Friday, October 26, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 8 Part 3

Sumber: jtbc


Ternyata Do Jae sudah menunggu Se  Gye di dalam. Do Jae memprotes sandi rumah Se Gye, 10041004. Se Gye seingin itu disebut sebagai malaikat ya?

"Apa? Kau ingin aku mengubahnya jadi sesuatu yang tidak ada kaitannya? 0116?"

"Itu juga berkaitan sekarang."

"Sudah kubilang jangan mengatakan hal seperti itu seolah bukan masalah besar."


Se Gye langsung duduk disamping Do Jae sambil tersenyum. Do Jae menyukai aroma parfum Se Gye.

Se Gye mencium parfum Do Jae, tapi tidak ada bau apa-apa, "Kau tidak perlu melakukannya?"

"Aku tidak lagi melakukannya, karena aku mengingat aromamu."

"Aku sebaiknya hanya menggunakan parfum ini mulai sekarang. Aku bahkan tidak bisa mengganti parfumku. Ternyata berkencan bisa serumit ini."


Do Jae: Jangan menganggapnya rumit. Aku akan berterima kasih jika kau menganggapnya sebagai sebuah konsistensi.

Se Gye: Aku juga akan berterima kasih kalau kau melakukan hal yang sama. Tapi harus kukatakan, menjalin hubungan rahasia sangat menegangkan. Aku tidak menyangka rahasia bisa semenyenangkan ini. Di masa lalu, rahasiaku selalu membuatku cemas, sedih, dan kesepian.

Do Jae: Mulai sekarang, kurasa kita akan cemas, sedih, dan kesepian bersama.

Se Gye: Bukankah kita seharusnya tidak cemas, sedih, dan kesepian bersama?

Do Jae: Aku akan berusaha semaksimal mungkin.

Se Gye: Sekarang, aku lega.


Dan mereka saling tersenyum. Tapi selanjutnya malah dim-dieman, gak tahu mau ngapain lagi.


Do Jae melihat bohlam lampu yang mati, kenapa Se Gye tidak menggantinya?

"Aku sedang menunggu bertambah tinggi. Aku tidak bisa mencapai bohlamnya." Jawab Do Jae.

"Mau kugantikan untukmu?"


Do Jae langsung berdiri, ia melepas kancing bajunya yang paling atas dan jam tangannya. Dan tiba-tiba Se Gye histeris. 

"Bisa kau melakukan hal itu sekali lagi?" Pinta Se Gye.

"Hal itu?"

"Caramu melepaskan kancing baju... dan jam tanganmu barusan."

"Itu bukan apa-apa."


Do Jae langsung melepas jasnya dengan kerena dan melemparnya ke sofa. Se Gye ketawa ngakak. Do Jae pengen ketawa juga sih, tapi ia menahannya.

Se Gye: Keren, seksi, dan menggemaskan di saat bersamaan. Menggemaskan dan imut, tapi juga terasa panas.

Do Jae: Apa jadwalmu besok?

Se Gye: Bekerja.

Do Jae: Aku juga bekerja.

Se Ge: Kenapa, sih?


Do Jae duduk kembali. Ia mengaku tidak ingin bekerja, ia ingin tahu apa mereka bisa absen kerja bersama.

"Daebak. Ini pertama kalinya aku mendengar kau tidak ingin pergi kerja. Ada apa denganmu? Kau pasti tergila-gila padaku."

"Ya. Kurasa begitu."

"Kau tahu yang barusan terlintas di benakku? Kau kana sangat terkejut jika aku mengatakannya padamu. "Aku ingin berubah jadi orang lain sekarang juga. Maka kita bisa bersama seharian besok." Itulah yang kupikirkan. Kau lihat, ini pertama kalinya aku merasa begitu ingin berubah jadi orang lain."

"Katakan padaku. Bagaimana rasanya ketika hal itu terjadi pertama kalinya?"


Do Jae duduk kembali. Ia mengaku tidak ingin bekerja, ia ingin tahu apa mereka bisa absen kerja bersama.

"Daebak. Ini pertama kalinya aku mendengar kau tidak ingin pergi kerja. Ada apa denganmu? Kau pasti tergila-gila padaku."

"Ya. Kurasa begitu."

"Kau tahu yang barusan terlintas di benakku? Kau kana sangat terkejut jika aku mengatakannya padamu. "Aku ingin berubah jadi orang lain sekarang juga. Maka kita bisa bersama seharian besok." Itulah yang kupikirkan. Kau lihat, ini pertama kalinya aku merasa begitu ingin berubah jadi orang lain."

"Katakan padaku. Bagaimana rasanya ketika hal itu terjadi pertama kalinya?"


Saatnya Do Jae pulang. Se Gye mengantarnya sampai pintu. Ia berpesan agar Do Jae hati-hati di jalan dan jangan sampai tertangkap.

"Aku akan pulang dengan selamat. Dan tidak akan tertangkap basah."

Se Gye menawari, mau ia antar? Dan Do Jae tersenyum.


Se Gye pun mengantar Do Jae sampai di depan rumah. Dan Se Gye terdengar kecewa karena mereka sudah sampai. 

"Omong-omong, bagaimana kau akan pulang?" Tanya Do Jae. 

"Apa?"

"Ini mobilku."


Akhirnya Do Jae mngantar balik Se Gye.

"Selamat malam. Mimpi indah."

"Terima kasih tumpangannya."

"Masuklah. Aku akan pergi setelah kau masuk ke dalam."

Se Gye langsung turun.


Tapi ia tidak tega melepas Do Jae pergi. Ia pun kembali lagi, "Kau mau makan ramyeon?"


Ternyata keduanya sudah ditunggu oleh Joo Hwan dan Woo Mi yang kesal. 

Woo Mi: Aku sudah melarangmu ke mana-mana, kau malah mengundangnya masuk?

Se Gye: Woo Mi-ah, bukan seperti itu.

Woo Mi: Sudah kuduga, inilah rencanamu saat kau menyemprotkan parfum itu.

Joo Hwan: Kau sengaja membuatku kerja lembur, 'kan?

Do Jae: Hm, Sekretaris Jeong. Bukan seperti itu.

Joo Hwan: Aku sudah merasa aneh ketika kau bercermin.

Woo Mi: Tetanggamu menelepon polisi, mengatakan orang-orang mencurigakan berkeliaran di sekitar sini.

Joo Hwan: Kalian berdua jelas terlihat mencurigakan. Menghindari perhatian orang-orang dengan menggunakan topi baseball dan lainnya.


Dan terdengar suara sirine polisi. Woo Mi dan Joo Hwan langsung berkontak mata. Mereka sama-sama mengambil topi Se Gye dan Do Jae.

Keduanya hendak menemui polisi dan tetangga yang melapor.

"Siapa namamu?" Tanya Joo Hwan.

"Yu Woo Mi."

"Lee Yu Mi?"

"Yu Woo Mi."

"Oh, Yu Mi?"

Woo Mi melirik Joo Hwan kesal.


Woo Mi dan Joo Hwan langsung bersikap manis pada pak polisi. Mereka minta maaf. Pak Polisi menjelaskan kalau tetangga khawatir karena mereka berdua berkeliaran saat sudah larut.

Woo Mi: Masalahnya, dia memiliki karakteristik wajah yang membuat orang lain ingin berkelahi dengannya.

Joo Hwan: Ah, ya. Itu benar. Biasanya, aku membuat orang-orang merasa seperti itu.

Woo Mi: Kami berusaha yang terbaik menutupi wajahnya, tapi kurasa tidak cukup. Astaga, aku tidak percaya orang-orang melibatkan polisi. Bukan begitu, sayang?

Joo Hwan: Kurasa kau yang sekarang sedang mencoba bertengkar denganku.

Polisi: Bagaimanapun, tolong hati-hati, ya?


Maka polisi dan tetangga yang melapor pun pergi.


Setelah semuanya pergi, Woo Mi dan Joo Hwan mau muntah.

Joo Hwan: Beraninya kau menyentuhku? Dan apa? Sayang? Auh, aku hampir muntah.

Woo Mi: Tidak bisa dipercaya aku harus begini gara-gara Han Se Gye.


Sa Ra pulang dan ia langsung berbaring di sofa sambil menutup matanya. "Aku ingin tahu apa ada yang hendak menciptakan mesin penghapus riasan wajah otomatis dalam waktu dekat ini."


Lalu datanglah Eun Ho dan langsung mengabulkan permohonan Sa Ra itu. 

"Sedang apa kau?" Tanya Sa Ra.

"Aku sudah sering melakukannya, jangan khawatir. Setiap kali teman-temanku roboh setelah minum. Maksudku, bagaimanapun Han Se Gye adalah seorang aktris. Setidaknya, aku harus merawat kulitnya."

"Aku tidak ingin terbangun gara-gara terkejut. Aku bahkan tidak ingin mengangkat seujung jari pun sekarang karena terlalu lelah."

"Kenapa?"

"Gara-gara temanmu."

"Apa mereka sungguh putus?"

"Aku tidak akan komplain kalau mereka berakhir begitu saja, tapi karena mereka memilih putus dengan cara yang keren, aku jadi agak stres. Ditambah lagi, Direktur Kim bicara omong kosong. Bukan. Kalau dia hendak bicara omong kosong, seharusnya dia yang mendatangiku. Beraninya dia menyuruhku datang? Biasanya aku tidak mengatakan pada orang lain tentang hal-hal seperti ini. Kenapa aku menceritakannya padamu?"

"Karena aku mendengarkanmu. Kau tidak mengatakan pada siapapun karena tidak ada yang mendengarkanmu sebelumnya. Tapi, aku mendengarkanmu. Kau bisa menceritakan segalanya."


Sa Ra langsung bangun, menanyakan apa maksud Eun ho, Eun Ho menginginkan sesuatu darinya kan?

"Wah, bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku ini seorang pebisnis. Jadi, apa?"

"Kau punya banyak uang, 'kan? Kenapa kau tidak berdonasi?"

"Bagaimana kau bisa mengatakannya seolah kau sedang menjual sesuatu? Kalau aku berdonasi, lalu bagaimana denganmu? Apa yang bisa kau lakukan untukku?"

"Jika kau berdonasi, aku akan tersenyum. Katamu, senyumanku memiliki nilai sebagai sebuah komoditas."


Tapi Sa Ra tetap melakukannya dan Eun Ho yang mengantarnya. Teman Eun Ho bertanya siapa yang mengirim semua itu. Eun Ho menjawab, seseorang yang menyukai senyuman.


Eun Ho menatap ibu yang kemarin akan bunuh diri itu. Ibu yang selalu menunggu anaknya yang sudah meninggal di pinggir jalan.


Ada dua orang Ahjumma yang membicarakan wanita itu.

"Wanita itu sangat tidak berperasaan."

"Bicara apa kau? Dia dalam keputusasaan."

"Ketika anaknya tewas, dia mendonorkan jantung anaknya pada anak lain. Aigoo, bagaimana bisa dia membiarkan dada anaknya dibedah begitu? Aku tidak akan sanggup."

"Apa manfaatnya jika menguburkannya? Hanya akan membusuk. Jika jantung anakku yang telah tiada bisa terus berdetak di tubuh orang lain, hal itu akan membuatku terhibur."


Seorang Pastor menghampiri Eun Ho, apa Eun Ho sudah memutuskan panggilan mana yang hendak Eun Ho jawab? Pastor itu memanggil Eun Ho, Julian.

"Saya sudah menetapkan pikiran sejak lama, Bapa."

Pastor mengelus bahu Eun Ho lalu pergi.


Eun Ho berbalik dan ternyata ayahnya datang. 


Mereka lalu bicara berdua. Ayah meminta Eun Ho pulang kerumah. 

"Bagaimana Ayah bisa menemukanku?"

"Bukan masalah bagaimana caranya. Sekarang, pulanglah. Jika tidak, ibumu bisa meninggal."

"Ayah, aku tidak bisa menjalani kehidupan seperti yang Ibu inginkan."

"Aku mengerti. Jadi, pulanglah."


Woo Mi sedang berdebat dengan kru. Woo Mi kesal karena hal yang diminta kru tidak ada dalam kontrak.

"Lihat situasinya sekarang. Itu mustahil. Bagaimana bisa kau minta izin seminggu dalam situasi seperti ini?"

"Kami adalah pribadi sehingga menyertakannya dalam kontrak. Auh. Jika kau tidak mematuhi kontrak, kami akan mengambil langkah hukum."

"Kami akan segera syuting di luar kota. Tunggu sampai saat itu. Atau sana bicara pada Sutradara! Dia bahkan bukan aktris utama. Ini konyol."


Woo Mi kesal bukan main dengan tanggapan kru itu. 


Saat sedang make up, Yu Ri mengajak Se Gye bicara.

Yu Ri: Apakah jadi hobimu menyulitkan orang lain?

Se Gye: Apakah hobimu mengajak orang lain bertengkar?

Yu Ri: Kau meminta liburan? Kenapa tidak sekalian keluar saja?

Se Gye: Demi siapa?

Yu Ri: Menurutmu? Untuk kebaikan semua orang. Jika kau mulai emosional lagi, kami akan menderita.

Se Gye: Mari hentikan.

Yu Ri: Kau berusaha keras menjadikan perpisahanmu sebagai sesuatu yang indah. Tolong bekerja keraslah seperti itu sebagai seorang aktris. Kumohon.


Se Gye rapat dengan Woo Mi dan Eun Ho. Se Gye mengajak Woo Mi melanjutkan sejauh yang mereka mampu.

Woo Mi: Kau gila, ya? Kau bisa dapat masalah. Waktunya tiba sebentar lagi.

Se Gye: Mereka semua akan dapat masalah tanpa aku.

Eun Ho: Kau jadi lebih dewasa setelah dicampakkan.

Se Gye: Aku tidak dicampakkan.

Eun Ho: Benar. Kau yang mencampakkan. Apa tadi? "Teman yang luar biasa dalam kehidupanku"? "Orang yang sangat kuhormati"?

Se Gye: Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Kau kan tidak pernah membaca artikel tentangku.

Eun Ho: Ada yang memberi tahu aku.

Se Gye: Siapa?

Eun Ho: Pokoknya ada.


Woo Mi setuju, baiklah. Mari lakukan ini. Se Gye cukup mengatakan padanya jika itu terjadi. Ia akan langsung menculik Se Gye dari lokasi.

Se Gye: Baiklah. Aku tidak akan membuat kesalahan sehingga syuting bisa selesai lebih awal. Aku akan memberimu banyak waktu luang.


Eun Ho: Jika kau punya waktu luang, pergilah menjadi sukarelawan.

Se Gye: Maaf. Aku akan terlalu sibuk bersenang-senang.

Eun Ho: Kalau begitu, setidaknya berdonasilah.

Se Gye: Maaf. Karena kau yang menyuruhku, aku tidak mau.

Woo Mi: Kau lebih baik tutup saja mulutmu. Itu akan membantumu dalam pekerjaan sukarelawanmu.



Eun Ho: Belum lama ini, aku mengunjungi pusat kesejahteraan itu lagi. Aku melihat Ajumma yang kau selamatkan. Tenyata, jantung dari anaknya yang meninggal didonasikan pada orang lain.

Woo Mi: Luar biasa sekali. Tidak sembarang orang sanggup melakukannya.

Se Gye: Tapi, kita seharusnya tidak sekedar memujinya atas yang telah dia lakukan.

Eun Ho: Benar.

Se Gye: Aku memikirkannya dari waktu ke waktu. Tatapan matanya begitu kosong, seolah dunia telah berakhir.

Eun Ho: Sebuah dunia.. sampai pada akhirnya.

Woo Mi: Augh. Aku tidak bisa berhenti minum malam ini. Mari makan mi beras sebagai penangkal mabuk besok. Setuju?


Semuanya setuju. Tapi Eun Ho harus balik, ia janji akan membawa Kingkang besok. 

"Kau sudah mau pergi?" Tanya Se Gye.

"Aku kan sedang tinggal di rumah orang lain. Tidak pantas bagiku pulang terlambat. Sampai jumpa."

Setelah Eun Ho pergi, Se Gye bertanya pada Woo Mi, apa Woo Mi tidak khawatir pada Eun Ho?

"Kenapa harus?"

"Dia hidup seperti seorang budak."

"Pada A Ram, dia bilang dia tidur di jalanan."

"Padamu?"

"Aku tidak pernah bertanya. Dia sudah dewasa. Aku yakin dia bisa menjaga diri sendiri."

"Hei! Dia itu temanmu."

"Justru aku begini karena aku temannya."

Se Gye memutuskan, mereka harus melakukan sesuatu. 


Dan sesuatu itu adalah membuntuti Eun Ho. Mereka mengendap-endap saat membuntuti Eun Ho. 

Woo Mi khawatir, sungguh tidak masalah seperti ini? 

"Bagaimana kalau ada orang jahat yang memanfaatkan dia?"

"Kita yang terlihat seperti orang jahat sekarang."

"Tidak."


Di dalam, Sa Ra sedang nonton TV bersama Kingkang. Nonton acara ragam.


Tapi saat mendengar suara sadi pintu dipencet. Sa Ra langsung mengganti saluran menjadi acara tentang maskapai penerbangan dan ia kembai bersikap tegas.


"Aku pulang." Sapa Eun Ho. 

"Hari ini kau pulang larut."


Tiba-tiba Kingkang berlari keluar. Sa Ra yang melihat itu langsung berlari mengejar. Kilat banget larinya. Eun Ho saja sampe bingung.




Kingkang langsung keluar untuk menemui pemiliknya, ia daritadi sudah merasakan sesuatu. 

Dan ketemulah Sa Ra dengan Se Gye berkat Kingkang. Eun Ho juga keluar.

Se Gye: Situasi... yang menarik.

Sa Ra: Aku... 

Se Gye: Aku mendengar rumor kau berusaha keras untuk menemukan kelemahanku. Tapi, tampaknya justru aku yang menemukan kelemahanmu. Saat ini.

Sa Ra: Aku tidak mengerti apa maksudmu.


Eun Ho berdiri melindungi Sa Ra. Ia berkata kalau ia bukan kelemahan Sa Ra. Ia akan pergi dari rumah Sa Ra sekarang.

Eun Ho lalu pamitan pada Sa Ra. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih.


Se Gye memanggil Eun Ho. Eun Ho memandang temannya itu, dengan menekan nada bicaranya, ia menyuruh mereka berdua pergi dan bicara dengannya besok! 


Eun Ho ini kan orannya lembut, jadi kalau marah gini tegang banget jadinya, walau suaranya tetap lembut, tapi tetap membuat tegang.

Eun Ho lalu menarik Sa Ra masuk. 


Woo Mi: Sudah kubilang. Kita benar-benar orang jahat.


Eun Ho memberi Sa Ra uang. Uang untuk lampu gantungnya tidak termasuk upah kerjanya.

"Apa kau bahkan tahu berapa harganya?"

"Harga termurahnya di internet 388.000 won. Kau lebih sederhana dari yang kukira. Dan ini adalah.. sedikit bentuk rasa terima kasihku.. karena telah diizinkan makan dan tidur di sini."

Eun Ho memberi Sa Ra bingkisan.


Sa Ra: Apa yang akan kau katakan pada teman-temanmu?

Eun Ho: Aku akan mengatakan yang sebenarnya.

Sa Ra: Dan kebenarannya adalah?

Eun Ho: Ini merupakan tempat kerjaku.

Sa Ra: Kapan kau akan pergi?

Eun Ho: Besok.

Sa Ra: Kapan kau memutuskan hal itu?

Eun Ho: Hari ini.

Sa Ra: Setelah kau pergi, apakah kau akan datang jika aku meneleponmu? Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya merasa repot kalau harus mencari asisten rumah tangga lain. Bahkan meski aku menemukan orang baru, akan butuh waktu untuk beradaptasi di rumah ini. 

Eun Ho: Kau akan meneleponku? Maka, aku akan datang.

Sa Ra: Sejak kapan kau tahu tentang harga lampu gantungnya?

Eun Ho: Sejak awal.

Sa Ra: Benar-benar, pria zaman sekarang... begitu serampangan. Baiklah kalau begitu. Aku akan meneleponmu. Datanglah saat itu.

Dan Sa Ra langsung masuk kamarnya.


Di dalam kamar, Sa Ra memeriksa dokumen pekerjannya. Lalu ia melihat makanan pemberian Eun Ho menumpuk di mejanya, ia mencoba satu dan bergumam kalau rasanya begitu manis.


Sa Ra akan berangkat kerja dan ia melihat ada sarapan di meja makan. Ia pun mendekat.

Supnya masih mengepul, artinya masakannya baru matang.  Sa Ra menghela nafas.

"Sudah kubilang, aku tidak sarapan." Tapi ia tetap memakannya. 

0 komentar

Post a Comment