Thursday, October 25, 2018

Sinopsis She Is 200 Years Old Episode 3


Jong Hoon galau karena ia tak bisa melupakan Se Yeon. Dong Gyun bertanya, apa Jong Hoon yakin.

“Iya, aku yakin. Apa yang harus kulakukan? Ini membuatku gila”


Episode 3
Serius. Apa Yang Harus Aku Lakukan?


Jong Hoon curhat pada Dong Gyung, ia benar-benar bisa gila kalu begini terus. 

“AKu tahu dimana dia tinggal. Jadi, aku bisa menemukannya jika aku menatapkan hatiku.” Ucap Jong Hoon.

Dong Gyun menyuruhnya untuk mendatangi rumahnya saja kalau begitu. 

“tapi masalahnya dia mengatakan agar kita tak bertemu lagi dan agar tetap menjalani hidup seolah tak saling mengenal. Jika aku bersikap kalau aku mengenalnya…. Itu akan menjadi tak nyaman.”


Dong Gyun mengatakan kalau Jong Hoon bisa kebetulan bertemu dengannya. Tapi bagi Jong Hoon itu lebih sulit. Dong Gyun kemudian menjelaskan triknya, dia menyuruh Jong Hoon untuk membuat kesempatan agar bisa bertemu secara kebetulan.


Pertama. Dong Gyun menyuruh Jong Hoon jogging setiap pagi di depan rumah Se Yeon.


Kedua. Membeli segala kebutuhan bahkan jika hanya butuh tissue toilet atau snack di toko dekat rumah Se Yeon. 


Ketiga. Terus awasi sekitar lingkungan rumah Se Yeon setiap saat. Jong Hoon pergi ke kafe dekat rumah Se Yeon. Ia mengintip seperti penguntit sampai pemilik kafe mengusirnya.


Dong Gyun terus menjelaskan trik-triknya. Tapi Jong Hoon sudah keburu pergi karena sudah tak sabar. Jadinya Dong Gyun ngomong sendiri dan saat ia menoleh, barulah ia sadar kalau Jong Hoon sudah pergi.


Akhirnya mereka bertemu. Jong Hoon mengatakan kalau ini benar-benar kebetulan. SeYeon juga menganggapnya begitu dan menurut perjanjian mereka harus menghentikannya, maka Se Yeon akan pergi. Jong Hoon menghentikannya.


“Aku tidak bisa bersikap seolah tak mengenalmu lagi” Kata Jong Hoon.


Dan mereka akhirnya minum kopi bersama. Se Yeon berkata dalam hati, 

“jika bisa, aku ingin menghindari ini. Kebetulan ini. Pemakamanku, sesuatu yang paling aku inginkan di kehidupan ku yang membosankan. Seseorang yang mengadakannya untukku untuk pertama kalinya. Orang pertama yang membuatku mengatakan menganai keadaanku. Juga, Orang yang mempercayai ceritaku. Seseorang yang membantuku mengetahui ulang tahunku dan merayakannya. Hubungan yang seperti itu.”

Jong Hoon membawakan kopi pesanan mereka ke meja. Se Yeon melihat Jong Hoon bercahaya dimatanya dan hatinya berdebar untuk, baginya ini tanda yang serius. 

Jong Hoon merasa lega karena mereka dapat bertemu kembali saat Jong Hoon akan berangkat kerja. Jong Hoon bertanya apa yang dilakukan Se Yeon di gedung pemerintahan profinsi. Se Yeon mengatakan kalau ia mau melamar sebagai pemandu wisata budaya.

Jong Hoon mengerti pastinya SeYeon tahu betul mengenai sejarah karena ia sudah hidup lama. Se Yeon menambahi kalau ia hanya ingin menghabiskan waktu membosankannya ini untuk hal yang menyenangkan dibandingkan hanya keluyuran gak jelas.


Jong Hoon menjelaskan kemana Se Yeon harus pergi dan siapa yang harus ditemui untuk melamar pekerjaan itu juga untuk melihat lowongan pekerjaan yang lainnya. Se Yeon mengangguk mengerti. Kemudian keduanya diam, suasana diantara mereka menjadi benar-benar canggung.


Jong Hoon mencoba berbicara kembali, ia mengatakan kalau ada majalah web yang menyediakan informasi untuk wanita di Gyeonggi-do judulnya “woori”, ia menyarankan agar Se Yeon juga mempertimbangkan itu juga.

Se Yeon tak menyangka kalau Jong Hoon tahu banyak mengenai administrasi pemerintahan. Jong Hoon menjawab kalau itu adalah pengetahuan dasar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

“Oh.. jadi kau seorang PNS..” Ujat SeYeon.

Mereka kembali diam. Se Yeon memutuskan untuk pergi. Jong Hoon mengajaknya berteman, Se Yoon mengingatkannya kalau usianya 200 tahun, bagaimana bisa ia berteman dengan seorang bayi.


“Berdasarkan KTP usiamu 20 tahun. Jadi aku Oppa.” Bela Jong Hoon.

Se Yeon mengatakan kalau berteman adalah hal yang baik tapi baginya ia dan Jong Hoon sangat berbeda. Jong Hoon tak beralasan:

“Semua orang berbeda. Tak ada seorangpun didunia ini yang identik.  Bahkan kembar pun berbeda. Manusia dapat hidup berdampingan dan berteman karena mereka berbeda.” 

“Apa kau ingat bagaimana ceritaku mengenai menjadi dekat, yang paling aku takuti?” 

Jong Hoon mengangguk, ia ingat. Se yeon bercerita kalau ia juga pernah memiliki keluarga, teman dan kekasih tapi ia harus menyaksikan mereka meninggal duluan. SeYeon satu-satunya yang tetap hidup pada akhirnya. SeYeon sangat berat menyaksikan kepergian mereka, “dan mereka semua tetap tinggal di hatiku. Itulah sebabnya hatiku sakit”
SeYeon melanjutkan kalau Jong Hoon adalah orang baik dan ia yakin kalau ia akan dekat dengan Jong Hoon dalam waktu dekat (kalau mereka jadi berteman) dan itu menambah ketakutannya. Jadi ia berharap kalau Jong Hoon mengabaikannya.

“’Jangan biarkan ketakutan menghentikanmu untuk mencoba sesuatu’ itu adalah ungkapan yang selalu diucapkan nenekku.” Jong Hoon masih terus berusaha.

SeYeon menjawab kalau nenek Jong Hoon juga muda baginya. 


“Jadi, kau tak memerlukan nasihat lebih dank au lebih tahu dari nenekku? Kau bilang kalau kau takut aku akan meninggal duluan. Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kita bisa putus karena pertengkaran, tak selamanya karena kematian. ‘sebuah pertemuan secepatnya memimpin jalan perpisahan’, itulah bagaimana hidup ini berjalan. Kau hanya bertemu jika kau menginginkannya dan melangkah menjauh sekali ikatan itu putus.” Jelas Jong Hoon panjang lebar.

Se Yeon memotongnya, ia berkomentar kalau omongan Jong Hoon ini seolah-olah kalau Jong Hoon sudah hidup sangat lama. Hal itu membuat Jong Hoon penasaran, apa SeYeon tak tahu hal itu padahal SeYeon hidup lebih lama darinya.

Se Yeon jelas tahu. Ia sudah merasakan itu semua dalam kehidupannya tetapi itu belum bisa membuatnya kuat, ia masih takut.


Mereka kemudian jalan bareng. Se Yeon berhenti di tepi jalan lebih tepatnya di pinggiran jalan (ia turun dari trotoar). Se Yeon masih belum setuju kalau mereka menjadi teman. Ada sepeda motor melintas, kali ini giliran Jong Hoon yang menyelamatkan SeYeon. Kepala Jong Hoon terbentur trotoar tapi untung ia masih sadar.


Jong Hoon bertanya, apa SeYeon baik-baik saja. Se Yeon menegurnya, untuk apa Jong Hoon melakukan ini, Jong Hoon kan tahu kalau ia tidak bisa mati. Jong Hoon memegang wajah Se Yeon, ia mengatakan kalau tetap saja rasanya sakit. Se Yeon menangis. Jong Hoon belum menyerah juga ia tetap bertanya, apa SeYeon setuju untuk berteman?

Se Yeon ingin membantu Jong Hoon bangun dan mereka akan ke Rumah Sakit untuk mengobati Jong Hoon. Jong Hoon tak mau pergi kalau SeYeon belum  setuju untuk berteman. Dan Se Yeon pun menyerah, ia bersedia berteman.


Pulang dari RS, Mereka makan bareng. Tapi bukannya makan, Jong Hoon malah senyam-senyum menatap Se Yeon. SeYeon bertanya, apa yang membuat Jong Hoon bahagia karena luka itu mungkin meninggalkan luka di dahi gantengnya.

“Aku bahagia karena kau memperhatikanku.” Jawab Jong Hoon.

Aku telah lupa bagimana perasaan itu. Kebahagiaan dari makan bersama.” narasi Se Yeon.


Setelah makan, mereka naik bus bareng.

ketertarikan dari kehidupan biasa setiap hari. Perasaan yang tersampaikan melalui tatapan seseorang.


Kemudian mereka pergi ke bukit kincir angin.

Suasana yang tercipta ketika berjalan berdampingan. Aku menjalani kehidupan dengan melupakan semua itu karena aku takut.


Jong Hoon menggandeng tangan Se Yeon, ia mengatakan kalau jaman sekarang orang bergandengan tangan jika jalan dengan temannya. Saat Se Yeon bertanya apa hal itu benar, Jong Hoon mengatakan kalau sesungguhnya mereka hanya menggandeng tangan orang yang mereka sukai.

SeYeon berterimakasih karena Jong Hoon menjadi temannya. Tiba-tiba Jong Hoon mengatakan kalau sebentar lagii ia mungkin tak bisa lagi menjadi teman Se Yeon. 


Se yeon kesal, ia melepaskan genggaman Jong Hoon, ia tak percaya kalau Jong Hoon berubah secepat itu.

“Ya. karena ku pikir aku akan jatuh cinta padamu secepatnya.” Ucap Jong Hoon. Awwww~~~~


Se Yeon langsung tersenyum manis mendengarnya dan berbalik menatap Jong Hoon. Mereka kembali berpegangan tangan dan senyum malu-malu.

~BERSAMBUNG~




Epilogue:

Never Die


Wanita hidup dalam waktu yang membeku saaaaangat lama. 


Hanya ciuman dari seorang belahan jiwa yang bisa membuat waktu kembali berjalan.

0 komentar

Post a Comment