Friday, October 26, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 8 Part 2

Sumber: jtbc


Ibu menggerutu kesal, "Putraku benar-benar membuatku gila."


Ibu mau melampiaskan kekesalannya dengan memotek tumbuhan di pot di depannya. Tapi Prpfessor Park segera mencegahnya, itu bukan rumput liar, katanya.

"Kalau tumbuhan bersikap seperti rumput liar, maka harus dicabut."

"Jangan seperti itu. Kalau tumbuhannya menderita, kau harus memberinya pupuk dan merawatnya."

"Bisakah kau menemui Do Jae? Dia tidak mau mendengarkanku."

"Dia selalu mendengarkanmu."

"Kalau bertemu dia, emosiku mungkin tidak terkontrol. Tidak bisakah kau mencoba bicara padanya?"


Se Gye menemui Sutradara Park, ia minta maaf karena merusak MT-nya.

"Kenapa kau minta maaf padaku karena jatuh sakit? Kau seharusnya minta maaf pada dirimu sendiri karena tidak merawat diri dengan baik."

"Maafkan aku."

"Kau ada latihan syuting hari ini, 'kan? Kau akan baik-baik saja?"

"Tentu. Aku akan segera menemui tim laga."

"Baiklah. Kita akan segera mulai syutingnya. Jaga dirimu. Pergilah."


Se Gye minta ijin untuk menanyakan sesuatu. Sutradara mengijinkan. Se Gye pun bertanya, kenapa harus Yu Ri? Apa yang Sutradara sukai darinya?

"Dia.. berbeda darimu."

"Apa perbedaannya? Aku ingin tahu."

"Dia... sangat mencintai dirinya sendiri, berbeda denganmu. Kalian berdua memiliki masalah yang sangat berbeda. Jadi, aku mengandalkanmu, Se Gye-ya."


Se Gye dan Yu Ri latihan menembak. Saat pelatih meninggalkan mereka. Yu Ri mengajak Se Gye bicara. Yu Ri menyinggung soal putusnya hubungan Se Gye.

"Sebaiknya kau tidak bikin masalah saat aku sedang memegang pistol."

"Rumor bilang, kalian putus gara-gara semua liputan itu. Apakah itu benar?"

"Kenapa kau mendadak bicara sangat sopan padaku? Kau terdengar sangat berbeda dari malam itu."

"Aku? Kapan?"


Yu Ri menatap Se Gye. Se Gye pun balik menatapnya, ia mengulang pertanyaan Yu Ri dengan penuh penekanan, Aku? Kapan?

"Omo. Aku pasti mabuk. Aku seperti itu saat sedang mabuk. Kadang, aku bahkan sampai pingsan. Omong-omong, kapan kalian putus? Sebab itukah kau bersikap begitu saat MT? Kau minum begitu banyak karena sedang patah hati?"

"Katamu, tidak ingat malam itu."

"Ya, aku tidak ingat. Tapi, Seonbaenim--"

"Hei. Berhentilah bicara padaku."

"Kau tahu? Aku menyelamatkan nyawamu. Kalau aku tidak meminta bantuan yang lainnya, kau tidak akan bisa berdiri di sini sekarang."


"Astaga, dia berisik sekali. Haruskah kutembak dia?"

"Apa?"

"Tapi pelurunya bisa sia-sia."

Dan Se Gye berhasil menembak target.


Do Jae menelfon seseorang, "Itu tidak benar. Tolong tulis kebenarannya. Kami sepakat berpisah untuk fokus pada karir masing-masing. Itu saja."

Sementara itu, Joo Hwan bersungut-sungut disampingnya.


Joo Hwan mengeluhkan paginya yang penuh melalukan hari ini. Ia bertanya pada Do Jae, kapan sebenarnya mereka mulai berkencan?

"Kemarin."

"Terus kenapa kau menginginkan artikel itu?"

"Ya, terjadi begitu saja."


Joo Hwan langsung mau mengundurkan diri, tapi Do Jae tidak mengijinkannya. Kalau begitu, Joo Hwan minta kenaikan gaji. Do Jae tambah tidak menyetujuinya.

"Aku pulang."

"Tidak boleh. Masih tersisa 30 menit lagi."

Joo Hwan mendengus kesal.


Profesor Kang tiba-tiba datang. Do Jae heran, kenapa ayahnya datang? Profesor Kang mengatakan kalau ia hanya mampir dan sebaiknya ia menemui putranya.

"Apakah Ibu yang menyuruh berkata seperti itu?"

Profesor Kang tersenyum.


Mereka makan bersama. Profesor Kang bicara muter-muter, ia bahkan membicarakan pohon yang sakit. Tidak ada pohon yang tumbuh tanpa masalah. Lalu ia memegang tangan Do Jae, bahkan meski kisah cinta Do Jae gagal, Do Jae bisa--


Do Jae menarik tangannya, "Bukan seperti itu."

Tapi Profesor Kang memegangnya lagi, "Tak apa. Tak apa. Semua orang pada awalnya seperti itu. Anggap saja ini merupakan kesempatan untuk tumbuh dewasa."

Do Jae kembali menarik tangannya lagi dan kali ini tidak membiarkan Profesor Kang memegangnya lagi, "Sungguh bukan seperti itu."

"Jangan terlalu menderita. Jika terlalu berat, lampiaskan dengan menangis."

"Tidak berat, kok."

"Kau akan menemukan orang lain. Gadis itu tidak menyadari nilaimu yang sesungguhnya. Kau seorang pria yang hebat--"

Profesor Kang memelankan suaranya, ia bertanya apa Se Gye mungkin memberikan Do Jae kesempatan kedua? Do Jae pusing mau menjelaskan bagaimana lagi, ia hanya menghela nafas. 

"Oh. Maaf. Aku semestinya tidak berkata begitu. Kau mau minum?"

Do Jae kembali menghela nafas.


Do Jae dan Se Gye bertemu diam-diam. Se Gye merasa ini tidak benar, mereka harus melakukan sesuatu. Do Jae setuju. Lalu Se Gye kesal karena Do Jae memerintahkan untuk merilis artikel itu, memperumit keadaan saja. Do Jae mengingatkan, Se Gye lah yang ingin membatalkan kesepakatan mereka.

"Tetap saja, bagaimana bisa kau langsung melakukannya?"

"Semestinya tidak begitu?"

"Kau sangat menjengkelkan."


Do Jae kembali mengatakan kalau ia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Se Gye melarangnya mengatakan hal itu lagi.

"Kenapa? Kau tidak menyukai diriku apa adanya?"

"Tidak. Hanya saja aku jadi merasa kasihan padamu. Merasa kasihan membuat hatiku sakit."

"Mengharukan sekali."

"Ayolah. Tidak perlu terharu karena hal semacam itu."


Se Gye tersenyum lebar, omong-omong apa ia tampak agak berbeda hari ini? Do Jae menjawab kalau itu pertanyaan yang paling dibenci para pria.

"Aku tahu." Balas Se Gye.

"Anting-antingnya. Cocok untukmu."

"Tepat sekali. Kau berbeda dengan pria lain."

"Kau memiliki selera yang bagus soal pria."

"Kau itu sedang memujiku atau dirimu sendiri, sih?"

"Aku memuji diriku sendiri."

"Sebentar! Diam di situ."


Se Gye langsung memotret Do Jae. Saat Do Jae bertanya ia sedang apa, ia bilang tidak melakukan apapun dan sebaiknya ia pulang ke rumah sekarang.

Se Gye: Sampai jumpa di pertemuan rahasia kita selanjutnya.

Do Jae: Han Se Gye-ssi. Telepon aku kalau kau sudah sampai rumah.

Se Gye: Kenapa?

Do Jae: Jika tidak, aku bisa khawatir.


Se Gye langsung meleleh. "Astaga! Dia benar-benar tampak seperti kekasihku!"


Se Gye langsung mengirim pesan setelah sampai di rumah. Tapi ia dikagetkan oleh kemunculan Woo Mi yang mendadak. Woo Mi bertanya ia dari mana.

"Itu.. Ayahnya salah satu temanku mendadak meninggal, jadi aku menjenguk dia."

"Ah.. Ayahnya temanmu meninggal? Dan kau ke sana memakai anting-anting cantik itu? Kau menemui Paman? Dalam situasi seperti ini?"

"Bagaimana kau bisa tahu? Kalau panggilannya Paman?"

"Menurutmu bagaimana aku tahu? Kalian mengungkitnya dalam wawancara."

"Ah.."

"Ah.. Aku sedang dalam proses membatalkan semua jadwal wawancaramu, tahu! Sana minta Paman untuk membatalkan wawancara T Road Air-mu dengan baik, tanpa masalah."

"Aku harus melakukannya, 'kan?"


Tapi Se Gye tidak mau itu dibatalkan. Woo Mi heran, kenapa? Apa lagi kali ini?

"Aku akan mengubah krisis menjadi kesempatan." Jawab Se Gye.


Se Gye datang ke T Road Air bersama Woo Mi. Woo Mi berbisik, ia tidak yakin ini adalah ide bagus. Tapi Se Gye menyuruhnya percaya padanya.

Kedatangan Se Gye langsung memenuhi grup chat seluruh karyawan. Mereka langsung berkumpul untuk memotret Se Gye.

Mereka mempertanyakan alasan Se Gye datang ke perusahaan padahal sudah outus dengan Dirktur mereka. Mereka tegang.


Joo Hwan menunjukkan model maskapai yang akan mereka beli. Tapi Do  Jae enggak fokus, ia langsung beranjak saat mendengar notifikasi kalau ponselnya menerima pesan baru.

Itu adalah pesan Se Gye yang mengabari kalau ia sudah sampai, ia sekarang menuju ke lokasi wawancara.

Joo Hwan: Kau harus menyetujuinya agar kami dapat memprosesnya.


Tapi Do Jae malah mengambil jasnya. Joo Hwan lalu melihat ponsel Do Jae.

"Mau ke mana kau?" Tanya Joo Hwan setelah membaca pesan Se Gye.

"Berikan padaku. Mau gajimu dipotong?"


Do Jae keluar ruangan saat para staf-nya heboh mencari alasan untuk melihat Se Gye. Tapi kemudian mereka mengikuti Do Jae.


Semua karyawan yang melihat Se Gye juga mengikutinya.


Se Gye dan Do Jae bertemu mata, mereka saling mengkode. Do jae tersenyum tipis, lucu. 


Saat Do Jae dan Se Gye berhenti di hadapan masing-masing, semuanya memasang mata dan telinga, tidak mau ketinggalan apapun.


Do Jae mengawali pembicaraan dan mereka menggunakan bahasa informal.

Do Jae: Kurasa, kau datang untuk bekerja.

Se Gye: Sepertinya kau hendak pergi bekerja.

Do jae: Semoga berhasil. Dariku selaku Direktur Eksekutif.


Do Jae mengulurkan tagannya. Woo Mi da Joo Hwan mulai tegang. Kemudian Se Gye meyambut uliran tangan Do Jae, bersalaman. 

Se Gye: Tentu saja. Bagaimanapun, aku model maskapai ini. Semoga sukses.


Dan mereka berpisah, tapi Do Jae memanggil, meminta Se Gye menelfon jika sudah selesai.

"Kenapa kita tidak makan malam bersama?" Lanjut Do Jae.

"Baiklah. Aku yang traktir."

"Baiklah."


Mereka kagum dengan hubungan Se Gye dan Do Jae yang tetap baik walaupun mereka sudah putus. Mereka merasa sedang berada di Hollywood.


Se Gye mengirim pesan pada Do Jae. "Bagaimana? Bagaimana? Kita tidak pernah bicara sesantai itu."

"Benar sekali."

"Oh... Aktingmu meningkat drastis."

"Aku sangat gugup. Kau tidak merasakannya?"

"Tidak heran, tanganmu teras dingin."


Se Gye mengakhiri acara kirim pesanya, ia pun meminta maaf pada Reporter, ia beralasan kalau rekan aktrisnya menghubungi. Woo Mi yang tahu alasan sebenarnya langsung melirik Se Gye tajam.

Reporter: Tapi, tampaknya kau masih berhubungan baik dengan Direktur Seo. Sebelumnya kami khawatir kau mungkin membatalkan wawancara.

Se Gye: Hanya karena kami putus, bukan berarti kami tidak bisa bertemu. Dia teman yang luar biasa dalam hidupku. Dan aku juga sangat menghormati dia.

Reporter: Bisa kita memulainya sekarang?

Se Gye: Tentu.


Do Jae kembali mengirim pesan, "Itukah yang disebut dengan pria dingin tapi tampan?"

Joo Hwan datang, ia berdiri disamping Do Jae sambil menghela nafas. Do Jae memintanya menunggu sebentar.

"Tunggu! Aku menerima tawaran bisnis." Kata Do Jae.

"Aku tidak merasa menerima pengajuan proposalnya. Sedang berkomunikasi dengan siapa sih kau sekarang?"

"Hm, tunggu.. Sebentar lagi selesai."

"Apa kau bahkan mendengarkan aku? Hei!"

"Apa? Apa katamu?" Akhirnya Do Jae memandang Joo Hwan. 

"Bukan apa-apa. Apa yang sebaiknya kulakukan sekarang?"

"Kau bisa... pulang ke rumah."

"Pulang ke rumah? Sekarang?"


"Ya." Jawab Do jae sambil merapikan rambutnya. 

Reaksi Joo Hwan tak menyangka Do Jae akan berubah seperti ini.


Se Gye terus mngirim pesan bahkan saat mereka akan pulang. Woo Mi cemas, hingga ia meminta ponsel Se Gye. Tapi tentu saja Se Gye menolak memberikannya. 

"Kau bisa membuatku mati gara-gara khawatir. Aku akan menyita ponselmu."

"Kenapa? Aku bekerja dengan baik hari ini."

"Secara teknis, kau itu sedang pamer."

"Aku tidak pamer, kok."

"Terus apa-apaan dengan foto profil akunmu?"

"Apa?"

"Itu! Tangan itu! Itu tangannya Seo Do Jae."


Se Gye mengecek foto profilnya dan itu memang benar tangannya Do Jae. Foto yang ia ambil kemarin.

Se Gye: Apa maksudmu? Itu hanya gambar biasa.

Woo Mi: Kau anak kecil, ya? Tidaklah. Anak-anak pun tidak akan seperti ini. Anak zaman sekarang tidak berkencan seperti itu.


Se Gye mendadak memperbaiki riasannya dan memakai parfum. 

"Hei! Kenapa mendadak kau memakai parfum?"

"Kenapa, sih? Aku ingin kau merasa bahagia. Aku ingin mengubah suasana hati, atmosfir, dan topiknya."

"Auh, bau sekali. Benar-benar!"

"Lihat depan. Oh, kita bisa kecelakaan, tahu! Lihat depan!"



Woo Mi memastikan Se Gye masuk ke dalam rumah baru pergi. Se Gye menagaskan kalau ia tidak akan  pergi kemana-mana.

"Aku ingin melihatmu masuk sebelum aku pergi."

"Aku sungguh-sungguh."

"Aku ingin melihatmu masuk ke dalam dan kutunggu selama 30 menit di luar, baru aku pulang."

"Aku masuk sekarang. Lihat, ya? Aku masuk."


Se Gye menekan sandi pintu, tapi Woo Mi tiba-tiba memukul pintu, ia menatap Se Gye taja.

Woo Mi: Kau lebih baik tidur saja. Jangan pergi ke mana pun. Kuberi kau pelajaran kalau sampai kena masalah.

Se Gye: Aku mengerti.


Kemudian Se Gye masuk ke dalam dan Woo Mi memperhatikan sekitar baru ia pergi. Se Gye mengintip dari dalam, memastikan kalau Woo Mi benar-benar sudah pergi.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap