Thursday, October 18, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 5 Part 4

Sumber: jtbc


Se Gye selesai melakukan audisi dan ia melihat Do Jae menjemputnya sambil membawa bunga. Do Jae melihat Se Gye, ia langsung berbalik badan menghadap Se Gye dan maju satu langkah.


Kebetulan saat itu para peserta audisi yang lain juga keluar bersamaan. Se Gye langsung berlari ke pelukan Do Jae. Semuanya langsung memotret sambil bisik-bisik. 


Se Gye: Diamlah. Aku hanya takut kau tidak akan mengenaliku. Itu sebabnya.

Do Jae: Kau memercayainya sekarang? Kelemahanku.

Se Gye: Aku sudah memercayainya sejak lama. Ada apa dengan bunganya?

Do Jae: Kupikir, ini hal yang baik. Ketika menjemputmu, aku pikir kita harus memainkan peran "Pasangan Abad Ini".

Se Gye: Kau sangat bagus memerankannya.

Do Jae: Itu saja? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Lancar?


Se Gye melepaskan pelukannya, "Tentu saja. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Han Se Gye."

"Aku senang membawa ini." Kata Do Jae dan langsung memberikannya pada Se Gye.


Do Jae membawa Se Gye ke rumahnya. Do Jae membahas soal Sutradara Lee yang sangat mudah berubah pikiran. Jika mengatakan tidak ingin bekerja sama dengan Se Gye, seharusnya berpegang teguh pada pendiriannya.

"Kurasa, aktingku terlalu bagus untuk ditolak. Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku akan membuat Chae Yu Ri membayar atas--"


Tiba-tiba Se Gye berhenti karena Do Jae berjalan ke arah yang tidak ia harapkan. Se Gye bertnaya, Do Jae mau kemana?

"Memasak ramyeon. Aku lapar."


Dan setelah matang, Se Gye yang memakan ramyeon-nya. Se Gye memuji Do Jae yang pandai memasak Ramyeon, seorang profesional. 

"Aku tidak bilang akan berbagi denganmu." Ujar Do Jae.

"Baiklah, aku akan membayarnya kembali. Jangan memedulikan hal seperti ini dan berlatihlah dialog bersamaku."


Se Gye memberikan buku naskahnya pada Do Jae. Do Jae merasa tidak perlu melakukannya. 

"Agar kau bisa sukses, aku harus sukses lebih dulu. Kau tidak mau?" Ancam Se Gye.


Do Jae melakukannya dengan setenagh hati, tapi Se Gye tidak mau, harus ada emosi. Do Jae pun mengulanginya lagi, kali ini ia mendalami dialognya.

"Namun, aku tahu aku memilikimu. Sebab itulah aku datang ke dunia ini. Mungkin.. kau telah.. menungguku juga."

Se Gye terpukau dengan dialog Do Jae itu sampai membuatnya lupa dialognya sendiri.


Do Jae membanting naskahnya dan tiba-tiba bertanya kapan mereka akan tidur bersama.

"Astaga. Hanya itu yang ada dalam pikiranmu?" Heran Se Gye.


Do Jae menatap bayangannya di cermin saat akan menggosok gigi dan ia kesulitan mengenali wajahnya sendiri.


Lalu datanglah Se Gye yang memakai pakaiannya dan dengan santai menggosok gigi disampingnya. Do Jae un bisa tersenyum tipis lalu menggosok gigi juga.


Se Gye menyinggung soal alat pencukur yang ada disana, kenapa Do Jae membutuhkannya. Do Jae merasa aneh membicarakan itu degan seorang wanita.

"Terakhir kali aku tergores saat menggunakan pencukur dan mengeluarkan seliter darah." Jelas Se Gye, lalu ia melihat dagu Do Jae dan hasil cukurannya jempolan. 

Do Jae: Aku akan mengajarimu, kalau ada waktu.

Se Gye: Sungguh? Kalau begitu, boleh aku minta satu hal lagi.


Se Gye masuk ke ruang baju Do Jae dan ia ak menyangka Do Jae punya banyak sekali pakaian.

"Kau punya banyak sekali pakaian. Kau menjalani kehidupan yang terlalu mewah. Bahkan meski kau begitu kaya. Kau berjualan pakaian, ya?"

"Pakaian seperti wajah bagiku. Meskipun aku tidak bisa mengenali wajah orang, aku dapat mengenali pakaianku sendiri."


Do Jae mengambil salah satu dasinya dan menyuruh Se Gye mencoba memakainya. Se Gye melakukannya, tapi ia bingung.


Lalu Do Jae membantunya. Terakhirnya Se Gye malah fokus menatap wajah Do Jae, bukannya menatap cara Do Jae mengikatkan dasinya.


Se Gye ketahuan oleh Do Jae sedang menatap wajah Do Jae. 

"Tatapanmu seolah menginginkanku." Kata Do Jae.

Se Gye membantahnya, ia langsung mencopot dasinya sambil berkata kalau ia tidak mengerti cara memakainya. Ia mengembalikannya pada Do Jae dan pergi meninggalkan Do Jae. Do Jae hanya tersenyum.


Se Gye memasang bantal sebagai batas mereka. 

"Kuperingatkan kau. Kalau berani melewati pembatas, hari ini akan jadi hari kematianmu." Tegas Se Gye.

"Aku akan langsung menelepon polisi kalau kau melakukannya."

"Ranjang ini sungguh sangat besar."

"Kenapa? Kau kecewa?"

"Aku sungguh tidak tahu akan berubah jadi siapa."


Do Jae masih belum yakin soal itu.  Ia masih belum memercayai yang Se Gye katakan.

Se Gye: Aku mungkin berubah jadi kakek-kakek.

Do Jae: Kalau begitu, aku akan bersikap sopan padaku.

Se Gye: Dan mungkin bukan hari ini.

Do Jae: Kalau begitu, mari tidur bersama juga besok.


Se Gye kembali memperingati Do Jae, bisa nggak, berpikir dulu sebelum bicara?

"Kenapa? Kau mulai memiliki perasaan padaku?" Tanya Do Jae.

"Omong apa, sih? Benar-benar!"

"Tidak masalah.. selama aku tidak mengetahuinya."

Se Gye tersenyum, "Kau bahkan tidak bisa mengingat wajah asliku. Bagaimana kau akan mengenaliku jika aku berubah?"

"Sebab itu aku memikirkan tentang ini. Bolehkah aku menyentuhmu? Wajahmu."

"Aku akan tetap membuka mataku. Kecuali terasa terlalu canggung."


Do Jae pun menyentuh wajah Se Gye. Dan setelahnya ia berkata kalau Se Gye itu jelek. Se Gye tak terima dan langsung menjauhkan tangan Do Jae.


Mereka saling memunggungi setelahnya. Do Jae bergumam, apa Joo Hwan benar ya? 

Se Gye masih kesal, tapi Do Jae malah senyum-senyum.


Do Jae membuka matanya terlebih dahulu di pagi hari. Dan ia langsung memandangi Se Gye yang masih memunggunginya.

Se Gye ternyata belum berubah, masih dirinya yang asli saat Se Gye menunjukkan wajahnya. Do Jae mengamatinya lekat-lekat dan itu membuat Se Gye bangun. 

"Kau sudah bangun." Gumam Se Gye. 

"Ini masih kau, 'kan? Suaramu juga masih sama."

Se Gye mengetes suaranya dan benar saja, memang masih dirinya. 

"Apa-apaan ini? Kau tidak berubah. Kau membodohiku, ya?"


Se Gye langsung duduk, "Kenapa hal pertama yang kau lakukan di pagi hari adalah mengajakku bertengkar? Aku sudah berkali-kali bilang padamu, aku mungkin tidak berubah. Kurasa, ini bukan harinya."

"Mungkinkah kau sengaja ingin menghabiskan waktu denganku?"

"Orang ini-- Memang aku yang mengajak tidur bersama? Itu idemu."

"Tidak apa, jujur sajalah padaku. Pada tahap mana tepatnya kau mulai membodohiku?"

"Sudah kubilang tidak!"


Se Gye berhenti karena tenggorokannya sakit, ia bergmam, "Sial, ini gila. Kenapa aku tidak berubah? Timingnya buruk sekali."


Seseorang memasui rumah Do Jae dan mendengar semua percakapan mereka.


Se Gye: Kau tahu, aku terus mengatakan padamu tidak ingin melakukannya. Tapi kau terus mengikutiku ke mana-mana, memaksaku tidur bersamamu.

Do Jae: Karena aku tidak memperkirakan seperti ini.

Se Gye: Wah, orang ini benar-benar berengsek. Kau tidak mempertimbangkan konsekwensinya? Kau hanya hidup hari ini saja? "Mari tidur bersama lagi besok". Bukankah kau yang bilang begitu kemarin?


Ternyata itu adalah ibu Do Jae. Se Gye pun refleks langsung sembunyi dibalik selimut.

Do Jae langsung bangun, Ibu? Ada apa kemari pagi-pagi?

"Ada apa aku kemari pagi-pagi? Pertanyaan macam apa itu?  Kau sudah gila, ya? Bisa-bisanya kau membawanya kemari? Kenapa tidak sekalian kau suruh dia pindah kemari?"

"Aku ada alasan--"

Ibu memaksa Se Gye membuka selimutnya.  Ibu akan membukanya paksa. Do jae menghentikan ibu sambil bilang kalau ia punya alasannya.

"Dia mendapatkan uang 200 juta dariku. Dia bilang padamu? Tidak, 'kan?"

"Ibu memberinya uang?"

"Kenapa tidak biarkan dia saja yang menjawabnya?"


Ibu lalu menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Se Gye. Dan betapa terkejutnya ibu saat mendapati seorang pria lah dibalik selimut itu. Do Jae masih kalem, walaupun ada sedikit kekagetan. 

Ibu: A... apa yang terjadi di sini?


Se Gye memberi salam, tapi ia langsung menutup mulunya saat mendengar suaranya sendiri. Se Gye baru sadar kalau ia sudah berubah. 

Ibu: Kau... Kalian berdua... jadi-- Percakapan yang tadi kudengarkan terjadi antara kalian berdua? Apakah itu berarti putraku ga--

Do Jae dan Se Gye: Tidak.

Ibu: Dan dengan anak SMA pula?

Se Gye dan DO Jae membantahnya, tapi ibu terlanjur syok sampai ia pingsan.

0 komentar

Post a Comment