Friday, October 12, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 3 Part 1

Sumber: tvN


Jin Kang melihat berita, kebetulan ada tayangan menenai penangkapan Choi Sang Hoon. Jin Kang terpesona dengan Cho Rong yang membawa Choi Sang Hoon.


Tapi Jin Kang jadi teringat kata-kata Woo Young.

"Dia perwira polisi dan punya pekerjaan yang stabil. Dia juga tampak baik. Tapi dia terlalu naif, jadi aku ingin tahu apa aku bisa mencintainya. Eyy, aku hanya menanggapinya. Biar aku mengencaninya dulu". Apa itu yang kamu maksud sungguh-sungguh?"

Jin Kang tiba-tibakesal, "Apa yang dia tahu sih, dasar!"


Tepat saat itu Jin Kook masuk dan mendengar kekesalan  Jin Kang. Jin Kang langsung menarik Jin Kook untuk melihat Cho Rong, tapi sayang, beritanya sudah selesai. 

"Oppa, sepertinya Cho Rong-ssi menangkap pembunuhnya."

"Bukan dia yang menangkap pembunuhnya. Semua polisi melakukannya. Seluruh tim kejahatan kekerasan."

"Kalau memang seluruh tim. Lalu kenapa Oppa tidak di TV? Kamu pasti bolos lagi kan ya."


Jin Kook mengalihkan pembicaraan dengan menegur Jin Kang yang tidak mengatur baju-bajunya dengan rapi, malah ditumpuk di meja. 

"Oppa juga begitu?"

"Apa lagi sekarang? Aku tidak melakukan apapun."


"Apa kamu main mata pada gadis-gadis dan berpikir bisa mereka kamu dapatkan? Apa kamu pergi ke bioskop dengan gadis lain meski kamu punya pacar? Apa setiap pria begitu?"

"Apa? Dia sudah punya pacar? Bocah kecil itu."

Jin Kook akan mendatangi Cho Rong, tapi Jin Kang menahannya sambil bilang kalau yang ia maksud bukan Cho Rong, ada pokoknya.


Jin Kook penasaran, jadi siapa kalau bukan Cho Rong? Jin Kang geloyor sambil bilang, Ada deh, tidak perlu kepo, dia brengsek.


Di Depan rumahnya, Moo Young menendang sebuah korak.


Choi Sang Hoon menjalani pemeriksaan. Hwang Gun bertanya dimana Sang Hoon menyembunyikan trofi itu. Sang Hoon mengatakan ada di kamar Mi Yeon, soalnya itu kesukaan Mi Yeon.

"Tidak ada di kamar. Kenapa? Karena kamu membunuhnya dengan itu. Dengan trofi favorit pacarmu. Di mana kamu membuangnya?"

"Kamu tidak punya waktu, kan? Aku tidak melakukannya. Tidak membunuhnya. Kamu tidak punya waktu lagi. Kamu harus ke sana.. dan menangkap pembunuh sebenarnya. Tolong tangkap brengsek itu yang membunuh Mi Yeon."


Jin Kook menyaksikannya dari ruang CCTV. Lalu datanglah Cho Rong dan akhirnya mereka keluar bersama.


Cho Rong mengeluh karena interogasinya sudah berlangsung semalaman. Jin Kook menanyakan reaksi pertama Sang Hoon. 

"Pada awalnya, dia terus bertanya apa Mi Yeon benar-benar mati. Dia ingin memastikan apa benar-benar Mi Yeon yang mati. Lalu dia menangis selama tiga jam. Aku tidak tahu sulit untuk membuatnya mengaku."

"Bagaimana dengan DNA di kuku Mi Yeon?"


"Itu sudah jelas. Mereka memang bertengkar, tapi tidak membunuhnya. Jadi, Choi Sang Hoon mengklaim Mi Yeon seharusnya ikut ke luar negeri bersamanya. Tapi akhir-akhir ini, mereka bertengkar. Hari itu, Mi Yeon bersikeras tidak mau ikut. Jadi terjadilah pertengkaran. Lalu dalam kemarahan, dia memilih pergi sendirian."


Cho Rong khawatir jika surat perintah penangkapan dibatalkan karena Sang Hoon tidak mengaku, maka semuanya akan jadi rumit. Jin Kook yakin surat perintahnya akan keluar karena Sang Hoon berada di luar negeri. 

Tapi Jin Kook penasaran, apa benar Mi Yeon seharusnya ikut ke luar negeri bersama?

"Tiket sudah dipesan atas nama mereka dua bulan yang lalu. Tapi aku rasa itu cuma akting. Dia pernah mengambil jurusan akting."


Jin Kook melanjutkan jalannya tanpa menanggapi, malah mengatakan kalau Jin Kang sangat senang melihatnya di TV. Cho Rong juga gembira, ia langsung memegang ponselnya, dan menyampaikan kalau Letnan Tak sedang mencari Jin Kook.


Karena memenangkan Desain, CEO Hwang, Jin Kang dan So Yeon diundang kembali ke kantor Arts. Dan karena mereka sekarang berkeluarga, CEO Jung akan membawa mereka ke tempat pembuatan bir.

CEO Hwang: Tentu saja. Ah dan juga, bisakah kamu menunjukkan pada Jin Kang cara membuat bir?

CEO Jung: Aku sebenarnya akan memberitahumu. Kenapa kalian tidak berkunjung sekarang?

Jin Kang: Ya aku suka itu.

CEO Jung: Melihatnya akan berbeda daripada hanya membacanya.

CEO Hwang: Kedengarannya bagus.


Di ruangan pembuatan Bir, CEO Jung meminta semuanya berkumpul sebentar untuk saling berkenalan. Moo Young berkumpul paling belakang.

CEO Jung mengenalkan CEO Hwang, Jin Kang dan So Yeon pada semuanya. CEO Jung mengatakan kalau mereka jogo mendesai jadi Tim bisa bicara dengan mereka soal desain.


CEO Jung selanjutnya mengenalkan Tim pembuat Bir, Ada Master Gil Hyung Joo, Manajer Tony, Maknae Yoo Jin, Hee Jun. Dan yang terakhir, asisten pertama mereka, Moo Young.

So Jung sengaja menunggu Jin Kook saat makan siang. Jin kook mengatakan menu makan siang di kantin hari ini adalah sup pollack beku.


So Jung mengajak Jin Kook ke brunch, ia menangih traktiran kopi Jin Kook. 

"Ae.. Kamu kan punya banyak uang. Apa kamu sungguh seperti itu karena membelikanku sushi?"

"Memang kenapa punya banyak uang?"

"Apa kamu tidak bisa membantu sedikit saja? Kamu juga tidak punya anggota keluarga untuk diberi makan dan tidak suka belanja barang mewah. Lagian, tidak ada tempat untuk menghabiskan uang untukmu."

"Iya. Aku diceraikan oleh suamiku karena tidak bisa punya anak, jadi aku tidak punya suami ataupun anak. Puas? Astaga. Terima kasih sudah mengingatkanku setelah aku coba melupakannya. Lupakan saja."

So Jung mengajak Jin Kook ke brunch, ia menangih traktiran kopi Jin Kook. 

"Ae.. Kamu kan punya banyak uang. Apa kamu sungguh seperti itu karena membelikanku sushi?"

"Memang kenapa punya banyak uang?"

"Apa kamu tidak bisa membantu sedikit saja? Kamu juga tidak punya anggota keluarga untuk diberi makan dan tidak suka belanja barang mewah. Lagian, tidak ada tempat untuk menghabiskan uang untukmu."

"Iya. Aku diceraikan oleh suamiku karena tidak bisa punya anak, jadi aku tidak punya suami ataupun anak. Puas? Astaga. Terima kasih sudah mengingatkanku setelah aku coba melupakannya. Lupakan saja."


Jin Kook gak enak telah menyinggung So Jung, ia langsung mengajak So Jung pergi untuk mengembalikan suasana hatinya. 

"Ah ada apa sih? Aku memujimu, itu hal yang baik." Lanjut Jin Kook. 

"Apanya yang pujian?!"

"Maksudku, toh kamu bahkan tidak tahu cara berandan. Kamu juga tidak tertarik dengan barang mewah. Kamu bahkan tidak perlu mendapat botox kayak orang-orang. Kamu selalu tidak berubah, tetap seperti ini."

"Ya ampun. Berani-beraninya bicara begitu padaku? Gaun ini harganya 480 dolar. Kardigan ini 350 dolar. Sepatu ini 280 dolar meski diskon 30%. Nail art ku seharga 100 dolar."

"Aigoo yaa. Apa semua itu mahal?"

"Beraninya kamu berbicara tentang barang mahal padaku? Apa katamu? Botox? Orang-orang tidak pakai botox lagi. Mereka melakukan filler sekarang. Kenapa kamu berpikir aku tidak filler saat semua orang melakukannya? Sudah lama sejak kerutakanku muncul sampai kaki."

"Kamu melakukannya?"

"Tentu saja! Aku melakukannya. Aku melakukannya dua kali."


Kekesalan So Jung sudah sampaipuncak, ia bahkan akan mencakar Jin Kook dengan naor art 100 dollaer-nya. Mari lihat betapa hebatnya. Jin Kook cuma bisa merem di pojokan.

Tapi So Jung berhenti dan segera pergi, ia malah menghancurkan hidupnya karena makan siang.


Cho Rong mengajak Jin Kang bertemu tapi Jin Kang bilang tidak bisa karena banyak kerjaan. Cho Rong cerita kalau kemarin mereka menangkap penjahat, jadi mereka stres sepanjang malam.

"Aku melihat berita itu! Kamu disorot cukup lama loh." Jin Kang menanggapi dengan semangat.

Cho Rong girang tuh, tapi ia sengaja santai saat menjawab, "Ah begitu ya? Aku.. aku bahkan tidak tahu."

Jin Kang kembali ke dalam dan Moo Young yang melintas di depannya berucap, Kau seorang desainer?


Jin Kang mengikuti Moo Young dan menjawab iya. Moo Young tersenyum, mengatakan kalau Jin Kang benar-benar agresif.


Jin Kang: Jika aku melihatmu mencurigakan sekali lagi aku akan memberitahu Seung Ah.

Moo Young: Beri tahu saja. Aku tidak peduli.

Jin Kang: Apa kamu tidak tahu malu atau terlalu percaya diri?

Moo Young: Aku yakin pada diriku.

Jin Kang: Kenapa tertawa? Apa aku lucu? 


Moo Young mengiyakan, wajah Jin Kang benar-benar lucu. "Aku lebih baik mati daripada kalah". Bukan begitu?

"Dia memang seseorang yang tidak boleh kalah." Jawab Jin Kang.

"Kamu pasti salah paham. Kami tidak pernah bertengkar."

"Kamu pasti pintar ngomong, kan? Kamu benar-benar percaya diri dalam melakukan segalanya dengan menggunakan kata-katamu."

"Ah.. Apa begitu?"

"Aku sudah biasa dengan itu. Ada juga begitu di keluargaku. Aku juga tahu bagaimana menghadapinya."

"Bagaimana?"

"Dengan mengabaikannya. Aku memperingatkanmu. Ini terakhir kalinya kita berbicara secara pribadi. Jangan bicara padaku lagi."

"Oke."

Dan Jin Kang pergi.


Moo Young menyalakan mesin lalu memasukkan tangannya ke beras yang tadi ia masukkan ke dalam mesin. Tiba-tiba Moo Young teriak kenceng. Aaaaa!!!


Jin Kang terkejut dan langsung berbalik menghampiri Moo Young, ia bahkan membuang tasnya. Jin Kang dengan gugup mematikan mesinnya. 


Dan setelah mesinnya mati Jin Kang membantu Moo Young menarik tangannya. Moo Young kesakitan banget dan meminta Jin kang pelan-pelan.


Jin Kang tidak berani melihat saat Moo Young berhasil menarik tangannya. Tapi ternyata Moo Young cuma iseng, tangannya sepenuhnya baik-baik saja. 

Moo Young: Kamu bicara denganku lebih dulu. Hanya butuh satu menit.

Jin Kang: Kenapa kamu bercanda seperti itu?! Kamu beneran tidak waras. Jangan pernah berani bicara denganku.


Jin Kang langsung pergi dengan super kesal. Moo Young tak menyangka reaksi Jin Kang akan seperti tadi.


Detektif Lee membagi tugas untuk membuat Choi Sang Hoon bersalah. Hari ini mereka harus mendapat saksi, pengakuan Sang Hoon, ataupun bukti baru. 


Cho Rong meminta Hwang Gun yang berurusan dengan tato menggantikannya tapi Hwang Gun bilang tidak bisa, emangnya kenapa? Tanya Hwang Gun. 

"Ini agak.. Sudahlah. Aku akan melakukannya." Jawab Cho Rong.


Jin Kook yang tak sengaja mendengar tadi langsung bertanya pada Cho Rong setelah Hwang Gun pergi, siapa si tato itu? Dan kenapa?

"Ada deh. Dia saksi. Dia benar-benar kasar. Dia gadis yang di barisan terakhir foto yang selalu anda lihat. Itu dia."

Jin Kook mengerti dan menyuruh Cho Rong pergi.


Cho Rong menemui Yu Ri disaat Yu Ri sedang bekerja. Yu Ri dengan kasar meminta Cho Rong bertnaggungjawab jika ia dipecat. 

"Aku juga tidak ingin melihatmu." Jawab Cho Rong.

Cho Rong lalu menunjukkan foto trofi itu, ia bertanya apa Yu Ri tahu sesuatu? Yu Ri malah balik nanya, memangnya itu apa?

"Ini bukti inti. Jeong Mi Yeon terkena ini dan terluka parah."

"Ah.."

"Kamu tahu Choi Sang Hoon tertangkap, kan?"
"Iya."

"Kamu tidak bisa menebak sesuatu? Di mana dia menyembunyikan ini?"

"Tidak tahu."


Yu Ri kembali masuk ke tempat kerjanya.

Di dalam, Yu Ri kelihatan gugup. 


Ia pernah menemukan bagian atas trofi itu disana saat ia baru selesai mandi.


Yu Ri langsung menelfon Moo Young.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

1 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap