Wednesday, October 24, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 7 Part 1

Sumber: jtbc


Se Gye mencium Do Jae, lalu minta maaf. Do Jae balik mencium Se Gye setelahnya. 

Do Jae: Kurasa memang sebuah keharusan.

Se Gye: Apa?

Do Jae: Kupikir sudah tepat.


Lalu Do Jae melangkah menuju pintu keluar. Se Gye bertanya, mau kemana?

"Karena keingintahuanku sudah teratasi, saatnya pergi dan tidur." Jawab Do Jae.

"Bersama?"

"Tidak. Terpisah. Tidak ada alasan untuk tidur bersama sekarang."

Se Gye terdiam tak percaya mendengar jawaban Do Jae. Do Jae bertanya, kenapa? Se Gye tidak mengantuk kah? Se Gye menghela nafas, lalu mengambil tasnya dan jalan duluan. 


Setelah sampai di depan rumah Se Gye. Se Gye mengaku kalau ia juga sama dengan Do Jae. Ia melakukannya karena merasakan keharusan. Do Jae mengerti.

Se Gye menatap Do Jae, "Tidak ada yang ingin kau katakan?"

"Tidak ada."

"Aku merasa bukan diriku sekarang. Rasanya seolah aku adalah orang yang berbeda. Rasanya sangat rumit dan tidak nyaman--"


Do Jae tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Se Gye untuk menatap Se Gye lekat-lekat. Itu membuat Se Gye menghentikan kata-katanya. Do Jae lalu membenarkan bahwa dihadapannya saat ini adalah benar-benar Se Gye. 


Se Gye keluar dengan kesal. Do Jae bekaya, ia rasa, ia tahu, apa yang Se Gye ingin untuk ia katakan.

"Lalu, katakan." Utus Se Gye.

"Tidak akan. Jadi, selamat malam."

Se Gye menutup pintu dengan keras lalu jalan masuk ke rumah. Do Jae juga segera menjalankan mobilnya.


Se Gye terus melihat ponselnya, ia menanti pesan atau telfon dari Do Jae. Ia heran kenapa Do Jae belum juga menghubunginya padahal sudah lewat 1 jam.

"Bukankah seharusnya dia meneleponku jika sudah sampai rumah? Sudah satu jam lebih satu menit sekarang."


Akhirnya Se Gye yang mengirim pesan duluan, "Kau sampai dengan selamat?"

Tapi tidak ada balasan, Se Gye heran, apa Do Jae sudah tidur? Ingin tidur dalam situasi seperti ini?

"Itu tidak masuk akal. Kau abaikan? Kau benar-benar mengabaikan pesanku?"


Sampai besoknya Do Jae belum juga membalas pesan Se Gye. Se Gye kembali kesal.


Woo Mi ke rumah Se Gye pagi-pagi dengan membawa daging. Ia memanggangnya sendiri, ia menyuruh Se Gye ikut makan. 

"Memang ada yang makan daging pagi-pagi buta? Sutradara menggelar pertemuan hari ini. Jika ingin terlihat lebih baik dari para aktris junior, aku harus memerhatikan makananku."

"Aih, sedikit saja. Makan ini tidak akan menaikkan berat badanmu."

Woo Mi menyuapi Se Gye tap Se Gye tetap tidak mau makan.


Woo Mi mengatakan kalau mereka akan akan pergi MT pekan ini. Lebih tepatnya, rapat yang menyerupai MT. Mereka akan saling lebih mengenal, juga memecahkan kebekuan. Katanya pekan ini, jadi ia sanggupi. Karena tidak berbenturan dengan jadwal lain.

"Ya, MT kedengaran bagus. Aku ikut." Jawab Se Gye.


Dan Se Gye mengubah topik pembicaraan, ia menanyakan, "Jika seorang pria mencium dirimu... lantas pura-pura tidak terjadi, apa artinya itu?"

"Dia mungkin tidak menginginkan ciumannya. Kenapa kau tanya? Kau... mencium seseorang, ya?"

"Tidak. Aku mendadak teringat.. Film apa ya tadi itu? Aku teringat akan adegan ciumannya. Ketika aku syuting adegan begitu, aku melakukannya lebih dari 20 kali. Tapi, aku tidak merasakan apa pun sama sekali."

"Memang aku tanya?"

"Aku tidak merasakan emosi.. sama sekali."


pas Mengatakan "sama sekali", Se Gye menoleh pada ponselnya yang menampilkan pesannya untuk Do Jae. 


Woo Mi bertanya, Se Gye sedang berkencan, ya? Se Gye langsung mengelaknya. 

"Hei, kencan itu bukan masalah besar. Jika kau mengupas udang, dan menyatukannya dengan daging panggang, itulah yang dinamakan berkencan."

"Aku tidak mengupas udang, kok."

"Mungkin kau tidak suka makan udang."

"Apa-apaan? Terus sekarang ini kita sedang kencan begitu?"

"Kita melakukan hal yang lebih baik daripada kencan. Kita berbisnis."


Se Gye membenarkan, itu hanya sebatas bisnis. Jelas. Begitulah. Dan Se Gye nampak kecewa.


A Ram membawakan baju-baju Eun Ho ke gereja. 

A Ram : Kau sedang kabur dari rumah, ya? Aku melarangmu pulang ke rumah dan kau sungguh tidak pulang? Seumur hidupmu kau menjadi seseorang yang patuh. Ada apa denganmu?

Eun Ho: Selama itu, aku sebenarnya memberontak.

A Ram: Hei, kalau kau memberontak, lakukan bertahap sepertiku. Jangan melakukan semuanya dalam satu waktu.

Eun Ho: Berhentilah memanggilku "hei"!

A Ram: Baiklah. Hei. Kau tidur di mana?

Eun Ho: Bocah ini--


Eun Ho akan mengumpat tapi karena ia ada di dalam gereja, ia menahannya. Eun Ho cuma menjawab kalau ini bukan urusan A Ram, ia tidur di jalanan.

"Kau sungguh akan menjadi Pendeta? Kalau kau tidak menikah, maka aku harus melakukannya. Aku ini penentang pernikahan, tahu. Tidak tahulah. Hidupku kacau sekarang gara-gara kau."

Entah karena aku atau bukan, jangan biarkan orang lain menghancurkan hidupmu. Sebab itulah aku pergi."

A Ram melunak, ia bahkan memanggil Eun Ho dengan sebutan Oppa, "Oppa, Kau sungguh tidak pulang ke rumah?"

"Bagaimana Ibu?"


"Ibu terbaring di ranjang gara-gara mengkhawatirkanmu. Bersyukurlah Ayah tidak di rumah karena harus mengurus hal mendesak. Kalau dia sampai melihatnya, dia akan... menembakmu dengan pistol."


Ayah pulang dan melihat ibu berbaring, ayah khawatir, ibu baik-baik saja? Ayah lalu membanti ibu bangun. Ayah kesal, ia akan memberi Eun Ho pelajaran.

Tapi kemudian ayah mendapat telfon, mengatakan kalau mereka dapat hasil dari analisa rekaman CCTV. Mereka memeriksa nomor pelatnya. Sekarang, mereka sedang mencoba melacak keberadaan tersangka.

"Oh, aku ke sana."


Ibu terkejut, mau langsung kembali? Ayah janji akan segera pulang.


Ibu mengejar ayah, menyuruh Ayah untuk ganti kaus kaki dulu baru pergi. Ibu kesal karena banyak sekali orang jahat di dunia ini.

"Yang terburuk dari mereka ada dalam keluarga kita. Berandal itu membuatmu sedih."

"Kalau begitu sana tangkap putramu dulu."

"Kadang kala, kami menangkap seseorang mengira dia orang jahat, tapi kemudian terungkap bahwa dia orang baik. Berbaringlah. Aku akan segera kembali. Semangat."


Saat ayah sudah pergi Ibu menggerutu, "Menurutmu, putramu itu meniru siapa coba? Aku yakin itu keturunan!"


Joo Hwan melapor pada Do Jae kalau total penjualan dari event tahun ini sangat serius. Do Jae bertanya, apa maksudnya?

"Serius sangat tinggi. Tidak bisa dibandingkan dengan penjualan tahun lalu. Selamat."

"Apa maksudnya?"

"Kau mendengarkan aku?"

"Tidak. Aku tidak mendengarkan."

Joo Hwan langsung menunduk.


Do Jae lalu bertanya, ketika seseorang mencium lalu meminta maaf, apa maksudnya itu?

"Artinya, orang itu merasa bersalah."

"Terus bagaimana dengan menanyai kalau-kalau ada yang ingin kukatakan?"

"Dalam kasus seperti itu, hanya ada dua jawaban yang ingin didengar kaum hawa. Antara "Aku mencintaimu" atau "Aku minta maaf"."

"Bagaimana kalau aku tidak ingin minta maaf?"

"Maka kau harus mengatakan, "Aku mencintaimu."

"Bagaimana kalau itu.. terasa berat?"


Joo Hwan menyuruh Do Jae membayarnya kalau kau ingin terus bertanya. Ini termasuk dalam pekerjaan emosional.

"Siapa bilang kau boleh bersikap seperti ini?"

"Wajah tampanku."

"Hei, kalau kau terus membohongiku karena aku tidak bisa mengenali wajah, aku akan menghukummu."

"Tampaknya, kau yang akan kena hukum duluan. Kau ada janji temu untuk diomeli oleh Dokter Oh. Sudah lama sekali."

"Kau?"

"Aku ada janji."

"Lebih penting dibandingkan aku?"

"Tidak bisa dikatakan lebih penting, tapi orang ini agak lebih menakutkan."

"Kutebak, kau akan bertemu ibuku."

"Itu rahasia."

"Apa pun yang ibuku katakan padamu, jangan salah paham."

"Kurasa, itu sama sekali bukan rahasia."


Se Gye membawa pakaian sendiri untuk syuting. Sutradara Park melihatnya dan berkata kalau Yu Ri juga membawa semua baju itu. Sutradara Park lalu menyuruh Yu Ri masuk.

Se Gye: Selera kami bisa sama, tetapi bagaimana bisa semua itemnya sama persis?


Yu Ri mask sambil membawa semua pakaiannya dan semuanya memang sama persis dengan yang dibawa Se Gye.

Yu Ri: Aku memerankan enak karakter berbeda, jadi aku harus menyiapkan referensi gaya yang luas.

Se Gye mengambil satu gaun, ia bertanya apa Yu Ri punya yang itu juga dan Yu Ri ternyata punya.

Se Gye: Emm.. Karaktermu tidak mengetahui kalau dia akan mati, jadi dia hidup dalam persembunyian. Kau pikir, dia akan dapat mengenakan gaun cantik seperti ini? Pada adegan yang mana?

Yu Ri: Emmm... Hanya karena dia hidup dalam persembunyian, bukan berarti dia harus berpenampilan kelam. Bukankah kadang kala dia juga ingin mengenakan pakaian seperti itu?

Se Gye: Kau menginginkan semua pakaian yang ada di negeri ini, 'kan? Baiklah, pakai semuanya. Aku tinggal telanjang saja. Hal itu akan menjadi topik panas. Bagus sekali. Lupakan. Yang memainkan karakter adalah seorang aktris, bukan pakaian.


Yu Ri memanggil Se Gye dengan manis. Se Gye menyahut, apa? Ada yang ingin dikaakan? Semuanya diam.

Dan Yu Ri mulai berakting. 

"Kau marah padaku?"

"Apa?"

"Aku tidak akan memakainya. Aku tidak perlu memakainya. Seonbaenim lebih penting. Kau bisa memakainya. Aku akan menyiapkan ulang busanaku. Maafkan aku.. karena membuatmu marah."

Itu membuat Se Gye menjadi yang jahat dan tidak bisa mengatakan apapaun.


Dalam perjalanan pulang, Woo Mi menggerutu. Yu Ri melakukannya dengan sengaja, ia mencari tahu dan menemukan bahwa tim penata gayanya berkomunikasi dengan semua merek pakaian, lalu meminta item yang sama seperti milik Se Gye.

Woo Mi: Astaga, bagaimana bisa dia-- Dia itu lebih manipulatif dari yang kupikirkan.

Se Gye: Biarkan saja. Sudah lama sejak terakhir kali seseorang begitu tertarik padaku. Dia menyibukkan diri hanya agar dapat menjatuhkanku.

Woo Mi: Tidak bisa! Tunggu saja kita pergi MT. Kuberi dia pelajaran.

Se Gye: Tapi, hari ini aku benar-benar kalah. Kurasa, ada hari-hari seperti ini. Kita tidak bisa selalu menang.


Se Gye kembali melihat pesannya untuk Do Jae dan Do Jae mash bekum membalasnya. Ia mau mengirim pesan pesan lagi, tapi tidak bisa, tidak akan.


Woo Mi mendengar bagian "tidak akan". Ia bertanya apa maksudnya? Apakah soal pensiun--

"Jadwal. Maksudku soal jadwalnya. Aku harus latihan untuk peranku, jadi kosongkan jadwalku." Jelas Se Gye.

"Aku sudah mengurusnya. Hanya satu jadwal kegiatan tersisa besok. Setelahnya kau kosong."

"Besok? Aku besok ada jadwal? Apa itu?"

"Kencan."

"Lagi? Tunggu, besok? Sebentar. Dengan Seo Do Jae?"


Joo Hwan menemui Ibu. Ibu ingin bertemu untuk memberi tahu sesuatu. Ibu bertanya seberapa banyak yang dapat Joo Hwan lakukan untuk Do Jae?

"Omong-omong, Anda bisa memberikan saya kenaikan gaji?" Tanya Joo Hwan.

"Kenapa?"

"Bukankah saya harus menyimpan lebih banyak rahasia? Jika beban kerja saya meningkat, maka gaji saya pun harus mengimbangi."

"Apa yang akan kau lakukan dengan uangmu?"

"Menabung semuanya."

"Rajin sekali. Bagus."


Ibu bertanya lagi, apa.. Joo Hwan selama ini sudah ahu? Fakta bahwa Do Jae.. gay?

""Itu"? (*'gay' dan 'itu' selintas terdengar mirip)." Ulang Joo Hwan.

"Maksudku, Do Jae... pri--"

""Pri--"?"

"Bukan apa-apa. Bagaimana dengan Han Se Gye? Mereka kembali bersama?"

"Mereka tidak pernah putus. Besok mereka ada kencan, di area publik."

"Bagus sekali. Awasi setiap pergerakannya."

"Dalam aspek apa, tepatnya?"

"Aku tidak keberatan kalau mereka menikah."

"Kenapa tiba-tiba?"


Ibu: Dengan begini, Do Jae akan masuk di halaman berita nasional surat kabar, bukan di kolom berita hiburan. Kita tidak boleh membiarkannya. Aku bukan seseorang yang berprasangka, tetapi tidakkah kau berpikir tidak benar mengencani seorang anak SMU?

Joo Hwan: Saya tidak paham sama sekali.

Ibu: Kau pasti tahu karena kau selalu bersama dia. Dia juga mengencani seorang laki-laki.

Joo Hwan: Apa?


Do Jae menemui dokternya sesuai dengan perintah Joo Hwan. Dokter meminta Do jae mengatakan situasinya belakangan ini.

"Aku gembira. Kurasa, aku juga merindukan dia."

"Bagus."

"Apanya yang bagus?"

"Di masa lalu, kau tidak menikmati pertemuan dengan orang-orang. Dalam beberapa aspek, dapat kukatakan kondisimu meningkat secara positif."


Masalahnya, Do Jae tidak merasa seperti dirinya sendiri. Dokter kurang paham, seperti apa tepatnya?  

"Bisnis adalah soal mendapatkan yang diinginkan dengan mengatakan yang lawan bicara ingin dengar, dan itulah yang keunggulanku. Tapi mendadak, aku tidak ingin lagi melakukannya."

"Apa kau tahu tepatnya yang orang lain itu ingin dengarkan dari dirimu?"

"Aku yakin aku mengetahuinya."

"Dan, apa itu?"

"Maafkan aku."

"Jika kau tidak ingin mengatakannya, maka jangan. Sebaliknya katakan yang kau inginkan, sambil menatap wajah yang kau harapkan. Jangan merasa takut. Kau hanya menemukan dirimu yang baru."


Eun Ho memberikan daftar yang ia butuhkan untuk mengurus rumah. Ia meminta Sa Ra membelikan semuanya.

"Semua ini? Omong-omong, apa yang kau kenakan itu?"


Eun Ho memakai celana training warna hijau muda, kaos merah jambu dan jaket biru. Perpaduan warna yang mencolok banget.

Eun Ho: Hubunganku dengan adikku tidak baik.

Sa Ra: Sama denganku.

Eun Ho: Jika ini membuatmu terganggu, cukup tatap wajahku saja.

Sa Ra: Kau tahu kau tampan, 'kan?

Eun Ho: Mayoritas orang menyebutku "cantik".

Sa Ra: Bagaimana bisa kau mengatakannya bahkan tanpa berkedip? Kau harus belajar untuk lebih rendah hati.


Sa Ra mengajak Eun Ho belanja saat ini juga. Eun Ho berkata kalau ia tidak terburu-buru membutuhkannya. Sa Ra beralasan kalau ia sibuk, selama beberapa waktu ke depan, ia tidak ada waktu.


Eun Ho: Ada sesuatu yang sungguh ingin kukatakan. Terima kasih mengizinkan aku tinggal di rumahmu. Aku akan melakukan yang terbaik agar kau merasa nyaman.

Sa Ra: Yah, lagi pula sebagian besar waktuku habis di luar rumah. Ditambah lagi, akan bagus jika seseorang mengurus rumahku. Itu alasanku membiarkanmu tinggal di sana. Jangan salah paham.

Eun Ho: Aku akan langsung pindah begitu utangku lunas.

Sa Ra: Buat dirimu nyaman.


Sa Ra teringat, ada hal yang juga sangat ingin ia katakan pada Eun Ho. Ia pun tidak tertarik.

"Padaku?" Tanya Eun Ho.

"Pria lebih muda."

"Ah."


Dua AHjumma yang bekerja disana menyapa Eun Ho. Ternyata mereka adalah rekan Eun Ho. Mereka berkata kalau penjualan mereka meningkat drastis berkat Eun Ho.

"Kalau aku pemilik tempat ini, aku akan memberikannya gratis kepadamu." Canda salah satu ahjumma.

"Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus. Sampai jumpa."


Eun Ho lalu menuju Sa Ra kembali. Sa Ra penasaran, sebenarnya berapa banyak pekerjaan paruh waktu yang Eun Ho miliki? Eun Ho memanfaatkan popularitasnya ya?

"Itu semacam milik publik. Popularitasku, maksudnya."

"Sekarang, itu milik pribadi. Kau dibayar olehku. Menurut pendapatku, kau seharusnya dibayar untuk senyumanmu. Senyumanmu bernilai sebagai sebuah komoditas. Ah.. Itu bukan pujian. Hanya penilaian berdasar situasi."

Eun Ho tersenyum. Sa Ra bertanya, haruskah ia membayar Eun Ho? Eun Ho menggeleng, tidak!

Dan mereka lanjut belanja.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap