Saturday, October 20, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 6 Part 1

Sumber: tvN


Jin Kang pulang dan ia melihat Moo Young menunggu di depan rumah.



Jin Kook melihat Moo Young terekam salah satu kamera mobil di jalan menuju apartemen Mi Yeon. Ia memperbesarnya beberapa kali sampai menampilkan dengan jelas kalau itu memang benar Moo Young.


Moo Young tak menyangka Jin Kang kelihatan baik-baik saja, padahal dirinya tidak produktif seharian karena Jin Kang. Tapi Jin Kang benar-benar biasa saja.

Jin Kang memandang Moo Young dengan pandangan itu lagi, Ekspresi "mengasihani".


Ada klakson mobil, Jin Kang menoleh karena seseorang memanggilnya. Orang itu adalah Cho Rong. Jin Kang melirik Moo Young lagi, tapi Moo Young sudah tidak ada di sana.

Cho Rong memberikan sup tulang ikan buatan ibunya. Katnaya, ibu memaksanya untuk memberikannya pada Jin Kang. Jin kang sangat berterimakasih.

"Semoga kamu menyukainya." Ujar Cho Rong.

Jin Kang menanyakan apa Cho Rong sudah makan? Cho Rong bilang belum makan, maka Jin Kang mengajaknya makan bersama, tapi ia mau meletakkan supnya dulu di dalam rumah.


Cho Rong cerita kalau ibunya sangat keras kepala dan supnya cuma satu porsi jadi pastikan menghangatkannya dulu sebelum memakannya.

"Baik. Kuhargai pemberiannya. Beliau pasti bersusah payah membuatnya. Bahkan aku juga diberi."

"Itu bukan apa-apa. Nikmatilah."


Moo Young masuk ke rumah makan yang sama, ia memilih duduk dibelakang Cho Rong, jadi ia bisa melihat Jin Kang. Jin Kang menatapnya, Moo Young berbisik kalau ia datnag untuk makan.


Ponsel Cho Rong berdering, dari ibunya. Jin Kang menyuruh Cho Rong menagngkatnya, tapi CHo Rong bilang tidak perlu mengangkatnya.

"Tetap saja..." Paksa Jin Kang.

Cho Rong pun mengangkatnya, Ibu bertanya, apa Cho Rong berhasil mendapatkannya? Cho ROng refleks meninggikan suaranya, "Dapat"? Apa maksud Ibu? Dan Cho Rong segera menyudahi pembicaraan.

Cho Rong menjelaskan pada Jin Kang bahwa yang dimaksud ibunya adalah menangkap kriminal. Jin Kang mnganggu mengerti.

Jin Kang: Brlisu menunggumu makan malam bersamanya, ya?

Cho Rong: Tidak, bukan begitu. Jangan dipikirkan.

Sementara itu, Moo Young terus menatap Jin Kang.


Ibu mengirim pesan pada Cho Rong.

"Uhm Cho Rong, ibu tidak melahirkan anak bodoh. Ibu akan mencoretmu dari kartu keluarga jika kamu gagal berpegangan tangan dengannya."


Jin Kang: Kamu tidak makan?

Cho Rong: Ya. Aku akan makan.


Moo Young terus mengikuti Jin Kang dan itu membuat Jin Kang tidak tenang. Cho Rong tidak menyadaai ada yang mengikuti mereka. Akhirnya Moo Young berbelok arah.


Saat tu, Cho Rong mulai berani memegang tangan Jin Kang, tapi ia melepaskannya lagi karena tangannya berkeringat.

Jin Kang mengambil inisiatif menggandeng duluan, apa masalahnya memang dengan berkeringat? 


"Bagaimana jika kita berpacaran? Kita perjelas hubungan kita." Tanya Cho Rong dan Jin Kang setuju.


Saat mereka di depan rumah, Cho Rong menghentikan Jin kang. Saat itu Moo Young muncul lagi. Cho Rong akan mencium Jin Kang tapi Moo Young tiba-tiba menghentakkan kakinya. 


Cho Rong kaget dan tidak jadi mencium Jin Kang. Ia salah tingkah dan akhirnya pamit.

Moo Young pura-pura mengikat tali sepatunya. Cho Rong mendekat, ia agak kesal, tapi tidak bisa marah juga. Cho Rong cuma menyuruh Moo Young geser karena ia mau membuka mobilnya. Moo Young pun minta maaf, lalu bergeser.

Cho Rong kembali pamitan pada Jin Kang sebelum menjalankan mobilnya. Jin Kang menunduk hormat.


Setelah Cho Rong pergi, Moo Young mendekat. Jin Kang menanyakan maksud Moo Young barusan. Moo Young hanya memastikan kalau mereka tidak berciuman. Jin Kang menatapnya.

"Apa? Kamu kecewa? Kamu ingin menciumnya?" Tanya Moo Young.

"Ya, aku kecewa."

"Maka kamu harus bicara denganku."

"Kenapa?"

"Kamu bilang ingin menciumnya? Jika kamu tidak mau bicara hari ini, besok aku akan berdiri di sini lagi."


Moo Young mendesah, tatapan Jin Kang terngiang di benaknya seharian. "Kasihan, kasihan, kasihan". Rasanya itu mengikutinya ke mana pun. ia tidak berdaya. Sekarang pun masih. 

"Mau ke rumahku? Rasanya "kasihan" tertulis di seisi rumahku. egitu aku masuk, kamarku berseru, "Selamat datang. Kasihan". Jadi, aku ingin mengetahui alasannya. Apa maksudmu? Kenapa kamu mengasihaniku?"

"Ternyata karena itu? Karena aku mengatakan hal yang tidak ingin kamu dengar? Sepele sekali."


Jin Kang melangkah, tapi Moo Young bertanya lagi, jika sepele, kenapa ia merasa begini?

"Merasa apa?" Jin Kang sedikit membentak.

"Hina."

"Benarkah? Baguslah. Kini kamu tahu rasa. Apa? Kamu selalu mempermainkan perasaan orang lain, tapi enggan merasa hina? Sungguh mengejutkan. Kamu belum pernah dikritik seperti itu? Untuk apa kamu datang karena hal seremeh itu?"


Tentu saja banyak yang sudah mengatakannya pada Moo Young. Kata-kata, juga ekspresi itu. Tapi Moo Young biasa saja, tidak terpengaruh. Saat orang lain mengasihaninya, itu artinya mereka lega. "Kasihan yatim piatu itu". "Syukurlah anak-anakku punya aku". "Lihat luka bakar di lengannya. Kasihan dia. Syukurlah tidak ada luka bakar di tanganku". 



"Tapi aku tidak tahu makna ucapanmu. Itu sungguh berarti bagiku. Kamu sungguh mengasihaniku. Bukan?" Tegas Moo Young.

"Benar."

"Kenapa?"

"Kenapa bertanya? Tentu aku mengatakannya karena mengasihanimu. Daripada buang waktu untuk ini, renungkan perbuatanmu ke orang lain. Untuk apa kamu repot kemari karena masalah sepele?"

Jin Kang meninggalkan Moo Young untuk masuk rumahnya.


Jin Kook melihat Moo Young jalan dari arah rumahnya. Ia di dalam mobil sih, jadi tidak menyapa.


Sampai di rumah, ia langsung bertanya pada Jin Kang, apa tadi bertemu dengan Kim Moo Young?

"Untuk apa?" Jin Kang bohong.

"Kamu bilang ingin berteman dengannya? Jika tidak, lupakan saja."


Jin Kang menyuruh Jin Kook makan sup tulang sapinya jika lapar. Itu dari Cho Rong.

"Dari Cho Rong?"

"Ya. Ibunya memberikannya untukku."

"Menurutmu Cho Rong bagaimana? Dia baik, bukan?"

"Bukan urusan Kakak. Jangan mencampuri kehidupan asmaraku."


Jin Kang langsung masuk kamar mandi. Jin Kook senang Jin Kang menyebut asmara, ia sampe senyum-senyum.


Saat menyikat gigi, Jin Kang tiba-tiba memikirkan kata-kata Moo Young tadi. 


So Jung terkejut mendengar Jin Kook menemukan rekaman yang merekam Moo Young pada hari kejadian. So Jung merinding.

"Manajer Yoo. Kamu kenapa?"

"Apa maksudmu?"

"Kamu merasakan sesuatu saat pertama jumpa Kim Moo Young. Kamu berdebar-debar dan gelisah di dekatnya. Apa kamu.. memiliki mata ketiga? Ada firasat khusus saat bertemu dengan kriminal?"

"Bicara apa kamu? Sejak awal entah kenapa Kim Moo Young terasa tidak asing. Jadi, aku merasa ada yang mengganjal."

"Astaga. Apa kata Cho Rong? Aku saja sangat terkejut, dia pasti sangat heboh sekarang."

"Aku belum memberitahunya. Dia tergesa-gesa pergi ke IGD."

"Benar juga. Ibunya terkena luka bakar, ya? Apa yang terjadi?"

"Kakinya melepuh karena setrika uap."

"Ya ampun. Luka bakar sukar sembuh pada orang tua."


Lalu So Jung menanyakan apa rencana Jin Kook selanjutnya. Jin Kook akan bertanya langsung pada Moo Young.

"Kamu mau menanyainya langsung? "Kamu tersorot kamera pada hari kejadian." Begitu?" So Jung meyakinkan.

"Ya."

"Astaga. Pikirmu dia akan menjawab, "Ya. Aku ke sana malam itu untuk membunuh"."

"Mungkin saja."

"Apa?"

"Sungguh, itu memungkinkan. Dia orang teraneh yang pernah kutemui."


Dia berlagak tenang, tapi jelas aku merasakan kegelisahannya.


Tapi dia mempermainkanku. Mulanya, kukira dia hanya bercanda. Tapi... Aku salah. Dia malah sengaja melibatkan diri ke permainan ini.

Ingat kan bagaimana Moo Young menunjukkan susunan bola kristal di depan Jin Kook?


So Jung tidak mengerti, kenapa dia mengambil risiko?

"Itulah yang aneh darinya. Baginya, makin berisiko, sensasinya akan makin menarik." Jawab Jin Kook.


Dan Moo Young sekarang mendatangi perusahaan Woo Sang, ia mengantarkan anggur itu sendiri. Hal ini membuktikan ucapak Jin Kook barusan, makin beresiko, sensasinya akan makin menarik.

Moo Young menitipkannya pada Resepsionis dan Noona-nya Woo Sang melihatnya, ia bahkan sampai bertanya pada Resepsionis siapa Moo Young.


Resepsionis datang ke ruangan Noona untuk memberikan titipan Moo Young. Itu adalah bir racikannya. 

"Katanya dia Kim Moo Young dari Arts Brewery?" Tanya Noona.

"Ya. Katanya bir ini dipesan oleh Direktur Jang Woo Sang."

"Pergilah. Aku akan bicara dengan Direktur Jang."


Noona membaca suratnya. Isinya tulisan resep.

"Bir pernikahan?" Noona membacanya dan lama-lama ia ngakak. Di ujung surat tertulis nama Moo Young, si pengirim.


Jin Kook mendatnagi rumah Moo Young, tapi ada Yu Ri disana. Tapi begitu Yu Ri melihat Jin Kook, ia langsung lari.

Jin Kook: Kenapa dia? Dia membuatku merasa bersalah.

Jin Kook lalu naik dan menunggu Moo Young.


Cho Rong mendatnagi So Jung. So Jung menanyakan bagaimana kondisi ibu Cho Rong. 

"Sepertinya lukanya tidak parah, tapi tetap perlu cangkok kulit. Kakakku dan suaminya mengantarnya ke Daejeon."

"Astaga. Kasihan."

Cho Rong menanyakan Jin Kook pada So Jung. So Jung juga tidak melihat Jin Kook sejak pagi tadi. Cho Rong mengerti, ia akan pergi tapi So Jung menahannya. 

"Jangan terlalu heboh usai mendengar sesuatu dari Manajer Yoo. Tetap tenang. Ya?"

"Apa? Dia menemukan bukti?"

"Bukti yang sangat besar."

"Apa?"

"Aku tidak mau bilang. Dengarlah langsung dari Manajer Yoo langsung."

Cho Rong mengangkat kedua tangannya senang, ia keluar dengan senyum lebar. So Jung tersenyum,

"Astaga. Apa kelak dia akan seperti Manajer Yoo? Makin lama, dia makin manis."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap