Wednesday, October 31, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 9 Part 3

Sumber: jtbc


Se Gye mengajak yang lain ngafe di kafe anak-anak. Joo Hwan mengeluh, rasanya ia ingin berhenti bekerja saja. Eun Ho juga mengeluh, ia ingin pulang ke rumah.

"Cobalah bicara padanya." Suruh Joo Hwan.

"Dia kan bosmu!"

"Dia anakmu!"

"Sudah kubilang, dia bukan anakku."


Se Gye ingin mencari seorang anak. Do Jae tidak mengerti kenapa Se Gye ingin melakukannya. 

"Aku ingin memberi tahu dia.. bahwa jantung putranya.. berdetak untuk anak ini. Bahwa dia masih hidup. Bahwa dia belum mati. Dan aku ingin memberi tahu dia untuk tidak bunuh diri."


Do Jae: Anak yang menerima transplantasi jantung itu.. meninggal saat operasi. Takdir tampak bagaikan lelucon.. dan para dewa begitu kejam. Namun, beberapa orang tidak memiliki pilihan selain menyalahkan diri sendiri.. atas masalah dalam kehidupan mereka yang malang.

Se Gye: Tolong bawa aku menemui dia. Kita tidak punya waktu. Harus sekarang.


Do Jae langsung berdiri dan pamit pada Joo Hwan, ia mau membawa Woo Joo ke suatu tempat. Dan Do Jae pergi duluan.


Joo Hwan terus bertanya pada Eun Ho, sebenarnya Woo Joo itu anak siapa?

"Oh, itu.. Saudari baptisku?"

"Apa?"

"Saudari baptis."


Se Gye mengajak Do Jae mengunjungi ibu itu.


Tapi Se Gye mendekati Ibu itu sendiri. Ia memberi salam dengan hormat.

"Siapa kau?" Tanya Ibu itu.

"Ajeossi di sana mengatakan padaku.. bahwa Min Jun memberikan jantungnya untukku."


Ibu itu berkaca-kaca, ia menoleh pada Do Jae. Do Jae mnunduk memberi salam. 


Kemudian ibu itu kembali memandang Se Gye. Se Gye bertanya, apa ibu itu mau mendengarkan suara jantung Min Jun? Ibu itu langsung memeluk Se Gye. Airmatanya tidak terbendung lagi.


Se Gye: Min Jun... ada di sini. Dia di sini, bersamaku. Aku berjanji.. bahwa aku akan hidup dengan baik bersamanya. Aku akan melakukan yang terbaik.. untuk menjalani kehidupan yang hebat.

Ibu itu menangis keras mendengar ucapan Se Gye itu. Se Gye menghapus air mata ibu itu. Ibu itu menciumi tangan Se Gye.


Kemudian Ibu mengajak Se Gye makan. Ibu memesan makanan yang paling disukai Min Jun. Se Gye berkata kalau ia juga suka makanan itu, ia lalu memakannya.

Ibu: Apakah Min Jun akan terus menyukainya? Dia mungkin tidak akan menyukainya lagi setelah berusia 15 tahun. Saat usia 20, dia mungkin akan menghindarinya. Di usia 30, dia mungkin akan membencinya. Tapi, aku tidak akan pernah tahu. Mungkin, aku tidak akan pernah mengetahuinya. Aku teringat akan dirinya setiap kali melihat ini. Hal itu membuat hatiku hancur, tapi di saat yang sama, juga membuatku bahagia. 

"Mana mungkin aku dapat menghibur seorang Ibu yang berduka atas kehilangan anaknya? Satu-satunya yang dapat kulakukan adalah--"

Se Gye memakannya dengan lahap. 

"Hanya ini yang bisa kulakukan."


Saatnya mengucapkan perpisahan. Sampai jumpa. Ibu pergi dengan senyum lebar di bibirnya, tdak nampak kesedihan lagi.


Se Gye juga mengucapkan selamat tinggal pada Do Jae karena sihirnya akan segera lenyap.

"Aku akan tetap menatapmu." Kata Do Jae.


Di mata Do Jae, Se Gye tetaplah Se Gye bagaimanapun visualnya.

Se Gye: Kau memiliki seorang kekasih yang tidak biasa. Maafkan aku membuatmu melalui semua kesulitan ini.

Do Jae: Kenapa kau memiliki hati yang begitu baik? Melelahkan menjadi kekasihmu.

Se Gye: Bagaimana lagi? Itulah pesonaku. Terima sajalah. Kau harus pergi bekerja, 'kan? Aku sudah menghabiskan banyak waktumu.

Do Jae: Aku ingin berhenti dari pekerjaanku an mengikutimu sepanjang waktu.

Se Gye: Aku tahu kau tidak akan sungguh-sungguh melakukannya. Tapi, senang mendengarnya.



Sa Ra melamun di kantornya, lalu ada yang mengetuk, seorang pengantar paket. Sa Ra sumringah karena mengira itu adalah Eun Ho, ternyata bukan. 

"Anda Nona Kang Sa Ra, 'kan? Tuan Kang Dae Sik mengirimi Anda bunga." Kata pengantar paketnya. Lalu meminta tanda tangan.


Sa Ra membaca surat yang ditulis ayahnya.

"Selamat ulang tahun, putriku. Bunga marigold tumbuh dengan baik tidak peduli di mana pun mereka berada. Hanya memerlukan sinar matahari dan udara segar. Kapan pun aku melihat marigold tumbuh dengan baik di segala tempat, aku teringat akan dirimu. Terima kasih sudah tumbuh dewasa dengan baik. P.S : arti simbolis dari marigolds adalah kebahagiaan yang ditakdirkan untuk terjadi. Aku tahu bahwa kebahagiaan menantimu. Dari Ayah."

Sa Ra bergumam, "Hari ini ulang tahunku rupanya."


Eun Ho kembali ke Gereja. Pator menemuinya dan bertanya, sungguh Eun Ho akan menempuh jalan ini? Eun Ho mengangguk mantap.

"Ini tidak akan mudah."

"Aku tahu."

"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mendoakanmu."

Pastor itu pun pergi.


Eun Ho kemudian berdoa.

"Atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tuhan Yang Maha Pengampun. Kumohon dengarkan doa keputusasaanku ini. Lindungi orang tuaku, yang hatinya hancur akibat pendosa ini. Kumohon sembuhkan temanku, Se Gye. Pertemukan temanku, Woo Mi, dengan pria yang baik. Juga, seseorang yang menyedihkan dan kesepian (Sa Ra maksudnya)... Kumohon pastikan... rang yang menyedihkan dan kesepian itu makan dengan baik. Atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amen."


Do Jae meninggalkan Se Gye di mobilnya. Jam sudah menunjukkan waktunya dan Se Gye pun berubah kembali menjadi dirinya. Se Gye lalu pulang.


Se Gye memencet bel dan yang membukanya adalah ibu. Ibu heran, ia tidak menyangka Se Gye akan datang hari ini. 

"Ini kan rumahku. Ibu yang sedang apa di sini? Aku tidak tahu Ibu kemari." Se Gye mengingatkan.

Se Gye langsung memeluk ibu. 

"Ada apa denganmu?" Tanya Ibu. 

"Aku merindukan Ibu. Sangat. Sangat rindu."


Se Gye bersih-bersih dan ibu menyiapkan makanan. Ibu berkata kalau ia bertemu pacar Se Gye. Se Gye sudah tahu. 

"AKu tidak bilang, "mantan kekasih", tapi sepertinya kau tidak peduli. Kau masih mengencani dia?"

"Tidak. Hanya saja aku terbiasa begitu."

"Dia tampaknya orang yang baik. Dia ingin kembali bersamamu. Han Se Gye! Kau tidak dengar Ibu, ya?"

"Apa?"


"Menikahlah dengan pria itu. Seo Do Jae."

"Apa?"

"Kau dengar, kok. Berhentilah pura-pura tidak dengar."

"Kalau Ibu terus membicarakan pernikahan, pulang sajalah."


Ibu meminta Se Gye memikirkan usianya, Se Gye harus segera memiliki anak.

"Tidak mau."

"Kenapa tidak?"

"Tidak mau saja. Mengerikan. Bagaimana kalau anakku sakit? Siapa yang akan mengurusnya?"

"Kenapa kau senegatif itu? Kau perlu tempat untuk pulang. Kau membutuhkan keluarga."

"Aku tidak peduli. Aku punya Ibu."


Sebelum tidur, Se Gye menyiapkan perawatan untuk wajah ibu, sambil ngobrol sih. Se Gye bertanya, bagaimana perasan ibu kalau penampilannya berubah?

"Kenapa? Seseorang bilang kau tampak jelek? Mereka bilang kau berubah?" Tanya Ibu.

"Bukan begitu."

"Jangan khawatir. Jalani saja hidupmu. Tidak masalah selama Ibu memahaminya dan kau memahami dirimu sendiri. Cobalah untuk mencintai dirimu sendiri dalam setiap momen. Seperti Ibu."

"Aku tidak mengira Ibu bisa bilang begitu."

"Kenapa kau tidak tertarik menikah? Pria itu tampak sangat baik. Apakah dia suka bermain? Itukah alasannya?"

"Aku mencampakkan dia. Dia bisa menghalangi karirku. Dia mengikutiku ke mana-mana. Dia terlalu baik... dan menyedihkan. Aku terlalu menyukai dia.. Itu tidak baik."

"Hei! Kau masih berkencan dengannya, 'kan?"

"Tidak, kok."

"Keluarganya keberatan?"

"Aku yang keberatan. Aku. Aku ini seorang aktris. Aku merawat diriku dengan baik bahkan pada momen seperti ini. Tidak terlalu banyak porsi peran utama wanita. Bayangkan kalau aku menikah."

"Sebelum jadi aktris, kau itu putrinya Ibu. Kau terlalu ambisius. Kenapa kau harus bekerja begitu keras?"

"Aku takut, suatu hari aku akan mendadak lenyap."

"Omong apa sih kau?"

"Bagaimanapun suatu hari aku akan mati, 'kan? Aku ingin Ibu menonton film-filmku dan berpikir, "Putriku sangat cantik. Dia brilian."

"Omong kosong macam apa itu? Sana menikah dulu sebelum mati!"

"Aku tidak mau!"


Ibu pergi hari ini. Sambil berjalan keluar, ibu memberitahu Se Gye kalau ia sudah menata makanan di kulkas jadi pastikan Se Gye memakannya. 

"Aku mengerti."

"Tonik herbal bagus untuk kesehatanmu. Minum secara rutin."

"Tonik herbal membuat berat badanku naik. Berhentilah membawakanku itu."

"Ibu memilih yang tidak akan membuat berat badanmu naik, bodoh! Minumlah. Ibu mengkhawatirkan kesehatanmu."

"Baiklah."

"Jangan minum alkohol terlalu banyak. Baik-baiklah pada Woo Mi dan Eun Ho. Langsung masukkan kaos kaki ke keranjang cucian."

"Memangnya aku anak kecil? Kalau sangat mengkhawatirkan aku, tinggal saja beberapa hari lagi di sini."

"Tidak bisa. Ibu harus mengairi tanamanku."

"Ibu lebih peduli pada tanaman dibandingkan aku?"

"Tentu saja, dasar bodoh. Mereka bahkan tidak bisa berkeliaran sendiri. Mereka pasti kehausan."

"Baiklah. Sana. Cepat pergi. Aku juga harus pergi ke suatu tempat."

"Mau ke mana kau?"

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap