Wednesday, October 24, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 7 Part 2

Sumber: jtbc


Woo Mi membuka-buka semua koleksi penata gaya mereka. Woo Mi berkata kalau semua penata gaya juga kesal. WOo Mi lalu menunjuk satu busana, bertanya apa itu bagus pada Se Gye. Se Gye melihat, tapi berkata ia menyukainya.


Woo Mi mencoba busana yang lain dan jawaban Se Gye masih sama, bahkan saat ia menunjuk sampul, Se Gye berkata ia menyukainya.

"Kau benar-benar tidak memerhatikan. Di mana sebenarnya pikiranmu sekarang?"

"Di menara pengendali?"

"Menara pengendali? Kenapa di sana?"

"Apa?"


Ada yang menelfon di ponsel Se Gye, namanya kontaknya Paman. Woo Mi bertnaya, Se Gye berhubungan dengan pamannya ya?

"Omong apa sih kau?" Kemudian Se Gye ingat siapa paman itu, ia langsung meralatnya "Oh, ya, aku berkomunikasi dengan pamanku. Dia sangat baik."


Se Gye pun mengambil ponselnya dari Woo Mi dan menjawabnya dengan sopan, "Ya, Paman."

"Di mana kau sekarang?" Tanya Do Jae.

"Apakah keluarga Paman baik-baik saja? Bisnis Paman berjalan lancar?" Se Gye lalu berbisik, "Aku di rumah. Kenapa?"

"Ayo bertemu. Aku di kafe dekat rumahmu."

"Kau tiba-tiba meneleponku dan bahkan tidak menjelaskan apa pun? Apa yang sedang kau coba lakukan sekarang?"

"Ada yang ingin kukatakan."

"Baiklah. Sampai jumpa di sana."


Se Gye pamit pada Woo Mi, pamannya ingin bertemu dan sekarang ada di dekat rumah, ia akan segera kembali. Woo Mi mendadak ingin ikut tapi Se Gye membentaknya, Tidak boleh!

"Kenapa tiba-tiba kau teriak begitu?"

"Masalahnya, Pamanku.. sangat pemalu dan kaku. Dia bahkan tidak bisa berkontak mata. Dia membenci orang asing." Se Gye menjelaskannya sambil garuk-garuk wajah. Mungkin itu kebiasaannya saat bohong.

"Baiklah. Pergilah."

"Aku segera kembali."


Se Gye sampai di depan kafe, ia melihat Do Jae duduk di dalam. Se Gye memperhatikannya.


Se Gye bercermin di kaca dan ia memutuskan mengikat rambutnya.


Se Gye masuk dan Do Jae terus menatapnya sampai ia duduk di depannya. Se Gye bertnaya, kenapa Do Jae menatapnya begitu?

"Aku tidak ingin melakukan kesalahan. Aku belum pernah melihat gaya rambutmu seperti itu."

"A.. Aku tadi dari rumah. Maaf kalau membuatmu merasa tidak nyaman."

"Kau tidak perlu meminta maaf karenanya."


Se Gye lalu bertanya apa yang ingin Do Jae katakan. 

"Sekarang karena hubungan kita sudah resmi, ada satu hal yang bagus. Kita bisa bertemu di area publik." Kata Do Jae kemudian ia memberikan daftar pertanyaan untuk wawancara besok.

Se Gye kecewa, "Inikah yang ingin kau katakan?"

"Kita harus mencocokkan jawaban kita."

"Tentu saja. Karena kita Pasangan Abad Ini. Memang apa yang kuharapkan?"

"Yang terjadi malam itu..."

"Itu kesalahan. Aku terbawa suasana. Jadi, berhentilah menghindariku. Kau tidak perlu melakukannya."


Do Jae tidak merasa menghindari Se Gye. Se Gye mengubah topik, ia bertanya apa yang akan Do Jae kenakan besok? Mereka harus mencocokkan busana mereka saat bekerja bersama.

Se Gye: Ah.. Apa lagi yang harus kita siapkan?

Do Jae: Aku tidak membalas pesanmu.. karena sudah larut--


Se Gye mngambil dokumen itu dan langsung berdiri, ia akan menulis jawabanya lalu mengirimnya pada Do Jae.

"Han Se Gye-ssi."

"Mari tidak bekerja terlalu keras. Aku tidak suka bekerja lembur."

Dan Se Gye pun pergi, ssmbil jalan ia melepas ikat rambutnya.


Saat kencan, Do Jae mengupaskan udang untuk Se Gye. Se Gye menolak memakannya karena sedang diet.


Do Jae menggenggam tangan Se Gye, "Pasti berat."

Se Gye menarik tangannya, "Tidak lebih berat dari ini. Selanjutnya apa? Wawancara?"


Do Jae memberikan hadiah yang sudah ia siapkan. Do jae menyuruh Se Gye membukanya, itu adalah hadiah balasan untuk yang Se Gye berikan padanya saat kencan sebelumnya.

"Kurasa, aku harus tampak sebahagia mungkin." Kata Se Gye lalu membukanya, "Kau menyiapkannya begitu detail."

Se Gye menempelkannya pada telinganya sambil tersenyum bahagia, Do Jae memperhatikan.

"Ini bagus, 'kan?" Lalu Se Gye meletakkannya kembali.

"Ini tidak direncanakan. Aku memang ingin memberikannya padamu. Karena tampak cantik. Kupikir akan bagus kau kenakan. Kau sudah memiliki kalung, dan aku tidak bisa menggantinya."

Se Gye terdiam, ia melihat udang yang dikupaskan Do Jae.


Selanjutnya sesi wawancara. 

Reporter: Banyak orang penasaran bagaimana kalian berdua bisa menjadi pasangan. Siapa yang menyatakan lebih dulu?

Do Jae: Aku.

Reporter: Boleh kutanya, apa yang kau katakan padanya?

Do Jae: "Seumur hidupku, belum pernah aku bertemu seorang gadis sebaik dirimu". Aku jatuh cinta padanya karena dia begitu baik. Seminggu setelah pertemuan pertama kami.

Reporter: Han Se Gye, kau pasti teringat saat itu. Wajahmu merona.

Se Gye: Itu karena agak panas di luar.

Reporter: Bagaimana kalian saling menyimpan nama di ponsel masing-masing?

Se Gye: Oh, itu--

Do Jae: Bibi.

Reporter: Apa?

Se Gye: Aku juga. Paman.

Reporter: Apakah ada arti tersembunyi di dalamnya?

Se Gye: Tidak ada. Kami memilih panggilan yang sederhana. Sesuatu yang tidak akan menimbulkan kecurigaan. Seseorang... menyarankannya padaku.

Do Jae: Bukankah dia sangat mengagumkan? Bagaimana dia bisa memikirkan hal itu?


Reporter meminta maaf dahulu sebelum menanyakannya, kapan ciuman pertama mereka?  Se Gye hanya tersenyum, ia harus menjawab "tidak ada komentar" untuk pertanyaan itu.

Do Jae: Kami belum melakukannya. Kami belum berciuman. 

Se Gye langsung menatap Do Jae, senyumannya hilang.


Do Jae melanjutkan, "Aku sudah mengatakan sebelumnya, bahwa aku akan membatalkan wawancara jika kau mengajukan pertanyaan tidak terduga. Mari akhiri wawancaranya. Kurasa, kau sudah mendapatkan lebih dari cukup bahan untuk ditulis."


Do Jae langsung menarik tangan Se Gye untuk pergi dari sana.


Do Jae mengantar Se Gye pulang. Setelah sampai Se Gye berkata kalau DO Jae tidak perlu memberinya tumpangan.

"Aku tidak sepakat akan hal itu."

"Ah, benar. Karena ini pekerjaan. Kau selalu mengerjakan tugasmu dengan baik. Terima kasih. Selamat malam."

"Apa jadwalmu besok?"

"Aku pergi MT. Sangat jauh, dalam waktu lama. Kenapa?"

"Setelahnya?"

"Bekerja."

"Dan setelahnya?"

"Bekerja."

"Aku juga bekerja."

"Maka itu. Kita berdua sama-sama sibuk. Selagi kita membicarakan tentang pekerjaan-- Kerja bagus. Kita rekan kerja sempurna untuk hari ini. Tapi, berapa lama lagi kita harus melakukan ini?"

"Ini?"

"Kerja. Mari segera selesaikan. Dengan begitu kita dapat mengakhiri kontrak kita. Ini membuatku.. tidak nyaman untuk banyak alasan."


Se Gye langsung turun.

Di dalam, Se Gye langsung membanting tasnya, ia membenamkan wajahnya di bantal. Kemudian mendongak.

"Kami belum berciuman? Sungguh tidak berciuman? Baiklah. Anggap kami memang tidak berciuman. Aku juga akan berpura-pura begitu. Dia sangat tidak bijaksana--"

Tiba-tiba bel rumah berdering dan itu membuat Se Gye kaget. Ternyata yang memencetnya adalah Do Jae.


Do Jae bertanya, apa Se Gye marah padanya karena ia bicara sesukanya saat wawancara? Sebenarnya ia memikirkan Posisi Se GYe--

"Kau datang untuk mengatakannya?"

"Han Se Gye-ssi."

"Hah? Memikirkan aku? Aku bahkan tidak dapat membayangkan kata-kata apa yang akan kau hapus dari dunia jika ini terjadi lagi?"

"Apa maksudmu?"

"Kata-kata seperti ekspektasi dan harapan. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang, 'kan? Benar. Kau bahkan tidak bisa ingat siapa aku. Mana mungkin kau memahami perasaanku? Bagaimana mungkin kau memahaminya?"

"Kau ingin aku mengatakan maaf? Jika itu yang ingin kau dengar... Aku tidak akan mengatakannya."

"Jangan mengatakannya. Terlambat bagimu untuk meminta maaf."

Se Gye menutup pintunya dengan keras.


Se Gye menyalakan Tv, tapi tidak ada acara yang membuatnya tertarik. Se Gye menangis. 

"Dia sangat menjengkelkan."


Di rumahnya, Do Jae melihat keramik putihnya, lalu Do Jae mengeluarkan kesepakatan mereka dan ia langsung menyobeknya. 


Saatnya pergi MT. Woo Mi memasukkan koper Se Gye ke dalam bagasi mobil. Se Gye kelihatan murung. Dimata Woo Mi Se Gye kelihatan lelah sekali, ia bertanya apa Se Gye tidak tidur ya semalam?



"Cengkeriknya menangis tidak karuan."

"Di mana? Hatimu?"

"Kadang kala, aku penasaran seberapa jauh kau mengerti aku."

"Aku tahu lebih banyak dari yang kau kira, hanya saja aku pura-pura tidak tahu. Kau sudah sarapan? Ada gimbap di mobil."

"Nanti saja. Aku bisa sakit kalau makan di mobil."

"Masuklah."

Saat Se Gye akan membuka pintu mobil, ia mendapat pesan dari Eun Ho.

"Teman, aku takut aku punya kabar buruk."


Eun Ho mengirimkan berita yang beredar di internet.

"Bintang Top H Iri Pada Aktris Utama C Dan Mencuri Busananya. Pembuat masalah terkenal, H, berpartisipasi dalam audisi untuk peran dalam film Sutradara L dan menarik perhatian publik. Tapi, kebiasaan buruk tidak berubah. Kali ini, dia mencuri busana dari aktris utama C. C tidak punya pilihan selain mengalah akan busananya pada H, yang merupakan seniornya di bidang akting. Atas ketulusan C, H bahkan tidak berterima kasih padanya. Pihak yang terlibat mengklaim bahwa insiden ini disebabkan H iri kepada C, yang memenangkan tokoh utama daripada dirinya. H adalah Han Se Gye, C adalah Chae Yu Ri."


Woo Mi di dalam mobil juga membaca berita yang sama dan ia langsung menggila.

"Dasar gila! Kau sudah baca omong kosong ini? Ugh, kubunuh si jalang ini! Wah, aku benar-benar marah sekarang. Tidak bisa dipercaya! Kubunuh dia! Tit.. Tit.. Tit.. (sendor)"

Se Gye hanya diam.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap