Thursday, October 11, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 4 Part 1

Sumber: jtbc


Do Jae tiba-tiba mengajak Se Gye tidur bersama malam ini. Se Gye tentu saja terkejut, Kenapa... aku... dengan Do Jae... harus tidur bersama?

"Aku terus memikirkannya."

"Ya."

"Saat itu, di dalam pesawat. Kau berubah ketika tidur."

"Ya."

"Terus?"

"Terus apa?"

"Tidak peduli sekeras apa pun aku memikirkannya, aku tidak dapat mengerti. Tidak, aku mengerti. Maksudku, aku tidak benar-benar mengerti. Ini satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Sebab itulah aku ingin melihatnya langsung dengan kedua mataku. Aku ingin melihatmu berubah."


se Gye pun ketawa. Tadinya Se Gye bertanya-tanya apa yang Do Jae bicarakan. Ia bahkan hampir menghubungi 119.

Se Gye: Sebagai seorang Direktur Eksekutif, kemampuan bicaramu buruk. Jika wajahku berubah setiap kali aku tidur, kau pikir wajahku berubah ketika acara penganugerahan karena aku tertidur?


Do Jae: Bukankah begitu?

Se Gye: Cara berpikirmu lebih sederhana dari dugaanku. Tetap saja, aku terkejut ide itu yang terbesit dalam benakmu.

Do Jae: Ini adalah kesempatanku untuk jujur. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu. Aku harus memastikan apakah kau sedang membodohiku atau tidak. Aku harus memastikan bahwa aku tidak kehilangan kewarasanku. Aku juga takut.


Woo Mi ternyata menemui Joo Hwan. Joo Hwan memberikan dokumen yang memuat konfirmasi bahwa sekarang semua utang mereka sudah terbayar lunas.

Woo Mi: Apakah itu maksudnya.. kalian tidak akan pernah mengajukan gugatan atau merilis pernyataan publik bahwa uang donasi 100 juta won itu sebenarnya dilakukan oleh direktur perusahaanmu?


Joo Hwan mengangguk. Woo Mi membuka dokumen itu dan menemukan kesalahan ketik, tertulis Se Gae, bukan Se Gye. 

"Itu hanya salinannya saja." Jawab Joon Hwan, lalu memberikan yang asli. 


Tapi Joo Hwan salah lagi menuliskan nama Se Gye. Bukan "Sae" yang mengacu pada anjing atau kambing, tapi "Se" Lalu Joo Hwan mengeluarkan semua dokumen yang sudah ia buat dan menyuruh Woo Mi memilihnya sendiri.


Do Jae menerima pesan dari Joo Hwan yang berkata kalau Woo Mi sudah pergi. Oh... jadi Joo Hwan sengaja menahan WOo Mi lama-lama tadi karena perintah Do Jae.


Do Jae mengubah rencana, ia mengajak Se Gye pergi ke suatu tempat karena Se Gye bilang tidak sibuk tadi. 

"Ke mana?" Tanya Se Gye.

"Presdir Yoo akan segera sampai. Jawab aku dulu. Telepon polisi kalau kau ingin, jika tidak, bergabunglah denganku."


Do Jae mengulurkan tangannya. Se Gye tidak segera menerima tawaran itu. Ia malah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas sambil bergumam.

"Menyedihkan. Lihat caranya mencoba bertindak keren. Dia yang mengatakan tidak akan pernah menemuiku lagi. Menyenangkan sekali (*sarkasme)."


Do Jae: Apa yang sedang kau lakukan?

Se Gye: Mengemas barangku. Singkirkan ekspresi kelam di wajahmu itu. Kenapa kau berdiri tidak berdaya di sana? Kau membuatku semakin ingin membantumu.

Do Jae: Aku bisa mendengar semuanya.

Se Gye: Oh, benarkah? Aku memang mengatakannya keras-keras supaya kau mendengarnya. Ini tipikal monolog yang dapat kau dengar. Ini sangat menjengkelkan. Kenapa aku begitu baik? Tidak seorangpun tahu aku sebaik ini.

Do Jae tersenyum, ia tahu. Sekarang ia tahu bahwa Se Gye orang baik.

"Apa maksudnya? Aku memang selalu baik."


Terakhir, Se Gye memakai kacamatanya. Do Jae mengulurkan tangannya lagi dan kali ini Se Gye menerimanya. 


Do Jae bertanya apa Se Gye pulang ke rumah dengan selamat hari itu? Se Gye balik bertanya, kapan tepatnya? Do jae hanya memandangnya tajam. Se Gye mengerti, lalu melebih-lebihkan cerita. 

"Oh, hari di mana kau dengan ceroboh mendorongku dan membuatku jatuh sampai lenganku berdarah? Hari di mana kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal?"

Do Jae kembali tersenyum, apa lengan Se Gye baik-baik saja? Ia melihat plester tertempel sebelumnya.

"Tidak, tidak baik-baik saja. Tulangku tergores dan darahnya mengalir deras. Kurasa aku kehabisan 1L darah."

"Jika kau kehilangan 1L darah dan mengobatinya cuma dengan plester, kurasa tingkat penyembuhanmu luar baisa. Atau apa kau menggunakan plester super?"


Se Gye hanya tersenyum, kemudian ia mendapat telfon dari Woo Mi, tapi Do Jae merebutnya dan mematikan ponselnya, lalu mengembalikannya. 

"Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh ponselku!" Larang Se Gye sambil merebut ponselnya kembali.

Do Jae juga mendapat telfon dari Joo Hwan. Ia melakukan hal yang sama, mematikan ponselnya, lalu memberikannya pada Se Gye, Adil sekarang?

Se Gye menerima ponsel itu dan membuangnya ke jok belakang, "Ya, adil."


Do Jae hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Woo Mi membuka mobil, tapi tidak menemukan Se Gye disana, ia mengumpat, Dasar Han Se Gae (Anjing)!


Woo Mi menghubungi Eun Ho. Eun Ho bertanya, apa Woo Mi sudah memeriksa di kolong jok belakang? Mungkin Se Gye berubah jadi bayi.

"Tidak! Kau pikir aku bodoh?"

"Syukurlah kalau tidak. Apakah itu sungguh melegakan? Bagaimanapun, aku tidak peduli di mana dia. Pergilah cari di tempat lain."

Eun Ho mematikan telfon.


Ternyata Eun Ho sedang melakukan pengakuan dosa. Ia meminta maaf pada pendeta dan akan mengulanginya lagi.

"Pasrahkan kepercayaanmu pada pengampunan dan kasih Tuhan, dan renungkanlah dosa-dosa yang telah kau perbuat, dan lakukanlah pengakuan dosa." Kata Pendeta.

"Aku telah berbohong pada ibuku. Dia mengamuk ketika aku mengatakan akan pergi seminar. Aku tidak dapat memberi tahu yang sebenarnya. Tuhan dan ibuku, keduanya memanggilku, menuntun mereka pada jalan mereka. Ke mana sebaiknya aku pergi? Ada begitu banyak tempat.. yang memanggilku."

"Tuhan tidak pernah menuntunmu pada jalan yang salah. Ke mana pun kau pergi, Tuhan akan berada di sampingmu."

"Terima kasih. Amen."


Eun Ho teringat sesuatu, ia melihat jamnya panik. Ia harus pergi ke tempat lain yang memanggilnya. Pendeta bertanya, di mana itu?

"Tempat kerja paruh waktuku."

"Ah.. Begitu. Tuhan telah memaafkan dosa-dosamu. Pergilah dengan jiwa yang damai."

Eun Ho berterimakasih, lalu pergi.


Do Jae membawa Se Gye ke kantornya. Se Gye tak menyangka Do Jae membawanya kesana.  

"Ini sederhana sekali. Orang-orang mencarimu karena kau terus bersembunyi. Dan yang terpenting, inilah kartu truf-ku." Jawab Do Jae.

Se Gye memakai kacamatanya sebelum masuk karena disana terlalu ramai.


Para pegawai tentu saja memperhatikan setiap langkah keduanya. Do Jae menelfon Joo Hwan dengan keras. 

"Hei, Sekretaris Jeong. Aku dalam perjalanan kembali ke kantor sekarang. Benar, upacara peringatan itu penting. Aku akan menyelesaikan urusan kontrak Han Se Gye, jadi jangan khawatir."

Se Gye tersenyum dengan akting Do Jae itu.


Mereka naik lift dengan pegawai yang lain. Do Jae bertanya, apa Se Gye membawa stempelnya. Se Gye bingung, stempel? Do Jae pun mengkodenya dengan gerakan mata. 

Se Gye mengerti, ia membuka kacamatanya sebelum menjawab, "Ah.. Tidakkah tanda tanganku saja cukup?"

"Ini kontrak yang sangat penting. Sebab itulah aku membawamu secara pribadi kemari."

"Benar, ini sangat penting. Bagaimana kalau kubuat saja tanda tanganku sebesar mungkin?"

Do Jae tidak menjawabnya, ia langsung keluar saat pintu lift terbuka.


Do Jae mulai akting lagi dengan menelfon Joo Hwan, berkata kalau tidak akan ada masalah, Se Gye akan segera pergi begitu selesai menandatangani kontrak di kantor.

"Ya, dia tidak membawa stempelnya. Tidak usah khawatir. Fokus saja pada upacara peringatannya." Lanjut Do Jae.


Saat di ruangan Do Jae, Se Gye mengatakan kalau Do Jae itu aktor yang buruk. Atau seharusnya ia bilang Do Jae tidak bisa berbohong dengan baik?

Do Jae: Aku pembohong yang pintar. Bukankah kau mengetahuinya lebih baik dari siapa pun?

Se Gye: Tidak, kau tidak pintar berbohong. Maksudku, sebab itulah aku di sini.

Do Jae: Itulah yang ingin kukatakan.


Se Gye ingin mereka melanjutkan percakapan tadi. Do Jae bilang ingin tidur bersamanya.

"Dengan yakin, ya. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Tapi katamu, bukan tidur yang membuatmu berubah."

"Aku tidak bilang tidak pernah berubah ketika tidur. Biasanya, sebulan sekali, aku berubah menjadi orang yang berbeda selama sepekan. Kadang saat tidur, tapi kadang sesaat setelah aku bangun. Tidak terprediksi."

"Apa tidak ada pertanda sebelum itu terjadi?"

"Aku bisa tahu dari yang kurasakan. "Pasti hari ini dan aku merasa keanehan". Kemudian, biasanya itu terjadi. Yah, kadang tidak. Aku tidak dapat memprediksinya, sebab itulah menjengkelkan."

"Kalau begitu, masalahnya lebih sederhana dari yang kupikirkan. Kita hanya perlu bersama sepanjang waktu, mulai dari kau terbangun di pagi hari sampai kemudian tidur lagi."

"Meski begitu, bagaimana aku bisa memercayaimu? Bagaimana kalau kau berubah pikiran lagi?"

"Mari tanda tangani kesepakatan. Beri tahu aku sebelumnya apakah kau mau atau tidak tidur bersamaku."

"Apa?"


Do Jae menulis "Kesepakatan Rahasia" di kertas kosong. 

Do Jae: Kau dapat mengandalkan kesepakatan ini jika kau tidak memercayaiku. Dokumen jauh lebih dapat dipercaya dibanding manusia. Aku lebih tahu akan hal itu dibanding siapa pun. Tanda tangani kesepakatan ini dan aku akan memberi tahu kau tentang kelemahanku. Setelah itu, giliranmu. Kau masih belum memercayaiku?

Se Gye: Tunggu sebentar. Aku harus memikirkannya dulu.

Do Jae: Aku sudah selesai berpikir. Kau hanya perlu menandatangani kesepakatan ini.

Se Gye: Kenapa kau begitu tergesa?

Do Jae: Aku takut kau mungkin kabur. Kau suka kabur pada saat-saat krusial. 

Se Gye: Kurasa aku sudah mengatakan padamu bahwa aku sebenarnya tidak suka melarikan diri. Aku tidak akan kabur.

Do Jae: Bagus kalau begitu. Haruskah kita mulai dengan "jangan melarikan diri"?


Do Jae menuliskan "Jangan melarikan diri" pada Klausul pertama. Kedua, lindungi rahasia apa pun taruhannya.

Do Jae meminta Se Gye mengganti dulu namanya di ponsel Se Gye, juga Se Gye harus mengganti password ponselnya.

"Apa kau tidak merasa "1004" itu terlalu mudah? (*1004 dalam bahasa Korea berarti Malaikat.)" Tanya Do Jae.

"Memang apa salahnya? Kan mudah diingat. Dan lagi, aku seperti seorang malaikat, tahu."

"Orang lain juga menganggap kombinasi itu mudah diingat. Pilih nomor kombinasi yang tidak ada sangkut pautnya denganmu."

"Kapan ulang tahunmu?"

"16 Januari."

"0116 bagus. Itu tidak ada kaitannya denganku."

"Lakukan semaumu."

Ketiga, menjawab panggilan telepon satu sama lain dalam 3 detik. Se Gye tidak setuju karena ia sangat sibuk sepanjang waktu.

"Kau pikir aku punya banyak waktu juga?" Balas Do Jae. 


klausul terakhir. Keempat, ketika hubungan rekan kerja kita berakhir, kesepakatan ini tidak lagi berlaku. Dan untuk Detail tentang kesepakatan mereka tidur bersama dapat diputuskan setelah Se Gye mempelajari segalanya tentang kelemahannya.


Do Jae lalu memasukkan Kesepakatan itu ke dalam amplop dan memberikannya pada Se Gye. 

"Kapan kau akan sepenuhnya memercayaiku?" Tanya Do Jae sambil memberikannya.


Timjang mengeluh karena harus bekerja di luar kantor. Ia lelah. Mereka bahkan tidak bisa pulang ke rumah. Apa yang akan Mereka dapatkan dari ini?

Mereka memuji Se Gye yang sangat cantik tapi Timjang tidak setuju, Se Gye tidak secantik itu. 

Salah satu karyawan menuduh Timjang iri karena Se Gye lebih cantik dari Timjang.

"Apa? Hei, kenapa aku harus jadi cantik?"

"Sekarang juga tren pria cantik. Zaman sudah berubah, tahu? Kalau bukan Han Se Gye, lalu siapa yang lebih cantik darimu?"


Dan mereka melihat Se Gye di ruangan Do Jae. Mereka langsung berhenti bicara dan fokus metapa Se Gye. Bahkan Timjang yang terdepan.


Se Gye tahu ia sedang dipandangi, ia menyuruh Do Jae menutup tirainya. 

"Aku menyuruh mereka kemari dengan sengaja." Jawab Do Jae. 

"Kenapa? Karena mereka mungkin curiga ada sesuatu antara kita? Tidak bisakah kita tampak sedikit mencurigakan?"

"Bisakah kita tampak mencurigakan?"

"Tidak."


Do Jae berdiri.

"Kalau begitu, mari jangan terlihat mencurigakan. Kau sebaiknya pulang ke rumah. Aku akan menghubungimu kapan pertemuan kita selanjutnya dijadwalkan."

"Kau ingin aku pergi sekarang?"

"Bawa kesepakatan ini pulang dan pikirkan. Cobalah memberiku jawaban sebelum perubahan itu terjadi lagi."

"Apa kau serius sekarang? Aku kemari sendirian. Aku bahkan tidak membawa mobilku."

"Suruh kurir mengantarkan kesepakatannya padaku setelah kau menandatanganinya. Jika kita bertemu lagi, itu akan tampak mencurigakan."


Do Jae bahkan membukakan pintu untuk Se Gye, "Kalau begitu baiklah. Sampai jumpa."

Se Gye pun berdiri dan menuju pintu. 

Do Jae: Aku menunggu kabar baik, Han Se Gye-ssi.

Se Gye tidak menjawabnya, ia langsung keluar. 


Se Gye tidak menyangka para karyawan berkumpul di depan ruangan Do Jae, ia langsung bersandiwara dengan bergumam. 

"Astaga, manajerku harus menghadiri upacara peringatan hari ini. Sebab itulah aku sangat sibuk hari ini. Jam berapa ya pertemuanku selanjutnya? Jam 7 atau 8 malam?"


Se Gye memakai kacamatanya lagi dan berjalan melewati mereka sambil mengatakan kalau ia sangat sibuk hari ini. Se Gye malu sampai-sampai menutupi wajahnya dengan rambut.


Timjang sekarang berbalik menyukai Se Gye karena Se Gye sangat cantik, bahkan tampak memesona dari belakang. 


Do Jae keluar, menyuruh mereka pergi kalau tidak mau bekerja, bahkan meski masih ada yang harus dikerjakan, tapi sudah waktunya pulang ke rumah.


Do Jae lalu melihat Se Gye dan ia kembali tersenyum.


Se Gye sampai di rumah dan ia dikagetkah oleh Woo Mi yang duduk di sofa tapi tidak menyalakan lampu.

"Astaga, kau mengagetkanku."

"Ya, itu yang terjadi padaku dalam keseharianku. Ketika aku membuka pintu ruang tunggumu, pintu mobil, dan aplikasi daring. "Astaga! Ke mana lagi dia kali ini?"

"Woo Mi-ya."

"Mari akhiri kontrak kita. Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi."

Se Gye jelas tidak membiarkannya, ia mengajak Woo Mi mencari kedamaian dengan makan tteokbokki sebelum Woo Mi mengamuk.


Woo Mi melunak setelah makan Tteokbokki super pedas, ia mendengarkan dengan tenang cerita Se Gye. 

"Jadi? Kau dari tadi bersama si berengsek itu? Apa dia minta maaf padamu? Dia berterima kasih padamu?"

"Ya, semacam itu."

Se Gye bertanya, apa sebenarnya maksud para pria jika meminta tidur bersama mereka? Apakah mereka mengucapkannya tanpa pikir panjang?

"Si berengsek itu ingin tidur bersamamu?" Woo Mi balik bertanya. 

"Tidak. Hanya saja.. Aku ingin tahu apakah para pria begitu mudah mengatakannya. Aku hanya sedikit penasaran."

"Bagus. Tidurlah sekali dengan dia."

"Apa?"

"Pada usiamu, kau seharusnya tidak menahan diri."

"Kenapa usiaku jadi masalah?"

"Memang. Ketika usiamu bertambah, kau bahkan tidak akan memiliki pilihan. Tidak ada yang tersisa. Nikmatilah selagi kau bisa."

"Bukan seperti itu."

"Jangan menahan diri ketika kau tidak harus melakukannya. Ini saatnya."

"Sungguh bukan seperti itu."

"Lalu? Apa rencanamu?"

"Aku akan memikirkannya selagi libur sementara waktu. Aku akan mencari tahu."

"Itu ide bagus. Liburlah sementara waktu. Jangan terlibat masalah apa pun, mengerti?"

"Ya."

"Ya?!"

"Kubilang iya."

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap