Thursday, October 18, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 5 Part 2

Sumber: jtbc


Joo Hwan menyuruh Do Jae untuk kencan terbuka dengan Se Gye, tapi Do Jae gak mau. 

"Apa yang kau pikirkan? Untuk putus, kalian harus kencan dulu." Jelas Joo Hwan.

"Kau pikir aku ada waktu untuk kencan? Aku harus bekerja."

"Ini juga bekerja. Kerja yang tampak seperti berkencan."

"Aku perlu istirahat. Aku terlalu sibuk belakangan ini."


Joo Hwan mengatakan kata telak, bukan ia yang memulai semua ini tapi Do Jae lah yang memulainya. Do Jae pun menyerah, Jadi? Kapan? Di mana? Bagaimana?

"Biar aku tanya satu hal dulu padamu. Apa sebelumnya... kau pernah berkencan?"

"Kau pikir aku ini orang seperti apa?"


Nyatanya, Do Hae pernah berkencan sebelumnya tapi ia tidak bisa mengenali wajah pacarnya. Ia malah mendatangi wanita lain, dan parahnya lagi wanita itu sedang menunggu pacarnya. 


Do Jae malanjutkan, hanya saja itu bukan pengalaman yang menyenangkan.


Di rumah, Woo Mi juga menjelaskan hal yang sama pada Se Gye. Mereka akan meninggalkan Se Gye dan Do Jae berdua karena akan memalukan kalau mereka mengikuti Se Gye dan Do Jae ketika berkencan.

"Kencan.. terbuka? Aku harus kencan dengan dia di tempat terbuka? Ya, aku mengerti bagian "terbuka", tapi kenapa harus berkencan?"

"Kenapa? Kau tidak mau?"


Se Gye menoleh pada Woo Mi. Woo Mi menunjukkan tatapan tajamnya. Se Gye pun langsung meralat ucapannya, buan begitu.. Ia bisa melakukannya sangat baik, kan bagian pekerjaan. Ia adalah yang terbaik, ia akan melakukannya dengan sempurna.

"Berhenti omong kosong. "Sempurna" apanya? Memang kau pernah pergi kencan?"

"Kau pikir aku ini orang seperti apa?"


Pengalaman Se Gye juga tidak jauh berbeda dengan engalaman Do Jae. Se Gye selalu melarikan diri disat ia dan pacarnya merencanakan kencan tanpa pemberitahuan. Pacarnya kesal dan memutuskan e Gye. 


Se Gye melanjutkan, "Kebanyakan... berakhir sebelum ke tahap lebih serius."


Woo Mi mengirim pesan pada Se Gye, "Ingat satu hal ini. Kencan bukan hal besar. Ketika kau terlalu memikirkannya, segalanya akan mulai kacau."


Se Gye iseng mencari cara kencan yang baik di internet.

1. Hindari jawaban singkat.
2. Fokus pada kencan.
3. Ceritakan pada pasangan kencanmu tentang dirimu.


Do Jae juga mendapat pesan kencan dari Joo Hwan, "Ketika sedang kencan, cobalah bersikap seperti orang-orang dalam film dan hindari yang tidak mereka lakukan."


Dan seperti Se Gye, ia mencari tips kencan di internet.

Satu, buat rencana.
Dua, jangan gugup.
Tiga, berpegangan tangan.
Empat, miliki selera humor yang baik.
Lima, dengarkan si wanita.


Di ranjang masing-masing, Se Gye dan Do Jae mencari hal yang sama.


Hari kencan. Se Gye dan Do Jae datang ke restaurant sambil berpegangan tangan. Semua orang memperhatikan mereka.

Se Gye bergumam, ini bukan hal besar, bukan hal besar. Tapi Do Jae menjawab kalau ia bisa mendnegarnya.

"Aku juga bisa mendengarmu." Balas Se Gye.


Do Jae niatnya mau menarikkan kursi untuk Se Gye, tapi Se Gye nya sudah duuk duluan. wkwkwk.

Do Jae pun menduduki kursi itu sendiri. Dan tak jauh dari mereka ada Reporter Park yang setia memotret mereka.


Do Jae tiba-tiba ingin menyuapi Se Gye. 

"Sedang apa kau?" Tanya Se Gye.

"Situasi jadi agak serius. Kita harus bergerak lebih cepat. Aku akan mencoba bersikap layaknya orang-orang dalam film. Aaa... Makan dan tersenyumlah. Lalu, lekas selesaikan ini."

Se Gye pun meneriam suapan Do Jae itu.


Tapi Do Jae menyuapinya lagi, katanya foto terakhir kurang bagus.

"Cobalah tersenyum. Padaku. Dengan cantik. Dan juga, makanlah sayuran."

"Kau pasti melihatnya di suatu tempat."

Se Gye meyakinkan dirinya kalau ini bukan hal yang besar,  ia lalu tersenyum sambil memakan suapan Do Jae itu.


Se Gye membahas hal yang lain, ia bertanya apa Do Jae tahu nonor rekening ibunya? Do Jae balik bertnaya, apa Se Gye bertemu ibunya?

"Jangan khawatir. Tidak ada hal serius yang terjadi."

"Kau bertemu dengannya dan kau masih hidup? Bagaimana bisa terjadi?"

"Kau sedang mencoba bercanda, ya?"

"Tidak. Aku serius."

Se Gye langsung tegang.


Di kantor, ibu menerima pemberitahuan kalau Se Gye mentransfer balik uang ibu dan menambahi 1.000 won. Ibu tak terima, ia mentrasfer balik sebanyak 200.001.000 won. 


Selanjutnya, mereka jalan-jalan di taman. Semua orang jelas memperhatikan mereka dan Reporter Park tetap memotret mereka.


Saat sedang melihat-lihat, Se Gye mendapatkan pesan pemberitahuan soal TF balik Ibu Do Jae itu. Se Ye lalu permisi sebentar.


Do Jae melihat ada keramik magnet dijajakan. 


Se Gye menelfon Bank, "Aku menelepon karena jumlah maksimal dari transfer rekeningku. Jadi, apa yang harus kulakukan untuk meningkatkan jumlah maksimal transfernya? Naikkan sampai satu miliar. Aku mencapai batas transferku, dan aku dalam situasi kacau di mana tidak dapat mengembalikan uangku. Aku harus pergi sendiri ke bank? Aku tidak ada waktu sekarang. Ya."


Selesai menelfon, Se Gye menoleh pada Do Jae dan Do Jae kelihatan tertarik dengan keramik itu. Ia pun mendekat.

"Kau mau satu? Mau kubelikan untukmu?"

"Tidak perlu."

"Seleramu cukup lawas juga. Kenapa kau menyukai benda-benda seperti ini?"

"Yah, mereka tidak berubah meski waktu berlalu."

"Ini replika."


Tapi Se Gye tetap membelikannya untuk Do Jae. Dan mereka lanjut jalan lagi.


Selanjutnya mereka berhenti untuk menikmati es krim. Se Gye membahas soal Reporter Park, ia merasa kasihan karena Reporter Park harus bersembunyi di balik dinding dan memotret kencan orang lain.

Do Jae: Lagi pula, orang-orang tidak terlalu memperhatikan kita.


Se Gye: Mereka semua sibuk berkencan. Siapa yang akan tertarik pada kencan orang lain di siang bolong hari kerja begini?

Do Jae: Kau lengah lagi. Bukankah pengalamanmu sudah cukup?

Se Gye: Tapi, tampaknya kau sudah bertemu banyak wanita.

Do Jae: Inikah situasi yang dimaksud? "Bahkan meski ditanyai sesuatu, jangan melarikan diri dan jawablah."

Se Gye: Ya.

Do Jae: Mari anggap begitu. Bagaimana menurutmu? Aku bahkan tidak bisa mengenali wajah kekasihku. Kalau begitu, aku juga ingin menanyakan sesuatu. Aku tahu waktunya agak terlambat, tapi apakah ada seseorang yang kau sukai?

Se Gye: Menurutmu bagaimana? Aku selalu kabur tanpa memberi tahu siapa pun. Kenapa?

Do Jae: Kudengar kau berkencan dengan seseorang.

Se Gye: Itu hanya gosip. Jangan memercayainya. Kau kan bukan amatiran.

Do Jae: Bagaimana denganmu? Kenapa kau bertanya?

Se Gye: Hanya.. kau tampak terbiasa berjalan di sini. Ini adalah lokasi kencan yang populer.


Do Jae mengaku, ia sering kesana sendirian. Ia melihat banyak orang lewat ketika kesana seorang diri. Dan tiap kali kesana, seorang ahjuma penjaja yakult selalu tersenyum padanya.

"Aku melihat mereka dan berlatih. Berlatih mengenali mereka. Tapi, semua itu tidak ada gunanya."


Suatu hari Ahjumma itu melepas jaketnya dan mendekati Do Jae, ia memberikan minumam yang dijajakannya. 

"Segalanya akan baik-baik saja. Semangat." Ucap Ahjumma itu


Ahjumma itu kembali ke gerobaknya dan mengenakan jaketnya. Do Jae baru mengenali siapa Ahjumma itu.

"Aku melihatnya setiap hari, tapi tidak bisa mengenalinya dalam pakaian yang berbeda. Aku merasa sangat menyedihkan."


Se Gye kasihan pada Do Jae. Do Jae membenarkan, ia sangat kasihan. Se Gye langsung panik, apa ia terlalu kejam sekarang?

"Tidak masalah seseorang mengasihaniku ketika kubilang diriku sendiri menyedihkan. Kalau begitu, sekarang giliranku. Apakah kalung itu.. semacam tanda pengenal?"

"Ah, ini? Suatu hari, aku terbangun dan mendadak merasa takut. Dan aku bertanya pada diri sendiri apakah ini benar diriku. Kau tahu, mimpi ketika kau menjadi seekor kupu-kupu? Apakah aku menjadi kupu-kupu di dalam mimpiku, atau aku menjadi diriku dalam mimpi seekor kupu-kupu?"


Suatu hari, Se Gye melewati toko pemahat perhiasan, ia lalu mampir untuk menuliskan namanya pada sebuah kalung, tapi pemahat mengira itu untuk anak Se Gye.

"Apakah anakmu sudah besar?"

"Kadang kala dia tampak besar, dan di hari lain dia tampak kecil. Aneh sekali."

"Anak-anak memang begitu. Tampaknya mereka tumbuh, tapi mereka tetap saja anak-anak."


Se Gye: Aku tidak ingin lupa. Dan juga, aku mungkin tidak akan pernah kembali. Aku lebih menyedihkan daripada dirimu, 'kan?

Tapi jawaban Do Jae malah bikin suasana langsung hancur. Do Jae tiba-tiba menanyakan kapan mereka akan tidur bersama?


Eun Ho bekerja paruh waktu membersihkan rumah, ia memasuki rumah pelanggannya dan memuji rumah itu yang sangat besar. Dan begitu ia masuk ruangan inti, iajuga menyadari kalau kekacauannya besar sekali. Itu adalah rumah Sa Ra.

Suara bos Eun Ho: Dia mencari pegawai yang kuat. Kudengar, ada banyak yang harus dipindahkan. Kau jauh lebih kuat daripada kami, para Ajummoni ini.

Eun Ho: Bukan hanya rumahnya yang besar. Tapi pekerjaan rumahnya pun menggunung.


Eun Ho langsung memakai celemeknya. Jadi ingat Kim Saem..


Sa Ra tiba-tiba menelfon, menanyakan apa mereka sungguh berkencan? Tidak, 'kan? Ada sesuatu, 'kan? Maksudnya Se Gye dan Do Jae.

"Kau mendadak meneleponku. Apa sebenarnya maksudmu?"

"Kau tahu. Bagaimana kalau kakakku menyebabkan masalah untukmu? Jika itu terjadi, kau pasti kesal padanya."

"Kau benar tentang itu. Kakakmu bukan tipe orang yang membuat suasana hati menjadi baik. Tapi, kau harus tanya Se Gye langsung jika memiliki pertanyaan. Jangan menggodaku seperti ini."

"Menggoda? Kau tampak kalem, tapi sebenarnya kau benar-benar berjiwa bebas. Baiklah. Jika kau menjawab pertanyaanku, aku akan kencan sekali denganmu. Kau bilang tergila-gila padaku."

"Semua itu masa lalu. Aku sedang bekerja sekarang, jadi aku sibuk. Sudah dulu, ya."

Eun Ho menutup telfon dan langsung mulai berbersih.


Sa Ra bergumam, "Baiklah. Gadis yang dia sukai menyukai pria lain."

Sa Ra melihat laporan Status Saham T Road dan tampak naik tajam. Sa Ra langsung bergerak.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap