Wednesday, October 10, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 3 Part 4

Sumber: jtbc


Sa Ra turun dari mobil mewahnya, ia berjalan sambil membaca HP.


Eun Ho bekerja paruhwaktu sebagai kasir di kedai kopi dan semua pengunjung disana mengagumi ketamVanannya.

Sa Ra mengantri untuk membeli kopi juga, Tapi ia masih sibuk dengan ponselnya.


Eun Ho mengenali Sa Ra dan semua pengunjung berhenti memandanginya karena berpikir Eun Ho sudah memiliki wanita idaman. 


Eun Ho menyapa sa Ra dengan ramah, ia bertanya apa Sa Ra memiliki kupon? Sa Ra bilang tidak punya. Lalu Eun Ho memberiknya dua stempel karena Sa Ra berbuat kebaikan.

"Ah, ya." Jawab Sa Ra singkat dan gak peduli.


Eun Ho menulis sesuatu di tutup kopi Sa Ra. Ia bertanya apa Sa Ra kerja di dekat sana saat menyerahkan pesanan Sa Ra.

"Tidak." Jawab Sa Ra singkat lalu pergi dengan kopinya.


Sa Ra berhenti di luar, "Ah.. Pria zaman sekarang sangat tergesa."

Ia ingat kejadian kemarin dan ia tersenyum ditambah lagi ia melihat gambar hati di tutup kopinya.

"Dia imut." Gumam Sa Ra lalu melanjutkan jalan.


rekan Eun Ho bertanya, Eun Ho tidak tertukar antara latte dan vanilla lattenya, 'kan?

"Oh. Aku menggambar hati di vanilla lattenya." Jawab Eun Ho.


Se Gye menjalani syuting iklan. Kalimat andalannya adalah: 

"Jadikan milik kalian, kecantikan paripurna ini."


Dalam perjalanan pulang, Se Gye mengeluh, kecantikan paripurna apanya.

"Kenapa? Kau begitu adanya." Tanggapan Woo Mi.

"Sungguh, ini lucu sekali. Kadang, aku bahkan takut pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku hidup tanpa tahu malu begini? Mengapa aku menyiksa diri sendiri untuk hidup seperti ini?"

"Kau lebih baik jangan mengoceh soal pensiun."

"Pensiun? Aku ingin pensiun. Tapi aku tidak pernah dapat memutuskannya. Aku tidak pernah bisa melakukannya, dan itu membuatku semakin ingin melakukannya. Seperti pepatah "terus ingin mati tetapi pada akhirnya bertahan hidup". Mengapa sulit sekali untuk menyerah? Mengapa aku.. begitu mencintai pekerjaanku?"


Entahlah. Se Gye bingung dan juga lelah. Sama seperti saat ia menjadi seorang nenek.


Kingkang terus menyalak saat Se Gye memakai masker. 

Se Gye: Kingkang, ini Unnie. Unnie. Kau bahkan mengenali aku saat wajahku berubah. Kenapa tidak saat aku mengenakan masker wajah? Aigoo, dasar bodoh. Diamlah.


Se Gye mencari di internet mengenai Prosopagnosia. Ia membacanya dengan bersuara.

"Kebutaan wajah. Dikenal juga dengan kebutaan wajah. Penyebab utamanya adalah cedera otak, seperti luka pada kepala, stroke, dan perubahan degeneratif."


Se Gye lalu duduk untuk membaca dengan jelas, bahkan maskernya sampai jatuh.

"Para pasien mengalami kesulitan dalam mengenali wajah bahkan pada orang-orang familier yang ditemui hampir setiap hari. Mereka juga kesulitan mengenali pasangan atau anak di mana mereka paling sering menghabiskan waktu bersama. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan kesulitan.. mengenali wajah mereka sendiri. Para pasien ini mengandalkan informasi lain seperti model rambut, cara berjalan, pakaian, dan suara untuk membedakan orang-orang."


Tapi kemudian Se Gye menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri, "Kenapa aku harus mengasihani dia? Aku tidak kasihan. Tidak sama sekali. Aku tidak kasihan."

Se Gye memakai kembali maskernya dan Kingkang kembali menyalak. 

Se Gye kembali berbaring dan melanjutkan membaca tentang Prosopagnosia.


Saat menunggu lift, Do Jae bertanya, apa Han Se Gye itu cantik? 

"Yah... Dia cantik. Tapi bukan tipeku." Jawab Joo Hwan.

"Kenapa dia bukan tipemu?" Heran Do Jae.

"Dia itu seperti.. porselen putih dari Dinasti Joseon. Bagaimanapun, dia bukan tipeku. Wajahnya terlalu pucat, dan bibirnya terlalu merah."

"Terus tipemu itu yang bagaimana?"

"Rahasia."

"Bagaimana?!"


"Kau tidak akan paham meski kuberi tahu."

Pintu lift terbuka dan Joo Hwan mendahului untuk masuk ke dalam.


Do Jae: Hei, hanya karena aku tidak bisa mengenali wajah orang, bukan berarti kau bisa bilang begitu padaku. Kau melukai hatiku.

Joo Hwan: Berhentilah bersikap menyedihkan. Tidak mempan lagi, tahu.


Di rumah, Do Jae melihat porselen putih dari Dinasti Joseon yang ia miliki. Ia melihatnya sambil memikirkan kata-kata Joo Hwan barusan tentang Se Gye.


Do Jae bersiap untuk event peluncuran, dimulai dari mandi lalu memilih pakaian terbaik. 


Do Jae menatap dirinya di cermin.

"Aku harus terbiasa dengannya. Karena aku harus terus bertemu dalam waktu lama dengannya. Bisakah kita.. berteman?"


Se Gye juga bersiap, ia pergi ke salon untuk memeprsiapkan diri dan ia memilih riasan tebal. Ia tidak ingin kalah dari seseorang.


Persiapan di bandara dilakukan dengan baik.


Sebelum mulai, Joo Hwan menunjukkan foto-foto seluruh tamu yang hadir, termasuk Se Gye.


Joo Hwan: Selanjutnya, Jang Gyeong Gu, Pimpinan Administrasi Penerbangan Seoul. Dia VIP yang harus kau beri perhatian khusus. Dia agak senang cari perhatian. Dia orang yang mampu menjatuhkan T Road Air lebih cepat daripada siapapun.


Tapi Do Jae hanya tertarik dengan Se Gye. Ia lama memperhatikan foto Se Gye.


Do Jae ke lokasi. ia menyalami semua yang hadir.


Dan Do Jae melihat Se Gye. Matanya tidak berkedip. Se Gye juga melihat Do Jae, mereka bertatapan.


Tapi hanya sebentar karena Ibu dan Kakek Do Jae datang dan mengajak Do jae bicara. 


Se Gye pun menjauh.


Ibu: Kau menghindarinya lagi. Aku mengatur kencan buta untuk Do Jae. Tapi kurasa, dia tidak menyukai calonnya. Minta maaf pada orang tuanya benar-benar sulit.

Kakek: Dia jelas memiliki standar yang sangat tinggi. Apa lagi yang bisa ibumu lakukan?

Se Gye: Bukan begitu.

Ibu: Lalu apa? Bagaimana bisa kau bersikap seolah sedang bicara dengan kekasihmu di hadapan dia? Tunggu. Apa dia sungguh sedang mengencani seseorang, Joo Hwan?

Joo Hwan: Sejauh yang saya tahu, dia tidak berkencan dengan siapa pun.

Kakek: Kau bahkan tidak punya kekasih. Dasar pecundang.

Ibu: Yakin dia tidak berkencan dengan siapa pun, 'kan? Lebih baik kalau benar begitu. Jangan biarkan semua rumor itu jadi fakta.

Do Jae: Itu benar. Aku berani jamin, jadi berhentilah menekan Joo Hwan.

Ibu lega dan mengajak Kakek pergi.


Do Jae kembali menoleh kebelaknag, tapi ia tidak melihat Se Gye.

Seseorang tak sengaja menumpahkan anggur ke jas Tuan Jang, pimpinan yang suka mencari perhatian itu. Do Jae cuma memperhatikan saja. 


Saatnya memulai upacara pengguntingan pita sekarang. Seluruh tamu undangan disilakan duduk. Dan seluruh tamu VIP, disilakan naik ke podium.


Se Gye berdiri disamping Do Jae. DoJae maumembahas soal hari itu, tapi Tuan Jang memotongnya.

"Aigoo, selamat. Sukses besar untukmu, Direktur Seo. Aigoo, maafkan penampilanku. Seseorang menumpahi jasku. Aku sampai tidak sempat menyapamu karena kesal."

Tuan Jang mengulurkan tangan. Do Jae menyambutnya tapi ia tidak menyebutkan nama Tuan Jang. 

Tuan Jang: Jangan bilang kau tidak mengingatku.


Do Jae beneran gak bisa mengenali Tuan Jang karena penampilannya berbeda dari foto yang ia lihat tadi. Joo Hwan dan Ibu mulai tegang.


Se Gye tidak membiarkan Do Jae tertangkap, ia menyelamatkannya. Se Gye mengambil tangan Tuan Jang yang bersalaman dengan Do Jae. 

"Oh, halo. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di sini. Senang sekali bertemu Anda."

"Apa kita pernah... bertemu sebelumnya?"

"Apa? Anda tidak mengenal saya?"

"Tentu saja kenal. Han Se Gye-ssi."

"Benar sekali. Kapan Anda tiba? Anda sudah makan?"

"Apa?"

"Siapa ya nama Anda? Kim? Lee? Park? Saya memang seperti ini. Saya sangat bagus dalam menghapal naskah, tapi tidak bisa mengingat nama."

"Namaku Jang Gyeong Gu."

"Omo, benar. Sekarang saya yakin.. kalau kita sebenarnya tidak saling mengenal."

"Apa?"

"Tapi, kenapa saya merasa Anda familiar sekali? Apakah saya melihat foto Anda di majalah?"

"Kau membaca majalah keuangan?"

"Tidak."


Tuan Jang ketawa. Do Jae pun bisa tenang, termasuk Joo Hwan dan Ibu.


Pemotongan pita dimulai, pembawa acara meminta tamu undangan untuk menghitung satu sampai tiga.

Saat semuanya bertepuk tangan, Do Jae memanggil Se Gye. Han Se Gye-ssi.

Se Gye: Tidak perlu berterima kasih padaku.

Perhitungan dimulai, Satu..

Se Gye: Tidak peduli itu kau atau bukan.

Dua..

Se Gye: Aku akan membantu meski tanpa tahu bahwa itu dirimu.

Tiga..


Pita dipotong, Se Gye tersenyum. Do Jae sibuk melihat Se Gye sampai lupa pitanya belum ia potong. Ia pun segera sadar dan memotong pitanya lalu berpose.

Semua orang bertepuk tangan. 


Do jae berjalan sambil mengingat Se Gye. Mengingat pengakuan Se Gye hari itu dan membandingkannya dnegan perbuatan Se GYe barusan. 

"Dia bilang dia ketakutan. Dan apa? Berani sekali. Nekat sekali." Gumam Se Gye.


Woo Mi menyusul Se Gye di mobil. Woo Mi heran kenapa tadi Se Gye membantu, harusnya kan biarkan saja Do Jae dipermalukan. 

Se Gye: Entah kenapa aku merasa tidak nyaman.

Woo Mi: Tidak, kerja bagus. Sekarang dia tidak akan jahat padamu karena kau sudah menyelamatkan dia.


Woo Mi mendapat telfon untuk mengabari kalau ia meninggalkan dokumen. Ia lalu pamit pada Se Gye untuk mengambil dokuman itu.

Se Gye sekarang menyesali perbuatannya tadi, harusnya ia biarkan saja Do Jae dipermalukan tadi. Kenapa ia terlibat lagi? Tapi bagaimana lagi? ia kasihan padanya.


Tiba-tiba pintu mobilnya dibuka. Se Gye melihat Do Jae di depannya. 

"Seo Do Jae-ssi. Ada apa?"


"Saat itu kau bilang padaku, bahwa aku menemukanmu ketika kau sembunyi ketakutan, dan aku telah melewatkan kesempatan untuk jujur. Aku. Sebab itulah aku mengatakan ini. Aku ingin tahu lebih banyak karena terlanjur menemukanmu. Aku ingin meraih kesempatan untuk jujur."

"Kenapa mendadak seperti ini? Aneh sekali."

"Apa setelah ini kau sibuk?"

"Tidak, tidak sibuk."

"Bagus kalau begitu. Kalau begitu, mari.. tidur bersama hari ini."


Se Gye tidak yakin dengan pendnegarannya, apaan?

"Kubilang, tidurlah bersamaku." Jawab Do Jae.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

2 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap