Thursday, October 25, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 7 Part 4

Sumber: jtbc


Se Gye bicara berdua dengan Sutradara Park, ia minta maaf karena sudah merusak suasana di saat pembacaan naskah tadi. 

"Kau sudah makan? Kau tampaknya tidak makan apa-apa." Tanya Sutradara Park.

"Situasiku agak terpojok sebelum pembacaraan naskah. Aku jadi tidak bisa makan apa pun."

"Hahaha.. Kau sama sekali tidak berubah. Katamu, kau berubah, tapi itu pasti bohong. Dulu, kau pun tidak suka memberi alasan. Kau menerima semua kritikan itu. Kau frustrasi karena tidak bisa menjelaskan segalanya. Aku tahu."


Sekarang Se Gye sudah terbiasa. Ia sungguh baik-baik saja. Sutradara menyangkal, tidak ada yang dapat terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Se Gye tidak akan pernah baik-baik saja.

"Aku tidak memiliki pilihan." Jawab Se Gye.

"Kau bilang akan membunuhnya karena merasa kasihan. Kau ingat? Tidakkah kau merasa kasihan pada dirimu sendiri? Kenapa? Kau takut akan membunuh dirimu sendiri? Ketika kau merasa kasihan pada seseorang, kau mungkin membunuh orang itu, tetapi kau juga mungkin.. memberikan dia pelukan. Realita.. berbeda dengan film. Sebab itu, beri pelukan untuk dirimu sendiri. Atau temukan seseorang yang dapat memberimu pelukan."


Sutradara Park meninggalkan Se Gye. Ia ingin Se Gye berjalan-jalan sebentar lagi karena bintang-bintangnya sangat indah.


Se Gye menatap bintang-bintang itu, "Seolah mereka bersinar untuk menghiburku."


Se Gye: Seseorang yang dapat memberiku pelukan. Seseorang.. yang dapat mengenaliku."


Se Gye: Seseorang yang dapat memberiku pelukan. Seseorang.. yang dapat mengenaliku."


Saat kembali masuk, Se Gye melihat Yu Ri sedang minum dengan para staff laki-laki. Mereka memaksa Yu Ri terus minum untuk memenuhi kesenangan mereka.

"Sutradara. Boleh aku istirahat sebentar? Aku sudah minum terlalu banyak. Beri aku istirahat sebentar."

"Baiklah. Sekali saja. Kalau begitu, berposelah yang cantik saat sedang minum. Kau kan ada adegan minum. Ini akan jadi latihanmu."

"Ini terlalu mendadak."

"Kenapa? Kau tidak mau?"

Akhirnya Yu Ri pun mau melakukannya. Ia bahkan akan minum lewat botolnya langung.


Se Gye tidak bisa membiarkan itu, ia langsung mendekat untuk merebut botol Yu Ri dan meminumnya langsung sekaligus.

"Jika mau melanjutkan, aku bisa melawan kalian." Tegas Se Gye lalu keluar. Semua terdiam.


Se Gye jalan sempoyongan, ia sudah mabuk. Ia bergumam kalau soju nya kuat sekali. Ponsel Se Gye berbunyi, dari ibunya. 

"Hm, kenapa?" Tanya Se Gye.

"Ibu sudah baca wawancaramu. Kalian berdua tampak serasi. Apakah wajah kekasihmu diedit? Atau dia memang tampak seperti itu?"

"Ibu."

"Kau bicara dengan lambat lagi. Hei, kau mabuk, ya?"


Se Gye tiba-tiba menanyakan seperti apa saat Ibu berkencan dengan Ayah? Ibu heran, kenapa Se Gye mendadak menyinggung soal ayah?

"Ceritakan saat Ibu berkencan dengan Ayah."

"Ayahmu? Yah, tidak ada yang istimewa tentang dia. Mendadak dia muncul dan tiba-tiba baik kepadaku. Setelah mendadak membuatku jatuh cinta padanya, tiba-tiba juga dia menghilang."

"Ayah pria berengsek rupanya. Kenapa dia mendadak muncul? Dan kenapa tiba-tiba dia baik pada Ibu? Iya, 'kan?"


Bagi Ibu yang terburuk adalah Ayah membuatnya mendadak jatuh cinta padanya dan tiba-tiba menghilang. Se Gye membenarkan. 

"Kenapa? Kau bertengkar dengan kekasihmu?" Tanya Ibu.

"Tidak. Aku hanya ingin tahu apakah yang lain juga berkencan seperti kami. Aku ingin tahu."

"Apa maksudmu seperti kalian?"

"Yah... Kami sangat bahagia. Rasanya... begitu nyata."

"Benar. Rasanya seperti itu satu-satunya cinta yang nyata, 'kan? Kau pasti bertemu pria yang baik."

"Ibu, aku harus pergi."

"Oh. Makan sesuatu untuk menangkal mabuk besok. Sampaikan salam Ibu pada kekasihmu."

"Ya."


Se Gye menutup telfon dan ia menangis. Tapi kemudian mengangkat kepalanya.

"Semakin memikirkannya, semakin aku marah. Kenapa aku harus seperti ini?"



Saat Do Jae pulang, Se Gye menelfonnya, panggilan video. 

"Kenapa kau tidak meneleponku? Kenapa?" Tanya Se Gye kesal. 

"Kau bilang, kau sedang bekerja."

"Tetap saja kau harus meneleponku. Bahkan meski tidak kujawab, kau harus menelepon lagi dan lagi. Kenapa kau membuatku meneleponmu duluan?"

"Han Se Gye-ssi."

"Kau mabuk lagi, ya?"

"Ini menjengkelkan sekali. Kenapa kau mendadak muncul... an bersikap sangat baik padaku?"

"Di mana kau sekarang?"


"Kenapa? Kau mau datang? Aku juga... Aku juga berharap kau muncul di hadapanku sekarang... seperti sihir. Tetapi... Aku akan berhenti. Aku ingin berhenti. Aku merasa sangat menyedihkan... dan membenci diriku sendiri karenanya."


Tapi tiba-tiba panggilan terputus. Do Jae khawatir, ia memanggil, tapi tidak ada jawaban.


Yah.. pelakunya adalah Yu Ri. Yu Ri menarik Se Gye sehingga ponsel Se Gye terlempar ke tanah. 


Yu Ri kesal, siapa Se Gye ikut campur? Se Gye tidak ingin membicarakannya sekarang, nanti saja. 

Yu Ri mendorong Se Gye, "Aku tidak memintamu ikut campur! Siapa yang menyuruhmu membantuku seperti itu?"

"Kau barusan memukulku?"

"Oh, aku memukulmu. Kenapa? Ada masalah?"

"Wah, kau bersikap seperti ini karena tidak ada yang melihat. Kau menikmati waktumu di dalam? Tampaknya tidak."


Yu Ri menikmatinya ternyata. Se Gye lalu menjelaskan, jika Yu Ri membenarkan situasi semacam itu, bahkan meski Yu Ri tidak masalah dengannya, aktris lain akan mengalami situasi yang lebih buruk. Aktris utama Chae Yu Ri mengiyakan apa pun yang mereka minta, menurut Yu Ri apa yang mereka akan harapkan dari aktris lainnya?

"Apa urusannya itu denganku?! Khawatirkan dirimu sendiri. Kau hanya pemeran pendukung." Bentak Yu Ri.


Se Gye melihat ponselnya mendapat telfon dari Do Jae. Ia ingin segera mengakhiri pertengkarannya dengan Yu Ri, ia menyuruh Yu Ri menganggap kalau dirinya benci dengan yang iasaksikan.


Tapi Yu Ri belum mau mengakhirinya, ia menarik Se Gye yang akan mengambil ponselnya. Se Gye memejamkan mata, kayaknya ia pusing.

"Kenapa kau membencinya? Siapa kau bisa membencinya? Kau selalu membatalkan jadwalmu dan kabur dari studio. Kau berkencan sembarangan. Bukan aku. Kau."

"Mari bicara lagi nanti."

"Kenapa? Kau pikir tidak ada yang bisa menghentikanmu karena kau mengencani konglomerat? Ketika aku melihatmu, kau begitu naif. Siapa yang akan menyukai wanita sepertimu? Bukankah sudah jelas? Dia hanya main-main denganmu."


Se Gye tiba-tiba ambruk. Yu Ri menganggapnya sedang berakting. Tapi saat ia membangunkannya, Se Gye tidak bangun. Yu Ri pun teriak meminta bantuan.

Sementara Do Jae terus menelfon.


Se Gye terbangun dan ia sudah berada di rumah sakit. Se Gye bertanya apa yang terjadi.

"Dasar bodoh! Kau pingsan karena tidak makan apa-apa. Kau kelaparan sepanjang hari dan minum terlalu banyak alkohol."

"Maaf... Kau ketakutan, ya?"


Se Gye duduk dan saat itu Do Jae datang. Ia bertanya pada Woo Mi, kenapa orang itu datang. 

Woo Mi: Kau tidak menjawab teleponmu, jadi dia menghubungiku.

Do jae: Bagaimana bisa kau membuatku khawatir--

Tapi Se Gye malah melepas paksa infusnya dan pergi dari sana. Woo Mi akan mengejarnya, tapi Do Jae menghalangi. Ia saja.


Do Jae mengikuti Se Gye ke atap. Do Jae memanggil nama Se Gye, tapi Se Gye meyanggah kalau itu adalah dirinya.

"Benar Kau."

"Kau tidak mengenali aku saat dibutuhkan, tetapi mengenaliku ketika tidak diperlukan. Kau benar-benar melakukan sesuka hatimu."

"Sudah kukatakan padamu untuk tidak kabur. Aku memperingatkanmu."


Se Gye mengajak Do Jae membatalkan kontrak mereka. Ia tidak peduli kesepakatan apa pun itu. Batalkan saja. Ia sudah lelah sekarang. Do Jae setuju.

Do Jae langsung menghubungi Joo Hwan, menyuruh untuk menulis artikel bahwa mereka sudah putus. 

"Sudah puas?" Tanya Do Jae setelah menutup telfon. 


Se Gye menanyakan alasan Do Jae menciumnya. Do Jae juga hendak menanyakan hal yang sama. 

"Kau bodoh, ya? Kau sungguh tidak tahu apa-apa?" Heran Se Gye.

"Tidak. Aku tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Tidak peduli bagaimanapun kucoba, aku tidak dapat terbiasa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dan hanya berasumsi. Dan aku membenci diriku sendiri... karena bersikap seperti ini."


Do Jae menjelaskan bahwa sejak hari itu, iatidak pernah menyukai dirinya sendiri. Tidak sekalipun. 

"Jika seseorang memintamu mengatakan sesuatu setelah berciuman, kudengar hanya ada dua jawaban. Entah, "Aku mencintaimu", atau "Maafkan aku". Aku tidak ingin meminta maaf. Namun begitu, hanya tersisa satu jawaban. Sebab itulah aku tidak bisa mengatakan apa pun. Bagaimana aku bisa mengatakannya? Ketika aku begitu kacau."


Se Gye meneteskan airmatanya, "Lakukan saja. Katakan saja. Aku pun kacau."

"Jika aku harus mendeskripsikan situasi ini, maka yang tepat adalah "mustahil untuk dikendalikan". Aku tidak akan melupakannya untuk waktu yang lama."

"Bagaimanapun, kau tidak akan bisa melupakannya. Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa melupakannya. Karena kau satu-satunya yang dapat mengenaliku."


Do Jae pun lebih mendekat, "Apa kau akan baik-baik saja... bersamaku?"

"Kau sungguh-sungguh?"

"Sungguh-sungguh."

"Aku tidak percaya padamu. Buktikan padaku."


Do Jae menghapus airmata Se Gye, lalu.. kiss.

Love in the air.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap