putri mereka berhubungan dengan orang sepertimu?"

"Begitukah?"

"Ya. Jadi, pergilah. Pergi saja! Tolonglah!"

"Okee."


Dan Moo Young pun pergi. Jin Kang juga pergi dan melanjutkan jalannya berlawanan arah dengan Moo Young. Jin Kang menahan tangisnya.


Jin Kook menerima foto yang dikirim Jin Kang, dia sudah mabuk saat itu. 

"Dasar konyol. Dia tidak cantik, tapi konyol. Astaga."

"Adikmu cantik sekali. Bahkan kamu tidak akan kesakitan jika dia masuk ke matamu."

"Aku belum pernah mencobanya, haruskah kucoba?"

Jin Kook memasukkan ponselnya ke mata dan ia merasakan sakit, Ia pun ketawa. So Jung bergumam kalau Jin Kook itu bodoh. 


Jin Kook mengatakan kalau adiknya itu kekanakan. So Jung mengoreksi, Jin Kook itu yang lebih kekanakan, Jin Kang sudah lama dewasa.

"Begitukah? Dia sudah lama dewasa?" Tanya Jin Kook. 

"Ya. Dia pura-pura kekanak-kanakan di depanmu. Dia ingin menenangkanmu."

"Hahaha Benar! Bagaimana kamu bisa mengerti? Kamu yang terbaik! Lihatlah. Dia berlagak kekanak-kanakan karena dia akan sedih jika aku tahu bahwa dia sudah dewasa. Jika aku pura-pura tahu bahwa dia sudah dewasa, dia khawatir aku sedih."

"Ya."

"Karena sedih, kuperlakukan dia seperti anak kecil. Jadi, dia berlagak kenakan-kanakan. Kuperlakukan dia seperti anak kecil, jadi, inilah yang kekanak-kanakan."

"Yah.. Kamu melantur. Tapi kenapa aku paham?"


Jin Kook menunduk, sudah tidak begitu menyahut saat So Jung memanggilnya. So Jung mengamati wajah Jin Kook dan ia menyadari kalau Jin Koon menua juga.

So Jung: Aku mendengarkanmu, tapi kamu tidak memikirkan dirimu sama sekali.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment