Thursday, October 18, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 6 Part 2

Sumber: jtbc


Sa Ra mengajak Eun Ho ke restaurant steak. Sa Ra makan steak disana tapi Eun Ho cuma dipesankan kopi. Eun Ho menyesal, ia semestinya memesan steak.

"Kau yang bilang ingin kopi. Aku lapar. Aku habis makan di tempat yang menjijikkan. Mengunyah makanannya saja aku tidak sanggup."


Eun Ho bertanya kenapa Sa R menangis, tapi Sa Ra membantahnya, ia tidak menangis kok. Eun Ho tidak sebodoh itu bisa dibohongi oleh Sa Ra. Akhirnya Sa Ra mengaku. 

"Gara-gara lelaki. Ya, lebih tepatnya, para lelaki."

"Mengejutkan sekali. Kau tampak seperti tipikal yang membuat menangis para pria."

"Biasanya memang seperti itu. Selagi kita di sini, aku ingin tanya padamu. Orang yang berkencan dengan Han Se Gye, kau, 'kan? Yah, aku mengerti. Wanitamu bersama seorang pria asing dan dipotret bersama seolah tengah berkencan. Kau pasti banyak pikiran. Apakah dia harus melalui semua kesulitan itu?"

"Se Gye dan aku adalah teman. Kami melalui banyak hal bersama selagi tumbuh dewasa."

"Omong kosong. Mana mungkin laki-laki dan perempuan bisa sekedar berteman?"

"Hanya karena kau belum pernah mengalaminya, tidak berarti kau dapat menganggap orang lain sama."

"Benar, tidak seharusnya. Lalu, apa yang terjadi di antara mereka berdua? Mereka tidak berkencan sungguhan."

"Jika ada yang ingin kau tanyakan pada Han Se Gye, tanya langsung padanya. Sudah kukatakan ini padamu sebelumnya."

"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku ada pertanyaan untukmu. Apakah kau sungguh tertarik kepadaku?"

"Tertarik padamu?"

"Kau minta kopi dariku."

"Ah.. Aku mendengar kau mencariku ke kafe. Kupikir mungkin ada yang ingin kau katakan padaku. Aku ingin mendengarnya. Di saat bersamaan, aku sekalian ingin kopi gratis."

"Lalu, bagaimana dengan waktu-waktu lain ketika kau muncul di hadapanku? Kenapa kau menanyakan nomorku dan menghubungiku?"


Eun Ho ketawa, "Kurasa, ada kesalahpahaman. Aku tidak menyukai orang jahat."

Eun Ho menerima pesan Se Gye, menyuruhnya membawa Kingkan padanya. Maka Eun Ho pun pamit pada Sa Ra.

"Terima kasih untuk kopinya." Kata Eun Ho lalu pergi.


"Begitu pula denganku. Aku tidak menyukai orang baik." Balas Sa Ra. Tapi Eun Ho tetap pergi.


Se Gye mengajak Woo Mi dan Eun Ho minum-minum, ia bahkan nyanyi-nyanyi sebelum minum. Woo Mi langsung merebut minuman Se Gye. 

Woo Mi: Ini saatnya kau menari? Kang Sa Ra menanyakan padanya tentang kau dan Seo Do Jae sungguh berkencan atau tidak.

Se Gye: Memang apa yang akan dia lakukan tentang hal itu? Hei, omong-omong kenapa kau menemui Kang Sa Ra segala?


Eun Ho: Kau sebaiknya berhati-hati sebelum aku menjual informasi tentangmu pada orang lain.

Eun Ho lalu membahas tempat Se Gye tidur malam ini, gak mungkin kn Se Gye pulang dengan keadaannya saat ini.

Woo Mi: Tentu tidak bisa. Tidak bisa. Kau tidurlah di rumahku.

Se Gye: Oh-ho! Kau tidak melihatku sebagai seorang pria? Hei, selagi membicarakannya, kenapa kita tidak ke sauna yang kusebut waktu itu saja?

Eun Ho: Kau gila, ya? Aku ini pantas jadi Hyungnim-mu, tahu.

Se Gye: Kita bisa lihat siapa Hyungnim yang sesungguhnya setelah ke sauna.


A Ram datang bersama Kingkang. Se Gye yang kangen sama Kingkang langsung memanggilnya tapi Woo Mi cepat-cepat menutup mulutnya. Woo Mi mengkode kalau A Ram tidak tahu yang sebenarnya. Se Gye pun diam.


A Ram minta uang pada kakaknya karena sudah mengantarkan Kingkang.

"Kenapa kau minta uang untuk hal seperti ini." Eun Ho enggan memberikannya. 

"Katamu, kau bisa kena skandal kalau melakukannya sendiri. Cepat! Cepat!"

Eun Ho pun terpaksa memberikan uang, 10rb won. 


A Ram melihat wajah Se Gye dan sepertinya ia tertarik, ia bertanya siapa Se Gye. 

Woo Mi: Ah, dia seseorang yang tidak perlu kau kenal.

Eun Ho: Diimpikan saja pun jangan.

A Ram: Kenapa? Aku bisa memimpikan apa pun semauku. Berapa usiamu? Kau menyukai wanita yang lebih tua?


Tapi Se Gye tidak menjawab, ia langsung mengambil Kingkang dari Eun Ho. 

A Ram: Kau menyukai anak anjing, 'kan?

Se Gye: Kau menyukai laki-laki seperti ini, 'kan?


Woo Mi: Biarkan saja mereka. Lagi pula, ini akan berakhir. Dalam beberapa hari, ini akan berakhir.

Eun Ho: Aku khawatir karena dia selalu menyukai pria-pria tampan. Khawatir.


Ahjumma pemilik warung mendekat sambil membawakan sebotol soju, ia harusnya yang khawatir. Lalu Ahjumma meminta KTP Se Gye. 

Se Gye: Oh, aku belum lama dilahirkan.

Semuanya ketawa.

Ahjumma: Pergi sana. Enyahlah!


Di rumahnya, Do Jae menganalisis tampilan Se GYe yang baru. Ia membuat sketsa wajah Se Gye. Ia memberinya judul <Han Se Gye...?> 


Se Gye datang dan Do Jae langsung menuju pintu. Se Gye menyapa Do Jae, Hello.

Do Jae: Kau menyuruhku menunggu tapi kau sendiri terlambat. Dan lagi, kau mabuk.

Se Gye hanya mengangguk.


Se Gye: Oh-ho... kau tidak tanya siapa aku? Ah, ya, ibumu baik-baik saja?  Kelihatannya dia baik-baik saja. Dia meneleponku lebih dari 20 kali.

Do Jae: Kau tidak menjawabnya?

Se Gye: Tentu... tidak kujawab.

Do Jae: Dia akan baik-baik saja. Dia sudah melalui yang jauh lebih buruk dari itu.

Se Gye: Aih, kau mengatakan hal menyedihkan lagi.


Se Gye berjalan menuju sofa, ia langsung berbaring, "Aku akan menggila selama seminggu. Jangan menghentikanku. Tidak peduli sebanyak apa pun aku makan, aku akan segera kembali normal. Luar biasa, 'kan? Kau terkejut?"

"Aku tidak bilang kau boleh membawa anjing."

"Ini bukan anjing, ini anak anjing. Selagi membicarakannya, bisakah kau mengizinkan Kingkang dan aku tidur di sini?"

"Kenapa harus?"

"oh.. Haruskah aku pulang ke rumah dengan penampilan seperti ini dan menghancurkan rencana kita menjadi pasangan abad ini? Kau ingin begitu, ya?"

"Lakukan semaumu. Haruskah aku jelaskan siapa yang akan merugi lebih banyak?"

Se Gye un berhenti menggertak.


Se Gye tiba-tiba menarik kaosnya ke atas. Do Jae kesal, sedang apa Se Gye itu? 

"Apa masalahnya? Kita berdua kan sama-sama pria. Tunggu. Kau punya pikiran kotor dalam benakmu. Tatapan matamu itu."

"Bisa bilang apa aku pada orang yang sedang mabuk? Mari bicara setelah kau sadar."

"Lihat mata yang gelap itu, penuh hasrat. Kau menyukai seseorang seperti ini?"


Do Jae menggeleng lalu meninggalkan Se Gye. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya.

"Kubilang keluarlah! Jelaskan sorot mata bernafsu itu! Apa maksudnya itu? Hyungnim! Bukan. Oppa! Aku tidak mabuk!"


Se Gye terbangun karena jilatan Kingkang. Ia ingat apa yang dilakukannya semalam. Ia langsung memukul-mukul kepalanya sendiri dan dadanya.

"Aku seekor anjing. Aku yakin, aku anjing. Tidak heran, makanannya Kingkang tampak lezat. Mati sajalah. Mati." Batin Se Gye.

Berikutnya Se GYe malah mengagumi otot tubuhnya sendiri, Wah, bagus.


Do Jae keluar kamar hanya meenggunakan handuk dan Se Gye terkejut melihatnya, ia langsung menutup matanya.

"Kenapa kau mandi telanjang pagi-pagi?"

"Terus aku harus mandi pakai baju, begitu? Apa masalahnya? Kita sama-sama pria." Balas Do Jae.

"Masalahnya..."

"Semoga kau tidak lupa dengan ucapanmu sendiri. Sana mandi dan ganti pakaian dulu. Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di tempatku tanpa mandi."


Do Jae menunjuk dimana kamar mandi dan dimana ruang pakaian. 


Se Gye mengamati DO Jae dari belakang dan ia juga mengagumi otot Do Jae.


Se Gye bercukur, dan tiba-tiba Do Jae berkomenar di belakangnya, katanya ia salah melakukannya. Se Gye terkejut saat menoleh. Do Jae lalu mendekati Se Gye 

"Aku masuk hanya untuk memeriksa. Aku khawatir kau mungkin menumpahkan darah di kamar mandiku."

"Bagaimana bisa kau menerobos masuk begini tanpa mengetuk?"

"Apa masalahnya? Kita sama-sama pria."

"Aku akan minta maaf karena berkata seperti itu."

"Buat apa minta maaf? Ucapanmu kan fakta."


Dan Do Jae mengajari Se Gye bercukur selagi ia ada waktu. 


Se Gye tersenyum setelah selesai, ia mengakui kalau Do Jae memang pintar sekali bercukur.

Se Gye: Karena aku belajar dengan baik kali ini, aku akan mencukur wajahmu lain waktu.


Se Gye mencari baju yang cocok untuk tubuhnya tapi tidak ada, semuanya kepanjangan. Yang cocok hanya seragam SMA Do Jae. Sekarang Se Gye bisa memasang dasi sendiri.


Se Gye pun keluar memakai seragam itu, ia berkata pada Do Jae kalau hanya itu yang cocok dengan tubuhnya karena ia masih anak remaja yang bertumbuh. Do Jae mengomentari Se Gye yang sudah pandai memakai dasi.

"Iya, 'kan? Aku juga berpikir begitu. Kenapa kau menyimpan seragam sekolahmu begitu baik?"

"Ayahku membuatkannya sendiri untukku."

"Kalau begitu, aku ganti yang lain saja."


Tapi Do Jae memanggilnya. Do Jae memintanya mendekat. Sekarang. Se Gye pun jalan mendekat.


Dan saat ini Do Jae melihat Se Gye bukan sebagai anak SMA tapi sebagai Se Gye yang sebenarnya.

"Di mana kita pertama kali bertemu?" Tanya Do Jae.

"Di rumah sakit."

"Apa yang kuberikan padamu di sana?"

"Rasa dipermalukan. Sapu tangan."

"Apa hal pertama yang kita bagi?"


"Kejengkelan. Sushi. Sushi itu rasanya sangat enak. Meskipun orang yang memakannya bersamaku sangat menjengkelkan. Tapi, tidak masalah. Saat itu aku pun bukan orang yang baik."

"Itu tidak benar. Saat itu, aku hanya tidak mengenalmu dengan "


Kingkang mendekat pada Se Gye dan Se Gye langsung menggendongnya. Sekarang Do Jae yakin kalau yang dihadapannya itu beneran Han Se Gye. 

"Bagaimana rasanya menyaksikannya sendiri?" Tanya Se Gye.

"Aku memiliki semakin banyak pertanyaan."

"Contohnya?"

"Kapan kau akan kembali?"

"Kenapa? Kau ingin aku lekas kembali?"

"Ya, aku ingin kau kembali secepat mungkin."

"Apakah aku membuatmu tidak nyaman?"

"Sangat."

"Karena aku bukan Han Se Gye?"

"Karena kau bukan Han Se Gye."


Se Gye kesal, ia melimpahkannya dengan makan Tteokbokki di kedai langganannya.

"Dia sama. Tetap sama. Memang apa yang kuharapkan? Tentu saja. Aku aneh. Wajar dia menganggapku aneh. Seo Do Jae itu berengsek."

Se Gye pesan satu porsi lagi.


Se Gye melihat ada empat siswa. salah satu dari mereka mengatakan kalau Ga Young mengajaknya kencan. Cowok itu lalu meminta uang dari teman-temannya, ia menang taruhan. 

"Apa kubilang? Ketika seorang gadis dalam situasi sulit, mudah untuk membuatnya terpikat." Jelas Cowok itu.

"Kau pasti senang sekali. Seorang gadis miskin menyukaimu."

"Aish. Kalau jadi aku, kau akan senang?"

"Kenapa? Kudengar, dia menerima uang dari yayasan kesejahteraan. Uang gratis kan bagus."


Se Gye tidak mengerti, bagaimana bisa mereka mengatakan hal semacam itu tanpa merasa bersalah?


Se Gye menoleh pada siswa cewek tak jauh darinya. Siswa itu menangis, dia adalah Ga Young yang dimaksud cowok-cowok itu tadi.


Se Gye langsung mendekati Ga Young. Se Gye melihat wajah Ga Young dan ia ingat. Ga Young adalah siswa di upacara pemberian donasi itu yang hampir dilecehkan oleh CEO.


Se Gye bergumam, dunia tampaknya tidak ingin meninggalkan Ga Young sendirian. Ga Young gak ngerti maksud Se Gye.

"Apa yang kau ingin untuk kulakukan? Haruskah aku membalas mereka atau membuat mereka menyesal seumur hidup?" Tanya Se Gye.

"Apa?"

"Aku bisa melakukan keduanya. Sejujurnya, aku seorang aktor. Dan ada sebuah genre yang selalu ingin kucoba."


Anak-anak cowok itu lewat di depan mereka, Ga young langsung menyembuyikan wajahnya, ia menunduk dalam-dalam agar tidak terlihat.


Se Gye: Kau Ga Young. Mereka tadi membicarakanmu. Aku bisa membantumu.

Ga Young: Siapa kau?

Se Gye: Hanya seseorang yang kebetulan suasanya hatinya buruk. Sejujurnya, aku.. membenci para pria yang memainkan hati para gadis.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap