Thursday, October 25, 2018

Sinopsis She Is 200 Years Old Episode 4


Se Yeon bekerja sebagai pemandu wisata budaya dan sejarah. 


Saat waktunya pengunjung melihat-lihat sekeliling sendiri, ia memanggil Jong Hoon. Dan Jong Hoon rambutnya udah putih, ia jadi kakek-kakek.


Episode 4
Dapatkah Dia Menjadi Cinta Sejatiku?




Jong Hoon kembali curhat dengan Dong Gyun, kita tak tahu ia tanya apaan tapi Dong Gyun menjawab bagus kalau cewe Jong Hoon jauh lebih muda. Jong Hoon mengatakan kalau yang selalu terlihat muda membuatnya cemas, ia takut kalau ceweknya tak menyukainya lagi jika ia menjadi tua.

“Hey, kau hanya harus bilang thank you jika ada gadis muda yang setuju kencan denganmu. Dan lagi, siapa yang tidak bakalan menua? Dia bukan seperti Do Min Joon ‘who came from another star’, atau sejenisnya.” Nasehat Dong Gyun.

Jong Hoon menyuruh Dong Gyun melupakannya saja. Tapi bagaimanapun juga, hal itu menggagunya. Dong Gyun menyarankan agar Jong Hoon mengkhawatirkan wajah tegangnya saja untuk saat ini.

“Ada produk anti-aging untuk kosmetik pria juga.” Saran Dong Gyun.

Jong Hoon baru sadar, ia kemudian pergi dan seperti biasa meninggalkan Dong Gyun yang masih sibuk menjelaskan ini itu.


Jong Hoon menuju komputernya dan browser mengenai anti-aging, ia menemukan kalau berkemah di alam bebas adalah salah satu cara terbaik untuk untuk membuat awet muda.


Maka ia pun mengajak SeYoung untuk berkemah dengannya malam ini. Se Yeon senang bisa menghirup usara malam yang sejuk dan murni tanpa polusi. Jong Hoon menjelaskan kalau sesekali baik untuk relax seperti ini, ia juga ingin hidup panjang umur. 

Jong Hoon memberikan service terbaiknya untuk Se Yeon, ia membakardaging dan menyajikannya untuk Se Yeon. Jong Hoon mengatakan kalau daging yang dimakan di alam bebas seperti ini terasa sangat lezat.


Se Yeon jadi ingat saat perang dulu, ia juga selalu makan di tempat tanpa atap karena ia kehilangan rumah karena di bom, taka da tempat yang luput dari kerusakan akibat perang. Itulah sebabnya ia tak pernah tidur diluaratau makan diluar karena trauma. Saat ia tinggal di busan dulu, ia meninggal 4 atau 5 kali. Setelah tertembak, ia bisa hidup kembali keesokan harinya.


Jong Hoon merinding, ia takut hantu dan meminta SeYeon menghentikan ceritanya. Kemudian ia menggoda Jong Hoon dengan menakutinya kalau ada sesuatu dibelakang Jong Hoon. Saat melihat kalau Jong Hoon benar-benar takut, ia pun berhenti.


Kemudian mereka minum-minum sampai pagi jam 5 kurang sedikit. Jong Hoon tak menyangka kalau SeYeon peminum yang hebat. Se Yeon mengatakan kalau belakangan ini ia jadi pecandu alcohol karena ia muak dan capek dengan hidupnya, muak dan capek dari dirinya yang tak berubah. 

Tapi Jong Hoon kebalikannya, ia merasa kalau tak bisa mati adalah hal yang bagus. Jika itu dia maka ia akan melakukan apapun yang ia inginkan.

“Aku juga melakukan itu pada awalnya. Aku mengencani semua jenis pria. Juga menjalani berbagai pekerjaan, AKu seorang guru, pengacara, kondektur bus, dan pengantar air. Dan aku juga seorang penyanyi.”


Lalu Jong Hoon meminta Se Yeon menunjukkan bakatnya nge-dance. Mereka pun nge-dance seperti orang gila. Kemudian berhenti karena sadar telah kelewatan.


“Menjadi kekal bukanlah hal yang bagus untuk dibanggakan. Semua hal terasa indah/cantik karena memiliki akhir.” Kata SeYeon.

“SeYeon sshi.. Kau terlihat cantik.” Jong Hoon akan mencium Se Yeon tapi tertidur begitu juga dengan Se Yeon.


Tepat pukul 5 pagi, Se Yeon terbangun dari tidurnya, ia sudah kembali ke keadaannya semula, tubuhnya telah te-reset, mabuknya sudah hilang. Kemudian ia membawa Jong Hoon ke tempat tidur didalam tenda.

Aku takut ini akan berakhir. Aku tak ingin… melihat akhir darinya.


Jong Hoon sudah sadar dari mabuknya, Se Yeon memberinya obat Pereda mabuk. Jong Hoon berkata, kalau ia ingin melakukan segala sesuatu dengan Se Yeon, ia harus menjaga dirinya tetap sadar.


Se Yeon membuka botol dan jarinya tergores. Jong Hoon berasa bersalah, seharusnya ia yang membukakan. Se Yeon memintanya tenang karena besok juga akan hilang. Dan hal itu yang paling menganggunya. Sambil memasangkan plaster di luka SeYeon, Jong Hoon mengeluh kalau SeYeon selalu dalam keadaan tetap tetapi ia menua setiap bertambah hari.


Jong Hoon menunjukkan kalau keriput mulai muncul di sudut matanya. Se Yeon membantahnya, Jong Hoon terlihat jauh lebih muda dari usianya dan Jong Hoon akan tetap cute walaupun memiliki kerutan. Tapi Jong Hoon tetap takut kalau SeYeong tak menyukainya ketika ia menjadi tua.

“Ya.. Anak kecil. Apa kau lupa bahwa diantara wanita tua akulah yang tertua seperti nenek moyang mereka? Kau akan tetap menjadi bayi bagiku walupun kau berubah menjadi kakek-kakek”


“Aku tak mengerti bagaimana hak itu menggangguku karena kau tak menua.”

SeYeon menasehati Jong hoon kalau menua dari waktu ke waktu adalah normal dan bagus. Hidup abadi dan tidak berubah seperti aku ini tidaklah menyenangkan. Jong Hoon mengamati Se Yeon, ia mengatakan kalau Seyeon berubah, SeYeon langsung bercermin.

“Kau lebih cantik hari ini disbanding kemarin.”

SeYeon tersipu, ia menganggap kalau Jong Hyun hanya menggodanya. Jong Hoon mengatakan kalau ia serius, SeYeon beneran tambah cantik “kau juga tambaah menyukaiku juga, kan?”


Jong Hoon tahu kalau perasaan SeYeon menjadi semakin kuat, dan begitulah Se Yeon berubah. Se Yeon berharap kalau itu beneran terjadi. Jong Hoon mengecup pipinya. 

“Lihatlah.. kau berubah, pipimu memerah.”

Jong Hoon mendekati SeYeon lagi, ia ingin menciumnya. Se Yeon bertanya-tanya, dapatkah Jong Hoon menjadi cinta sejatinya? 

Meskipun bukan dia, itu tak masalah. Karena aku mencintainya.” 

Dan Se Yeon pun bersedia dicium Jong Hoon.


Sampai dirumah, SeYeon bercermin, ia memegangi bibirnya.

Ketika hatiku yang telah berhenti kembali hidup dan bergerak kearahnya. Akankah waktu bekuku bergerak lagi?


Keesokan harinya, Se Yeon terbangun dan lukanya masih ada, artinya waktunya bergerak kembali.


Se Yeon langsung berlari ke kantor Jong Hoon, memeluknya dan menunjukkan lukanya. 


Malam harinya, Jong Hoon mengantar SeYeon pulang. Sekarang mereka tidak perlu khawatir karena mereka bisa menua bersama. Dan Jong Hoon berjanji kalau ia akan tetap mencintai SeYeon walaupun ia menua. 


Keesokan harinya Se yeon terbangun dan sekujur badannya terasa pegal, juga muncul kerutan di tangannya, tapi terlalu banyak. 

~BERSAMBUNG~



Epilogue:

Never Die

Ciuman membuat waktunya bergerak kembali. Tetapi, seperti yang telah diceritakan waktunya menuju ke 200 tahun.  Waktu berjalan sangat cepat. 


Ujian yang sesungguhnya, Baru dimulai sekarang.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap