Friday, October 19, 2018

Sinopsis The Ghost Detective Episode 20

Sumber: KBS2


Eun Chong mempersingkat, dengan kata lain, ia ingin tahu apa yang diincar oleh Lee Da Il. Da Il menyuruh Yeo WOol menanyakan kenapa EUn Chong penasaran.

Eun Chong: Maksudku, aneh sekali dia mengincar hal yang tidak dia percayai lima tahun lalu.

Kilas Balik..


Da Il dan Eun Chong ada di sebuah ruangan kosong, mereka berdua memakai seragam militer dan EuN Chong memanggil Da Il Sersan Lee. 

Da Il: Kang Eun Chong. Ini kesempatan terakhirmu untuk meminta maaf kepada Joon Sang. Kamu menyaksikan kematian Joon Sang. Kamu juga memalsukan wasiatnya. Kamu harus jujur. Ada atasan yang menyuruhmu?

Eun Chong: Bukan begitu. Sebenarnya...

Da Il: Jika bukan begitu, artinya kamu berusaha bersikap cerdas untuk menutupi bahwa kamu merisaknya.

Eun Chong: Bukan begitu. Dia bukan bunuh diri karena aku.

Da Il: Lantas apa?

Eun Chong: Karena wanita itu. Aku melihatnya. Dia bukan manusia.

Da Il: Kamu gila, ya?

Eun Chong: Anda harus percaya kepadaku.

Da Il: Sudah cukup. Jika kamu adalah Eun Chong yang selama ini kukenal, kupikir setidaknya kamu akan merasa bersalah. Bahwa kamu tidak kejam, tapi hanya lemah. Aku sudah berusaha memahamimu. Sepertinya aku salah menilaimu.

Kilas Balik selesai...


Eun Chong berkata kalau ia juga ingin terlibat dalam kasus ini karena Da Il pasti akan memecahkannya. Ada proyek yang ia kerjakan selama lima tahun ini. Sepertinya mereka bisa saling membantu.


EUn Chong mengeluarkan tablet, ia meminta Yeo Wool membacanya dan hubungi ia bila membutuhkan. Buatlah menjadi mudah. Jangan betele-tele. Ia akan menunjukkan semua informasnya dahulu.


Mr. Han ternyata menelfon Pengacara Baek untuk menanyakan masalah Eun Chong.

"Tidak, Mr. Han. Jangan memercayainya dan jangan memberitahunya soal apa pun. Aku akan mengurusnya. Anda tidak perlu berurusan dengannya." Pesan Pengacara Baek. 


Pengacara Bek tak percaya ternyata Eun Chong yang ia anggap remeh bisa mengkhianatinya.


Da Il membaca materi yang diberikan Eun Chong dan ia tak menyangka ternyata Eun Chong tahu lebih banyak daripada dirinya. Eun Chong juga cerdas. Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Pengacra Baek mengajak Eun Chong bertemu. Pengacara Baek mengancam, apa Eun CHong ingin kehilangan pekerjaan lagi? Jika membuat kesepakatan, Eun Chong harus menepatinya. Jangan bertindak semaunya.

"Benarkah? Aku ingat menulis artikel itu. Kupikir hanya itu syaratku. Aku juga tidak mencari pekerjaan. Aku hanya tertarik karena mendengar Lee Da Il terlibat."

"Kenapa kamu mendatangi kantor Lee Da Il-ssi?"

"Pengacara Baek, kamu tahu? Aku tidak tahu siapa yang mengutusmu dan apa rencanamu dengan memanfaatkan Lee Da Il serta orang-orang di A Few Good Men, tapi kamu tahu letak kesalahanmu?"

"Apa maksudmu?"

"Kamu menginginkan kekuatan untuk mengubah dunia yang buruk ini. Menurutmu kamu kalah dalam kasus lima tahun lalu karena kekuatan dan kekuasaan. Itu karena kamu membuat pertahanan yang buruk. Kamu tidak tahu inti kasusnya. Lee Da Il dan kamu sama saja."

"Apa?"


Eun Chong menjelaskan kalau sekarang ini ada yang tidak Pengacara Baek ketahui, Da Il mungkin memanfaatkannya, tapi Pengacara Baek tidak bisa memanfaatkan Da Il karena Da Il sudah mati.


Ternyata yang mengetuk pintu tadi adalah Yeo Wool dan sekarang Yeo Wool ada di dalam. Da Il memuji hasil kerja Yeo WOol di papannya. 

"Yeo Wool, kamu banyak belajar. Kita bisa mengakhiri masa percobaanmu sekarang."

Yeo Wool diam saja.


Da Il pun mencoba menenagkan Yeo Wool, "Jangan gugup. Mungkin sebenarnya lebih aman jika aku tinggal bersama ibunya Sunwoo Hye. Setidaknya dia tidak akan berusaha melukaiku."


Ibunya Seunwoo Hye membawa Da Il dengan mobil. Mata Da Il terbuka setengah dan samar-samar ia bisa melihat dan mendengar.

Ibu: Maaf, putra ibu. Kamu baik-baik saja? Ibu tidak pandai mengemudi. Kita menuju ke tempat yang aman. Tidak akan ada yang bisa membawamu pergi.

Da Il: Aroma apa ini?

Ada beberapa dus anggur disana.


Da Il: Coba pikirkan. Hari ini Sunwoo Hye tidak bisa menangkapku karena ibunya memindahkanku ke tempat lain. Andai aku ada di rumah itu, dia mungkin sudah melukai kamu, aku, Mr. Han, dan beberapa orang lainnya.


Yeo Wool: Sekalipun ibunya Sunwoo Hye tidak melukaimu, kita tetap harus menemukanmu sebelum kondisimu memburuk. Jika tidak, kamu bisa menghilang selamanya. Chae Won Saem bilang begitu.

Yeo Wool lalu mengajak Da Il pergi ke Kamarnya ibunya Sunwoo Hye, mari temukan petunjuk disana. Mari mulai dengan pergi ke apotek.

"Baiklah, ayo lakukan itu." Da Il setuju.


Da Il dan Yeo Wool berhenti di depan apotek. Da Il mendesah, jika Sunwoo Hye tiba sebelum mereka, apotekernya mungkin sudah dia kendalikan. Jadi jangan bertindak gegabah, bertindaklah sesuai perintah.

Yeo Wool: Aku bukan lagi magang, bukan? Sekarang kamu tidak perlu memberiku peringatan. Sudah lama kita menjadi rekan.

Yeo Wool jalan duluan. 


Yeo Wool menunjukkan foto obat yang ada di rumah ibu Sunwoo Hye. Ia bertanya jenis obat apa itu. Tapi apoteker tidak bisa memberitahukannya pada orang asing. Yeo Wool memperhatikan sekitar, ada lukisan anak-anak dipajang di ddinding.

"Aku bukan orang asing. Dia ibuku, tapi ceritanya panjang. Sudah lama sekali kami terpisah dan belum lama ini kami berkumpul kembali. Sepertinya ibuku sakit parah, tapi dia tidak mau memberitahuku soal obat ini. Bisakah kamu memberitahuku? Kumohon." Yeo Wool mulai bersandiwara,


Da Il memperhatikan reaksi apoteker dan ia merasa belum cukup, ia meminta Yeo Wool terus bicara.

Sementara Yeo Wool terus bicara, Da Il mencari di komputer apoteker.

Apoteker: Apa kamu dan ibumu terpisah saat kamu berusia 7 tahun? Kamu tampak berusia lebih dari 25 tahun. Karena dia bilang putrinya berusia 7 tahun, kupikir itu aneh karena dia terlalu tua.

Yeo WOol: Ibuku mengatakan itu kepadamu?

Apoteker: Bersikap baiklah kepada ibumu. Demensianya pasti membangkitkan ingatannya kembali pada saat terakhir dia melihatmu.

Yeo Wool: Demensia? Dia hanya membeli obat yang diresepkan untuk demensia?


Da Il menyuruh Yeo WOol batuk saat ia akan memotret. Satu dua tiga. Da Il memotret dan Yeo WOol batuk, jadi apoteker tidak  tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Apoteker: Aku sudah mengatakan semuanya kepada adikmu.

Yeo Wool dan Da Il terkejut, adik? 


Ternyata yang datang adalah Gyeol. Dari punggungnya sih kelihatan begitu, soalnya tidak ditunjukkan wajahnya.

Apoteker: Karena dia tampak naif dan terus menangis, aku merasa sangat sedih. Andai aku sakit, putraku pasti melakukan hal yang sama. Dia baru saja pergi. Jadi, bicaralah dengan adikmu, jangan menyulitkanku dengan membuatku berbicara kepada seluruh anggota keluargamu.


Yeo Wool: Kamu bilang dia tampak naif, bukan? Apa kulitnya sangat cerah dan tubuhnya setinggi ini?

Yeo Wool menunjukkan foto Gyeol dan apoteker membenarkannya, memang Gyeol yang datang. Da Il kemudian mengajaknya pergi karena ia sudah mendapatkan resep obatnya.


Da Il memastikan, yang dimaksud adiknya Yeo WOol tadi adalah Kim Gyeol kan? Yeo WOol mengangguk. 

"Saat pertama aku muncul dan kembali ke rumah Kim Gyeol, tidak ada orang di sana. Tapi dia berusaha mengumpulkan informasi tentang ibunya Sunwoo Hye."


Da Il ingat cerita Suster di panti asuhan, ia yakin Kim Gyeol juga datang kesana.

Da Il melanjutkan, "Tapi aku penasaran kenapa dia mengumpulkan informasi terkait ibunya Sunwoo Hye. Kamu tahu sesuatu?"


Yeo Wool mengatakan kalau Yi Rang meninggal karena Gyeol. Da Il terkejut, apa? 

"Sunwoo Hye melakukan apa yang dia lakukan kepada ibumu dan kita pada hari itu. Dia juga menyuruh Gyeol untuk memilih. Kurasa dia memanfaatkan rasa bersalah Gyeol."

"Apa pun itu, saat ini kita selangkah di belakang Gyeol yang juga mencariku. Artinya Sunwoo Hye satu langkah di depan kita. Sederhananya, tidak masalah jika petunjuk kita menjadi sia-sia. Jika kita menemukan Gyeol, artinya kita bisa menemukan Sunwoo Hye dan tubuhku."


Gyeol menemui Sunwoo Hye di sebuah taman. Sunwoo Hye bertanya, Bagaimana dengan apoteker itu? Gyeol menggeleng.

"Kamu tidak membunuhnya?!"

"Aku hanya membutuhkan resep obat darinya. Dia tidak akan bisa memberi banyak informasi kepada Yeo Wool."

"Aku menyuruhmu membunuh semua orang yang kamu mintai informasi. Kamu tidak tahu kenapa itu penting?"

"Karena Yeo Wool juga melihat apa yang kamu lihat. Untuk menemukan tubuh Da Il, dia akan mendatangi semua tempat yang kita datangi. Kita tidak mau Yeo Wool menemukan Da Il sebelum kita."

"Jangan lupakan itu. Kamu akan pergi ke gereja?" Sunwoo Hye ingat kalendar di dinding rumah ibunya adalah dari Gereja Jaeil. ia melanjutkan, "Kali ini, aku ingin kamu membunuh orang itu meski tidak mendapat informasi."

"Tapi itu bisa membuat kita tertangkap oleh polisi. Membunuhlah seperlunya saja."

"Kamu bilang akan melakukan semua perintahku. Apa itu bohong?"

Gyeol menggeleng, ia akan melakukannya.


Sunwoo Hye berbisik, "Jika kamu bertemu dengan Yeo Wool..."

Dan kita tidak diperdengarkan kalimat selanjutnya.


Chae Won diam-diam menemui Jung Dae. Ia memastikan Jung Dae sendirin baru mendekat. Chae Won menunjukkan foto Gyeol, ia meminta Jung Dae untuk menemukannya secepat mungkin. 

"Siapa dia?" Tanya Jung Dae.

"Teroris dari pameran perjalanan. Dia dikendalikan oleh Sunwoo Hye."


Tiba-tiba senior mendekat, mereka gugup dan langsung menutupi foto itu, tapi Senior menyruh mereka menunjukkan foto itu.

Senior: Jadi, dia dikendalikan oleh Sunwoo Hye dan meracuni minuman itu? Kalian berhenti membahas teroris begitu aku datang. Sudah jelas dia orangnya.

Chae Won berbisik, "Kamu bilang tidak ada orang."

Senior: Astaga, itu bukan apa-apa. Kita cukup menangkap pelakunya. Karena situasinya menjadi begini, mari mengesampingkan semua pertanyaan dan logika. Ini membuatku sangat bingung. Sebaliknya, jika ternyata kamu salah, aku akan menghajarmu.

Jung Dae: Sunbae.

Senior: Tapi jangan mengatakan dia dikendalikan. Tandai dia sebagai komplotan dan mulai penyelidikan agar kita bisa memakai fotonya untuk mencarinya.

Jung Dae mengerti.


Gyeol pergi ke Gereja Jaeil, ia menemui pastur. Gyeol bersandiwara ia sampai menangis.

Pastur: Aku tahu tujuannya jika dia pergi dari rumah. Mungkin kamu tahu.. karena melakukan pekerjaan sukarela untuk pengidap demensia. Putranya yang dia tinggalkan saat masih kecil sudah meninggal. Suaminya...

Gyeo: Aku tahu.

Pastur: Dia kehilangan komunikasi dengan suaminya, tapi dia melihat berita dan mengadakan pemakaman untuk putranya. Jasad anak itu dikremasi dan abunya disebarkan. Setelah mengalami demensia, dia berpikir putranya masih hidup. Dia pergi ke sana setiap hari tanpa tahu alasan dia pergi ke sana dan arti tempat itu. Dia menangis setiap hari.


Gyeol bertanya dimana tempat itu. Pastur menunjukkan arahnya. 

"Dia pergi ke sana di waktu yang sama setiap hari?" Tanya Gyeol lagi.

"Tidak. Waktunya berbeda-beda. Dia mendadak pergi ke sana seakan-akan dikendalikan oleh sesuatu."

"Terima kasih."

"Tidak masalah. Kamu melakukan banyak hal. Kinerjamu bagus."


Gyeol tiba-tiba mendekat dengan pandangan berbeda. Pastur bertanya, apa ada yang bisa ia bantu lagi? Gyeol tidak menjawab, matanya menjadi merah.


Yeo Wool dan Da Il berjendara, tujuan mereka juga Gereja barangkali.


Gyeol membawa Pastur itu ke gudang dan disana ia membiusnya. 


Sunwoo Hye muncul setelah pastur itu tidak bisa bergerak, ia bertanya, apa Gyeol sudah mencari tahu?

"Beloklah ke kiri di persimpangan di luar. Sebuah bukit." Jawab Gyel.

"Lanjutkan."


Gyeol megambil pisau, ia siap menusukkannya.


Da Il dan Yeo Wool sampai di Gereja. Da Il mencurigai sesuatu, ia kemudian berjalan ke pagar dan dari pagar itu ia melihat sebuah pintu yang ada bekas darahnya.


Da Il dan Yeo Wool pergi ke pintu itu dan didalamnya mereka melihat darah. Tapi tidak ada orangnya, oh ya.. ada kalung salib.


Yeo Wool mengambil foto kalung salib itu, ia menunjukkannya pada seorang wanita di dalam Gereja. Wanita itu mengatakan kalau kalung itu milik Pastor gereja. 

"Dia baik-baik saja, bukan? Apa dia terluka?" Tanya Wanita itu.

"Apa dia mengatakan hendak pergi ke mana?" Tanya Yeo Wool.

"Tadi seorang pria menemuinya. Aku meninggalkan gereja sebentar. Mereka sudah tidak ada saat aku kembali."


Yeo Wool menunjukkan foto Gyeol untuk memastikan dan wanita itu membenarkan, Gyeol lah orangnya.

"Ya. Dia menanyakan seorang wanita di gereja kami. Karena tidak begitu mengenalnya, aku bertanya kepada pastor."


Yeo Wool permisi sebentar. Yeo Wool menghubungi Mr. Han, mengatakan kalau Gyeol ada di gereja dan sSepertinya Gyeol membunuh seseorang.


Da Il: Kenapa dia bertindak sejauh ini?

Da Il mengepalkan tangannya, matanya berubah menjadi merah. Da Il lalu berjalan keluar.


Da Il mencoba menenangkan dirinya, tapi ia kesulitan.

"Tidak. Aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku." Batin Da Il.


Yeo Wool menarik tangan Da Il. Da Il menatap Yeo Wool dan membuat Yeo WOol terkejut karena mata Da Il merah.

"Ada apa? Kenapa matamu memerah? Ini pernah terjadi di rumah Gyeol. Seperti kata Chae Won Saem, jika menyentuh benda dan menyelamatkan orang, kamu akan berubah menjadi roh jahat? Kamu akan mencelakai orang-orang seperti Sunwoo Hye?"

"Tidak. Tidak akan pernah."


Yeo Wool: Kenapa kamu melakukannya? Kamu tidak boleh melakukannya. Kubilang aku akan membunuh Sunwoo Hye. Ini karena.. kamu harus memegang pisau. Aku memintamu membantuku menangkap pelakunya. Aku tidak memintamu mengorbankan dirimu. Kenapa kamu melakukan ini? Kamu pasti tidak suka mencelakai orang-orang.. daripada sekarat. Bagaimana jika kamu sungguh berakhir begitu? Aku tidak sanggup melihat itu terjadi. Aku sudah sangat takut bahwa kamu akan menghilang.


Mata Da Il berubah menjadi putih kembali. Ia langsung memeluk Yeo Wool. 

Da Il: Maaf. Aku membuatmu cemas.


Da Il kemudian menatap Yeo Wool, ia meminta Yeo WOol mendengarkannya baik-baik

"Jika aku berusaha mencelakaimu, larilah. Jangan berpikir itu aku. Jangan menggenggam tanganku seperti tadi dan lari saja, paham?"

"Lantas apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi kepadamu?"


Da Il tidak bisa menjawabnya, ia hanya melepaskan pundak Yeo Wool.


Ibu Sunwoo Hye menempel banyak tulisan di dinding yang isinya sama, yaitu menyuruhnya menghubungi Jeon Deok Joong. Ibu selalu lupa makanya ia menempel banyak.


Ibu kemudian mnegecek keadaan Da Il. Ibu menyentuh wajahnya.

Ibu: Ibu akan kembali. Ibu akan kembali sebelum pukul 1.00 dan menutupi wajahmu.

Ibu membaca catatannya, berikan infus. Maka ibu pun memberikan infus sebelum ia pergi.


Ibu pergi ke tempat ia menabur apu adik Sunwoo Hye. Disana ibu menangis. 

"Jangan pergi seperti ini." Gumam Ibu.


Sunwoo Hye kecil muncul untuk mengelap airmata ibu. 

"Bu. Jangan menangis."

"Hye. Ini kamu, bukan? Hye anak ibu. Putri ibu yang cantik."

Tapi Sunwoo Hye melepaskan tangan ibu dan mulai berjalan. Ibu mengikutinya.


Sunwoo Hye membawa ibu ke sebuah ruangan kosong. Ibu kehilangan Sunwoo Hye, ibu takut, "Hye. Tempat apa ini? Kenapa kamu kemari? Berbahaya. Tunggu ibu."


Tiba-tiba pintunya tertutup dan itu membuat Ibu terkejut.

Suara Sunwoo Hye kecil, "Bu, sepatuku kekecilan."

"Hye. Di mana kamu?"

"Karena ibu membelinya untukku dan sepatu itu sangat cantik, aku menyimpannya. Ibu bilang akan membelikanku sepatu lagi, tapi tidak kembali. Sepatunya menjadi kekecilan untukku."

"Maaf. Ibu sungguh menyesal."


Lalu terdengar suara langkah sepatu. Ibu kembali terkejut dan tiba-tiba sepatu merah itu ada di depan ibu.

Sepatu itu jalan sendiri mendekati ibu. Ibu teriak ketakutan.


Gyeol memanggil Yeo Wool. Da Il dan Yeo Wool langsung berhenti. Gyeol bertanya, apa Da Il ada disana?


Yeo Wool melihat lengan baju Gyeol penuh darah, ia langsung memandang Da Il. 


Gyeol mendekat, ia menarik tangan Yeo Wool, tapi Da Il menghalanginya. Da Il melempar tangan Gyeol.

Mata Da Il mulai memerah lagi.

Gyeol: Dia tidak bisa melindungimu. Dia juga tidak bisa menghentikan Sunwoo Hye.

Kilas Balik..


Sunwoo Hye berbisik pada Gyeol, "Jika kamu bertemu dengan Yeo Wool, katakan ini kepadanya."

Kilas Balik selesai..


Gyeol menyampaikan apa yang Sunwoo Hye bisikkan kepadanya, "Sunwoo Hye mungkin sudah menemukan tubuh Da Il. Kali ini Lee Da Il akan sungguh menghilang."

Yeo Wool melihat jam, pukul 1 kurang 15 menit.


Gyeol akan mendekati Yeo Wool lagi, tapi Da Il mendorongnya. Gyeol tersungkur dengan keras ke tanah.

Gyeol bangkit, "Kamu tidak akan bisa menghentikan Sunwoo Hye."


Da Il akan menghabisi Gyeol. Yeo WOol tidak bisa membiarkannya, ia mau mencegah, tapi ia malah yang dicekik oleh Da Il.

"Lee Da Il-ssi. Lepaskan aku. Sadarlah."

"Aku marah."

1 komentar: