Saturday, October 20, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 6 Part 4

Sumber: tvN


Ibu menghindari Seung Ah pagi harinya. Saat Seung AH turun, ibu menjauh. Ahjumma yang mengajak Seung Ah bicara.

"Kenapa kamu minum-minum begitu banyak?"

"Bagaimana aku pulang kemarin?" Tanya Seung Ah.

"Kenapa Nona membuat Nyonya cemas? Nona berjanji tidak akan menemuinya lagi."

"Pria itu mengantarku?"


Seung Ah langsung memeriksa kamera Dasbornya, ia sampai menangis melihat Moo Young.


Moo Young dirumah masih melamunkan anak itu. Ia duduk sambil memegang sesuatu.



Moo Young membukanya perlahan dan itu adalah gambar anak kecil yang sudah usang.


So Jung masih marah pada Jin Kook, ia bahkan tidak mau berbagi minuman dengan Jin Kook.


Jin Kook berkata kalau Moo Young memiliki luka bakar di bahu dan lengannya. Barulah So Jung mau membagi minumannya. 

"Apa aku terlalu sensitif lagi?" Tanya Jin Kook. 

"Tentu saja. Aku bingung harus berkata apa. Manajer Yoo, apa anehnya memiliki luka bakar? Itu hal biasa. Ibu Cho Rong juga mengalami luka bakar dua hari lalu."

"Letaknya di bahu dan lengan kanannya."

"Menurutku kamu delusif, bukan sensitif. Mana bagian tubuhmu yang paling mudah terbakar? Kaki atau lengan? Kiri atau kanan?"


So Jung menanyakan apa yang sesungguhnya Jin Kook pikirkan? Hanya karena luka bakar itu, jangan bilang Jin Kook curiga bahwa Moo Young adalah... So Jung tidak bisa menyebutkan detailnya.

"Ah.. Itukah alasanmu merahasiakannya dari Cho Rong? Bahwa kamu melihat Moo Young tersorot kamera mobil?" Tanya So Jung lagi.

"Ya."

"Manajer Yoo. Sadarlah. Kamu polisi. Apa tugas polisi? Menangkap siapa pun yang mencurigakan. Jangan bodoh dan segera beri tahu Cho Rong. Itu tugasmu dan bentuk sopan santun pada partnermu. Kamu pikir dia tidak mampu karena masih muda?"

"Bukan. Kurasa.. aku salah orang. Aku yakin Moo Young terkait dengan kasus ini. Tapi aku terlalu terobsesi kepadanya hingga melupakan sesuatu yang sangat jelas walau melihatnya berkali-kali."

"Apa maksudmu?"

"Lim Yu Ri kidal."


Jaksa membebaskan Choi Sang Hoon. Semua Tim lemas. Cho Rong berbisik pada Jin Kook, Ayo kita beri tahu mereka? Tapi Jin Kook tidak setuju.


Ketua Tim Lee membentak mereka semua, menyuruh mereka segera bekerja. Selidiki semua tentang kasus Jeong Mi Yeon dari awal. Jeong Mi Yeon, Choi Sang Hoon, catatan keuangan mereka, riwayat panggilan, wawancara dengan saksi, semuanya. Keluar. Rekaman CCTV dan kamera mobil.


Cho Rong tidak mengerti dengan Jin Kook, Kenapa memang? Jin Kook mengatakan kalau ia harus pergi ke suatu tempat.


Cho Rong menhan pintu mobil Jin Kook.

"Kejaksaan meminta kita menginvestigasi lebih lanjut. Itu bagus untuk kita Kita cukup menginvestigasi secara terbuka, kenapa tidak mau?"

"Bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa." Jawab Jin Kook.

"Astaga."


Jin Kook mendorong Cho Rong dari pintu mobilnya. Cho Rong kesal, ia sampai berdiri di depan mobil Jin Kook agar Jin Kook tidak pergi, tapi Jin Kook tidak mau mengalah. Akhirnya Cho Rong membiarkannya pergi.


Jin Kook menemui Yu Ri di sebuah taman. Tapi sebelum ia menghampiri Yu Ri, ia teringat kata-kata Dokter Yang.

"Yu Ri butuh waktu.. dan orang yang bisa dia percaya tanpa ragu. Seorang ibu bisa bertatap mata, tersenyum, dan menenangkan bayinya saat menangis. Perilaku itu mengajarkan anak tentang hal yang krusial dalam hidup. Tapi Yu Ri tidak pernah merasakannya sejak kecil. Ibunya tidak memberinya apa pun."


Jin Kook duduk disamping Yu Ri, ia membahas soal Moo Young yang bilang kalau Yu Ri tidak bisa berbohong. Jadi, ia akan bertanya terus terang. Yu Ri tidak perlu menjawab hari ini jika enggan. Maksudnya, Yu Ri harus menjawabnya, tapi tidak harus hari ini.

Yu Ri memandang Jin Kook sekilas.


Jin Kook: Sebenarnya kamu tidak ingat telah mencoba menabrak adikku tempo malam, bukan? Kamu mengetahuinya setelah menonton rekaman di mobilmu. Itu sebabnya kamu tidak bisa berjanji. Sebab kamu tidak bisa menjaminnya. Tapi sebenarnya, ada satu hari lagi yang tidak bisa kamu ingat, bukan? Itu gawat.


Yu Ri mulai menangis. Jin Kook langsung menggenggam tangannya.

"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Yu Ri.

"Bagaimana kalau begini? Konon, menangis itu bagus untuk kesehatan. Menangislah selagi aku menikmati sinar matahari ini. Sinar matahari juga menyehatkan. Menangislah."


Jin Kook pun membiarkan Yu Ri menangis. 


Seung Ah mendatangi Jin Kang di kantor. Ia dengan dingin membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Jin Kang masuk. 

Di dalam, Seung Ah menunjukkan rekaman kamera dasbor, percakapan Jin Kang dan Moo Young terekam. 

"Seung Ah, wajar kamu marah. Pasti kamu salah paham. Tapi kamu keliru. Dia hanya bercanda. Beberapa hari lalu, aku.."


Seung Ah menunjukkan pesan balasan dari Moo Young. Seung Ah bertanya apa Moo Young menyukai Jin Kang dan Moo Young mengiyakan. Padahal Seung Ah sebelumnya mengirim banyak pesan, tapi Moo Young hanya menjawab pertanyaan Seung Ah yang itu.

Seung Ah: Bagaimana denganmu? Kamu juga menyukainya?

Jin Kang: Seung Ah-ya.

Seung Ah: Sejak kapan?


Jin Kook berhenti di toko kelontong dekat rumah. Tapi ia melihat Moo Young ada disana, ia langsung buru-buru masuk mobil lagi.

Moo Young keluar dan menyapa, kenapa Jin Kook lari?

"Apa? Aku tidak lari." Elak Jin Kook. 

"Kudengar kamu menolong Yu Ri."

"Tidak juga."

"Terima kasih."

"Tidak perlu."


Moo Young teringat sesuatu, ia langsung menanyakannya pada Jin Kook, padahal ia tadi sudah melangkah menjauh, 

"Kenapa kamu membohongiku?"

"Aku membohongimu?"

"Kamu bilang tidak mengenal polisi di Haesan?"

"Apa?"

"Kampung halamanmu di Haesan. Tapi kamu sungguh tidak kenal dengan polisi di sana?"

"Tidak." Jin Kook gemetar.

Moo Young menyadari itu, ia langsung mengarang cerita, "Ah.. Kamu terlambat berkarier, ya?"

"Benar."

"Sayang sekali."

Dan Moo Young pergi. 


Moo Young mendapat telfon dari Jin Kang. Jin Kang terdengar marah, ia menyuruh Moo Young segera bertemu sekarang juga.


Moo Young kesal karena ia harus menunggu lama padahal Jin Kang yang mengajak bertemu. 

"Apa maksudmu? Kenapa kamu mengatakan itu kepada Seung Ah?"

"Rupanya karena itu."

Moo Young langsung bangkit dan membawa belanjaannya. Ia tidak mau lagi membahas Seung Ah.


Jin Kang mengikuti Moo Young. Moo Young berhenti saat sudah dekat rumahnya, ia menunjuk arah rumahnya. Kamarnya di atap. Moo Young mengundang Jin Kang untuk makan keik karena hari ini ulang tahunnya.


"Kenapa?" Tanya Jin Kang lagi.

"Ini hari ulang tahunku, sayang jika dilalui sendiri. Padahal hanya setahun sekali."

"Katakan. Kenapa?"

"Karena itu faktanya. Melihatmu menyenangkan dan tidak membosankan. Aku menyukainya."

"Apa kamu... Kamu serius?"

"Aku lapar. Yakin kamu tidak mau?"


Jin Kang diam saja. Moo Young mengerti, tapi ia tetap menyuruh Jin Kang mampir jika berubah pikiran. Waktu Jin Kang sampai ia meniup lilin. 

Moo Young melanjutkan jalannya.


Jin Kang sedikit teriak, "Beri tahu Seung Ah itu tidak benar. Katakan kamu hanya bercanda. Kamu tahu apa yang telah kamu rusak? Mungkin ini hanya lelucon bagimu, tapi bagiku... Beri tahu dia itu tidak benar."

"Baiklah."


Moo Young meletakkan kuenya lalu mengeluarkan ponsel. Ia mengetik pesan sambil mengucapkannya, "Itu tidak benar. Aku hanya bercanda karena aku sangat mencintaimu. Kukira melakukan itu bisa membantuku melupakanmu."


Jin Kang tidak bisa membiarkan Moo Young mengirimnya pada Seung Ah. Ia merebut ponsel Moo Young, tapi ia terlambat, pesannya sudah dikirim. 

Tapi dikirimnya bukan ke nomor Seung Ah tapi ke nomor Jin Kang. Jin Kang mengecek ponselnya dan memang pesan itu masuk ke ponselnya. Moo Young lalu meminta ponselnya kembali.


"Kini aku mengerti kenapa kamu menyedihkan."

"Sungguh?"

"Karena kamu tidak berperasaan sama sekali. Jadi, kamu mempermainkan orang seenaknya. Bahkan kamu tidak menyesal jika menghancurkan mereka. Lalu kamu senang karena merasa menang. Itulah sebabnya kamu tidak sadar bahwa kamu menyedihkan."


Moo Young tersenyum dan ia minta maaf. Lalu Moo Young bertanya pada Jin Kang, apa Jin Kang sendiri tahu kenapa Jin Kang marah besar begini?

"Karena kamu paham bahwa pesanku ke Seung Ah bukan lelucon. Sangat paham."


Jin Kang hanya diam saja, dan Moo Young menyuruh Jin Kang menjawab pertanyaannya. 

"Pernahkah kamu memikirkanku?"

"Tidak."

"Pernahkah kamu merindukanku?"

"Tidak."

"Pernahkah kamu senang bertemu denganku?"

"Tidak."


Moo Young mendekati Jin Kang, tapi Jin Kang tidak bisa menatap matanya, Jin Kang menat kebawah. Moo Young terus bertanya padanya sambil memperhatikan reaksi Jin Kang.

"Benarkah kamu.. tidak menyukaiku sama sekali?"

"Tidak sama sekali."

"Baiklah."


Moo Young mengambil kuenya lalu berjalan menuju rumahnya. Tapi ia memanggil Jin Kang lagi.

"Hei. Mana yang lebih menyedihkan, tidak berperasaan atau tidak menyadari perasaan kita? Lebih baik aku tidak berperasaan."


Jin Kang pun pergi dengan langkah gontai. Ada dua mobil yang melewati Jin Kang, mobil mewah.


Di rumah, Jin kook malamun dalam gelap.


Jin Kang juga melamun di tangga luar, ia terus kepikiran Moo Young.


Sampai akhirnya Jin Kang memutuskan untuk kembali menemui Moo Young.

Jin kook membuka kotak yang ia simpan diatas almarinya. Di dalamnya banyak barang-barang.


Moo Young dihajar oleh beberapa orang, ia tidak melawan sama sekali.

Jin kang datang tepat saat itu dan melihatnya.


Jin Kook menemukan sebuah poster, ia membukanya perlahan. Itu adalah poster pencarian anak hilang. Ada tulisan di poster itu.

"Ada bekas luka bakar di lengan dan bahu kanan"
"Menghilang setelah perawatan luka bakar di rumah sakit"

Anak itu Moo Young kah?


Jin Kang ketakutan, ia mundur.

Note: Bener Yu Ri deh yang membunuh Mi Yeon, dan Moo Young yang membereskan lokasi. Tapi belum tahu alasan Yu Ri membunuh Mi Yeon. Atau mungkin karena cemburu juga sama separti ia cemburu pada Jin Kang. Entahlah..

3 komentar:

  1. Cerita semakin seru......enak dibaca 👍👍👍💪💪

    ReplyDelete
  2. Makasih kak... tolong dilanjutkan ya...

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap