Wednesday, October 24, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 7 Part 3

Sumber: jtbc





Do Jae main golf bersama pada eksekutif dan kakeknya. Semua bersorak saat kakek memukul bola kecuali Do Jae.

Kakek: Pria membutuhkan waktu-waktu seperti ini untuk meredakan badai. Bukan begitu?

Do Jae: Aku membutuhkan waktuku seorang diri sekarang.

Kakek: Kau ingin kehilangan pekerjaanmu?

Do Jae pun diam.


Tuan Seo memukul bola dan semua bersorak bagus. Do Jae tanpa ekspresi mengatakan, "Direktur Kim, bagus."

Joo Hwan mengoreksi, dia bukan Direktur Kim, dia Tuan Seo. Do Jae meralatnya, kembali tanpa ekspresi, "Oh, begitu. Bagus, Tuan Seo."

Kakek: Keparat ini! 



Direktur Kim: Tidak masalah, Ketua Im. Direktur Seo memang senang bergurau. Aigoo, lucu sekali. Kami sudah terbiasa sekarang.

Do Jae: Gaya busana kalian terlihat mirip. Tidak peduli berapa kali pun kulihat, sulit membedakan kalian.

Kakek: Aku tahu berat bagimu untuk mengurus berandal ini, Direktur Kim.

Direktur Kim: Tidak masalah, Ketua. Saya belum berbuat banyak. Direktur Seo bekerja keras dalam tugas maupun kencannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kakek: Dia berkencan?

Direktur Kim mengangguk.


Kakek langsung memastikannya sendiri pada Do Jae, benar Do Jae berkencan? Dengan model itu?

"Beritanya sudah dirilis beberapa waktu lalu. Cari saja di internet."

"Kau ini..."


Kakek mengayunkan tongkatnya pada Do Jae, tapi kejadian menarik terjadi, kakek berhasil memukul bolanya dan itu pukulan bagus. 

Do Jae: Aku bahkan meningkatkan penjualan perusahaan. Jangan memperlakukan aku sebagai bola golf!

Kakek: Terakhir kali, saat putriku bilang menginginkan Se Gye, bukan dunia rupanya, tapi model itu maksudnya.

Do Jae: Aktris.

Kakek: Ya, model itu. Kapan-kapan ajak dia ke rumah. Ayo makan malam bersama.

Do Jae: Kenapa kakek ingin bertemu dia?

Kakek: Putriku menginginkan dia, 'kan?

Do Jae: Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ketua pasti tahu akan hal itu!

Kakek: Berhentilah sok pintar. Aku sedang memegang tongkat golf, lho!

Do Jae: Aku juga sedang memegang tongkat golf. Dan, ini giliranku.

Do jae lalu memukul bolanya.


Saat istirahat Direktur Kim dkk membawakan Do jae jus. Do Jae menduga mereka memasukkan sesuatu di dalam jusnya. 

Direktur Kim: Ey, tidaklah.

Do Jae: Sekretaris Jeong, kau minumlah.

Joo Hwan: Gajiku tidak termasuk kompensasi bahaya. Silakan Direktur saja.


Direktur Kim memperingati, Do Jae tampaknya harus memainkan game tingkat atasnya. Jika ingin mewarisi perusahaan, harus begitu. Ia memperingatkan tentang Direktur Kang dari One Air. Aku sedang memegang tongkat golf, lho! bahkan menghadiri acara sarapan bersama yang digelar Tuan Kim.

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti tahu, wanita-wanita yang pernah diundangnya hanya aktris dan penyanyi pendatang baru. Wah, kau tidak merasa itu mengagumkan? Apa pun yang dikatakannya, jawaban yang diberikan adalah "ya, ya". Kudengar, dia duduk di sana dengan senyum terukir di wajahnya. Perlu ambisi besar untuk melakukan hal seperti itu. Dia seorang wanita, tapi kita perlu mempelajari itu darinya. Direktur Kang benar-benar sesuatu. Dia sangat mengagumkan."

"Yang sopan!"

"Apa?"

"Kau bersikap tidak sopan. Dia adalah Direktur dari One Air. Bukankah kau semestinya bersikap sopan pada keluarga pemilik perusahaan, Direktur Kim? Dan adikku melakukan hal semacam itu bukan untuk dipuji olehmu. Sadarlah akan posisimu!"


Do Jae mngambil gelas jusnya dengan posisi siap menyiramkannya pada Direktur Kim. Direktur Kim refleks mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. Mereka tegang, tapi Do Jae meletakkan kembali gelasnya.

"Aku meletakkannya karena aku orang baik. Jika Direktur Kang yang di sini, bukan sekedar jusnya saja. Gelasnya yang melayang."

Do Jae langsung pergi. 


Tim Fim mengadakan pembacaan naskah perdana.

Yu Ri: Membunuhnya? Aku tidak bisa. Aku bisa pingsan hanya dengan melihat darah. Kalau begitu, kau menyingkir dari sini, Putri. Atau kau bisa pergi ke sana dan mati duluan. Kau tidak berguna.

Sutradra Park: "Tepat setelahnya, ponsel si nomor dua berbunyi. Si nomor dua terkejut."


Yu Ri: Wanita itu... aku yakin dia. Di--dia bilang akan datang dan membunuhku. Dia bilang akan membunuhku.

Sutradra Park: "Saat itulah, si nomor tiga menjawab telepon tanpa ragu."

Yu Ri: Halo? Halo? Kau menelepon, jadi sebaiknya kau mengatakan sesuatu.

Se Gye: Kau bukan pemilik telepon. Apakah kalian semua berkumpul di sana untuk membuat tugasku lebih mudah?


Yu Ri sengaja mengganggu Se Gye, Yu Ri permisi, ia harus ke toilet. 

Setelah Yu Ri kembali, Se Gye melanjutkan dialognya. Tapi Yu Ri kembali menganggu. Ia meminta pada Sutradara Park untuk berhenti dan minum bersama.

"Yu Ri-ssi."


"Aku hanya kelelahan. Aku punya banyak sekali dialog. Lihat, semuanya lelah. Bisakah kau memakluminya, Seonbaenim?"

Se Gye pun diam menahan amarahnya.


Yu Ri menelfon seseorang menyuruh mereka masuk. Mereka membawa banyak minuman. Yu Ri melirik Se Gye puas. Lalu ia menjelaskan pada yang lain sambil melakukan tingkah imut.

"Aku khawatir kita kehabisan minuman karena jumlah orangnya sangat banyak."

Semua orang bertepuk tangan.


Se Gye tidak mau kalah, "Omo. Kita memiliki selera pakaian yang sama, bahkan pemikiran kita pun serupa."

Se Gye menyuruh Woo Mi masuk dan Woo Mi membawakan minuman yang sama. Se Gye menang kali ini.


Se Gye menitipkan Kingkang pada Eun Ho. Eun Ho menenangkan Se Gye, tidak usah khawatir akan kingkang, khawatirkan saja diri Se Gye sendiri. 

"Hei, di mana sebenarnya kau tinggal sekarang?"

"Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga dan tidur di gudang. Aku bagaikan budak."

"Hei. Haruskah kubelikan kau rumah?"

"Kau mabuk, ya?"

"Hei. Aku sanggup kok membelikanmu rumah. Aku punya banyak sekali uang."

"Kalau begitu, kirim 100 juta padaku sekarang juga."

"Hei. Itu... bagaimanapun, jaga Kingkang untukku."

Eun Ho setelah menutup telfon, "Dia tidak terlalu mabuk rupanya."


Sa Ra datang ke kedai kopi, ia memesan vanilla latte panas. Eun Ho bertanya, apa Sa Ra membawa kuponnya? Sa Ra bilang tidak. Eun Ho lalu memberinya sesuatu.

"Apa ini?"

"Kau dapat satu karena kau orang baik. Apa kau menyukai anjing? Semua orang baik yang pernah kutemui menyukai anjing."


Eun Ho memberikan senyumannya, ternyata itu taktik Eun Ho untuk meminta ijin membawa anjing ke rumah.


Orang-orang yang mengundang Sa Ra kemarin saat ini mengundang seorang aktris pendatnag baru. 

Aktris: Berkat Anda, aku bisa berada di sini meski aku seorang aktris pendatang baru. Aku sungguh berterima kasih karenanya.

Direktur: Oh-ho. Wanita tidak semestinya menuangkan minuman.


Do Jae datang tepat saat itu, seorang memberikan kursinya untuk Do jae.

Direktur: Lihat siapa yang datang! Direktur Seo dari T Road Air. Selama ini, kau sudah menolak semua undanganku. Apa yang membuatmu kemari hari ini.

Do Jae: Aku hanya mampir. Untuk beberapa alasan, aku sedang ingin minum.

Direktur: Aigoo, begitu. Ini hari yang bersejarah. Kita harus minum untuk merayakannya.

Do Jae: Aku yang seharusnya menuangkan untukmu.

Do Jae menuangkannya sampai anggur yang di botol habis dan tumpah-tumpah.


Direktur: Apa yang dia lakukan? Apa-apaan ini?

Do Jae: Aku menuangkan cukup anggur untukmu, menggantikan seseorang yang akan duduk di sini selanjutnya, jadi berhentilah mengundang kami untuk menghadiri jamuan bodohmu ini. Kau tidak bisa menghubungi kami dan mengundang untuk acara seperti ini sesuka hatimu. Aku dan Direktur Kang.

Do Jae langsung pergi, tapi sebelumnya ia berkata kalau ia yang membayar tagihannya. 


Sa Ra mengijinkan Eun Ho membawa anjing ke rumah. Tapi Kingkang malah menyalak, Eun Ho takut Sa Ra marah, ia segera menenangkan Kingkang.


"Kenapa kau harus mengurus anjingnya Han Se Gye?"

"Dia berjanji membayarku."

"Kurasa, kau melakukan segalanya demi uang."

"Bukan segalanya, tapi kebanyakan."


Bel pintu rumah Sa Ra berbunyi. Sa Ra menghela nafas, "Selain anjingnya, kau mengundang orang lain lagi?"

"Tentu saja tidak. Ini kan bukan rumahku. Bukankah semestinya itu tamumu?"

"Tidak mungkin. Aku tidak punya teman."

Eun Ho melihat layar intercom dan berkata kalau yang datang adalah Oppa-nya Sa Ra.

"Siapa?"

"Kakakmu."

"Kapan aku punya kakak--"

"Seo Do Jae-ssi."


Sa Ra langsung terbelalak. Sa Ra langsung menyuruh Eun Ho bersembunyi dan jangan lupa bawa anjingnya juga. Eun Ho langsung membawa anjing dan barang-barangnya ke kamar. 

Sa Ra: Eun Ho-ssi. Tidak peduli apa pun yang terjadi, jangan keluar dari kamar. Tidak ada yang lebih berbahaya dibanding kau keluar dari sana.

Eun Ho mengerti, Sa Ra mengkodenya cepat masuk kamar.


Sa Ra membuka pintu da menyapa Do Jae senatural mungkin. 

"Kau muncul secara tiba-tiba di sini? Apakah kita sedekat itu?"

"Aku ingin mengakui sesuatu. Kau ada waktu?"


Do Jae akan masuk tapi Sa Ra menyuruhnya mengatakannya disana saja. 

Do Jae: Aku tidak boleh masuk? Kupikir, kau akan menaikkan intonasimu.

Sa Ra: Kubilang, tetap di situ.

Do Jae: Ini tentang rapat makan siang terakhir kali. Aku memberi mereka pelajaran, menggantikanmu.

Sa Ra: Apa?

Do Jae: Lihat, 'kan? Sudah kubilang intonasimu akan naik.


Do Jae pun berjalan masuk. Sa Ra membentaknya. 

"Kau pikir kau siapa?!"

"Kau membuatku takut. Kenapa kau tidak melakukannya saat makan siang?"


Sa Ra mendapat telfon dai Tuan Kim (direktur yang tadi). Ia mengangkatnya dan menyalakan speaker.

Tuan Kim: Direktur Kang, apa yang sudah kau katakan pada Direktur Seo sampai dia berbuat begitu kepadaku? Aku sangat kecewa kepadamu. Kau seperti gadis kecil saja mengadu pada kakakmu.

Sa Ra: Direktur, hidupmu pasti sangat bahagia. Jelas tidak ada satupun yang membuatmu terusik, 'kan? Itu... karena kau bodoh. Karena kau tidak berpendidikan.

Tuan Kim: Apa?

Sa Ra: Berhentilah menyebarkan betapa bodohnya kau. Kau tidak merasa malu? Yah, untuk dapat merasa malu, harus mengetahui sesuatu dulu.

Tuan Kim: Hei! Hei!

Sa Ra: Berisik. Ada anjing yang menyalak, ya? Kenapa anjing ini bicara pada manusia?


Sa Ra langsung menutup telfon, ia memperlihatkan pada do Jae kalau itulah yang terjadi ketika Do Jae mencampuri urusannya. Bukan ia tidak bisa melakukannya. ia tidak ingin!

"Aku tahu, betapa mampunya dirimu. Sebab itu, kenapa tidak melakukannya dengan baik? Aku tidak tahan melihatmu kalah dari orang lain."

"Hentikan. Memang siapa kau?"

"Aku? Oppa-mu."

"Sejak kapan kau jadi Oppa-ku?"

"Yah... Kurasa sudah selama 10 tahun sejak aku menjadi kakakmu."


Tiba-tiba Kingkang menyalak, Eun Ho panik dan menyuruh Kingkang diam, untuk cuma sebentar.


Sa Ra juga panik. Do Jae yang mendnegarnya bertanya, apa Sa Ra memelihara anjing sekarang?

"Apa maksudmu? Aku tidak suka anjing. (Sa Ra batuk) Itu suara batukku."


Do jae tersenyum, tentu ia tak percaya kebohongan Sa Ra itu. Ia akan masuk untuk mengecek siapa yang ada di dalam, tapi Sa Ra mati-matian menghalanginya. 

"Tentu saja tidak."

"Kenapa kau menghalangiku?"

"Kau selalu berpikir aku menghalangimu? Sadarkan dirimu!"

"Apa kau bahkan menyadari... yang saat ini kau katakan?"

"Tidak. Aku lelah. Pergi sana."

"Jika ingin berterima kasih, undang aku saat tidak ada tamu."


Do Jae berjalan pergi. Sa Ra menegaskan kalau tidak ada orang lain dan juga, ia tidak akan berterima kasih.

Do Jae: Kapan-kapan, perkenalkan padaku. Dia pasti punya anjing.

Sa Ra: Kubilang, tidak ada!


Sa Ra duduk di sofa sambil memegangi kepalanya. Ia ketahuan.


Eun Ho keluar, ia memberi Sa Ra makanan itu lagi sambil minta maaf,

"Apa aku peliharaanmu?"

Eun Ho hanya tersenyum.

Sa Ra: Ah.. Asisten rumah tanggaku justru memegang kendali.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap