Thursday, October 25, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 8 Part 1

Sumber: jtbc


Kilas balik.. Saat Do Jae mengalami kecelakaan di luar negeri. 

"Aku menutup mataku untuk sesaat lalu membukanya..."


Do Jae membuka matanya, kemudian tim dokter datang untuk memeriksa.

"Seisi dunia telah berubah ketika aku sadar."

Ibu senang karena Do Jae sudah sadar, ia memanggil Do Jae, tapi Do Jae melah bertanya siapa Ibu. Ibu langsung lemas.


Dokter menjelaskan kondisi Do Jae setelah melakukan scan kepala.

"Itu Prosopagnosia. Disebut juga kebutaan wajah. Syoknya telah memengaruhi lobus temporal."

"Kebutaan wajah?"

"Mungkin kedengarannya aneh, tapi untuk menyederhanakannya, sebuah bagian dari lobus temporal, yang memiliki kemampuan mengenali wajah, tidak lagi berfungsi."

"Apakah ini bersifat sementara?"

"Aku khawatir untuk kasus ini, tidak ada terapi penyembuhan."


Do Jae keluar dari ruangan dokter, ia jalan sambil melamun dan saat ia menatap semua orang, wajah mereka sama persis.

"Kemudian, aku tersadar. Bukan dunia yang telah berubah, melainkan diriku."


Kemudian Do Jae mulai belajar membedakan ikan, mulai saat itu Joo Hwan sudah mendampinginya. Joo Hwan menguji Do Jae untuk menunjuk ikan-ikan yang ia sebutkan namanya. Tapi Do Jae selalu membuat kesalahan.

"Makan waktu yang sangat lama untukku."


Sepertinya Do Jae butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menunjuk semua ikan dengan benar. Barulah ia bisa tersenyum. 

"Untuk dapat mengenali hal-hal yang aku sukai."


Do Jae kembali ke Korea akhirnya setelah sekian lama. Ibu sudah menunggunya di Gerbang kedatangan. Do Jae mencari-cari sosok ibu dan ia menemukannya. 

"Gaya rambut, pakaian, cara berjalan, dan aroma yang unik. Cara bicara.. dan kebiasaannya."


"Ibu.. Aku pulang."

Ibu sangat terharu Do Jae bisa mengenalinya. Ibu langsung memeluknya dan memujinya.


"Bahkan saat aku mulai mengenali orang yang kucintai.. melalui petunjuk-petunjuk itu. Seseorang yang tetap tidak dapat kukenali seumur hidupku... adalah diriku sendiri."

Jadi Do Jae tidak bisa mengenali wajahnya sendiri. T.T


Kembali di atap Rumah sakit. Do Jae bicara, "Kurasa, saat itulah semuanya dimulai." 

"Seseorang yang kucintai, yang dapat.. dan harus kukenali. Aku secara tidak sadar mulai mengecualikan diriku sendiri dari daftar tersebut."


Do Jae melanjutkan, "Sejak hari itu, aku tidak pernah mencintai diriku sendiri. Tidak sekalipun."

"Lalu, dapatkan seseorang sepertiku.. mencintaimu... juga diriku sendiri?"


Do Jae mendekati Se Gye, "Apakah kau akan baik-baik saja... bersamaku?"

"Kau sungguh-sungguh?"

"Aku sungguh-sungguh."

"Aku tidak memercayaimu. Buktikan padaku."


Do Jae mengusap airmata Se Gye lalu menciumnya.


Setelah Do Jae melepaskan ciumannya, Se Gye agak mau roboh, tapi Do Jae segera menahannya. Se Gye mematiskan, apa Do Jae menyukainya? Do Jae membenarkan. 

"Bahkan meski aku tidak cantik?" Tanya Se Gye lagi."

"Meski kau tidak cantik."

"Terima kasih... karena menyukaiku. Karena menyukaiku... tanpa peduli kondisiku."


Se Gye lalu menanyakan apa yang akan tejadi pada kontrak mereka. Do Jae menjawab kalau ia sudah menyobek-nyobeknya. Kontraknya sudah tidak ada.

Se Gye tiba-tiba mendorong Do Jae dengan lembut, "Kalau begitu, hanya aku yang memiliki kontraknya sekarang."

"Itu membuatku cemas."


Selanjutnya, mereka menghadap Woo Mi. Se Gye mengatakan kalau mereka putus, tapi berkencan sungguhan sekarang.

"Kami memutuskan untuk berkencan. Tapi, akan muncul artikel tentang kami putus." Tambah Do Jae.

Woo Mi bengong mendengarnya, ia lalu mengecek internet dan memang benar, artikel soal putusnya mereka sudah rilis. 


Woo Mi akan marah, tapi Se Gye buru-buru menggenggam tangan Do Jae. Se Gye mengatakan terjadi begitu saja. Woo Mi menoleh pada Do Jae dan Do Jae mengangguk.

"Bisa tidak lakukan satu hal saja dalam satu waktu? Satu masalah saja!"


Sampai di rumah, Se Gye berlutut pada Woo Mi. Woo Mi bertnaya, Se Gye minum sebanyak itu gara-gara bedebah itu? Bisa tidak Se Gye berhenti menelan segalanya gara-gara dia?

"Tidak, tidak akan pernah."

"Kau minum alkohol sampai ambruk.. dan bahkan sengaja kelaparan. Aku tidak bisa membiarkanmu mengencani pria seperti itu."

"Itu gara-gara stres akibat pekerjaan. Murni karena pekerjaan. Ya, gara-gara Chae Yu Ri."


Woo Mi memperingatkan, pertanyaan selanjutnya merupakan hal yang lebih penting. Sebaiknya Se Gye menjawab dengan jujur.

"Kau... yang mengaku duluan?" Tanya Woo Mi.

"Tidak, dia duluan. Aku langsung menolaknya. Kubilang padanya kami harus mengakhirnya. Tapi, Se Do Jae-ssi.."

"Kalau begitu, cukup."

"Woo Mi-ya. Aku sungguh minta maaf."


Woo Mi meminta Se Gye diam. Ia mengirim pesan untuk reporter Park. 

"Reporter Park, aku memiliki informasi berharga untukmu."


Semua orang membaca artikel soal putusnya Se Gye dan Do Jae. Bahkan foto mereka menghiasi layar di gedung.

Para staff Do Jae juga membaca artikel itu. Alasan mereka putus adalah untuk fokus pada pekerjaan masing-masing.


Sa Ra juga membaca artikel itu.


Dan ternyata Sa Ra sedang bersama Direktur Kim. 

Direktur Kim: Sudah kubilang artikelnya akan segera dirilis. Ketika aku mendengar berita dari narasumberku-- Aigoo, aku sangat terkejut. Inilah sebabnya, aku tidak bisa sungguh-sungguh menghormati keluarga pemilik perusahaan, huh? Bukankah begitu, Direktur Kang?

Sa Ra: Aku yakin kau tidak mengajakku bertemu agar kita dapat mengunggah komentar jahat bersama.

Direktur Kim: Kudengar, kau menelepon Direktur Kim dan memberinya pelajaran. Jelas, kau memang sosok berpendirian teguh. Kau wanita yang mengagumkan. Bagus sekali. Aku tidak berpikir seperti itu tentangnya, tapi Direktur Kim rupanya benar-benar pria dengan tabiat buruk.

Sa Ra: Aku tidak yakin kau memintaku datang untuk memujiku.


Direktur Kim ingin bertaruh. Ia berbakat dalam bertaruh. Ia tidak ingin mempertaruhkan kartunya pada Seo Do Jae lagi. Ia ingin bertaruh untuk Kang Sa Ra. Bagaimana?

"Mimpi saja kau! Untuk bermain game bersama, maka level kalian harus setingkat."

"Apa? Apa barusan katamu?"

"Kau omong besar, tapi semua kartu yang kau miliki tidak ada gunanya. Aku tidak akan tergiur. Yang terpenting, aku sama sekali tidak tertarik pada semua kartumu."


Sa Ra langsung berdiri dan ia menggerutu, "Siapa bilang kau boleh memilih? Kau harus sadar posisimu."

Direktur Kim berkata, "Ketua Im... orang yang berpikiran terbuka, tapi dia tidak akan pernah menyerahkan perusahaan pada cucu tirinya."

"Apa kau sedang mengingatkan aku... karena khawatir aku melupakannya?"

"Kau melakukan ini karena memiliki pria itu? Dia masih di luar negeri, 'kan? Rumornya, dia sedang berada dalam masa puncak kehidupannya."

Kalimat tekahir DIrektur Kim membuat Sa Ra menoleh padanya, sepertinya ini masalah serius.


Ibu memarahi Joo Hwan, "Katamu, dia tergila-gila."

"Cinta yang menggila juga dapat berakhir."

"Benar. Dia memang tidak waras. Bukankah aku sudah menyuruhmu mengawasi dia? Dia mungkin muncul di surat kabar!"

"Saya pastikan itu tidak akan terjadi."

"Kau cuma omong saja. Bicara memang gampang. Lakukan sesuatu atau gajimu akan dipotong."

"Apa?"

Ibu langsung menutp telfon dan itu membuat Joo Hwan kesal.


Ternyata Joo Hwan saat ini sedang makan bersama Woo Mi. Woo Mi menyalami Joo Hwan seperti saat Joo Hwan menyalaminya saat artikel kencan Se Gye-Do Jae dirilis. Dan sekarang pun tanggapan Joo Hwan sama seperti Woo Mi dulu, ia tidak bisa mengucapkan salam.

"Siapa bilang kau boleh merilis pernyataan publik begitu? Direktur Seo kami dicampakkan? Menurutmu itu masuk akal?"

"Kenapa tidak? Menurut Se Gye, dia yang mencampakkan. Lagi pula, itu kan tidak sungguhan. Kita sudah banyak mengambil resiko. Apa lagi yang kau ingin untuk kulakukan?"

"Kau tampaknya tidak benar-benar memahami arti mengambil resiko."


"Ya, tidak tahu. Ah.. Apakah itu kalimat yang sering digunakan para pekerja kantoran? Kau tahu, aku biasanya mengerjakan tugas lapangan. Jadi..."

"Kau pikir, itu hanya akan merugikan kami? Pihakmu juga akan mengalami kerugian besar."

"Tepat sekali. Jika kedua belak pihak mengalami kerugian, maka kami ingin kerugian yang kecil."

"Astaga. Mustahil untuk bicara dengan seseorang pada levelmu."

"Kau sudah menyadarinya sekarang? Betapa rendahnya levelmu. Jika kau sudah menyadari levelmu, tolong berhentilah mengusikku. Sana komplain pada bosmu. 

Woo Mi berterima kasih atas traktirannya, ia lalu pergi.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap