Friday, October 19, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 5 Part 3

Sumber: tvN


Jin Kang keluar kamarnya saat Jin Kook sedang makan kentang rebus. Jin Kang menyuruh kakaknya makan yang bener, pasti gak enak kentang rebus yang sudah dingin. 

"Kentang paling enak saat dingin. Seharusnya kamu menghubungi jika sakit. Kamu makan seperti ini seharian?" Jawab Jin Kook.


Lalu Jin Kang memberikan buku Jin Kook yang dibawa Moo Young tadi. Jin Kang mengatakan kalau ia tadi tidur pulas selama 12 jam.

"Astaga, baguslah. Dari mana kamu dapat ini? Kakak kira hilang."

"Oh.. Tertinggal di rumah sakit. Kim Moo Young yang memberikannya."


Jin Kook tegang, bagaimana Jin Kang bisa bertemu Moo Young padahal tidak ke kantor? Jin Kang menjelaskan kalau mereka bertemu di halte bus tadi pagi, lalu Moo Young mengantarnya pulang.

"Sudah kakak bilang jangan berurusan dengannya. Astaga." Kesal Jin Kook.

"Kakak mengingatkanku kepada ibunya Eun Seon."

"Apa?"

"Katanya, "Eun Song, jangan bermain dengan Jin Kang dari kelasmu". Lalu Kakak murka. Kakak tidak ingat? Kakak mengingatkanku kepada wanita itu."

"Itu jauh berbeda! Kakak tidak akan semurka ini andai kalian pernah bertemu sebelum dia menghakimi! Tapi dia malah berasumsi! Bisa-bisanya kamu membandingkan kami?"

"Sudah lama aku ingin bertanya, kenapa Kakak membencinya?"

"Itu... Itu... Dia memancarkan aura buruk. Aura yang sangat buruk."

"Ternyata aku benar. Halo. Ibunya Eun Seon. Anda sehat, bukan?"

"Hentikan."

"Kentang dingin itu yang terenak. Benar, Ibu Eun Seon?"

"Hentikan."


Jin Kang menjelaskan, melarang anaknya bergaul dengan seseorang karena yatim piatu dan memakai alasan memancarkan aura buruk, itu hal yang sama.

"Aku akan makin dekat dengannya." Canda Jin Kang dan langsung masuk kamarnya.

"Yoo Jin Kang! Kakak tidak bercanda."


Jin Kang pun berbalik, "Oppa. Jangan terlalu keras kepadanya. Dia juga..." Jin kang berhenti, ia tidak bisa mengatakan kalau Moo Young juga yatim piatu.

"Apa? Apa?" Tantang Jin Kook.

"Kampung halamannya juga di Haesan. Sesama dari Haesan, jangan kejam."


Moo Young menunggu Jin Kang di depan halte, ia melamunkan kata-kata Yu Ri kalau ia menyukai Jin Kang.

Moo Young melambai pada Jin Kang dan menyuruhnya naik.


Jin Kang pun naik, Moo Young lalu menyuruhnya memasang sabuk pengaman. Dan mereka jalan.

"Di mana kantormu?"

"Shinsa-dong. Kamu mengantarku ke kantor? Astaga. Baguslah. Kenapa masyarakat di sini baik sekali?"


Moo Young merasa keluarga Jin Kang pasti kaya. Jin Kang balik bertanya, apa Moo Young ingin ia turun jika ia kaya raya? Jin Kang lalu menjelaskan kalau ia sama sekali tidak kaya, jadi antar saja ke kantor. 

Moo Young terus memikirkan katakata Yu Ri soal ia yang menyukai Jin Kang tapi tidak menyadarinya.


Jin Kook mendatangi tempat kerja Yu Ri. Ia memantapkan hati sebelum masuk ke dalam.


Jin Kang bertanya bagaimana keadaan Yu Ri, baik-baik saja kan? Moo Young mengiyakan. 

"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Tanya Jin Kang lagi.

"Aku tidak menganggapnya sebagai wanita. Puas?"

"Aku bukan menanyakan itu. Aku menanyakan awal mula pertemanan kalian."

Mereka sampai, Jin Kang menyuruh Moo Young berhenti di persimpangan depan.  

Moo Young: Keluarlah 30 menit lebih awal besok. Kencan ini terlalu singkat.

Jin Kang: Terima kasih telah mengantar. Kita hanya membutuhkan lima menit. Aku sangat resah tadi.


Jin Kang akan turun, tapi Moo Young tiba-tiba mengajaknya berkencan. Moo Young mengaku suka pada Jin Kang.

"Dasar gila. Lihat.. Aku sampai mengumpat karenamu."

"Kubilang, aku menyukaimu."

"Kamu gila."

"Gila, ya? Aku ingin memastikan sesuatu. Mungkin aku menyukaimu, mungkin juga tidak. Kita harus terus bertemu."

"Aku tidak peduli jika kamu menjadi gila, tapi aku sungguh kasihan kepada Seung Ah. Jaga kelakuanmu."

"Jangan terlambat besok. Jika kamu takut kehilangan Kyung Chul, silakan berselingkuh denganku. Aku tidak keberatan."

Jin Kang mengabaikannya.


Jin Kook mendatangi Yu Ri, tapi Yu Ri malah menyilangkan kaki di depannya.

"Astaga. Pikirmu ini pantas? Kamu tidak tahu? Aku mengantarmu ke rumah sakit dan menyelamatkanmu."

"Apa maksudmu?"

"Baiklah. Langsung saja. Aku ingin bertanya sekaligus meminta bantuan. Dengarkan keduanya, paham? Pertama. Kenapa kamu menyerang adikku?"

"Aku kesal."

"Apa? Kenapa kamu kesal? Karena aku? Atau.. Karena adikku?"

"Aku kesal dengannya. Puas?"


Jin Kook menjadi emosi. Jadi maksud Yu Ri, Yu Ri sengaja mencoba membunuh adiknya? Yu Ri tidak mengelaknya.. 

Jin Kook: Kalau begitu, kenapa? Setidaknya katakan motifnya.

Yu Ri: Hmm.. Aku tidak mau bilang.

Jin Kook: Tidak mau?

Jin Kook langsung membalik meja dan ia memaksa Yu Ri berdiri. 

Jin Kook: Hei! Ini percobaan pembunuhan, kamu enggan mengatakan motifnya?

Jin Kang: Adikmu yatim piatu, bukan?

Jin Kook: Yatim piatu? Kata siapa? Ada aku. Dia punya keluarga. Yatim piatu apanya? Kata siapa?

Yu Ri: Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

Jin Kook: Siapa?

Yu Ri: Kim Moo Young dan adikmu. "Kamu yatim piatu? Aku juga". Sepertinya mereka berdua saling jatuh cinta.


Jin Kook mengerti sekarang, jadi... Itukah motif Yu Ri? Karena Yu Ri salah paham dengan hubungan adiknya dan Moo Young?

"Aku tidak salah paham." Tegas Yu Ri.

"Kamu salah paham! Aku tidak mengerti kenapa kamu beranggapan begitu, tapi Moo Young punya pacar dan dia bukan adikku!"

"Itu tidak penting! Kim Moo Young menyukai adikmu."

"Apa?"

"Kim Moo Young.. menyukai adikmu."

"Baiklah. Bagaimanapun, kamu salah paham. Jelas? Kamu keliru. Kedua. Berjanjilah satu hal. Ini peringatan untukmu. Jangan pernah... Jangan pernah mengganggu adikku lagi."

"Tidak bisa."

"Apa?!"

"Aku tidak bisa menjamin itu."


Jin Kook tambah emosi, ia langsung memborgol Yu Ri dengan keras. Yu Ri teriak kesakitan. Jin Kook lalu mengangkat tangan Yu Ri dan meliat kembali bekas sayatan disana. Jin Kook terdiam, ia langsung bertindak lembut.

"Lim Yu Ri. Kamu ditahan atas percobaan pembunuhan. Kamu berhak untuk tetap diam. Kamu berhak didampingi pengacara. Segala ucapanmu bisa dan akan digunakan sebagai bukti di pengadilan."


Jin Kook membawa Yu Ri ke kantor. So Jung yang gak tahu apa-apa mencegatnya di depan sambil mengatakan menu makan siang hari ini. Tapi Jin Kook mengabaikannya.

Jin Kook mengeluarkan Yu Ri dari mobilnya dan membawanya masuk. So Jung mengikuti. Jin Kook menyerahkannya pada petugas, menyuruh petugas menahannya dengan tuduhan percobaan pembunuhan.


So Jung bertanya, ada apa? Tapi Jin Kook masih saja mengabaikannya. Jin Kook geloyor keluar.


Di luar Cho Rong yang baru datnag mengatakan ada kabar besar soal Lim Yu Ri, tapi Jin Kook juga mengabaikan Cho Rong.

"Nanti saja." Jawab Jin Kook lalu masuk mobil.


So Jung keluar setelah Jin Kook pergi. Cho Rong bertanya ada apa? Tapi So Jung malah mengajaknya makan siang.


Sambil makan, So Jung mengatakan kalau Yu Ri hampir membunuh Jin Kang makanya tadi Jin Kook mengamuk.

Cho Rong bingung, ia akan menelfon Jin Kang tapi So Jung mengambil ponselnya dan menyuruhnya duduk. Cho Rong pun menurut. Lalu So Jung menjelaskan. 

"Sudah kuduga kamu akan panik. Kamu akan berkata apa di telepon? "Ada yang mencoba menabrakmu?" Jangan mengungkitnya. Nanti dia resah. Pokoknya jangan. Jangan. Paham?"

"Baiklah."

So Jung pun mengembalikan ponsel Cho Rong.


Jin Kook kembali ke tempat kerja Yu Ri, ia memecahkan kaca mobil Yu Ri untuk mengambil memory card kamera dasbor, tapi kan sudah dibung sama Yu Ri.

Jin Kook melihat sekitar dan ia menemukan ada CCTV yang merekam tempat parkir mobil Yu Ri itu.


Jin Kook pun mendatangi yang pnya CCTV untuk melihat rekamannya dan ia menemukan rekaman saat Yu Ri melempar memory card-nya ke semak-semak. Jin Kook langsung ke semak-semak itu.


Woo Sang datang ke pabrik dan ia memperhatkan Moo Young dari jauh.


CEO Jung memberikan resep bir pesanan Woo Sang. Woo Sang menerimanya setengah hati, tapi CEO Jung tidak membaca gelagat Woo Sang itu, ia malah terus menanyai Woo Sang kapan bisa mencicipi birnya. 


Woo Sang tiba-tiba bertanya pendapat CEO Jung mengenai Moo Young, apa benar Moo Young dibutuhkan disana?

CEO Jung bingung, tapi Woo Sang tidak menjelaskan detailnya dan malah pergi.


Di pintu, WOo Sang berpapasan dengan Moo Young. Dan Moo Young bersikap seperti biasa, angkuh, seakan menertawakan Woo Sang. Woo Sang semakin dendam sepertinya.


CEO Jung curhat dengan Master pembuat Bir. CEO Jung tidak mengerti dengan kemauan Woo Sang, padahal beberapa hari yang lalu Woo Sang meminta Moo Youngmeracik bir untuk pernikahannya?

"Sepertinya pernikahannya dibatalkan." Kata Master.

"Astaga. Sungguh?"

"Ya. Kata tabloid."

"Tapi bagaimana dengan Moo Young? Kenapa dia ingin aku memecatnya? Aku paham dia pemegang saham terbesar di sini, tapi dia tidak berhak menyuruhku memecat karyawanku. Aku makin marah jika mengingatnya."


Seung Ah mengirim benyak pesan pada Moo Young, tapi Moo Young mengabaikannya. Ia tidak tenang. Saat ia akan menulis pesan lagi, seseorang mengetuk pintu. 

"Oh.. Unnie.. Sebentar." Sahut Seung Ah lalu berjalan ke pintu. Ia meletakkan ponselnya di meja.


Yang datang adalah Jin Kang. Mereka senang bertemu karena sudah lama tidak bertemu. Seung Ah khawair melihat lengan Jin Kang. Jin Kang menjelaskan klau ia hanya tersandung, tidak usah cemas.

"Berhati-hatilah." Pinta Seung Ah.


Jin Kang melihat banyak kardus disana, untuk apa? Apa Seung Ah akan pindah ke studio lain?

"Tidak. Salah." Jawab Seung Ah.

"Lantas?"

"Unnie.  Aku akan lari bersama Moo Young."

"Lari?"


Seung Ah menjelaskan kalau ia sudah mengumpulkan uang 2,3 juta dolar, ia menjual studionya juga. Jin Kang terkejut, Kenapa Seung Ah ini? Bolehkah menjualnya tanpa mengabari orang tua?

"Lagi pula mereka membelikan ini untukku." Jawab Seung Ah.

"Tetap saja, itu tidak pantas. Bagaimana dengan si Pecundang... Maksudku, Moo Young. Dia setuju?"

"Aku akan memberitahunya besok. Pasti dia akan senang. Dia sudah banyak kesusahan karena aku."

"Jika benar pergi, kalian akan ke mana?"

"Ke tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun."

"Tidak ada tempat seperti itu."

"Kenapa tidak? Yunani atau Maroko. Kami akan membangun rumah di tepi pantai, tinggal diam-diam. Atau Haesan. Kampung halamannya di Haesan. Jika dia setuju, tinggal di sana pun tidak masalah."


Jin Kang berusaha mencegah Seung Ah , tapi Seung Ah sudah kekeh dengan keputusannya. Seung Ah bahkan menceritakan bagaimana keluarga Moo Young.

"Unnie, keluarga Moo Young sangat menarik."

"Keluarganya?"

"Dia tinggal dengan keluarga besarnya saat masih kecil. Semua bibinya serumah dengannya, tapi ibu dan bibinya selalu mengenakan pakaian yang sama. Sungguh. Pakaian mereka selalu sama setiap hari. Menarik, bukan?"

"Ya. Itu katanya?"

"Ya."

Jin Kang terdiam.


Jin Kook pulang, tampaknya ia lelah, tapi itu terbayarkan karena ia berhasil mendapatkan memory card-nya. Jin Kook lalu membungkusnya dengan tisu dan memasukkannya kembali ke dalam saku.


Cho Rong menelfon, menanyakan rencana Jin Kook selanjutnya untuk Yu Ri. 

 "Apa maksudmu? Aku akan memenjarakannya."

"Itu maksudku. Harus ada bukti untuk memenjarakannya."

"Ah.."

"Kamu menemukan bukti?"

"Ya."

"Sungguh? Tamatlah wanita jahat itu. Manajer Yoo, ternyata, dia tidak waras. Semua saksi mengatakan itu."


Cho Rong menjelaskan kalau Yu Ri sering berkonsultasi ke klinik kesehatan jiwa sejak kecil. Kisahnya juga diangkat di sebuah buku terkenal. Judulnya...

Cho Rong akan menyebutkannya, tapi Jin Kook menyela, Jin Koon membaca judul buku Dokter Yang yang dibelinya, Dengan Trauma.

"Oh.. Bagaimana kamu tahu buku itu?"

"Kamu yakin?"

"Ya. Aku mendengarnya langsung dari para saksi tadi. Mi Yeon bilang kisahnya disinggung di buku. Benar juga. Ini yang menarik. Ternyata dia berasal dari keluarga kaya. Kamu tahu Rumah Sakit Obstetri dan Ginekologi Hajin? Cabangnya terletak di Gangnam. Ilsan, Bundang... Pokoknya, rumah sakit itu. Dia putri bungsu kepala rumah sakit itu. Dia memiliki satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Tapi..."


Jin Kook tidak begitu mendengarkan Cho Rong, ia membuka buku itu dan membaca cerita mengenai Yu Ri. 

"Dia bunuh diri.. saat musim semi di usia sembilan tahun." Narasi Dokter Yang.


Di penjara, Yu Ri menolak makan, ia hanya berbaring menatap tembok selama berjam-jam.


Pramuwisma mendapatinya pingsan di ruang belajar setelah menenggak sebotol obat pereda nyeri.


Selama dua bulan sejak konseling kami dimulai, dia membisu. Saat aku mengambilkan gaun boneka yang dia jatuhkan atau menyerahkan pakaian boneka untuknya, terkadang dia menerimanya. Tapi dia masih berlagak seakan dia sedang sendirian.


Akhirnya, di pertemuan kedelapan, aku bisa mendengar suaranya untuk kali pertama. Perkataan pertamanya, "Apa Anda bisa melihatku? Ibuku tidak bisa melihatku."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap