Saturday, October 13, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 4 Part 3

Sumber: tvN


Moo Young melamun dan si kucing mendekatinya.Moo Young heran, kenapa kucing itu belum pergi? Lalu ia mengangkat kucingnya.


Moo Young mengajak kucingnya memandang kota. 

"Lihatlah. Banyak hal aneh di dunia ini, ya?"


Woo Sang mendapatkan foto Seung Ah dan Moo Sang saat ketemuan di tepi dungai Han. Woo Sang kesal, ia bertanya pada sekretarisnya apa itu. 

"Sepertinya itu Direktur Pelaksana."

"Panggil Kepala SDM kemari."

"Baik."

Woo Sang mendapat kabar kalau Ibu Baek (Ibunya Seung Ah) datang. 


Seung Ah hanya murung di rumah. Ahjumma yang bersih-bersih memberitahu Seung Ah kalau perkara uang itu bisa sangat menakutkan.

Bel berbunyi dan Ahjumma segera keluar untuk membuka pintu.


Seung Ah menggunakan kesempatan itu untuk menggunakan ponsel Ahjumma.


Ibu sampai berlutut di depan Woo Sang, ia memohon agar Woo Sang memaafkan mereka, ia janji kejadian seperti kemarin tidak akan terulang.

"Anda sedang apa?" Tanya Woo Sang dan ibu langsung melepaskan kaki Woo Sang. 

Woo Sang melanjutkan, "Seung Ah memintaku membuat kesepakatan. Aku butuh waktu untuk menentukan syarat-syaratnya. Pergilah. Akan kuhubungi setelah siap."

Ibu tampak kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ibu menunduk 90 derajat pada Woo Sang.


Setelah ibu pergi, Woo Sang menumpahkan kekesalannya dengan membuang semua yang ada di meja.


Jin Kang kembali ke mejanya dan ada pesan masuk dari Seung Ah. 

"Unnie. Ini aku, Seung Ah. Aku mengirim SMS dari ponsel pramuwismaku."

Jin Kang tidak kunjung menbaca lengkapnya, ia masih ingat saat Ibu Seung Ah menamparnya kemarin.


Di kantor, Moo Young menatap guci pemberian Seung Ah. Ia mengingat bagaimana reaksi Jin Kang setelah ditampar Ibu Seung Ah. Ia langsung membuangnya ke tong sampah.


Hee Joon yang ada disana heran, kenapa dibuang? Kan itu mahal, seharusnya untuknya saja. Hee Joon bertnaya-tanya, apa Moo Young ditinggalkan oleh Seung Ah? Miliarder memang tidak terkalahkan. Tidak sebanding.


Woo Sang berpapasan dengan orang yang mengirimkan foto Seung Ah itu. Orang itu menyebut dirinya Noona. 

"Noona mengirimkan hadiah, tapi kamu tidak berterima kasih. Seung Ah mengesankan. Sejujurnya, kukira dia membosankan. Entah kenapa kalian bisa berpacaran bertahun-tahun. Ternyata dia berani juga. Itu menarik. Kini aku merasa dia terlalu hebat untukmu."

"Tentu tidak, Jalang."

"Omo.. Apa maksudmu? Kamu akan menikahinya? Hahaha.. Ini makin menarik."

Dan wanita itu melanjutkan jalannya.


Di bis, Jin Kang membaca lanjutan pesan Seung Ah. 

"Ini Seung Ah. Tolong sampaikan ini ke Moo Young-ssi".

Jin Kang akan mengirim pesan itu pada Moo Young, tapi tidak jadi. Ia mengingat reaksi berlebihannya pada Moo Young kemarin. Jin Kang menghela nafas. 


Moo Young naik tangga menuju rumahnya dan ia mendapat pesan dari Jin Kang. 

"Bisa bertemu malam ini?"

Moo Young langsung putar balik.


Jin Kang mengajak Moo Young bertemu di depan laundry. Moo Young heran, kenapa Jin Kang mengajaknya bertemu? Jin Kang lalu menunjukkan pesan Seung Ah. 

"Itu saja? Kamu cukup mengirimnya lewat SMS."

"Benar. Aku ingin meminta maaf. Maaf atas ucapanku tempo hari. Itu bukan salahmu dan aku terlalu kasar."


Moo Young langsung bangkit dan mengendarai sepeda Jin Kang. 

"Kamu sedang apa?" Tanya Jin Kang.

"Meminta maaf saja tidak cukup. Traktir aku dahulu."

Maka Jin Kang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Moo Young.


Yu Ri menghubungi Moo Young dan ia langsung senyum saat melihat Moo Young dijalan mengendarai sepeda. Tapi senyum Yu Ri langsung sirna saat ia juga melihat Jin Kang bersama Moo Young. Yu Ri langsung menjauh.


Moo Young menggoda Jin Kang dengan mengitari Jin Kang menggunakan sepeda, barulah ia berjalan lurus ke tempat makan. Yu Ri terus mengamati mereka.


Di tempat makan, Moo Young membaca pesan Seung Ah. 

"Aku menyadari hal penting. Aku akan berusaha lebih lihai sekarang. Akan kucari cara agar kami bisa bersama selamanya. Moo Young-ssi. Perasaanku kepadamu tidak akan berubah. Jadi, tunggu aku."


Seung Ah melihat koleksi perhiasannya.


Ia kemudian ikut makan dengan ibunya dan menyampaikan kalau ia tidak akan bertemu Moo Young lagi. Ia sudah berbuat salah.


Jin Kang makannya lahap banget. Moo Young heran, katanya sudah makan? Dan Jin Kang malah pesan dua porsi daging lagi. 

"Seharusnya kamu makan lebih cepat." Kata Jin Kang sambil mengambil daging. Tapi Moo Young merebutnya, "makanlah perlahan."

Moo Young mengembalikan ponsel Jin Kang, Maish mau ya Jin Kang membantu setelah ditampar oleh ibunya?


Jin Kang: Aku tidak mau lagi. Ini yang terakhir.

Moo Young: Urutannya aneh.

Jin Kang: Maksudmu?

Moo Young: "Unnie, ini Seung Ah. Ini ponsel pramuwismaku. Tolong sampaikan ini ke Moo Young-ssi". Dia tidak meminta maaf.

Jin Kang: Dia terburu-buru. Dia menggunakan ponsel orang lain.

Moo Young: Ibunya sama saja. Jika ingin menampar, seharusnya tampar Seung Ah, lalu pacarnya. Urutannya aneh, bukan?

Jin Kang: Jangan diungkit. Aku resah mendengarnya. Putrinya terlalu berharga baginya.

Moo Young: Bagaimana denganmu? Tidak berharga?

Jin Kang: Cukup.


Walau Moo Young tidak mengungkitnya, ia tetap erus memikirkannya. Kegelisahannya tidak kunjung hilang. Setiap teringat, ia sedih sekaligus merasa hina. Ia juga merasa bersalah.

"Aku paham kamu sedih sekaligus merasa hina, tapi kenapa merasa bersalah?" Tanya Moo Young.

"Karena kakakku. Aku membiarkan orang lain menamparku. Kakakku tidak pantas menerimanya. Jika teringat itu, aku menjadi benci dengan seung Ah."


Daging mereka datang. Jin Kang langsung memasaknya dan menyuruh Moo Young makan yang banyak, santai saja, ia yang traktir kok!

Tapi Moo Young menatap Jin Kang penuh rasa kasihan. Jin Kang melarangnya menatap denga tatapan seperti itu. Ibu Moo Young pasti akan melakukan hal yang sama, semua ibu begitu.

"Entahlah, aku piatu." Jawab Moo Young.

"Ayahmu?" Tanya Jin Kang setelah makan sesuap dan terdiam.

"Aku yatim."

"Sejak kapan?"

"Sejak aku kecil."


Jin Kang tediam sebentar, lalu mengajak Moo Young untuk tidak saling mengasihani diri mereka karena hal itu, sebentar lagi mereka berusia 30 tahun. Jin Kang mengaku kalau ia juga yatim piatu.

"Aku tahu." Jawab Moo Young.

"Ah.. Seung Ah memberitahumu?"

"Kurasa aku sudah menduga sejak awal."

"Kentarakah? Bahwa aku yatim piatu? Lalu siapa yang membesarkanmu?"

"Panti asuhan."


Jin Kang kembali menatap Moo Young penuh kasihan. Moo Young menegur, katanya jangan mengasihani diri mereka sendiri.

Jin Kang: Apa maksudmu? Siapa yang kasihan? .


Ternyata Yu Ri mengikuti mereka sampai ke tempat makan dan ia duduk membelakangi Moo Young, jadi tetap bisa mendengar percakapan mereka. Yu Ri tidak tenang karenanya.


Moo Young mengatakan kalau ia sudah 30 tahun, jadi ia meminta Jin Kang memanggilnya Oppa. 

Jin Kang memandnag keluar, "Oppa! Ada pria aneh yang menggangguku."

Moo Young tersenyum.


Jin Kang kemudian menanyakan apa penyebab luka Moo Young. Moo Young lega akhirnya Jin Kang menanyakannya juga. 

"Aku tidak ingat. Kamu?"

"Aku juga tidak ingat. Kata Oppa, ada kebakaran di rumah."

"Kapan orang tuamu meninggal?"

"Ayahku meninggal sebelum aku lahir. Ibuku meninggal saat umurku 7 tahun. Kakak perempuanku pindah keluar negeri sebelum aku bersekolah. Aku tumbuh bersama kakakku. Dia mengasuhku sendirian."

"Luar biasa kamu tidak terluka."


Jin Kang mengaku ia bohong, bohong saat bilang tidak pernah terluka. Bukankah sudah jelas? Mana mungkin anak yatim piatu dengan luka bakar tumbuh tanpa pernah terluka?

Moo Young hanya menatap Jin Kang sambil senyum.

oo Young hanya menatap Jin Kang sambil senyum.

Jin Kang sekarang mengerti kenapa ia ingin selalu bertengkar dengan Moo Young. Moo Young mengingatkannya pada masa-masa sekolah dasar. Rasanya seperti medan perang.

Jin Kang: Ada satu kebohongan lagi. Dahulu aku pernah ditampar. Satu kali. Oleh guru saat aku berumur 9 tahun.

Moo Young: Jika hanya sekali, tidak terlalu buruk.

Jin kang: Ya. Masalahnya, aku terlalu kecil saat itu. Aku bodoh hingga menceritakannya ke kakakku. Dia menangis semalaman. Di balik selimutnya. Sampai tersedu-sedu.

Moo Young: Makanlah. Pasti lelah berbohong terus.

Jin Kang: Tentu.


Moo Young mengantar Jin Kang pulang sambil menuntunkan sepeda Jin Kang.

Jin Kang: Alien atau reptilia.

Moo Young: Alien atau buaya?

Jin Kang: Nama kecilku juga banyak. Saat aku tinggal di Haesan, anak-anak lain pernah merebut tasku dan melemparnya ke kandang ayam.


Moo Young mengaku kalau ia juga pernah tinggal di Haesan.

"Sungguh? Panti asuhanmu di Haesan?"

"Ya."

"Hemm.. Kenapa anak-anak sekejam itu?"

"Orang dewasa lebih kejam."

"Tapi lebih banyak yang baik daripada yang jahat."


Mereka sampai dan Moo Young memarkir sepeda Jin kang.

"Kamu jenuh, ya? Jangan jenuh." Pinta Jin Kang.

"Aku pam

Jin Kang menanyakan kabar kucingnya, namanya siapa?

"Namanya? Kang."

"Kang? Nama yang cantik."

"Nama depannya Jin, nama belakangnya Kang. Jin Kang-ie!"

"Ah.. Aku menyesal bertanya. Kamu kekanak-kanakan sekali."

"Dia belum punya nama."

"Kenapa? Bagaimana jika dia tersesat?"

"Dia memang bukan kucingku, jadi, aku tidak akan kehilangan. Aku mengusirnya setiap hari."

"Sepertinya aku masih akan membencimu."

"Berusahalah."

Dan Moo Young benar-benar pergi dengan senyuman. 


Yu Ri menatap Jin Kang dari jauh. Tatapannya menakutkan.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap