Thursday, October 18, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 6 Part 3

Sumber: jtbc


Ibu Eun Ho melihat berkas-berkas yang mengindikasikan kalau Eu Ho akan menjadi pendeta. Ibu sangat menentangnya. 

"Kau sungguh ingin melakukan ini?"

"Ibu. Ibu masuk ke kamarku?"

"Sudah Ibu larang kau melakukannya. Sudah Ibu suruh kau menghentikannya sejak 10 tahun lalu. Dan kau masih ingin melakukannya?"

"Aku mempertimbangkannya selama 10 tahun belakangan. Dan kesimpulanku adalah.. ini."

"Kau ingin melihat Ibu mati? Dokter, Polisi, Hakim, Pengacara, Jaksa... Ada begitu banyak profesi yang dapat membuatmu membantu orang lain. Kenapa harus Pendeta?"

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sudah mencoba mengubah pikiranku, tapi tidak bisa, Bu."

"Ibu yang melahirkanmu. Ibu tidak pernah mengarahkanmu (ke sana). Memangnya aku pernah mendengar bisikan atau bicara pada Yang Di Atas? Tidak bisa. Tidak bisa!"


Eun Ho menunjukkan tabungan, semua isinya adalah uang yang ia kumpulkan untuk Ibu. 

"Memang Ibu bilang butuh uang? Ibu tidak butuh! Begitu kau pergi ke sana, kau tidak akan bisa bertemu keluargamu, maupun teman-temanmu selama bertahun-tahun. Kau mau begitu? Kenapa? Kenapa dari semua orang kau yang harus pergi?"


Eun Ho tetap memberikan buku tabungannya. 

"Ibu. Aku sudah memantapkan pikiran."

Ibu melemparkan buku tabungan itu pada En Ho, "Jika kau ingin mengambil keputusan sendiri, keluar dari rumah ini!"

"Ibu."

"Keluar! Begitu kau masuk ke sana, kau bukan lagi putraku."


Dan Eun Ho memilih pergi, tapi bukan untuk selamanya, ia berkata kalau ia ada pekerjaan paruh waktu ia akan segera kembali. Ibu menangis.


Eun Ho kembali membersihkan rumah Sa Ra. Ia menyalakan lampu, tapi lampunya tidak menyala.

Eun Ho pun akan memperbaikinya, tapi lampunya malah jatuh. 


"Pada saat-saat seperti ini, aku membenci fakta bahwa aku anak baik yang bahkan tidak bisa menyuarakan diri sendiri. Aku sangat membenci diriku."


Sa Ra menelfon orang yang ia panggil Tuan Choi. Ia bertanya, Apakah kompetitor mereka T Road?

"Sebab itu. Kenapa aku harus menganalisa STP dari perusahaan induk? Lagi pula bukannya kita tidak memperhitungkan mereka akan bereaksi seperti ini. Itu urusan mereka. Kita akan meraih tujuan kita dengan cara kita. Jangan biarkan itu membuatmu terganggu."


Sa Ra masuk rumah dan ia melihat Eun Ho ada di sana hendak membuang sampah.

"Hah.. Orang yang kucari ke mana-mana berada di rumahku sepanjang waktu." Gumam Sa Ra.

Eun Ho cuma nyengir.


Se Gye sengaja menunggu di depan gerbang sekolah Ga Young dan semua siswa cewek terpesona padanya.

Saat melihat Ga Young, Se Gye langsung mendekat.


Se Gye: Kenapa sulit sekali menghubungimu? Kau ingin melihatku mati gara-gara khawatir? Aku merindukanmu sampai mau mati rasanya!

Se Gye menyodorkan bunganya dan meminta Ga Young sgera menerimanya. Semua siswa cewek menjerit histeris.

Se Gye membatin agar Ga Young mengucapkan dialog selanjutnya. Ga Young seperti membaca pikiran Se Gye, ia langsung membuang bunga itu dan mengatakan dialognya.

"Sudah kularang kau menghubungiku. Kau membuat segalanya jadi sulit untukku."

Se Gye puas, dialog Ga Young sempurna. Maka ia pun mengucapkan dialognya selanjutnya. 

"Tidak ada yang bisa kulakukan. Mau bagaimana lagi kalau aku begitu mencintaimu?"


Semua siswa cewek kembali menjerit. Se Gye kembali puas karena reaksi penonton sangat bagus.



Lalu datanglah cowok yang menghina Ga Young itu bersama ketiga temannya.

Se Gye: Dia orangnya? Pria yang sedang kau permainkan?

Cowok itu: Apa katamu?

Se Gye: Benar. Pria bodoh yang bahkan tidak sadar dia dipermainkan.

Cowok: Ga Young, kau yang putuskan. Aku atau dia?


Ga Young menoleh pada Se Gye. Tapi kmudian ia melangkah menuju Min Ho (Cowok itu). Se Gye menahan tangannya, jangan pergi. Semua siswa cewek kembali histeris.


Tapi Ga Young melepaskan tangan Se Gye dan berjalan mendekati Min Ho. Min Ho merasa diatas angin, tapi ucapak Ga Young selanjutnya langsung menjatuhkan Min Ho ke dasar.

"Min Ho. Kau.. sangat jelek. Jadi sadarilah tempatmu dan bersikap yang baik!"

Semua anak ketawa ngakak. 


Min Ho gak terima, ia akan memukul Ga Young, tapi Se Gye berhasil menahan tangannya. "Jangan berani-berani menyentuh wanitaku."


Tapi Se Gye malah terlibat masalah besar. Min Ho kan berempat sedangkan ia sendiri. Min Ho kesal dan mengejarnya bersama teman-temannya.


Do jae berlatih menyebut nama ikan-ikannya tapi ia salah terus. Joo Hwan kesal, tidak bisakah Do Jae melakukannya dengan benar? Do Jae sungguh sedang jatuh cinta, ya? Akal sehat Do Jae sudah pergi?

Do jae berkata kalau ia tahu salah satu ikannya, ikan yang paling mencolok pemberian dari Sa Ra. 

"Tentu saja! Dia satu-satunya yang berbeda." Bentak Joo Hwan.

"Tepat sekali. Kenapa dia satu-satunya yang berbeda?"

"Kenapa kau menanyai dirimu sendiri? Kau begitu membutuhkan perhatian?"

"Sekretaris Jeong. Apakah kau pernah bergairah karena tubuh pria lain?"


Joo Hwan sontak menjauh. Do Jae menegaskan kalau maksudnya bukan itu, tapi Joo Hwan tetap tidak percaya. Tapi Joo Hwan tetap menjauh saat Do Jae melangkah mendekatinya.


Do Jae mendapat telfon dari kantor polisi, katanya putranya yang bernama Seo Do Jae ada di kantor polisi akibat tindak kekerasan.

"Putraku?" Ulang Do Jae. 

"Ya, putra Anda."

"Aku hanya ingin memastikan. Di sana sekarang tahun berapa?"


Do Jae datang ke kantor polisi sendiri dan yang dimaksud putranya itu adalah Se Gye. 


Se Gye duduk bersama Ga Young, sementara keempat lawan Se Gye tadi babak belur dan mereka semua bersama ibu masing-masing.


Do Jae mendekat, ia memangil Se Gye dengan namanya, Seo Do Jae dan Se Gye memanggil Do Jae, Ayah.


Ibu-ibu langsung mendekati Do Jae, mereka berkesimpulan kalau Do Jae memiliki Se Gye pasti di luar nikah. Itu sebabnya, mereka harus menjauhkan putra-putra mereka dari berandalan seperti Se Gye.

Do Jae: Ucapanmu barusan menunjukkan orang seperti apa dirimu sesungguhnya.

Ibu Min Ho: Apa? Memangnya apa salah anakku? Dari yang kudengar, gadis ini tidak sadar posisinya dan menggoda putraku.

Se Gye: Ahjumma, jaga ucapanmu!

Ibu yang satu lagi: Lihat anak ini. Beraninya kau memelototiku? Ibu Min Ho, jangan menjatuhkan dirimu pada level mereka. Gugat saja mereka. Biarkan hukum yang mengatur semuanya. Apa kau tahu siapa yang--

Se Gye: Sebentar, Ajummoni. Maafkan aku, tapi putramu di sana itu yang melayangkan tinju duluan. Aku hanya sangat tangkas dalam menangkisnya. Dan juga, putra-putra kalian mengeroyokku, kemudian terpeleset sendiri seperti sekumpulan orang bodoh.


Min Ho langsung mendorong Se Gye karena ia tak teima diejek seperti tadi. Se Gye tidak apa-apa, tapi Do Jae mulai sandiwara.

"Apa? Kau merasa akan mengeluarkan seliter darah? Kau akan pingsan?"

Se Gye awalnya gak ngerti kenapa Do Jae bersikap seperti itu, baru beberapa detik kemudian ia paham dan mengikuti sandiwara Do Jae, ia pura-pura sangat kesakitan.


Do Jae menunjukkan kartu namanya. Ibu Min Ho menerimanya tanoa membacanya dan ia kesal dengan permainan Do Jae itu. Tapi saat Ibu-ibu membaca kalimat Sun Ho Grup, T Road Air, mereka langsung gemetar.

Do Jae: Aku sudah menghubungi departemen hukum kami. Kita akan tahu siapa pelaku dan siapa korban di sini. Kemudian biarkan hukum yang membereskannya. Termasuk insiden yang baru saja terjadi.

Dan ibu-ibu itu langsung berbalik memarahi anak masing-masing.


Semuanya beres dalam sekejap. Ga Young heran, kenapa Se Gye mau membantunya? Se Gye menjawab karena ia mencintai Ga Young.

"Jangan bercanda. Sungguh, kenapa kau membantuku?"

"Hmm.. Karena tteokbokki yang kau belikan untukku hari itu sangat enak?"

"Terima kasih."

"Bukan apa-apa. Sampai jumpa."


Ga Young meminta nomor Se Gye saat Se Gye akan pergi tapi Se Gye berbohong kalau ia harus sekolah ke luar negeri, ke Perancis, Cannes.

"Aku... akan menjadi seseorang yang lebih baik dan sempurna untukmu, lalu kembali." Lanjut Se Gye.

"Cara yang sempurna untuk berpisah."

"Kau menyukai kata-kataku?"

"Kehormatan untukku menghabiskan waktu bersamamu."

"Aku yang terhormat."


Se Gye pulang bersama Do Jae. Do Jae tahu Se Gye orang baik, tapi ia tidak menyangka akan sebaik hari ini.

"Orang-orang menjadi misterius dengan cara seperti itu. Sebab itulah, kadang kala kita dikhianati. Kenapa kau datang?"

"Kau meneleponku."

"Kau bahkan tidak ingin melihatku, tapi datang karena teleponku?"

"Apa maksudmu?"

"Katamu, aku membuatmu tidak nyaman."


Do Jae lanngsung memandang Se Gye tapi Se Gye menyuruhnya memandang ke depan saja, jangan melihat seseorang yang membuatnya tidak nyaman. Do Jae langsung menghentikan mobil.

Se Gye meninggikan suaranya, apa Do Jae mau menurunkannya karena membuatnya tidak nyaman?

"Makanya aku tanya, apa maksudmu?" Tanya Do Jae.

"Tadi kau yang bilang. Katamu berharap aku segera kembali pada diriku sendiri. Katamu kau tidak nyaman. Apa maksudnya itu? Itu berarti kau tidak menyukai diriku yang sekarang. Katamu kau akan mengenaliku dan tidak memiliki prasangka apa pun. Kau sama seperti yang lainnya."

"Kau kecewa karenanya?"

"Aku bukan kecewa, tapi marah."

"Kau menyebabkan masalah ketika kau kecewa lalu menghubungiku? Sebagai ayah, bukan kakak?"

"Bahkan meski aku sedang kecewa, aku harus membereskan sesuatu yang mendesak. Sudah kubilang aku tidak kecewa, aku marah!"

"Kami membuka event promosi dalam waktu seminggu. Kami membutuhkan Aktris Han Se Gye selaku model maskapai kami."

"Apa?"

"Kenapa aku harus tidak nyaman dengan penampilanmu seperti itu? Aku satu-satunya yang tahu faktanya. Bagiku, kau selalu adalah Han Se Gye. Tidak sedetikpun kau bukan dirimu. Ketika aku mengatakan tidak nyaman, mungkin itulah yang sedang kubicarakan."

"Mestinya kau bicara yang jelas. Kau membuatku salah paham."

"Aku mengaku salah. Aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku seharusnya memikirkan tentang lawan bicaraku juga."

"Jika kau mengaku salah secepat itu, kau membuatku merasa malu dan bersalah juga."

"Kau merasa bersalah padaku?"

"Tentu saja. Aku meneleponmu gara-gara ini padahal salah paham tentangmu. Aku mabuk dan bikin masalah."

"Kalau begitu, mari tinggal bersama."


Se Gye ketawa, setelah mengajak tidur bersama, sekarang mengajak tinggal bersama?

Do jae: Anggap saja aku sebagai penjaminmu. Aku khawatir kau akan masuk penjara sebelum kita bisa berbisnis.

Se Gye: Tetap saja, bagaimana bisa pria dan wanita tinggal bersama begitu mudahnya?

Do Jae: Kupikir, kita sama-sama pria.

Se Gye: Aku bilang ingin minta maaf tentang kata-kataku itu.

Do Jae: Lagi pula kau kan tidak punya tempat tujuan lain.

Se Gye: Aku punya.

Do Jae: Tidak punya.


Eun Ho bernegosiasi dengan Sa Ra, ia akan mengganti lampu yang ia pecahkan dengan bekerja pada Sa Ra, tapi Sa Ra tidak mau. Sa Ra ingin Eun Ho membayarnya dengan uang.

"Aku tidak punya uang. Sampai aku membayar lunas benda itu, aku akan menjadi asisten rumah tanggamu."

"Kenapa aku harus memercayaimu dan membiarkan seorang pria di rumahku sebagai asisten rumah tangga?"

"Kau membiarkanku di dalam sampai sekarang."

"Itu..."

"Kau merasa puas."

"Aku merasa puas, tapi--"

"Aku akan segera menjadi Pendeta."


Sa Ra meminta penjelasan, maksudnya yang mengurus pernikahan? Eun Ho mengelaknya, ia akan menjadi Pendeta yang sebenarnya, selayaknya Suster. Ia tidak tertarik pada wanita. Karenanya, ia pun tidak tertarik pada Sa Ra.

"Tetap saja." Bantah Sa Ra.

"Bantu aku. Tidak bisakah kau membantuku?"

Sa Ra mengalah.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap