Thursday, October 18, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 6 Part 1

Sumber: jtbc


Se Gye nonton drama sebelah, The Third Charm episode 6. Eun Ho datang dan Kingkang langsung menyambutnya.


Se Gye mendaat pesan dari temannya, 

Bagaimana bisa kau tidak datang ke pernikahanku?
Aku terlanjur pamer ke orang tua suamiku bahwa aku akan datang.
Ketika kau debut, aku menonton filmmu lebih dari tiga kali.
Sekarang kau sudah jadi artis top, begitu?


Eun Ho bertanya, apa itu Se Jin? Se Gye membenarkan, Se Jin marah karena ia tidak datang ke pernikahannya.

"Dia menanyaiku sampai akhirnya upacara pernikahan dimulai. Soal kau datang atau tidak." Jelas Eun Ho.

"Ini bukan pertama kalinya. Aku kehilangan semua temanku seperti ini. Aku bahkan mungkin tidak bisa menggelar pernikahanku sendiri. Buat apa peduli dengan pernikahan teman?"

Se Jin mengirim pesan lagi, "Aku sungguh kecewa padamu."

Se Gye hanya menjawab dengan perkataan maaf.

"Sejak kali pertama gejalaku muncul, tidak pernah seharipun aku merasa ini tidak adil."


Ibu memprots Se Gye yang tidak tidak muncul ketika ibu menjalani operasi? Se Gye lagi-lagi minta maaf, ia beralasan kalau ia ada ada jadwal hari itu.

"Jadwal? Bagaimana kalau ibumu ini mati? Semua uang dan popularitas itu tidak ada gunanya."

"Sudah kubilang, maaf. Bu, apa ada yang Ibu butuhkan?"

"TIdak, bandel. Ibu tidak punya wali, jadi menjalani endoskopi tanpa anastesi. Ibu merasa sangat malang. Ini alasannya tidak ada gunanya membesarkan anak. Kututup."

Tapi aku tidak bisa hanya duduk diam.. menangis selama 10 tahun.


Se Gye tibatiba berubah saat ia sedang di toilet laki-laki. Ia membungkuk minta maaf pada semua orang yang ada di toilet.

"Aku sungguh minta maaf. Aku tidak melihat apa pun. Aku tidak lihat apa-apa."

Aku terbiasa disalahpahami.


Sejujurnya, aku pergi ke pernikahan itu. Aku ke sana, tapi dia tidak mengenaliku.


Ibu.. Sejujurnya, aku ke sana. Aku berada.. di sisimu.

Ibu memamerkan kecantikan Se Gye pada pasien lain. Pasien itu mengakui kalau Se Gye cantik, tapi kenapa putri cantik ibu tidak datang menjenguk ketika ibunya sedang sakit?

"Aiyoo, dia sangat sibuk, mana ada waktu? Dia terus bersikukuh untuk datang, tapi aku melarangnya."

"Ah. Kurasa, karena dia sangat terkenal."


Disamping iu ada nenek yang sedang mengupas buah. Ibu bertanya, siapa yang nenek jenguk? Nenek itu menjawab a menjenguk ibunya lalu ia memberikan buah yang sudah ia kupas untuk ibu.

Nenek itu adalah Se Gye.


Saat Se Gye berubah menjadi laki-laki, ia bingung saat mau masuk toilet. Jadi ia memutuskan masuk ke toilet laki-laki, tapi disana ia berubah menjadi dirinya sendiri. Ia pun malu bukan main. 

"Sedang apa kau di sini? Cepat pergi! Pergi!" Usir pria-pria yang ada disana. 

Aku pikir aku sudah terbiasa. Tapi, aku tidak pernah memperkirakan hal semacam ini terjadi.


Ibu Do Jae dibawa ke rumah sakit. Ia sadar sebentar tapi langsung pingsan lagi saat melihat Se Gye.

angsung pingsan lagi saat melihat Se Gye.

Do Jae menyuruh Se Gye menunggu di rumah, rumahnya. Se Gye merasa harus bertanggungjawab atas ibu Se Gye, karena semua ini penyebabnya adalah dirinya. 

"Kau ingin membunuh dia, ya?" Tanya Do Jae. Lalu ia memberikan kartu sambil berkata kalau password rumahnya adalah ulantahunnya. "Jika benar kau, maka kau pasti tahu."

"Aku tahu. Ini sungguh diriku."  Jawab Se Gye sambil menerima kartu itu.

"Kurasa, memang benar."


Do Jae akan menyentuh wajah Se Gye, tapi ia tidak bisa, maka ia hanya mengeluarkan kalung Se Gye.

"Sekarang, memang tampak seperti dirimu. Pulanglah. Karena aku belum sepenuhnya yakin." Suruh Do Jae.


Do Jae akan masuk menemui ibunya, tapi Se Gye menarik bajunya.

Do Jae: Kau berjanji tidak akan melarikan diri, ingat?

Se Gye: Kau pun sebaiknya tidak melarikan diri juga.

Dan Se Gye melepaskan Do Jae. Do Jae langsung lanjut jalan.


Ibu sudah siuman, ia bertanya berapa umur anak yang dilihatnya tad. Do Jae menjawab kalau ia tidak yakin, Sekitar 18? 19?

"Kau tidur dengannya tanpa tahu usianya?"

"Kami belum lama bertemu."

"Belum lama bertemu dan sudah... sudah-- Terserahlah. Aku semestinya tidak menolak dia (Han Se Gye). Ini gara-gara aku. Semua ini salahku. Aku yang bertanggung jawab."

"Aku tahu yang sedang Ibu bayangkan sekarang. Tidak peduli apa pun yang Ibu bayangkan, faktanya lebih baik dari itu."

"Apa? Maksudmu, kau sudah melakukannya?"


Profesor Kang datang memotong omongan mereka. Dengan panik ia bertanya, ada apa ini? 

"Ibu sedikit syok. Bukan masalah besar." Jawab Do Jae dan itu membuat Profesor Kang senang.

Ibu: Kurasa, bukan aku yang syok, tapi dia.

Do Jae: Seperti yang Ibu tahu, aku tidak suka berprasangka.

Ibu: Tetap saja, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan.

Do Jae: Tidak apanya yang tidak? Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri.

Profesor Kang: Lihat apa? Tidak lihat apa-apa, kok. Apa sih yang terjadi?

Ibu: Masalahnya adalah Do Jae-- Dia... gay.

Profesor Kang: Kau ingin keik? (*salah dengar gay dengan cake) Tapi, kan kau tidak suka keik. Tapi selera seseorang bisa berubah ketika sedang sakit.

Ibu: Bukan seleraku yang berubah.

Profesor Kang: Terus?

Ibu: Do Jae... Dia..

Ibu tidak sanggup melanjutkannya. Do Jae pun menegaskan sekali lagi kalau ini bukan seperti yang ibunya pikirkan. 


Profesor Kang mengeluarkan bunganya dan itu membuat ibu senang. 

"Tidakkah mereka tampak agak sedih? Mereka memiliki arti "cinta yang putus asa" dalam bahasa bunga. Cinta macam apa yang putus asa itu? Segala sesuatu tentang kesedihan begitu indah. Sepertimu." Jelas Profesor Kang.

Ibu awalnya mencium bunga itu tapi setelah mendengarkan penjelasan Profesor Kang ia membuang bunganya, "Ya, aku sedih. Aaaaaa..."

Do Jae: Melihat teriakannya, dia pasti baik-baik saja.


Kakek datang dengan terburu-buru, ia panik mendengar berita putri kesayangannya pingsan. 

Kakek: Katakan. Ayah bisa memberikanmu apa pun. Apa yang ingin kau makan? Apa yang ingin kau miliki?

Ibu: Ayah. Aku... menginginkan sesuatu.

Kakek: Ya, tentu, tentu. Apa itu?

Ibu: Se Gye. Se Gye. Aku menginginkan dia sekarang juga.


Kakek langsung bicara pada Profesor Kang, "Kau dengar yang barusan dikatakan putriku? Di ruangan yang kecil ini, dia memimpikan memiliki dunia (*Se Gye berarti juga dunia). Bahkan meski dia sedang sakit, dia seambisius itu.


Do Jae mendapat telfon dan ia langsung mengangkatnya. 

"Oh? Aku harus pergi ke kantor? Sekarang juga? Secepat mungkin?" Kata Do Jae seolah mengulang perkataan lawan bicaranya.

"Aku belum bilang apa-apa, kok." Joo Hwan heran. 

"Apakah aku sedang dikejar waktu sekarang?"

"Tentu, lakukan kalau memang ingin begitu. Sebenarnya memang terjadi sesuatu."

"Bagus sekali."


Do Jae pamit pada yang lain kalau ia ingin ke kantor. Kakek marah karena DO Jae malah mau pergi disaat ibunya sakit. 

Do Jae: Kakek tidak mengerti. Justru kalau aku tetap di sini, maka aku jadi anak kurang ajar. Istirahatlah. Aku akan menelepon nanti.

Ibu: Se Gye-ya, aku bersalah padamu. Oh, Se Gye-ya.


Woo Mi mendapat telfon dan saat ia mau mengangkatnya, tba-tiba ponselnya meloncat keluar hendak jatuh. Untung ada Se Gye yang menangkapkannya. Woo Mi sangat berterimakasih dan saat ia melihat wajah Se Gye ia langsung tertarik.

"Kau memiliki wajah yang tampan. Apa kau sudah direkrut sebuah agensi?"

"Ponselmu berdering."

"Ah, aku tidak perlu menjawabnya sekarang. Apa kau tertarik untuk berakting?"


Woo Mi bahkan memberikan kartu namanya. Se Gye menerimanya tapi mengatakan kalau ia tidak boleh menerima sembarang kartu nama sama ibunya. 

Woo Mi: Aku ini bukan orang asing.



Yang menelfon itu Se Gye dan Woo Mi dengan kesal menolak panggilan Se Gye. Woo Mi lalu menunjukkan nama kontak Se Gye di ponselnya serta catatan berapa kali Se Gye menelfonnya. 

"Kau tahu Han Se Gye, 'kan? Aku Presdir dari agensi Han Se Gye. Selama ini, aku mencari-cari rupa sepertimu."

"Apa maksudmu dengan rupa sepertiku?"

"Sempurna untuk Cannes. Biar kukirim kau ke Cannes."

"Biar aku telepon ibuku dan tanya apa aku boleh pergi ke sana."


Ponsel Woo Mi berdering lagi saat Se Gye menelfon. Se Gye lalu menyuruh Woo Mi menerimanya, "Jawablah. Jawablah, Bu."

Woo Mi baru sadar kalau yang di depannya itu adalah Se Gye. Se Gye mengaku kalau ia sudah tamat, bagaimana ini?


Woo Mi tak menyangka akan seperti tadi, tidak peduli bagaimanapun tampang Se Gye, Se Gye akan selalu menjadi artisnya.


Se Gye mengambil bir di kulkas tapi Woo Mi langsung merebutnya karena Se Gye yang sekarang masih dibawah umur.


Se Gye: Aku barusan membuat seseorang masuk rumah sakit. Aku tidak sanggup tetap sadar. Berikan padaku.

Woo Mi: Siapa? Apakah orang itu tahu siapa dirimu?

Se Gye: Tidak. Mana mungkin dia tahu?

Woo Mi: Tidak? Kalau begitu, tidak masalah.

Se Gye: Apanya yang tidak masalah? Aku membuat ibunya Seo Do Jae kolaps.

Woo Mi: Ibunya Seo Do Jae kolaps? Kenapa?


Se Gye mengaku kalau ia tidur di tempatnya Do Jae. Se Gye udah takut banget kalau Woo Mi akan marah, tapi malah sebaliknya, Woo Mi memeluknya senang, berkata kalau Se Gye akhirnya tumbuh dewasa juga.

"Aku bangga sekali padamu. Aku sangat bahagia sampai ingin menangis." Lanjut Woo Mi.

Se Gye mengelak, bukan itu maksudnya. Woo Mi bertanya, apa Do jae tidak terkejut melihat Se Gye seperti ini? Apa Do Jae memanggilnya 'Se Gye-ya', begitu? Se Gye terdiam.


Woo Mi: Kau tidak ingat yang kau katakan? Kau berharap selain aku dan Eun Ho, ada orang lain, yang akan selalu memanggilmu dengan namamu. Seo Do Jae kah orangnya?

Se Gye: Dia tidak tampak terkejut.

Woo Mi: Bagus kalau begitu. Sekarang, dia hanya perlu memanggilmu 'Se Gye-ya'.

Se Gye langsung memeluk Woo Mi.


Joo Hwan bertanya ada apa, tapi Doo Jae menjawab ia tidak mau mengatakannya. Joo Hwan tidak peduli, kalau tidak mau mengatakannya ya sudah.

"Kenapa kau menyerah secepat itu?" Heran Doo Jae.

"Jadi, ada apa?"

"Tidak akan kuberi tahu."

"Boleh aku bilang 'tidak akan kuberi tahu' juga?"

"Ada apa? Ada apa?"

"Aih, kau menang. One Air menyerang duluan. Mereka memulai promosi seminggu lebih awal dari biasanya."

"Itu tidak dapat dihitung sebagai serangan."

"Memang serangan, kok. Menggunakan merek dagang mereka, dilakukan promosi seribu won. Respon konsumen sangat antusias."


Doo Jae menanyakan apa rencana serangan balasan mereka.

"Tidak banyak. Semua proposal tampak tidak menarik. Favorit dari dewan direksi tampaknya strategi perbaikan layanan kelas satu."

"Memangnya layanan kelas satu bisa lebih baik lagi yang seperti apa? Mereka bermaksud membangun istana, begitu?"

"Direktur Kim tampanya menyukai ide itu. Mungkin karena dia berpikir dirinya kelas satu."

"Mereka datang kemari hari ini untuk mendapat persetujuan rencana itu? Ah.. Aku hari ini sungguh tidak ingin bicara."


Do Jae masuk ruang rapat langsung bicara, "Di antara kelas satu dan kelas ekonomi, menurut kalian siapa yang akan menang? Semakin banyak orang yang dimiliki, semakin besar kemungkinan menang. Aku tidak ingin memainkan permainan mengalah. Jika itu pertarungan antara 17 lawan 1, aku ingin menjadi bagian yang 17 itu."


Direktur Kim: Apakah ini begitu sulit untuk dipahami? Jika dipikirkan, penumpang kelas satu merupakan pelanggan setia T Road Air. Bukan begitu? Karenanya, sebagai tanda terima kasih, mari tingkatkan layanan penerbangan untuk mereka. Itu saja yang ingin kusampaikan. Apa salahnya itu?

Doo Jae: Karenanya, Direktur Kim, jika kau diberi tahu melalui SNS bahwa ada event ketika membeli tiket penerbangan kelas satu, apakah kau akan aktif berpartisipasi?

Direktur Kim: Tentu saja aku...


Do Jae: Aku tidak akan. Kenapa? Karena aku tahu mereka akan memberikan pelayanan yang baik meski tidak melakukannya. Dengan kata lain, hal itu sudah pasti. esuatu yang sudah pasti tidak bisa disebut event. Itu rutinitas harian. Mengubah rutinitas harian menjadi sesuatu yang istimewa. Itu disebut perjalanan. Dengan begitu, intinya, itulah yang semestinya kita lakukan. Kita akan mengubah targetnya ke kelas ekonomi. Partisipan yang terpilih secara acak dalam event, akan mendapatkan upgrade gratis ke kelas satu.


Pak kacamata: Pak, tidak masalah untuk penerbangan jarak pendek dan menengah, tapi apa Anda tahu selisih biaya untuk penerbangan jarak jauh antara kelas ekonomi dan kelas satu? Setidaknya, selisihnya 10 kali lipat.

Do Jae: Sebab itulah. Penawarannya harus tinggi agar orang-orang tertarik.


Direktur Kim: Ah-ha. Kau bermaksud menciptakan Cinderella rupanya. Aku baru menyadari sesuatu, Direktur Seo. Kau begitu menyukai Cinderella.

Semua orang ketawa mengikuti Direktur Kim.

Do Jae: Itu ide yang brilian. Direktur Kim, kau begitu mengagumkan. Untuk event Cinderella, masuk akal untuk membawa Cinderella sungguhan.

Direktur Kim: Maksudmu, kau akan membawa serta Han Se Gye? Aigoo. Kau ingin bekerja dan berkencan secara bersamaan?

Do Jae: Kenapa? Tidak boleh? Aku hanya perlu berkencan dan bekerja dengan baik. Kalau kau iri, kau seharusnya berusaha lebih keras. Bekerja dan berkencan.

Direktur Kim langsung membung bolpoinnya dengan kesal.

Do Jae melanjutkan, "Mari mulai event ini dalam seminggu. Cinderella sungguhan yang kukenal.. akan sibuk selama sepekan ini."


Sa Ra makan siang bersama dengan orang-orang tua. 

Sa Ra: Aku tidak pernah membayangkan dapat bergabung dengan Anda sekalian. Fakta bahwa aku diundang kemari.. pakah berarti aku melakukan tugas sebagai Direktur dengan baik?


1: Kau adalah wanita pertama yang diundang dalam makan siang kami. Wah, aku sangat menyukai event barumu. Tidak peduli berapa kali pun kami mengundang Seo Do Jae, dia tidak pernah mucul. Dia sangat keras kepala. Tentu, karena kau seorang wanita, kau tampak jauh lebih lembut darinya.

Sa Ra: Bukan karena aku seorang wanita, tetapi karena aku lebih ambisius dari kakakku.

2: "Kakakku"? Aku menyukai caramu memanggilnya. Kau juga semestinya memanggilku begitu.  Kapan pun kau memiliki masalah dengan bisnismu, hubungi aku dan percayakan padaku, maka aku akan menjadikanmu adikku. Aku melihat fotomu dengan seragam pramugari. Waaah.... Luar biasa!

Sa Ra tidak tahan ada disana lama-lama, ia langsung pergi dengan alasan ada urusan bisnis yang mendesak.

1: Kenapa kau bekerja sekeras itu ketika memiliki paras yang cantik? Dengan menjadi cantik saja, tugas seorang wanita sudah selesai. Bukan begitu?

2: Aigoo... Nasehat seperti itu harus dijunjung tinggi. Mari makan bersama seperti ini secara rutin.

Tapi Sa Ra tetap pergi.


Sa Ra ngebut dijalan karena kejadian tadi, Ia kesal. Bahkan saat berhenti di lampu merah, Sa Ra memukul setir mobil dengan keras.

"Dasar para bedebah." Umpatnya.


Sa Ra memutar balik mobilnya dan menghentikannya di tempat cuci mobil otomatis. 

"Menyedihkan sekali. Tidak dapat mengucapkan apa-apa. Aku begitu bodoh. Memangnya apa yang kuharapkan? Aku benar-benar bodoh."

Dan lama-lama Sa Ra menangis dengan keras, "Aku marah sekali! Sialan!"


Tapi saat mobil keluar, ia menghapus airmatanya segera. Ia bertanya berapa tarifnya dan ternyata Eun Ho bekerja disana juga. 

"Kau menangis?" Tanya Eun Ho. 

"Siapa?" Elak Sa Ra. 

"Harganya sama dengan kopimu. Kau tanya berapa harganya. Aku memintamu mentraktir secangkir kopi. Ini, aku yang bayar."

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap