Saturday, October 27, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 7 Part 2

Sumber: tvN


Jin Kang melewati restaurant bubur, ia berhenti, berpikir sejenak, tapi lanjut jalan lagi. Mungkin ia berpikir mau membelikannya untuk Moo Young.


Ternyata Jin Kang ke kantor polisi, tapi Pak Polisi heran karena Jin Kang hanya datang sendirian, Korbannya tidak ikut?

Jin Kang balik bertanya, apa dia belum mampir?

"Justru itu aku bertanya."

"Bisakah saksi mata melapor?"

"Ya, bisa saja. Anda sudah melaporkannya kemarin. Anda sudah melapor kemarin, gugatan hanya bisa diajukan korban. Secara langsung."

"Baiklah. Begitu rupanya. Terima kasih."

Jin Kang pun kembali.


Moo Young masih tidur, bahkan untuk bangun pun susah karena tubuhnya masih sakit semua. Tapi ia memaksakn diri untuk bangun demi kucingnya. Moo Young bangun untuk memberi makan Kang.


Moo Young memutar badannya ke kiri dan ke kanan, tapi itu butuh usaha ekstra dan wajahnya menunjukkan rasa menahan sakit. 


Ia melihat ada bungkusan di samping pintu. Ia mengambilnya, kalau dari logonya sih itu restaurant bubur yang dilihat Jing Kang tadi pagi.


Moo Young melihat ke bawah, tapi sepiiiiii.


So Jung datang ke rumah Jin Kook tanpa memberi tahu, ia membawa banyak bahan makanan. 

"Kenapa kamu kemari tanpa memberi tahu?"

"Apa maksudmu? Sudah kuduga kamu akan berdiam di rumah seharian."

"Apa ini?"

"Buatkan aku semur ayam. Itu keahlianmu. Aku ingin memakannya."


So Jung jadi ingat saat dulu ia sering memapah Jin Kook pulang saat malam karena Jin Kook mabuk. Rasanya asing saat datang siang hari.

"Ini hari Sabtu. Di mana Jin Kang?" Tanya So Jung.

"Dia berkencan. Sepertinya hubungannya lancar dengan Cho Rong."

"Sungguh? Baguslah."


Jin Kang dan Cho Rong melihat-lihat persewaan sepeda dan saat itu Hwang Geon menghubungi Cho Rong. Cho Rong permisi untuk mengangkatnya 


"Halo, Geon Hyung.

"Kamu di mana?"

"Hari ini aku libur."

Geon langsung melapor pada Detektif Lee. 

"Kurasa Cho Rong sudah gila. Dia bilang ini hari liburnya, jadi, dia ingin beristirahat."

Rekan-rekan yang lain meminta Detektif Lee untuk mendisiplinkan Cho Rong.


Cho Rong dan Jin Kang naik sepeda couple. Cho Rong menikmatinya tapi Jin Kang malah melamun. 


Setelahnya, mereka menatap sungai Han sambil menyantap es krim. Cho Rong mengaku kalau ia akhirnya mewujudkannya. Sebearnya ia membuat daftar 100 hal yang ingin ia lakukan bersama Jin Kang. Dan ini adalah salah satunya.

"Bersepeda denganku yang nomor satu?"

"Bukan sepeda biasa, tapi sepeda tandem. Bukan yang nomor satu, tapi bersepeda termasuk prioritas. Cukup atas."

"Selanjutnya apa?"

"Tidak seru jika aku memberitahumu. Nantikan saja."


Cho Rong kemudian mengajak Jin Kang pergi, ia mengulurkan tangannya untuk menggandeng Jin Kang. Jin Kang kaya ragu gitu karena ingat pegangan tangan Moo Young, tapi akhirnya ia menyambut uluran tagan Cho Rong.

"Mau makan apa?" Tanya Cho Rong.

"Sesuatu yang lezat. Sangat lezat."


Jin Kook memasak untuk So Jung sesuai permintaan So Jung dan So Jung seneng banget, kelihatannya sangat lezat.


So Jung memperhatikan Jin Kook dan ia melihat Jin Kook terlihat baik-baik saja. Jin Kook bertanya, apa maksud So Jung?

"Kamu bercerita tentang luka bakar Moo Young. Tapi kondisimu tidak seburuk dugaanku."

"Tentu saja. Itu hanya khayalan. Seperti katamu, itu khayalan."

"Benar."

Jin Kook kemudian menyuruh So Jung mencicipi dan So Jung bilang rasanya enak sekali. Jin Kook lalu menyuruh So Jung mengambil soju.


Setelah semuanya tersaji di meja, mereka saling menuangkan minuman. 

"Kamu tahu Cho Rong kesal?" Tanya So Jung, tapi Jin Kook diam saja. 


Setelah menenggak minuman, So Jung membicarakan soal Moo Young, "Bicara soal Moo Young. Kenapa kamu tidak memberitahunya tentang Yu Ri? Berdasarkan ucapanmu, kemungkinan besar Yu Ri pelakunya."

"Kita tidak tahu siapa pembunuh sebenarnya."

"Lalu kenapa kamu tidak memberi tahu Cho Rong? Dia pasti akan lega jika kamu memberitahukan itu. Kenapa kamu tidak menangkap Yu Ri?"

"Aku mengandalkan harapan."

"Harapan apa?"

"Aku berharap dia menyerahkan diri."

"Menyerahkan diri? Aku ingin tertawa."


So Jung melanjutkan setelah ketawa, "Pikirmu anak nakal menyebalkan itu akan menyerahkan diri?"

"Jika tidak, mau bagaimana lagi. Aku bisa apa? Akan kutangkap dia nanti."

"Kamu yakin?"

"Tentu saja."


So Jung terpikir sesuatu dan itu jelas terlihat, tapi saat Jin Kook bertanya ada apa, So Jung mengatakan tidak ada apa-apa. Tapi Jin Kook terus memaksanya mengatakan yang ada dipikirannya. 

"Mungkinkah kamu menyukainya?"

"Siapa? Apa... yang benar saja. Tidak masuk akal. Dia lebih muda daripada Jin Kang."

"Lantas kenapa? Dia sudah dewasa. Selain itu, kata orang, pria yang berumur mengincar wanita lebih muda."

"Astaga."

"Benar, bukan? Itukah alasanmu menolongnya dan jatuh bersamanya? Jadi, kamu membiarkannya bebas dan menunggunya menyerahkan diri?  Benar, bukan?"

Jin Kook malah ngakak, "Makin kupikirkan, itu makin menjelaskan situasinya. Benar? Aku ingin tertawa. Astaga."

"Kenapa tertawa? Menyebalkan."

"Menyebalkan?"

"Ya!"

"Bagiku juga menyebalkan. Jangan membuatku tertawa. Astaga."


Jin Kook akhirnya berhenti ketawa dan mengatakan kalau So Jung lucu, tapi mengakhirinya dengan berkata kalau So Jung itu cantik. So Jung membentaknya.

Jin Kook: Pikirkanlah. Kamu yang cantik, bukan Yu Ri.

Tiba-tiba So Jung berkomentar kalau masakan Jin Kook asin padahal ia sudah makan banyak. So Jung tidak bisa memaknnya lagi dan langsung pergi.

Jin Kook memaksa untuk menghabiskannya dulu baru pergi, tapi So Jung tetap pergi. 


Seung Ah menandatangani kontrak penjualan studionya. Tatapannya kosong setelahnya.


Saat sampai di rumah, ia mengeluarkan cek 2jt dolar yang sudah dikumpulkannya. Ia teringat pertemuannya dengan Moo Young waktu itu. 

ung waktu itu. 

Saat Seung Ah mengajaknya kabur, Moo Young malah tidak tertarik dan malah mau pulang untuk membuat resume, ia harus mencari pekerjaan lain. 

"Moo Young-ssi."

"Kita sudah mencapai batas."

"Hhm?"

"Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan."

"Tapi kita saling mencintai."

"Aku tidak pernah mencintaimu."

"Lalu kenapa selama ini kamu berhubungan denganku?"

Moo Young tidak menjawabnya, ia malah pergi.


Seung Ah mengeluarkan ponselnya, ia mencari nomor Universitas Yeongang kampus Wonju, lalu menghubunginya.


Joon Hee menghubungi Moo Young, mengabarii kalau Seung Ah sudah tahu semuanya. 

"Aku harus bagaimana? Dia sudah tahu semuanya. Haruskah aku meyakinkannya bahwa kamu mahasiswa? Aishh."

"Baguslah."

"Bagus?"

"Ya. Jangan khawatir."

Kemudian masuk pesan Seung Ah di ponsel Moo Young, mengajaknya bertemu.


Moo Young menemui Seung Ah di tepi sungai Han. 

Seung Ah: Bagaimana tempat ini? Aku ingin mengakhirinya di tempat kita memulai.

Moo Young: Bagus.

Seung Ah lalu memberikan cek 2jt dolar itu. 

Seung Ah: Bagaimana rasanya melihat itu?

Moo Young: Ini dua juta dolar.

Seung Ah: Katakan ini karena uang. Maka aku akan memberikannya.

Moo Young: Ya, ini karena uang. Terima kasih.

Moo Young pun mengantonginya dan Seung Ah pergi duluan.


Seung Ah melihat Moo Young jalan terpincang melalui cermin di jalan. Ia pun mengejar Moo Young. 



Seung Ah memeriksa keadaan Moo Young dan ia terkejut melihat Moo Young luka-luka begitu 

"Wajahmu kenapa? Ini ulah Woo Sang Oppa, ya?"

"Kamu sudah memberiku dua juta dolar. Hal lain tidak penting."

Moo Young meminta kembali topinya lalu pergi.


Ternyata Jin Kook masih belum bisa melupakan luka bakar Moo Young, apalagi saat Moo Young menyinggung soal polisi Haesan.

Note: Maaf telat banget, lagi banyak kerjaan soalnya di dunia nyata. Semoga hari ini bisa kekejar semuanya.

6 komentar:

  1. Ayo dilanjut ya ka sinopsisnya.. Fighting !!!

    ReplyDelete
  2. Semangat semangat semangat mba' nulisnya...

    ReplyDelete
  3. Ya terimakasih... Semangat nulis nya ya... Setia menunggu kok...

    ReplyDelete
  4. Ya.....ditunggu episode berikutnya ya💪💪💪💪semangat

    ReplyDelete
  5. bolak balik nengok tp SEMANGAT YAA

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap