Sunday, October 7, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 2 Part 1

Sumber: tvN


Jin Kook berhasilmempertemukan Cho Rong dan Jin Kang. Meraka makan bertiga. Cho Rong memakan pencuci mulutnya sekaligus. 

Cho Rong: Makanan dan pencuci mulut kami sudah habis. Anda tidak perlu menghabiskannya jika tidak enak.

Jin Kook: Aku menghematnya karena ini enak.

Cho Rong: Menghematnya? Jika dimakan perlahan, nanti meleleh dan tidak enak lagi.

Jin Kook: Kenapa kamu resah sekali sejak tadi? Seperti anjing yang ingin buang air besar.

Cho Rong: Aku? Tidak.


Jin Kang mengerti arti gelagat Cho Rong itu, ia langsung berdiri dan menawari Cho Rong untuk minum bir. Cho Rong tentu saja mau. 

Cho Rong langsung membawa tagihan makanan mereka keluar. Jin Kang menyuruh kakaknya menikmati makanannya saja, lalu ia menyusul Cho Rong.

Jin Kook: Apa? Kamu tidak mengajak kakak? Cho Rong... Jin Kang-ah.


Jin Kook curhat pada So Jung. So Jung mengatakan kalau Jin Kook yang salah, kenapa tidak peka? Jin Kook harusnya meninggalkan mereka setelah mempertemukan mereka.

"Begitukah?"

"Di mana kamu? Sebaiknya kita bercengkerama saja."

"Tidak. Aku di depan rumahku. Hampir sampai."

"Dasar. Jangan-jangan kamu mengikuti mereka?"

"Apa? Pikirmu aku gila? Harga diriku tinggi. Omong-omong, kenapa mereka minum-minum di siang bolong?"

Nyatanya, Jin Kook memang menguntit adiknya.


Jin Kang memesan lima bir berbeda dan Cho Rong mengikutinya. Jin Kang khawatir, apa Cho Rong tidak keberatan? Soalnya ia  belum pernah mencoba lima jenis bir ini.

"Aku tidak keberatan. Coba yang mana dahulu?" Tanya Cho Rong 

Jin Kang memilih satu dan Cho Rong mengikutinya.

Setelah minum, Cho Rong bertanya, haruskah Jin Kang mencicipi rasa setiap jenis bir untuk mendesain?

"Ya, dalam desain produk, kami harus membuat orang penasaran akan suatu produk. Bagiku, aku harus mencicipinya dahulu agar bisa mendapat ide desain." Jelas Jin Kang.

"Begitulah kerja seorang profesional. Aku juga seperti itu."

Lalu mereka melanjutkan mencicipi bir yang lain. 


Jin Kook berkomentar kalau mereka tergila-gila dengan minuman. 

Moo Young lewat di samping Jin Kook sambil membawa tabung minuman. Jin Kook merasakan aura tertentu, jadi ia langsung menoleh. 

Dan saat di bawah, Moo Young melirik Jin Kook barang sedetik. 
 

Moo Young melakukan tugasnya, ia memasang tabung itu pada pompa, lalu duduk untuk menikmati segelas bir yang disajikan untuknya. Jin Kook mengawasinya dari atas.

Moo Young duduk tidak jauh dari Cho Rong dan Jin Kang sehingga ia bisa mendengar mereka.


Cho Rong jujur pada Jin Kang kalau sebenarnya ia tidak berharap apa-apa karena Jin Kang adalah adiknya Jin Kook. 

"Apakah dia sejahat itu?" Tanya Jin Kook. 

"Bukan begitu maksudku. Kukira adiknya sudah tua."

"Tua?"

"Aku baru tahu adiknya semuda ini. Kukira wajahmu akan lebih buruk karena kamu adiknya."

"Astaga. Wajahku mirip dengan Oppa."

"Kalian sama sekali tidak mirip. Tidak mirip."

"Anehnya, itu terdengar seperti pujian."

"Itu memang pujian."

"Omong-omong, benarkah kakakku Manajer Yoo?"

"Tidak. Itu semacam julukan karena Manajer Yoo, maksudku, Opsir Yoo, begitu baik."

"Tidak apa-apa. Aku tahu semuanya dari So Jung Eonni."

"Benarkah?"

"Syukurlah."


Tapi Cho Rong merasa ada yang aneh, Jin Kook itu terkesan seperti master seni bela diri rahasia. Jin Kook terkadang membuat orang terintimidasi.


Jin Kook melihat kalau Moo Young memperhatikan adiknya dan Cho Rong.


Jin Kang mengelaknya, mustahil kakaknya begitu, Sulit dibayangkan kakaknya membekuk pelaku atau semacamnya. Semua cerita dari kakaknya membosankan.

Cho Rong: Kamu suka mendengar kisah kasus pembunuhan dan penangkapan pelaku?

Jin Kang: Tentu saja.

Co Rong: Mau kuceritakan kisah seperti itu setiap kita berjumpa?

Jin Kang: Ya.

Cho Rong: Jika begitu, mau berpacaran?

Jin Kang:Apa?

Cho Rong: Aku salah bicara. Maksudku.. Aku ingin berkencan denganmu secara resmi. 

Jin Kang: Jadi, maksudmu, kamu mau berkencan denganku?


Moo Young tersenyum geli mendengar percakapan mereka. Hee Joon mendekati Moo Young, bertanya ada apa? Moo Young berbisik mengatakan tidak ada apa-apa dan menyuruh Hee Joon pergi.


Cho Rong membenarkan pertanyaan Jin Kang, mereka santai saja. Makan, menonton film, dan bercengkerama. Apa pun yang belum Jin Kang lakukan, tapi ingin, apa saja.

Cho Rong tak sengaja mengangkat tangannya dan mengenai Hee Joon yang sedang membawa makanan. Karenanya Hee Joon tak sengaja menumpahkan makanan itu ke bahu Jin Kang.


Moo Young menoleh. Di atas, Jin Kook berdiri, khawatir, tapi tidak mendekat. 


Jin Kang melepas blazernya dan Hee Joon memberikan lap untuk mengelapnya. Cho Rong panik, ia mau membantu tapi Jin Kang bilang ia akan melakukannya sendiri. Ternyata di bahu Jin Kang ada bekas luka bakar yang cukup luas.

Jin Kang ijin ke toilet dan tiba-tiba Moo Young datang dibelakagnya untuk memakaikan jaket, Jin Kang pun bisa menyembunyikan bekas lukanya. 


Jin Kang terdiam, lalu ia menoleh, tapi Moo Young langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Jin Kang melihat Moo Young dari samping dan ia tahu kalau itu adalah Moo Young.


Moo Young sempat melirik pada Jin Kook sambil senyum. 

Pesona Moo Young emang luar byasah.


Jin Kook melihat Tv saat Jin Kang selesai mandi. Jin Kook menyindir, jadi mereka senang-senang tanpa dirinya? 

"Sepertinya aku minum terlalu banyak." Keluh Jin Kang.

"Makanya.. Kenapa kamu minum aneka minuman?" Jin Kook tanpa sadar menanyakannya dan setelah sadar ia mengalihkan pembicaraan, ia menanyakan bagaimana tanggapan Cho Rong, "Jangan bilang kamu ditolak bahkan olehnya."

"Itu bukan urusan Kakak."

"Jelas itu urusan kakak."


Jin Kook membahas bekas luka Jin Kang, kenapa tidak menghilangkannya? Kan teknologi sudah canggih sekarang.

"Kenapa? Makin dilihat, makin menarik."

"Itu tidak menarik, astaga."

Bahkan Jin Kang mendekatkannya pada kakaknya itu, ia benar-benar menganggap bekas lukanya itu imut. 

"Hentikan. Apa maksudmu? Singkirkan dari hadapan kakak."


Jin Kang lalu berdiri dan mengambil jaket di meja. Jin Kook bertanya, apa itu? Jaketnya asing. 

"Bukan apa-apa." Jawab Jin Kang sambil jalan.

Jin Kang ke ruang mesin cuci. Ia melihat logo di jaket itu lalu memasukkannya ke mesin cuci.


Esoknya, Jin Kook curhat pada So Jung mengenai Jin Kang yang menganggap bekas lukanya itu lucu. 

"Mungkin dia memang tidak peduli dengan bekas luka itu. Dia anak yang supel." Jawab So Jung. 

"Dengar, saat masih SMP, dia menabung diam-diam untuk menghilangkan bekas luka itu. Ternyata itu sangat serius, jadi, aku pergi ke rumah sakit dan menjadwalkan operasinya. Lalu tiba-tiba dia bersikeras membatalkannya."

"Kenapa?"

"Entahlah. Dia membiarkannya sejak itu. Katanya dia tertarik dengan lukanya."

"Itu agak aneh. Omong-omong, kamu begitu mencemaskannya?"

"Tentu saja. Entah bagaimana calon suaminya, tapi calon mertua atau tetuanya mungkin tidak menyukainya. Dia yatim piatu dan memiliki bekas luka bakar di lengannya."

"Astaga. Kamu sudah mencemaskan soal mertuanya? Auh.."


Dan tiba-tiba Cho Rong datang. Jin Kook langsung menanyakan bagaimana hasil tes DNA-nya. Cho Rong dengan semangat mengatakan kalau hasil tes DNA-nya 99,9 persen cocok dengan Choi Sang Hoon.

So Jung: Kini kalian cukup menangkapnya. Dia akan masuk DPO?

Cho Rong: Ya. Habislah dia.

Jin Kook: Laporkan ini dahulu. Mereka pasti menantikannya.

Cho Rong: Ya, hormat.


Cho Rong sudah pergi, tapi ia kembali lagi hanya untuk mengatakan pada Jin Kook kalau ia punya apartemen. Ia memang masih harus melunasi pinjaman, tapi apartemen itu atas namanya. Yang jelas, ia punya apartemen.

"Lantas kenapa?" Tanya Jin Kook.

"Benar juga. Anehnya, aku ingin mengatakan ini sejak beberapa waktu lalu."


Cho Rong langsung pergi lagi. Barulah So Jung melepaskan tawa yang sejak tadi ditahannya.

So Jung: Dia mengaku punya apartemen. Lucu sekali. Dia pasti sangat menyukai adikmu. Astaga.


Jin Kang janjian bertemu dengan Seung Ah. Saat Jin Kang memilih menu, Seung Ah bertanya, bukankah ada yang harus Jin Kang berikan kepadanya?

"Hmm?" Tanya Jin Kang.

"Tadi aku dihubungi CEO Hwang. Kenapa kamu terus menghindar?"

"Kupikir.. ini akan membebanimu."

"Walau begitu, ini tentang hidupmu."

"Ini tidak terlalu serius, tapi tetap penting."


Dan Jin Kang memberikan portfolio yang dibawanya. Seung Ah bertanya, Woo Sang Oppa penanggungjawabnya? 

"Ya. Belum lama ini Keluarga Woo Sang-ssi membeli saham Arts dalam jumlah besar. Kini dia pemegang saham terbesar."

"Arts?"

"Ya. Kamu tidak tahu?"

"Tidak. Aku tidak tahu. Maka ini pasti mendesak."

"Sedikit. Jika memungkinkan."


Seung Ah keget gitu. Jin Kang bertanya, kenapa? Seung Ah mengaku kalau akhir-akhir ini ia menghindari Woo Sang dan ia terpaksa menemuinya demi Jin Kang.

Jin Kang terkejut, demi dirinya? Kalau begitu, tidak usah. Jin Kang akan mengambil portfolionya lagi, tapi Seung Ah menghalangi.

"Aku bercanda. Sebenarnya, ini bagus bagiku. Aku harus menemuinya sekali."

"Apa hubungan kalian baik-baik saja?"

"Eonnie. Aku ingin kamu berkenalan dengan seseorang."

"Berkenalan dengan seseorang?"


Orang yang dimaksud Seung Ah adalah Moo Young. Jin Kang agak terkejut melihat Moo Young. Seung Ah mengenalkan Moo Young sebagai pacarnya.

Jin Kang pun berdiri untuk mengenalkan diri, "Senang berkenalan denganmu. Aku Yoo Jin Kang."


Jin Kang mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi Moo Young tak kunjung menyambutnya.

"Kamu sedang apa? Kamu tidak ingat aku atau pura-pura tidak ingat? Bukankah kita pernah bertemu? Tiga kali. Hari ini pertemuan keempat." Kata Moo Young.

"Sungguh? Kapan?" Tanya Seung Ah.

"Sebelumnya, kami bertemu dua hari lalu." Jawab Moo Young.


Jin Kang pun duduk lagi, mengatakan pada Seung Ah kalau ia bertemu dengan Moo Young di pub Itaewon. Mereka kebetulan berpapasan.

Seung Ah: Pub Arts? Eonni pergi ke sana?

Jin Kang: Ya. Aku berkencan buta.

Moo Young tersenyum mendengar Jin Kang menjelaskannya. Jin Kang sempat melirik Moo Young sebentar sebelum melanjutkan.

Jin Kang: Kakakku memaksaku. Kamu tahu dia seperti apa.

Seung Ah: Jin Gook Ahjussi menjodohkan kalian?

Pandanganmu bang.. 

Moo Young berkata kalau mereka serasi. Seung Ah jadi penasaran seperti apa teman kencan Jin Kang itu. Jin Kang seperti tidak ingin membahansya lebih lanjut, ia mengajak mereka mulai makan saja.


Seung Ah memaksa Jin Kang untuk ikut mereka saja. Moo Young nanti bisa mengantar, toh Moo Young juga tinggal di Wonyoung-dong.

Jin Ah: Tidak perlu, Seung Ah. Wonyoung-dong sangat luas. Mungkin rumahnya jauh. Sampai jumpa.

Seung Ah: Hati-hati di jalan.



Sampai di depan rumah Seung Ah, Seung Ah memberikan salah satu karyanya pada Moo Young. 

"Woah.. Bolehkah ini diberikan ke sembarang orang?"

"Itu tidak berharga. Jadi, bebas untuk siapa saja. Ini karyaku."

"Ini cantik sekali."


Seung Ah mengkode Moo Young untuk menciumnya. Moo Young tahu, tapi ia tidak melakukannya, ia menunjuk CCTV yang mengintai mereka.

"Kamu tahu sesuatu? Aku tidak peduli lagi."

Dan kali ini Seung Ah yang mencium Moo Young duluan.

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

3 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap