Friday, October 12, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 3 Part 4

Sumber: tvN


Woo Sang datang ke Arts. Ia menyampaikan pada CEO Jung kalau ia ingin meminta resep spesial dari Moo Young.

Woo Sang: Hanya untuk pesta kecil, jadi, jangan tertekan. Tolong buatkan bir untuk pernikahanku.

CEO Jung: Dia bilang tunangannya penggemar bir kita. Lain kali, datanglah bersamanya. Mengetahui selera tunangannya akan menguntungkanmu, Moo Young.

Woo Sang menantikan reaksi Moo Young.

Moo Young: Ide bagus. Silakan berkunjung.

CEO Jung: Akan kutentukan tanggal dengannya.

Moo Young langsung permisi. 


Cho Rong melakukan profilling katanya. Ia terus menggumamkan "Choi Sang Hoon" sambil memandangi foto Sang Hoon. 

Jin Kook menjewernya, apa Cho Rong bahkan bisa mengeja "profilling"?

"Bisa. P, R, O, F..."


Jin Kook menemukan ada yang aneh, ia meminta Cho Rong menampilkan lagi foto isi koper Sang Hoon. Jin Kook membaca tulisannya, Bola kristal salju?


Lalu Jin Kook masuk ke ruang penyimpanan barang bukti,ia menemukan Bola kristal salju di koper Sang Hoon. 


Jin Kook langsung menemui Sang Hoon di sel sambil membawa Bola kristal salju itu. Ia tahu pasti Sang Hoon membeli itu sebagai hadiah. Mendiang pacar Sang Hoon mengoleksinya, bukan? Koleksinya banyak di ruang utama. Menurut Sang Hoon , di mana Mi Yeon akan menyimpan ini?

Jin Kook: Aigoo.. Ini komidi putar. Kira-kira dia akan menyimpan bola kristal komidi putar di samping perahu layar atau malaikat? Seandainya dia masih hidup, di mana dia akan menyimpannya?

Sang Hoon: Apa maksudmu?

Jin Kook: Ini akan diletakkan di sebelah bola kristal perahu layar atau malaikat?

Sang Hoon: Apa maksudmu? Jelaskan agar aku mengerti.

Jin Kook terdiam.


Moo Young sampai di depan rumah Seung Ah seperti permintaan Seung Ah. Tapi saat Moo Young menghubungi Seung Ah untuk mengabari yang bicara malah ibunya Seung Ah.

"Moo Young-ssi? Tidak perlu turun dari mobil. Aku ibunya Seung Ah. Dia tidak akan pergi."

Seung Ah mencoba merebut ponselnya, tapi ibu jelas tidak memberikannya. 

Ibu: Dia harus menyambut calon mertuanya, jadi, dia sibuk sekali. Kamu paham, bukan? Akan kuhapus nomormu dari ponselnya. Tolong hapus juga nomornya.


Ibu memutus telfon dan langsung menghapus nomor Moo Young dari ponsel Seung Ah.

Seung Ah hanya bisa melihat Moo Young memalui layar CCTV.


Moo Young maju beberapa langkah, ia menatap lebih dekat rumah Seung Ah.


Jin Kook mengajak Detektif Lee bicara mengenai Sang Hoon, apa Detektif Lee akan menyerahkannya ke kejaksaan?

"Langsung katakan intinya."

"Kurasa bukan dia pelakunya. Belum ada bukti mutlak. Sebaiknya tim kita menyerahkan dia setelah penyelidikan lebih dalam."

"Timmu? Apa maksudnya? Kamu iri karena kami lebih cepat menangkapnya? Karena inilah aku bilang kamu bukan anggota tim kami. Jangan ikut campur dan kerjakan tugasmu."

"Bukti tidak langsung bukanlah bukti jelas!"

Tapi Detektif Lee tetap tidak peduli dengan Jin Kook. 

Jin Kook melihat sesuatu di mejanya, judulnya "Pengaduan". Ia mendesah.


Jin Kook melihat sesuatu di mejanya, judulnya "Pengaduan". Ia mendesah.


Seung Ah ke salon ditemani sang Ibu. Dan Seung Ah tidak kelihatan bahagia sama sekali.


Sebelum masuk mobil, Ibu menyuruh Seung Ah untuk tersenyum. 


Jin kook ke bagian CCTV pusat, ia mencari sekuter lagi. 

"Astaga. 37-4. Kenapa dia memarkirnya di titik yang tidak tersorot CCTV?" Tanya petugas.

"Aku juga heran." Jawab Jin Kook. 

Jin Kook menemukan sesuatu, seorang berjalan menggunakan payung. Tapi bukan petunjuk penting. Petugas berkata semua itu percuma. Lalu petugas itu permisi.


Seung Ah sama sekali tidak tersenyum selama perjalanan. 


Moo Young melamun melihat matahari terbenam. 


Seung Ah memikirkan kata-kata Woo Sang. 

"Tahu kapan kamu terlihat paling manis? Saat kamu berpikir, "Aku tidak butuh ini, aku berbeda. Setidaknya aku tidak angkuh seperti kalian". Saat inilah, kamu manis. Tapi kamu.. tidak bisa hidup tanpanya karena kamu juga seangkuh diriku."


Saat mobil berhenti di lampu merah, Seung Ah memikirkan Moo Young. 

"Kamu sungguh tidak ingin melakukannya? Jika kamu tidak mau, tidak usah. Itu mudah. Kenapa? Sebenarnya kamu ingin menjalani gelar wicaranya, ya? Itu wajar. Kamu berlagak dipaksa."


"Tidak." Gumam Seung Ah dan ia langsung keluar dan berlari berlawanan arah. 


Moo Young masih duduk disana dan tidak mengubah pandangannya.


Jin Kook pulang dan melihat sepatu Jin Kang berserakan, ia langsung merapikannya.

Jin Kook lalu masuk kamar Jin kang yang ternyata sedang sangat sibuk menyelesaikan identitas perusahaan besok.

"Identitas perusahaan?" Ulang Jin Kook.

"Hm.. Arts Brewery butuh logo baru."

"Ah.. Logo, ya? Kini kamu terlihat profesional."


Jin Kook melihat logo yang ia kenal di pajang oleh Jin Kang. Itu adalah logo yang ia lihat di rekaman CCTV tadi, logo di payung. 

"Apa ini? huh? Apa ini?" Tanya Jin Kook. 

"Ah.. Itu untuk suvenir."

"Suvenir?"

"Arts Brewery menempelkan gambar itu di suvenir saat festival bir musim panas lalu. Di suvenir seperti payung dan cangkir untuk pengunjung."

"Payung?"


Jin Kook terkejut sampai tidak sengaja menampik tangan Jin Kang yang sedang membawa kertas-kertas warna. AKhirnya semua jatuh berantakan di lantai.


Jin Kang kesal, ia tidak ada waktu untuk ini!

"Biar kakak memungutnya. Kakak selalu membereskan kekacauanmu."

Jin Kook mau memungutinya, tapi ternyata itu ada urutan warnanya tidak boleh sembarangan. Jin Kang menunjukkan urutan warnanya. 


Jin Kook: Omong-omong, Kim Moo Young bekerja di Arts Brewery, bukan?

Jin Kang: Benar juga. Kim Moo Young. Dia pasti akan selesai menyusunnya dalam sekejap. Kita pasti butuh waktu lama.

Jin Kook: Apa maksudmu?

Jin Kang: Kata Seung Ah, dia genius. Gelangnya pernah putus dan manik-maniknya berceceran. Kim Moo Young memperbaikinya. Lalu Seung Ah sadar bahwa urutan manik-maniknya sama seperti semula.

Jin Kook: Apa?

Jin kang: Sungguh. Urutannya sama persis. Padahal manik-maniknya ada lebih dari 20.

Jin Kook langsung berlari keluar.


Jin Kook masuk ke mobilnya, ia memikirkan cerita Jin Kang dengan petunjuk yang ia temukan di TKP. Pasti ia mencurigai Moo Young pelakunya.


Ternyata Jin Kook buru-buru ke kantor, disana ia menatap kembali foto itu dan ternyata Yu Ri memagang gelas yang ada stiker Arts Brewery-nya sama dengan payung yang digunakan orang itu.


Jin Kook juga ingat saat Moo Young menatap foto itu. Dan Moo Young langsung tahu Choi Sang Hoon adalah pembunuhnya. 


Woo Sang diberi kabar kalau Seung Ah melarikan diri. Semuanya sedang menunggu padahal. Dan ada seseorang yang menatap Woo Sang.


Seung Ah menunggu Moo Young di pabrik. Moo Young melihat Seung Ah dan jongkok mengikuti Seung Ah. 


Seung Ah melarang Moo Young salah paham, ia sungguh tidak ingin menikah dengan Woo Sang.

"Aku tahu." Jawab Moo Young.


Moo Young lalu berdiri dan mengulurkan tangan. Seung Ah menggapainya, ia ikut berdiri. Moo Young lalu memeluknya.


Dan mereka menghabiskan malam di dalam.


Moo Young pulang esoknya dan ternyata Jin Kook sudah menunggunya. 

"Sedang apa di sini?" Tanya Moo Young. 

"Menurutmu kenapa aku ada di depan rumahmu? Aku menunggumu."

"Kenapa?"


"Tempo hari kamu bertanya bagaimana rasanya jika ada yang mati karenaku. Giliranku bertanya. Bagaimana rasanya.. membunuh?
'
-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap