Wednesday, October 31, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 9 Part 1

Sumber: jtbc


Se Gye menjalani MRI untuk mengetahui penyebab ia tiba-tiba berubah, tapi Dokter tidak melihat ada yang janggal. Dokter malah bertanya, di mana dan bagaimana tubuh Se Gye terluka? Se Gye tidak bisa menjawabnya.

"Aku merasakan keputusasaan atas rasa sakit yang bahkan tidak dapat dibuktikan."


Se Gye kemudian pergi ke dukun. Ia juga menjalani rutual pengusiran makhluk halus yang kata dukun mengikutinya.

"Aku ingin mencoba segalanya untuk menemukan sebuah alasan. Aku mencoba segalanya yang memungkinkan untuk memperbaiki kondisiku. Aku menggunakan talisman (jimat) dan menjalani ritual pengusiran setan puluhan kali."

"Semakin lama aku merasakan sakit tanpa alasan tertentu, semakin aku ingin membenci sesuatu tanpa alasan pula. Contohnya, perputaran nasib."


Se Gye juga pergi ke gereja. Juga pergi ke kuil. Bersujud ratusan kali.

"Makhluk suci, jika memang ada yang semacam itu. Semua kesalahan yang pernah kulakukan. Atau seseorang yang akan mencintaiku tanpa syarat, tidak peduli seberapa pun aku tidak menyukainya."


Setelah semua proses itu, malamnya, ibu masuk ke kamar Se Gye dan memijitnya. Se Gye terbangun karenanya. 

"Apa?" Tanya Se Gye.

"Tidurlah."

"Yang terbangun itu Ibu."

"Kau yang membuatku terbangun dari tidurku. Kenapa kau latihan sampai sekujur tubuhmu nyeri begini? Aku tidak mengerti apa yang salah dengan tubuhmu."

"Makanya. Aku juga ingin tahu kesalahan tubuhku. Ibu pasti sangat tahu karena Ibu yang melahirkanku. Sudahlah, hentikan."

"Mana bisa Ibu berhenti? Setiap kali Ibu mendengarmu merintih kesakitan, jantung Ibu rasanya berhenti berdetak. Jika kau sakit, rasanya seperti itu salah Ibu. Ibu merasa kau dihukum karena Ibu sudah hidup terlalu lama. Jika saja Ibu bisa, Ibu ingin menggantikanmu posisimu. Apa kau bahkan memahami perasaan seorang Ibu?"


"Hari itu, aku telah membulatkan tekad, untuk tidak akan pernah menjadi hukuman Ibuku, dan bahwa aku tidak akan pernah memberitahukan.. tentang kondisiku yang mengerikan padanya. Jadi, sebisaku, sepanjang sisa usiaku--"


Kembali ke masa kini. Ibu tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Woo Mi dan Se Gye terkejut, apalagi Se Gye keceplosan memanggil "Ibu" pada ibu.


Ibu mendekat dan bertanya siapa anak itu pada Woo Mi. 

"Tertangkap basah seperti ini jelas bukan bagian dalam rencanaku."

Woo Mi mengatakan kalau Se Gye adalah keponakannya, "Kurasa, dia merindukan ibunya. Dia sampai menyebut ibunya Han Se Gye sebagai 'Ibu'."

"Keponakan? Kau kan anak tunggal."

"Saudari baptis. Ibu tahu tidak apa maksudnya saudari baptis?"

"Kau dulu tukang rundung, ya?"

"Tidak. Bukan begitu. Aku sebenarnya sedang mencoba melatihnya menjadi aktor."

"Tapi barusan katamu dia itu keponakan dari saudari baptismu."

"Ya, makanya itu. Saudari baptisku lebih tua dariku. Singkatnya, dia sedang sakit sekarang. Dia dirawat di rumah sakit."

"Lalu ayahnya ke mana? Kenapa kau yang menjaganya?"

"Itu... saudari baptisku... adalah ibu tunggal."

"Banyak pria berengsek yang tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Nak, kau harus menemukan dia dan membalas dendam padanya kalau sudah dewasa. Ajumma akan membantumu."

"hehehe.. Ibuku bisa menjadi sangat agresif."


Ibu mengerti, tapi tetap saja Woo mi tidak boleh membawa keluar masuk anak kecil kesana. Pasti ini sebabnya rumor jadi menyebar.

"Jangan khawatir. Aku sudah memastikan dia tidak terlihat oleh siapa pun. Sekarang, aku hanya perlu menyembunyikan dia dengan baik saat meninggalkan rumah bersamanya."

"Se Gye di mana?"

"Dia syuting di luar kota."

"Terus kenapa kau di sini?"

"Aku mampir sebentar untuk mengambil barang."


Woo Mi akan pergi dengan alasan sudah terlambat. Tapi ibu meminta Woo Mi meninggalkan anak itu. Woo Mi dan Se Gye langsung berbalik dan terkejut.

Ibu: Tinggalkan dia di sini. Aku akan menjaganya, jadi tinggalkan dia bersamaku. Kau sungguh akan membawa dia ke sana? Rumor akan lebih menggila. Aku akan menjaganya di sini, jadi lekas kemari setelah kalian selesai. Kau tidak masalah, 'kan? Tinggal di sini dengan Ajumma?

Se Gye (dalam hati): Tidak, aku tidak baik-baik saja, Ajumma.

Woo Mi: Itu... Anda tidak perlu melakukannya.

Ibu: Bagaimana kau akan menjaga anak-anak ketika sedang bekerja? Aku akan menjaga dia, jadi kau jagalah putriku.

Woo Mi: Itu, masalahnya-- Hanya dia dia sangat--

Ibu: Kemarilah.


Mereka kemudian mengantar Woo Mi keluar, perpisahan ini sangat menegangkan. Ibu meminta Se Gye mengucapkan sampai jumpa pada Bibi Woo Mi.

Woo Mi menggenggam erat tangan Se Gye. Se Gye pun melakukan seperti yang ibu katakan. Woo Mi langsung memeluk Se Gye. 

"Berhati-hatilah." Bisik Woo Mi.

"Kau akan datang dan menyelamatkan aku, 'kan?"

IBU: Orang-orang akan mengira dia anakmu. Apa-apaan salam perpisahan yang mengoyakkan hati ini?


Woo Mi pun terpaksa meninggalkan Se Gye.

Se Gye: Teman, tolong jangan lupa kalau kau meninggalkan aku di sini.


Besoknya Ibu memasak untuk sarapan Se Gye.

"Masa depanku tampak suram dan tidak ada harapan. Darahku rasanya mendidih."


Saat akan makan, Ibu menanyakan siapa nama Se Gye. Se Gye keceplosan menjawab Se.. Ibu mengulangi, Se?

"Aku Woo Joo." Jawab Se Gye selanjutnya.

"Se Woo Joo?"

"Bukan, namaku Seo Woo Joo."

"Baiklah."


Lalu ibu mengambilkan lauk untuk Woo Joo. Tapi sebelumhya ibu bertanya apa WOo Joo suka lauk itu. Woo Joo mengangguk. Lalu ibu meletakkannya di nasi Woo Joo.

"Putri Bibi juga menyukai makanan seperti itu saat dia seusiamu, tapi karena saat itu Bibi miskin, jadi hanya bisa memberinya makanan kelinci. Hal itu masih membuat hati Bibi tercabik-cabik."

Woo Joo menatap Ibu. 

"Omo, lihat dirimu. Kau menatapku dengan sorot mata mengetahui semuanya."

"Tapi anehnya, ini terasa baik."

Se Gye mendapat telfon dan ia langsung lari ke kamar mandi. Ibu akan membantunya tapi Se Gye menolak, ia bisa melakukannya sendiri.

Ibu: Anak-anak zaman sekarang dewasa sekali. Se Gye tidak bisa ke kamar mandi sendiri saat seusianya.

Oh.. jadi ibu tidak dengar suara dering ponsel Se Gye, iya sih.. cuma di mode getar doang.


Itu adalah telfon dari Do Jae. Se Gye tidak mengangkatnya, ia membalas dengan pesan.

"Aku tidak bisa menjawab panggilanmu sekarang. Ini.. harinya."

"Haruskah aku ke sana sekarang?"

"Tidak, jangan."

"Kenapa? Jadi siapa kau kali ini? Tidak apa. Aku akan mengenalimu."

"Itulah yang membuatku takut. Aku sedang tidak ingin kau kenali sekarang. Aku juga punya harga diri, tahu!"

"Kau membuatku semakin penasaran."

"Ingat tidak klausul ketiga dalam kesepakatan rahasia kita?"

"Menjawab panggilan sebisa mungkin secara positif dan bersikap kooperatif."

"Aku akan menghubungimu saat membutuhkanmu. Sampai saat itu, jangan berbuat apa pun."

"Kau melarangku untuk datang."

"Makanya, aku bilang akan menelepon saat membutuhkanmu. Tidurlah dengan ponsel di tangan sebagai antisipasi. Bantu aku menyimpan rahasiaku. Kalau tidak, aku akan menuntutmu atas pelanggaran kontrak."

"Menyimpan rahasiamu dari siapa?"

"Aku tidak ada waktu. Aku harus pergi. Jangan menghubungiku sementara waktu."

Ibu khawatir pada Woo Joo karena di kamar mandinya lama banget, apa perut Woo Joo sakit sekali. Woo Joo pun segera keluar.


Membaca pesan terakhir Se Gye, Do Jae merasa barusan dicampakkan. 

"Itu berita bagus. Sana periksalah ikan-ikannya." Sahut Joo Hwan, padahal ia sedang main game.


Do jae pun mendekati ikannya dan ia sudah menemukan nama untuk ikan yang baru. Tapi Joo Hwan tidak mau mendengarnya karena ia jelas bisa menebak namanya.


Karyawan Do Jae main game untuk menemtukan siapa yang harus mentraktir kopi. Mereka berusaha membuat Timjang kalah. Timjang kesal karena mereka sangat kejam padanya.

Mereka kemudian membahas tindik karyawan pria. Pria itu baru melakukannya akhir pekan ini. Timjang tidak menyadari perubahan itu. Karyawan wanita menyuruh Timjang lebih perhatian pada mereka. 

Timjang: Bagaimana coba caranya aku menyadari seorang pria yang telinganya ditindik? Bahkan Direktur Seo pun tidak akan menyadarinya.

Mereka meyalahkan Timjang, Direktur mereka itu menyadari setiap detail kecil. Untuk membuktikannya, Timjang mengajak yangl lain taruhan.


Dan saat Do Jae keluar, mereka menyapanya. Karyawan pria tadi di dorong ke depan oleh dua karyawan wanita. Awalnya Do Jae tidak membahasnya, tapi setelah beberapa langkah Do Jae berbalik, ia menyinggung soal tindik baru karyawan pria itu, Jung Min namanya.


Timjang pun kalah. Semua langsung menagih 50rb won pada Timjang. 

Jung Min malah bengong, hatnya berdegup kencang karena Do Jae. 


Saat akan membeli camilan, Do Jae lupa membawa dompetnya, jadi ia menyuruh  Joo Hwan yang bayar semuanya. Ia belinya banyak banget. Joo Hwan hanya bisa menatapnya.


Se Gye nonton kartun bersama Kingkang.

"Tadi aku merasa baik, tapi kutarik kembali. Hal itu hanya berlangsung satu hari. Sekarang memasuki hari kedua, aku merasa hampir gila."


Ibu yang sedang menata makanan di kulkas berkata, "Minum itu dan tonton TV dengan tenang. Jangan duduk terlalu dekat dengan TV."

"Astaga, dia pikir aku ini apa?"

Se Gye minum minuman yang dikasih ibunya dan ternyata rasanya lebih enak dari yang ia kira. Tapi tetap saja ia merasa sedikit tidak nyaman.


"Hari ketiga. Aku ingin sendirian."


Ibu terbangun karena Woo Joo tidak tidur. Ibu bertanya, apa Woo Joo masih merasa tidak nyaman padahal mereka sudah bersama selama tiga hari.

"Tentu saja. Aku sangat tidak nyaman. Aku tidak pernah berbaring di samping Ibu selama 10 tahun terakhir."


Kemudian ibu menepuk-nepuk Woo Joo dengan lembut sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.

"Ibu masih menyanyikan lagu pengantar tidur yang sama."

Dan Se Gye lama-lama terelap juga oleh nyanyian ibu. 

"Tapi rasanya... menenangkan."


Eun Ho akhirnya pulang ke rumah. A Ram yang nonton TV bareng ayah menyapa, Oh.. Eun Ho, lama tidak bertemu. Ibu terbelalak saat nama Eun Ho disebut, tapi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Eun Ho: Aku pulang.

Ibu: Cuci tanganmu lalu duduklah.

A Ram dan Ayah langsung mengkode Eun Ho untuk melakukannya.


Ayah membuka pembicaraan saat makan, ia berkata kalau rasa nasi hari ini lezat sekali. A Ram menyahut, amulnya juga dibumbui dengan sempurna. Ayah lalu menyenggol Eun Ho untuk melakukan sesuatu.

Eun Ho: Aku akan mencuci piringnya.

Ibu: Ya, lakukan.

AYah senang mendengarnya


Setelah semuanya selesai, Eun Ho masuk kemarnya.Ia menemukan sesuatu di meja. Buku Petunjuk Penerimaan Seminari 2019.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap