Wednesday, October 31, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 9 Part 4

Sumber: jtbc


Tujuan Se Gye adalah jalan itu, tapi si Ibu sudah tidak lagi ada disana. Se Gye tidak mengerti, apakah hal ini melegakan?

"Ya." Jawab Do Jae.

"Apakah kita sungguh melakukan hal yang benar? Kita membohonginya."

"Entahlah, aku pun tidak tahu. Tapi, aku yakin kebohonganmu membuatnya ingin hidup. Itulah yang kupikirkan."

"Ya ampun. Aku sangat menyukaimu."

"Aku?"

"Ya."


Dan waktunya Se Gye pergi. Do Jae kecewa karena mereka sudah agak lama tidak bertemu.

"Apa maksudmu agak lama? Kemarin juga kita bertemu. Katamu, kau selalu menatapku."

"Itu..."

"Aku harus cepat pergi."

"Mau ke mana, sih?"

"Aku ada janji yang sangat penting."

Do Jae pun mengikuti Se Gye yang mulai melangkah pergi.


Do Jae datang ke rumah kakek dan ternyata Se Gye ada disana. Do Jae berhenti saat melihat Se Gye. Se Gye menyuruhnya duduk. Do Jae gak ngerti, kenepa Se Gye ada disana?


Kakek: Aku yang mengundangnya. Ibumu ingin sekali makan bersama Se Gye, jadi aku memintanya untuk datang.

Ibu: Dia bukan tamumu, tapi tamuku. Duduklah.

Do Jae: Seharusnya beri tahu aku dulu. Kalian semua.

Se Gye: Surprise.


Sa Ra datang setelah Do Jae dan ia juga agak kaget melihat Se Gye ada disana. Se Gye mengucapkan salam.

Sa Ra: Kita kedatangan tamu rupanya. Halo.


Ibu: Melihat Se Gye dan Do Jae duduk berdampingan membuat selera makanku muncul. Mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna. Bukan begitu, Ayah?

Kakek: Kalau putriku bilang begitu, tentu saja aku setuju. Melihat putriku tersenyum seperti ini, membuatku begitu bahagia hari ini.


Profesor Kang: Beberapa hari lalu, Sa Ra ulang tahun.

Ibu: Omo, benarkah? Kenapa tidak memberi tahu kami?

Kakek: Sekretaris Kim! Ke mana dia? Dia seharusnya langsung memberi tahu aku kalau ada keluarga yang berulang tahun.

Ibu minta maaf pada Sa Ra karena tidak mengucapkan selamat padahal ia ibunya Sa Ra.

Sa Ra: Tidak perlu khawatir. Duduk di sini bersama keluargaku dan berbagi waktu seperti ini... sudah lebih dari cukup untukku.


Do Jae mengeluarkan kadonya dan memberikannya untuk Sa Ra, ia juga mengucakan selamat ulang tahun. 

Sa Ra: Terima kasih. Aku tidak pernah membayangkan menerima hadiah ulang tahun.

Do Jae: Itu bukan apa-apa. Kau sudah memiliki segalanya yang kau harapkan.

Sa Ra membuka kadonya dan ternyata isinya buku berjudul, "Il Secondo Diario Minimo". Sa Ra tersenyum, ia menyukainya. 

"Sudah kuduga." Jawab Do Jae.


Se Gye berkata akan membawakan hadiah juga seandainya ia tahu. 

Sa Ra: Kedatanganmu kemari sudah menjadi hadiah besar untukku. 

Sa Ra tiba-tiba membahas soal putusnya hubungan mereka, tapi Se Gye sekarang datang. Aa mereka sudah balikan? Kudengar, kalian berdua sudah putus.

"Tidak. Ketua mengundangku datang hari ini." Elak Se Gye.

"Benar. Kalian membuat keributan saat putus. Tidak mungkin kembali bersama secepat itu."

Suasana pun berubah menjadi tegang.

Sa Ra: Direktur Kim mengatakan ini padaku. "Inilah sebabnya aku tidak bisa menghormati keluarga pemilik perusahaan". Aku marah ketika pertama kali mendengarnya, tapi setelah memikirkannya, hal itu bukan sesuatu yang seharusnya membuatku marah. Bertindak gegabah juga merupakan sebuah masalah.

Do Jae: Terima kasih sudah mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan tidak terjadi.

Sa Ra: Sama-sama.


Se Gye tidak tahan untuk diam. Ia teringat sesuatu saat seorang pelayan pria menuangkan air untuk Sa Ra.

Se Gye: Ada banyak pria yang mengerjakan tugas rumah tangga belakangan ini. Kurasa, karena pekerjaan rumah tangga sangatlah berat, 'kan?

Sa Ra merasa tersindir oleh Se Gye, tapi ia diam saja.


Saat akan naik mobil, Sa Ra mengajak Se Gye bicara. 

Sa Ra: Aku tidak menyangka kau begitu, tapi kau benar-benar rendahan.

Do Jae: Kang Sa Ra.

Se Gye: Tak apa.


Se Gye tidak tahu alasan Sa Ra menganggapnya begitu, tapi ia seseorang yang bersikap sebagaimana ia diperlakukan.

Sa Ra: Sudah selesai bicara? Kau berani sekali, ya.

Se Gye: Aku belum selesai bicara. Eun Ho kami adalah lelaki yang naif dan baik hati. Jangan mempermainkan seseorang yang naif seperti dia. Kau tahu, 'kan? Dia akan segera menjadi Pendeta?

Kemudian Se Gye mengajak Do Jae pergi.


Kata-kata Se Gye malah memotovasi Sa Ra untuk mempermainkan Eun Ho. Ia langsung menghubungi Eun Ho. 

Sa Ra: Datanglah sekarang juga.

Eun Ho: Apa?

Sa Ra: Datanglah sekarang juga.. ke tempatku.

Eun Ho: Oh, sekarang juga? Maaf, tapi aku sedang bekerja sekarang. Aku tidak bisa pergi sekarang.

Sa Ra: Sungguh? Baiklah kalau begitu.

Sa Ra menutupnya, lalu menghubungi seseorang.


Do Jae protes, harusnya Se Gye tadi bilang kalau akan datang. 

"Kalau begitu namanya bukan kejutan. Kau harus membuat seseorang lengah untuk mengejutkan mereka. Tapi, aku khawatir kalau aku justru mengganggumu." Jawab Se Gye.

"Kenapa kita.. tidak berkencan terang-terangan saja?"

"Tidak akan! Ibuku bisa-bisa bikin keributan. Dia mungkin ingin belanja hantaran pernikahan dalam bulan ini."

"Kita tinggal pergi saja kalau begitu."

"Tidak bisa. Bagaimana dengan filmku?"

"Film itu lebih penting dibandingkan aku?"

"Lalu, kau sendiri? Apa aku lebih penting dari perusahaanmu?"

"Um... itu..."

"Lihat, 'kan? Kau sama sepertiku. Lebih penting lagi, berkencan sekali dapat dimaklumi, tapi kedua kali tidak akan sama. Kau akan dipermalukan."

"Kalau aku dipermalukan, maka sama halnya denganmu."


Se Gye tiba-tiba bertanya, apa kegiatan Do Jae hari ini? Do Jae harus pergi bekerja?

"Tidak. Aku akan pergi berkencan."



Sekretaris Sa Ra datang ke tempat kerja Eun Ho untuk menjemput Eun Ho.

"Sebagaimana kau lihat, aku sedang bekerja."

"Ah, hari ini kafenya bisa tutup."

"Apa?"

"Kang Daepyo-nim sudah merevervasi seisi kafe ini. Bisa kita pergi?"


Sa Ra mengajak Eun Ho makan, tapi Eun Ho malah terus memandanginya yang sedang makan. 

"Kau tidak makan?" Tanya Sa Ra.

"Kau makan sesuatu yang menjijikkan lagi? Lagi-lagi karena pria itu?"

"Hari ini... karena keluargaku. Kupikir kami berkumpul karena hari ulang tahunku, tapi aku salah paham."

"Ini bukan hari ulang tahunmu. Kartu pengenalmu. Ulang tahunmu bukan dalam waktu dekat ini."

"Kau mengingat berbagai macam hal."

"Aku sangat pintar."

"Ulang tahunku yang sebenarnya berbeda dengan hari ulang tahunku yang terdaftar. Jadi, semua orang di sekitarku tidak menyadarinya. Itu bukan masalah besar. Aku pun tidak menganggapnya penting."


Eun Ho tiba-tiba memanggil pelayan, ia mau membayar lebih awal. Sa Ra melarangnya, ia yang akan bayar. Tapi Eun Ho tetap memberkan kartunya pada pelayan. 


Eun Ho: Aku menghasilkan uang lebih banyak dari dugaanmu. Meski terlambat, selamat ulang tahun. Nikmati makananmu.

Sa Ra terdiam, ia melihat ke belakang Eun Ho dan disana ada bunga yang seperti ayahnya berikan.


Se Gye dan Do Jae mencetak foto yang dipotret oleh Joo Hwan kemarin. 

Se Gye: Ini keren. Aku belum pernah difoto dengan seseorang seperti ini.

Do Jae: Aku tidak merasa itu istimewa. Kukira hanya aku yang tahu rahasiamu, rupanya banyak sekali orang yang mengetahuinya. Aku merasa sangat kecewa.

Se Gye: Kau serakah sekali.

Do Jae: Jika kau berpikir aku terlalu serakah, kau dalam masalah besar.


Se Gye: Baiklah. Pertama-tama, Eun Ho tahu.

Do Jae: Aku tahu.

Se Gye: Woo Mi juga tahu.

Do Jae: Sejauh itu aku pun tahu.

Se Gye: Selain mereka--

Do Jae: Aku, 'kan?

Do Jae: Tidak. Kingkang.

Do Jae tak percaya mendengarnya. 


Se Gye tiba-tiba meninggalkan Do Jae, ia mau menggantung fotonya. Do Jae bertanya, apa ada akaian yang nyaman untuk ia kenakan?

"Masuklah ke ruang gantiku dan kenakan manapun yang kau suka." Jawab Se Gye.


Suasana berubah setelahnya, mereka menyalakan lampu temaram dan juga menyalakan lilin. Lalu mereka menimkati anggur.

Do Jae membahas baju yang ia kenakan, "Ini adalah salah satu keuntungan... mengencani seseorang sepertimu."

"Mana yang lebih kau suka? Rambut dikuncir atau digerai begini?"

"Aku menyukai keduanya."

"Sepertinya kau bersungguh-sungguh."

"Tentu saja. Kau yang sesungguhnya selalu sama. Setidaknya, bagiku."

"Inilah salah satu keuntungan mengencani seseorang sepertimu."


Se Gye akan mengambil sesuatu, tapi ia tak sengaja menyenggol Do Jae sehingga DO Jae menumpahkan anggurnya ke baju. Se Gye panik, ia langsung mengambil tisu dan mengelap baju Do Jae. 

"Oh, astaga. Bagaimana ini? Kau baik-baik saja? Kau baik-baik saja?"

"Aku tidak baik-baik saja. Bukankah itu disengaja?"

"Apa? Kau pikir aku melakukannya dengan sengaja?"

"Ya, sengaja. Untuk menyentuhku."

"Itu tidak benar."

"Kurasa benar."


Do Jae langsung menarik Se Gye ke pangkuannya. Kiss...


Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menyalakan lampu. Dia adalah ibu Se Gye. Keduanya panik.

"Hari itu, aku sudah membulatkan tekad... untuk tidak menjadi hukuman bagi Ibuku dan bahwa aku tidak akan pernah memberitahunya tentang kondisiku yang mengerikan. Sepanjang sisa usiaku, jika memungkinkan. Tapi--"

Tapi ibu tersebyum, "Sudah kuduga ini akan terjadi."

Se Gye: Ibu!

"Tapi, aku tidak menyangka akan tertangkap basah oleh ibuku di tengah momen seperti ini, bukan yang itu."

1 komentar:

  1. Wkwkwkwkw...
    Kocak banged ekspresi se gye, tercyduk...

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap