Wednesday, October 31, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 9 Part 2

Sumber: jtbc


Ibu bersih-bersih pagi ini dan ia berhenti saat melihat foto-foto Se Gye di rak. Ibu terharu melihatnya. Tapi kemudian menyelesaikan acara bersih-bersihnya dan Kingkang tiba-tiba terus menyalak.


Se Gye terbangun karena suara bising penyedot debu dan suara Kingkang.

"Kenapa Ibu bersih-bersih pagi-pagi sekali?"

Mata Se Gye masih belum terbuka sepenuhnya, tapi kemudian ia ingat, ruang foto dan ruang gantinya. Se Gye langsung terbelalak. 

Do Jae terus melihat ponselnya setiap detik seperti perintah Se Gye. 


Joo Hwan terus duduk di kursinya dan itu membuat Do Jae bertanya, apa Joo Hwan akan terus duduk disana? Joo Hwan menjawab tidak.

"Kenapa tidak? Cocok sekali denganmu. Kerjakan beberapa tugasku sekalian."

"Aku sudah mengerjakan banyak tugasmu, tahu. Aku akan menjadi Presdir. Di perusahaan cabang. Aku tidak mau jadi Direktur."

"Ibuku akan menjadikanmu Presdir?"

"Aku akan memastikan kau mengambil alih Grup Sunho, apa pun resikonya. Dengan begitu, kau akan memberikanku posisi Presdir."

"Aku memberimu posisi Presdir?"

"Kau akan melakukannya. Jika tidak, aku akan mengungkap semuanya."

"Contohnya?"

"Kau yang tidak bisa meletakkan ponselmu ketika berada dalam sebuah hubungan."


Kemudian Se Gye menelfon dan Do Jae segera mengangkatnya. Se Gye menyuruh Do Jae segera ke rumahnya. 

Setelah menutup telfon, Do Jae bergumam, Seorang anak?


Do jae pamit akan pergi, tapi Joo Hwan menaggapinya dengan santai, silahkan. Do Jae heran, Joo Hwan tidak tanya ia mau ke mana?

"Tidak. Sudah jelas."

"Hmm."

Do Jae pun segera pergi.


Se Gye mencari cara untuk menghentikan ibunya. Ia pura-pura ngompol dengan menuangkan jus jeruk ke selimut. Ia lalu menangis untuk memancing ibu datang.

Tapi ibu tidak segera mendengarnya. Se Gye pun menangis lebih keras.


AKhirnya ibu datang. Ibu panik, kenapa? Apa yang terjadi? Se Gye tidak menjawa, ia hanya melihat selimutnya.

"Kenapa kau tidak bilang kalau mau ke kamar mandi? Tak apa, jangan menangis. Putrinya Ajumma juga pernah mengompol saat kelas lima SD. Aigoo.. Selimutnya basah semua."

Ibu lalu membawa selimutnya keluar.


Se Gye mengirim pesan untuk Do Jae, "Cepat hentikan Ibuku. Lakukan apa pun yang diperlukan."

Do Jae langsung mengebut bagai kuda.


Ibu mencium selimut itu dan merasa aneh karena baunya seperti jeruk. Ibu lalu memasukkannya ke keranjang.

Ibu akan mencari baju Se Gye yang kotor, ia membuka ruang ganti Se Gye. Beruntung, tepat saat itu bel pintu berbunyi. Ibu pun tidak sempat melihat ke dalam. 


Ibu langsung membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Do Jae. Ibu mengenali Do Jae sepertinya. Tapi Do Jae tidak mengenali ibu, ia mau permisi masuk. 


Lalu Se Gye keluar dan memanggil Do Jae, Ahjussi. Do Jae melihat kalung Se Gye, ia langsung paham.

Do Jae juga mengerti sekarang, jadi wanita yang di depannya itu adalah ibu Se Gye. Ia langsung bertanya dan ibu membenarkan. 


Ibu: Kau mantan kekasihnya Se Gye?

Se Gye memberi kode pada Do Jae. 


Do Jae tiba-tiba berlutut, ia meminta ijin untuk bertemu Se Gye. Ibu agak kaget, Ibu menjawab kalau Se Gye sedang tidak di rumah sekarang.

"Aku tahu dia di dalam. Aku tidak bisa menyerah atas dirinya."


Do Jae melirik Se Gye untuk instruksi selanjutnya. Se Gye memberi jempol atas akting Do Jae, itu lalu mengntruksikan untuk mengajak ibu keluar. Do Jae paham.

bu: Aku menghargai usahamu, tapi Se Gye sedang di luar kota sekarang. Dia sungguh tidak di rumah.

Do Jae: Lalu, boleh aku bicara dengan Anda sebentar?

Ibu: Aku mau saja, tapi anak ini mengompol.


Do Jae langsung menatap Se Gye. Se Gye menyangkalnya dengan menyilangkan tagan. Do Jae menahan tawanya.

Do Jae memaksa ibu, "Tidak akan makan waktu lama."

Ibu bertanya pada Woo Joo, bisa dirumah sendirian? Woo Joo mengangguk. Ibu pun mengajak Do Jae pergi.


Sebelum pergi, Do Jae menyempatkan untuk menggoda Se Gye karena ibu sudah jalan duluan. 


Se Gye langsung menghubungi Woo Mi setelah semuanya pergi. 


Ibu menyuruh Do Jae menikahi Se Gye, jika tidak, jangan menemui Se Gye lagi.

"Hal itu bukan sesuatu yang dapat dengan mudah kuputuskan..."

"Jika mau, nikahi dia dalam bulan ini."

"Tampaknya, Anda kurang sabar. Sebelumnya aku bertanya-tanya Se Gye meniru siapa."

"Jika kau hanya main-main dengan putriku, aku ingin kau berhenti. Se Gye tidak punya Ayah. Kau tahu itu?"

"Ya, tahu."

"Aku mencari seseorang.. yang dapat bertahan di sisinya dalam waktu yang lama dan tidak berubah. Seseorang yang tidak akan mendadak mati atau tiba-tiba menghilang. Aku mencintai pria yang seperti itu. Dan berakhir tidak bahagia sama sekali. Se Gye membutuhkan seseorang yang dapat ditemuinya kapan saja, seperti rumah baginya. Bisakah kau menjadi seseorang seperti itu?"

"Selama Se Gye tidak berubah."

"Dia tidak mudah berubah. Aku tahu, karena aku yang membesarkan dia. Dia seseorang yang konsisten."

"Kalau begitu, aku juga akan menjadi konsisten seperti dia. Se Gye, dalam beberapa aspek, menuruni karakteristik Anda."

"Aku lebih cantik darinya."

"Kalian berdua juga tampak serupa tentang hal itu."

Ibu tersenyum.


Woo Mi memanggil Eun Ho untuk membantu. Mereka mengeluarkan semua foto dan busana Se Gye dari rumah. Eun Ho kesal, harusnya Woo Mi memanggil kekasihnay disaat seperti ini. 

Woo Mi: Bagaimana bisa aku menghubungi kekasihku saat dia tampak seperti ini?

Eun Ho: Woo Mi, katakan yang sejujurnya. Kau tidak punya kekasih, 'kan?

Woo Mi: Tidak peduli semendesak apa pun situasinya, aku tetap akan menghajarmu.


Eun Ho meminta Woo Mi menahannya. Ia beralih pada Se Gye, bertanya dimana ibunya sekarang. Se Gye menjawab sedang keluar dengan Do Jae.

Se Gye mengulurkan uang pada Eun Ho. 

"Buat apa itu?" Tanya Eun Ho.

"Kau harus membantuku jadi aku tidak tampak mencurigakan."

"Membantumu bagaimana?"

"Aku ingin kau jadi waliku. Kalau aku berkeliaran seorang diri di jalanan, orang-orang akan melaporkannya."

"Hei. Menjaga anak-anak itu bayarannya lebih tinggi. Menjaga Kingkang biayanya 50 ribu won, jadi ini tidak cukup."

Se Gye akan memukuli Eun Ho tapi tangannya gak nyampek karena Eun Ho menahan kepalanya. 


Tapi tenang, masih ada Woo Mi. Woo Mi langsung memukul kepala Eun Ho saat Eun Ho menikmati waktu menggoda Se Gye. 

Woo Mi: Hei! Dengarkan sajalah apa pun yang dia katakan, idiot!

Eun Ho: Kau sangat bodoh... dan juga kasar.

Se Gye meminta Woo Mi menjaga ibunya. Woo Mi mengerti.


Ibu kembali dan hanya ada Woo Mi disana dengan dua koper. Ibu menanyakan dimana Woo Joo.

"Ibunya telepon, jadi aku mengantarnya pulang."

"Apa? Aku bahkan belum mengucapkan perpisahan."

"Ibunya langsung mencari dia ketika merasa baikan. Aku tidak punya pilihan."

"Aku mengerti. Para Ibu selalu mendulukan anak-anaknya. Omong-omong, kenapa kau di sini? Putriku bagaimana?"

"Ah, Se Gye butuh pakaian, jadi aku mengambilkannya. Kondisinya sangat baik. Kemampuan aktingnya meningkat drastis seiring waktu berlalu--"

"Aku lupa. Aku sedang bersih-bersih."


Ibu masuk ruang penyimpanan foto. Tapi bingung karena ruangan itu kosong. Woo Mi mengarang cerita kalau disana adalah ruang  latihan. Bahkan Woo Mi mempraktekannya. 

Ibu: Dia menggelar latihan kelompok ya di sini? Ini terlalu berlebihan.


Eun Ho menemani Se Gye bertemu Do Jae. 


Se Gye bertanya apa yang ibunya katakan. Do Jae tidak bohong, menjawab kalau ibu menyuruhnya menikahi Se Gye dalam bulan ini.

"Benar-benar. Sudah kuduga dia akan berkata seperti itu." Gumam Se Gye. 

Se Gye: Omong-omong, kita tidak akan bisa bersama.

Do Jae: Aku tidak peduli.

Se Gye: Aku agak... malu.

Do Jae: Maafkan aku. Kau sangat menggemaskan.


Se Gye menoleh pada EUn Ho.

Eun Ho: Cepatlah! Semakin lama, semakin banyak kau harus membayarku.


Do Jae menyinggung soal dirinya yang bukan satu-satunya orang yang mengetahui rahasia Se Gye. 

"Aku belum memberitahumu?"

"Belum."


Ada yang memotret mereka. Untunglah Eun Ho melhatnya jadi ia bisa langsung bertindak. Eun Ho menghampiri orang itu. Dan terjadilah perkelahian dibalik baru.


Tapi malah Eun Ho yang berhasil dilumpuhkan. Paparazinya ternyata Joo Hwan. Do Jae meminta Joo Hwan melepaskan Eun Ho.

Do Jae: Bagaimana kau tahu aku di sini?


Joo Hwan: Menurutmu? Aku mengikutimu. Aku mengambil beberapa gambar selagi di sini. Kau suka? Kau kelihatan bagus diterpa sinar matahari.

4Joo Hwan: Kau mengikutiku? Katamu sudah jelas aku pergi ke mana.

Joo Hwan: Makanya. Sudah jelas ke mana tujuanmu, tapi.. neh sekali kau tidak pergi ke sana. Apakah dia...


Semuanya sudah tegang, tapi Joo Hwan ternyata hanya megira kalau Woo Joo adalah anak rahasia Do Jae. 

Do Jae: Kau gila, ya?

Joo Hwan mendekati Woo Joo, menatapnya lekat-lekat, kalau begitu.. Joo Hwan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, "kau mau makan lolipop?" 

Woo Joo pun menerimanya. Joo Hwan memuji Woo Joo menggemaskan.


Selanjutnya mereka jalan berempat. Joo Hwan masih menduga-duga, kenapa mendadak Do Jae menjadi sponsor anak itu? Apakah dia... anak Eun Ho?

Eun Ho: Aku ini lajang.

Joo Hwan: Bukankah terlalu kolot berpikir seseorang yang lajang tidak akan memiliki anak?

Eun Ho: Ah, apa kau punya anak?

Joo Hwan: Tidak.

Se Gye mendapatkan telfon dari nomor yang sama, nomor yang tidak dikenalnya. 

Do Jae: Itu nomor yang familier untukku. Berikan padaku.


Sebelum mengangkatnya, Do Jae menyuruh Joo Hwan berbalik. Joo Hwan menurut karena memang itu bagian dari pekerjaannya. Tapi tidak untuk Eun Ho. Tapi tenang, Joo Hwan bisa mengendalikan Eun Ho.


Ternyata yang menelfon adalah kakek. Kakek heran yang mengangkat telfon model itu Do Jae padahal Do Jae sudah putus dengannya. 

"Sudah kubilang, dia bukan model, tapi aktris. Ada apa?"

"Kalian berdua bertemu lagi? Kalau begitu, aku tidak perlu cemas."

"Bukan begitu. Kami bertemu untuk urusan bisnis."

"Kau menyedihkan. Berikan pada model-- bukan, bukan. Serahkan ponselnya pada aktris itu."

"Saat ini, situasinya tidak memungkinkan untuk menjawab. Katakan saja padaku. Aku akan menyampaikan pesan Kakek."


Kakek meminta Do Jae tanya apa ada sesuatu yang dibutuhkan Se Gye. Kakek bisa memberikan semuanya.

Do Jae: Kakekku tanya kalau ada sesuatu yang kau butuhkan. Dia bisa melakukan apa saja untukmu.

Se Gye: Tidak ada.

Do Jae langsung menyampaikannya pada kakek, "Dia bilang tidak ada."

"Dia tepat di sampingmu. Beraninya kau bersikap sebagai penyampai pesannya!? Cepat berikan ponselnya padanya. Tidak ada gunanya bicara denganmu."


Se Gye melihat ibu itu, ibu yang selalu menunggu anaknya di jalan. 

Se Gye bilang pada Do Jae, "Aku baru saja ingat ada yang kubutuhkan."

Do Jae pun langsung menyampaikannya pada kakek.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap