Wednesday, October 10, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 3 Part 2

Sumber: jtbc


Se Gye sedang main kartu bersama Woo Mi dan ibunya Eun Ho sambil makan nasi campur. Se Gye mengagumi rasanya, emang beli dimana minyak sayurnya? Tanya Se Gye. 

Ibu: Aku membelinya di supermarket.

Se Gye: Sungguh? Tapi rasanya terlalu kuat. Apakah itu karena aku membayangkan bedebah itu kesulitan membereskan kekacauan ini?


Lalu datanglah seorang wanita seksi. Se Gye memanggilnya A Ram dan berkata kalau mereka sudah lama gak ketemu. 

Ibu: Kenapa kau sering sekali menginap di luar?

A Ram: Ibu. Aku menginap di luar untuk minum semalaman.

Se Gye dan Woo Mi memberinya tepuk tangan.

Ibu: Dia butuh dihajar!

Se Gye: Menurutku dia baik-baik saja. Saat dia bertambah usia, dia tidak akan lagi bisa menginap di luar. Hei, bersenang-senanglah selagi bisa.

Ibu: Astaga.


Woo Mi: Aku sangat bangga padamu. Aku ingin memberimu uang saku.

Woo Mi memberikan uang yang ada di lantai, tapi ibu tidak mengijinkannya karena itu adalah uangnya.

Maka Se Gye lah yang memberikan uang. A Ram menerimanya dengan senang hati dan memberi imbalan sebuah kecupan. A Ram kemudian masuk kamarnya.

Ibu: Kalian berdua sama saja. Hei, kenapa kalian tidak pulang saja sana?

Woo Mi: Izinkan aku menginap untuk beberapa hari lagi. Ada banyak sekali reporter di depan rumahnya sekarang.

Dan Se Gye memenangkan permainan ini.


Bel pintu berbunyi dan ketiganya kompak memanggil Eun Ho untuk membukakan pintu. Eun Ho keluar sambil menggerutu.


Ternyata yang datang adalah Do Jae dengan kacamata hitam. Auranya udah gak enak.

Woo Mi akan menemani Se Gye keluar, tapi Se Gye menyuruhnya tetap di dalm saja.


Do Jae mengajak Se Gye ke suatu tempat. 

Se Gye: Bukan begitu. Lihat aku. Aku sudah tidak di rumah selama beberapa hari. Mau ke mana lagi kau membawaku?


Do Jae membuka kaca matanya untuk melihat Se Gye lebih jelas, "Ini sempurna. Realistis dan asli."

"Biar kutegaskan. Aku tidak ikut." Tutup Se Gye dan langsung berbalik.

"Kau akan menyesalinya."

Se Gye pun berbalik menatap Do Jae lagi. Do Jae mengingatkan kalau Se Gye masih berhutang padanya dan baru membayarnya setengah.

Se Gye: Situasinya berubah, tahu? Untuk mengakhiri skandalnya, bukankah semestinya kau bersikap baik padaku?


Do Jae: Aku hanya akan terus menyangkalnya. Aku akan membuatmu tampak seperti orang gila.

Se Gye: Ya, memang aku perempuan gila. Semua orang berpikir aku perempuan gila. Jadi, aku tidak rugi apa pun. Tapi, kurasa berbeda denganmu.

Do Jae: Tidak. Aku pun tidak rugi apa-apa. T Road Air dan Grup Sunho yang akan merugi.

Se Gye: Bukankah itu sama saja? Apa sebenarnya maksudmu?


Do Jae pun menjelaskan panjang x lebar.

"Jika kau dianggap sebagai perempuan gila, hal itu akan merugikan T Road Air. Itu berarti, Grup Sunho akan merugi juga. Dan begitu pula dengan orang-orang yang memiliki saham T Road Air dan Grup Sunho. Mereka juga akan merugi. Beberapa dari mereka mungkin menginvestasikan semua uang mereka, uang pensiun orang tua mereka, atau tabungan pertama mereka di perusahaan. Ketika kau mencoba melukaiku, kau membahayakan nyama semua orang tersebut. Kau mengerti? Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri. Tidak juga dirimu. Kau masih tidak akan pergi?"


Se Gye bergumam, "huh! Dengan begitu banyak orang menjadi sandera, mana mungkin aku tidak pergi?"


Se Gye pun setuju untuk pergi tapi dengan satu syarat. Mereka impas sekarang. Do Jae setuju dan mengajak Se Gye salaman.

Do Jae: Terima kasih atas kerja sama darimu.

Se Gye: Bukankah belum pasti aku bekerja sama atau tidak.


Do Jae mengajak Se Gye melakukan jumpa pers untuk donasi beras. 

Woo Mi juga dan Eun Ho juga ada disana untuk memotret. Tak lupa Joo Hwan juga.


Eun Ho bertanya apa rencana Se Gye. 

"Dia ingin mendapatkan sesuatu darinya." Jawab Woo Mi.

"Apakah "itu" lagi?"

"Kau tahu sesuatu?"

"Kau pikir aku tahu?"

"Takdir perusahaan kita bergantung pada hari ini. Terus awasi dia seolah kau memiliki mata di belakang kepalamu. Itu sebabnya aku mengajakmu kemari."


Joo Hwan kesal karena  mereka berisik. Ia mengkode mereka untuk tenang.


Se Gye tetap bicara pada Do Jae walau ia sednag dalam pose tersenyum untuk para wartawa.

Se Gye: Kau tampaknya tidak memiliki masalah tampil di depan banyak orang. Pasti tidak mudah kalau mempertimbangkan kondisimu.

Do Jae: Kau sedang bicara tentangku? Bukan dirimu sendiri?


Saatnya para Reporter bertanya soal rumor itu. Do Jae pun menjelaskan karena memang itu tujuan utamanya mengundang reporter.

Do Jae: Kami melakukan pertemuan berkaitan dengan event hari ini. Saya pun memahami bahwa beberapa orang mungkin akan salah paham.

Se Gye: Itu hanya insiden yang lucu. Artikel dari agensi saya juga tidak benar. Saya tidak mengerti siapa yang menyebutnya sebagai pernyataan resmi. Saya minta maaf karena membuat kebingungan.


Lalu datanglah Sa Ra sambil membawa buket bunga. Semua Reporter sibuk memotretnya. 


Sa Ra membawa buket itu untuk Se Gye, ia berharap Se Gye menjaga kakaknya dengan baik. Se Gye bingung dan Do Jae menegur Sa Ra, situasi apa ini? 

Sa Ra: Oppa-ku memiliki kekasih baru dan ingin melakukan hal yang baik bersama dengannya. Mana mungkin aku tidak muncul?


Se Gye ketawa ngakak, "Lucu sekali. Kalian tampaknya tidak terlalu dekat. Maksudku, coba pikirkan. Kau bahkan tidak tahu Oppa-mu benar memiliki kekasih atau tidak, tapi langsung datang. Sangat menarik."

Sa Ra: Kurasa, aku salah paham.

Do Jae: Bukan salah paham, hanya kesalahan. Biarkan aku yang minta maaf.

Se Gye: Tidak perlu. Aku menikmatinya.

Dan Se Gye menerima buket bunga itu karena Sa Ra sudah terlanjur membawanya.


Lalu datanglah truk box yang tertulis, "100,000 pembalut wanita". Ternyata itu adalah bantuan dari Sa Ra.

"Ah, saya tidak ingin datang dengan tangan kosong, One Air telah menyiapkan 100.000 pembalut wanita untuk membantu kaum wanita yang rentan di dalam masyarakat. Juga, sesuai dengan pendapat T Road Air dan opini Han Se Gye, kami berjanji untuk meningkatkan dukungan bagi orang-orang kurang mampu di negeri ini."


Tapi Do Jae juga tidak mau kalah, truk box datang lagi, kali ini ada tulisan, "Donasi 1.000 Tablet PC". Semuanya kagum, Heol~ daebak.

Do Jae: Makan waktu lebih lama dari perkiraanku. Sekarang era teknologi. Setiap orang harus menerima kesempatan yang adil dalam pendidikan. Bersama dengan donasi beras di sini, T Road Air akan mendonasikan 1.000 tablet PC untuk mendukung anak-anak kurang beruntung di negeri ini.


Selanjutnya Joo Hwan mengambil alih, "Untuk melindungi hak asasi mereka, kalian tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan lebih jauh. Semoga kalian mengerti. Aku akan pernyataan media dan mengirim pada kalian dalam beberapa hari."


Se Gye melihat seorang wanita dan anak kecil duduk di pinggir jalan. 


Acara selanjutnya adalah membagikan makanan untuk para lansia. 


Ada seorang nenek yang meminta tambah nasi. Se Gye terkejut, tapi memberikannya dengan senang hati.


Sambil melayani, Se Gye bicara pada Do Jae, "Kau tampaknya tidak akur dengan adikmu."

"Dibanding adik, dia lebih mirip musuh."

"Apakah semacam pertempuran antar saudara?"

"Untuk lebih jelasnya, adikku melakukan pengkhianatan. Seperti itu tepatnya."

Sa Ra yang tepat disamping Do Jae berkata kalau ia mendengar semuanya.


Se Gye: Begitu? Bagus kalau begitu. Seberapa baik kau mengenali orang? Bagaimana dengan keluargamu?

Pertanyaan Se Gye itu membuat Joo Hwan memandangnya panik. Do Jae juga menoleh pada Se Gye. Se Gye lalu melanjutkan.

"Maksudku, kau tampak hidup tanpa peduli pada orang lain sama sekali."


Do Jae membalas Se Gye, "Bagaimana rasanya ketika kau berubah?"

Kali ini giliran Woo Mi dan Eun Ho yang tegang, Se Gye juga sih. Lalu Do Jae melanjutkan, "Maksudku, kau kan sering memainkan peran yang berbeda-beda."

Se Gye pun diam.


Nenek yang tadi meminta makan lagi. Se Gye mengingatkan kalau nenek sudah sudah menerima jatah tadi, bahkan ia memberi tambahan nasi.

"Aku belum makan. Aku bukan nenek yang itu."

"Aih, aku ingat dengan jelas. Nenek bisa sakit kalau makan terlalu banyak."

Do Jae menyuruh Se Gye memberikannya saja, karena nenek itu bukan nenek yang tadi. 


Ternyata mereka kembar. Se Gye langsung minta maaf, ia tidak mengenali mereka karena tampak sangat mirip.

Se Gye melirik Do Jae, mungkin ia bertnaya-tanya bagaimana Do Jae bisa tahu.


Sa Ra menghentikan Se Gye yang tengah mengangkat keranjang cucian. Sa Ra mengucapkan maaf soal yang tadi, ia tidak memahami situasinya.

"Sekarang pun kau masih belum paham. Tidak lihat ini?" Se Gye menunjukkan keranjang yang ditentengnya.

"Aku ingin memastikan sekali lagi. Apa kau ingin menikah dengan kakakku?"

"Jika kau ingin bicara omong kosong, tolong minggir. Lenganku sakit."

"Sudah kuduga. Sia-sia kulakukan ini. Jika aku tidak salah, kurasa kita berdua dalam pihak yang sama. Entah bagaimana kau terlibat, Oppa-ku, Seo Do Jae, kau membencinya, 'kan? Dia itu bedebah yang arogan."


Se Gye meletakkan keranjangnya sebelum menjawab, ia membenarkan kalau Do Jae itu bedebah, begitu juga dengan Sa Ra. Sa Ra langsung memandang Se Gye tajam.

Se Gye: Kau pikir aku tidak tahu? Kau tadi mencoba mempermalukan kami berdua.

Sa Ra: Kau menggemaskan sekali. Dengan mulut kurang ajarmu itu. Sebab itukah orang-orang menyukaimu?

Se Gye: Pertempuran saudara? Atau karena kau melakukan pengkhianatan? Jangan libatkan aku di dalamnya. Genre semacam itu membuatku muak. Aigoo, menyedihkan sekali. Seperti film zaman dulu.

Dan Se Gye mengangkat kembali keranjangnya ke tempat yang ia mau tuju tadi.


Do Jae mencuci piring. Datanglah ibu-ibu dan Joo Hwan membawa lebih banyak piring kotor. Tapi Joo Hwan tidak membantu, ia hanya menyemangati Do Jae.


Lalu mendekatlah Sa Ra. Joo Hwan khawatir, tapi Do Jae memberi isyarat dengan matanya kalau ia bisa mengatasinya.

Sa Ra: Han Se Gye. Dia wanita yang sangat menarik. Kau tidak penasaran bagaimana aku bisa kemari?

Do Jae: Kau ahli dalam menipu media. Tidak ada yang perlu ditanyakan.

Sa Ra: Beginikah caramu mencoba menutupi skandalmu? Buruk sekali. Omong-omong, bukankah kau kesal karena aku ikut campur dalam bisnismu?

Do Jae: Tetap saja, kau berbuat kebajikan. Bagus.


Sa Ra memancing Do Jae, antara Do Jae dan Se Gye, ada sesuatu kan? Tampaknya sangat menegangkan. Ia rasa mereka berdua saling memegang kelemahan masing-masing.

Do Jae: Pergilah kalau kau tidak berbuat apa-apa.

Sa Ra: Kenapa? Aku kemari untuk membantu. Kau ingin aku membantu mengatasi masalahmu dengan wanita itu?


Do Jae melepas sarung tangannya, lalu memberikan piring yang sudah ia cuci pada Sa Ra, "Jika kau datang membantu, bereskan peralatan makan ini."


Saat Do Jae menjauh, Sa Ra menjatuhkan piring-piring itu dan ada beberapa yang pecah. Ia beralasan kalau tangannya tadi licin. Ibu-ibu yang tadi berkumpul untuk menonton.

Do Jae: Bersihkan dan minta maaflah.

Sa Ra: Jika kau terus begini, akan kuhancurkan semuanya.

Do Jae: Lakukan saja.

Sa Ra: Reaksi macam apa itu? Datar sekali.

Do Jae: Lalu bagaimana lagi?

Sa Ra: Bukan aku yang menciptakan kekacauan ini.

Do Jae: Kau yang membuatnya, jadi kau yang membereskannya. Ini hal.. yang harus kau pelajari.

Dan Do Jae pergi bersama Joo Hwan. 


Sa Ra kesel banget, ia sampai akan membanting piring lagi, tapi karena ibu-ibu melihatnya, ia tidak jadi melakukannya. Ia hanya bisa mengeluh kalau ia sebal.


Se Gye menjemur selimut sambil berpose, ia juga mendengarkan lagu dari ponselnya, "Cloud" oleh Rothy. Woo Mi yang sedari dulu menjadi fotografer prbadinya terus memotret momen itu.


DO Jae mengamati tingkah Se Gye itu. Sementara Joo Hwan sibuk mengambil fotonya.


Tapi ada yang lebih menarik perhatian, yaitu Eun Ho yang lagi mencuci selimut dengan kakinya. Ibu-ibu mengerumuninya sambil memotretnya. Eun Ho pun menunjukkan pesonanya.


Woo Mi dan Se Gye berhenti untuk melihat kejadian itu. Se Gye berkata kalau Eun Ho seperti minuman segar.

"Ah.. Aku sungguh menyesal tidak mendebutkan dia sebagai artis." Sesal Woo Mi.

"Masih belum terlambat. Dia mungkin bisa ke Cannes lebih dulu daripada aku."


Do Jae juga akan menjemur selimut, ia menyuruh Joo Hwan membantu memegangi salah satu ujung selimutnya.


Se Gye mendekati Eun Ho untuk minta bantuan.

Se Gye: Berhenti mencoba terlihat tampan dan bantu aku.

Eun Ho: Kapan aku mencoba terlihat tampan?

Se Gye: Coba pikirkan. Ada mesin cuci. Kenapa kau mencucinya secara manual?

Eun Ho: Aku membantumu, kau malah mengajak bertengkar. Apa maumu?

Se Gye: Aku ingin mencari tahu.


Se Gye menunjuk Sa Ra ang melintas di depan mereka. Se Gye ingin Eun Ho mengatasi Sa Ra.

"Dia kelihatan menakutkan." Kata Eun Ho.

"Jangan khawatir. Aku lebih menakutkan daripada dia."

"Ah.. Kalau begitu, aku lega."


Se Gye melirik Eun Ho kesal. Eun Ho langsung minta maaf dan segera bergerak. Se Gye mengomando Eun Ho dan Eun Ho sangat patuh.

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap