Wednesday, October 10, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 3 Part 1

Sumber: jtbc



Do Jae menyelamatkan Se Gye dari kerumunan orang-orang yang mau memotretnya.

Do Jae: Kau tanya padaku apakah aku bisa memercayaimu. Aku tidak yakin dapat meragukanmu.

Se Gye: Tapi, itu tidak masuk akal.

Do Jae: Benar, tidak masuk akal. Alasan? Tak ada. Tapi seperti itulah yang kurasakan. Di mataku, selalu dirimu.


Dan itu membuat Se Gye berhenti. Do Jae menatap Se Gye dan berkata, "Kau sudah melaluinya, jadi kau mengerti rasanya. Teruslah berjalan, dan percaya padaku."


Dan Do Jae kembali merangkul Se Gye untuk jalan mengikuti langkahnya.


Di dalam mobil, Se Gye masih menutupi kepalanya dengan jas Do Jae. Ia sesekali melirik Do Jae takut-takut. Lalu ia menurunkan jasnya.

"Tidak." Kata Se Gye.

"Ya. Tidak." Jawab Do Jae singkat. 

"Kau salah paham."

"Tentu, salah paham."


Se Gye: Maksudku, coba pikirkan. Mana mungkin wajah seseorang dapat berubah.

Do Jae:  Apakah hal itu yang sedang kau bicarakan? Apa kau tidak memeriksa internet? Benar juga, ponselmu ada padaku.

Se Gye: Sudah kubilang, itu kesalahpahaman.

Do Jae: Ada rumor kalau kita berkencan.

Se Gye: Kau gila, ya? Buat apa aku berkencan denganmu?

Do Jae: Hal itu tidak tepat dikatakan pada orang yang telah dua kali menyelamatkanmu.

Se Gye: Aku akui, itu bukan komentar yang pantas.


Do Jae memberikan ponsel Se Gye, tapi Se Gye mengelak kalau itu miliknya. 

"Benar milikmu." Paksa Do Jae.

"Kubilang bukan."

"Akan lebih baik kalau benar."

Se Gye tetap tidak mau mengakui, akhirnya Do Jae mengantungi kembali ponsel itu. Do Jae lalu bertanya apa Se Gye memiliki tempat tujuan karena para reporter akan berkumpul di sekitar rumah Se Gye.

"Ada." Jawab Se Gye.


Se Gye membawa Do Jae ke rumahnya Eun Ho. Eun Ho heran melihat mereka bersama, situasi apa ini?


Do Jae: Ah.. Apa kau yang menjawab teleponnya? "Dia sedang mandi."

Eun Ho: Ah.. Penelepon menjengkelkan itu?

Se Gye menyela mereka, bicaranya nanti saja. Se Gye langsung menggandeng Do Jae untuk masuk. 


Eun Ho akan mengatakan sesuatu, tapi Se Gye keburu masuk.


Di dalam ternyata ada orangtua Se Gye yang sedang makan. Se Gye menyapa mereka sambil melepaskan tangan Do Jae. Do Jae pun ikut menyapa usai Se Gye melakukannya.


Eun Ho masuk, ia melanjutkan kata yang tadi belum sempat ia selesaikan, bahwa di rumahnya sekarang ada edang ada orang lain yang makan.


Akhirnya mereka bertiga duduk bersama. Ayah bertanya pada Do Jae, kalau boleh tahu, Do Jae ini siapa? Se Gye yang sedaritadi menatap Do Jae meletakkan sumpitnya dengan keras.


Se Gye: Bagaimana para reporter tahu kalau itu aku?

Tapi Do Jae memilih untuk menjawab pertanyaan ayah dulu, berkata kalau ia menjalankan bisnis keci. Setelahnya ia menjawab pertanyaan Se Gye, 

"Tidak tahu. Kurasa, salah satu stafmu mungkin membocorkan informasi."

"Nada bicara macam apa itu? Ibu, Anda dengar, 'kan? Betapa menjengkelkannya dia."


Eun Ho: Langsung ke intinya saja. Aku ada jadwal hari ini. Kenapa kau harus melakukannya di rumahku? Memang rumahku ini rumahmu apa?

Se Gye: Aku tidak ada tempat tujuan lain.

Eun Ho: Apa maksudmu? Ada banyak sekali hotel.

Se Gye: Mana mungkin aku ke hotel bersamanya? Bahkan bersamamu saja tidak.

Eun Ho: Buat apa aku ke hotel bersamamu?

Se Gye: Kenapa tidak?


Mendengar percakapan mereka, Do Jae jadi berprasangka, apa Se Gye dengan sengaja membocorkan informasinya?

Se Gye: Kau sudah kehilangan akal, ya? Apa untungnya buatku memiliki skandal kencan denganmu? 

Ibu: Skandal kencan muncul?

Se Gye: Ya, tadi pagi. Jangan khawatir.


Se Gye menenangkan ibu, berkata kalau semua ini hanya rumor. Para reporter pasti menemukan foto konyol lalu mengarang cerita. Ia bahkan tidak perlu mencari tahu penyebabnya.


Do Jae: Hari itu. Hari saat kau berubah.

Semuanya terkejut. Do Jae mengalihkan perhatian dengan memuji masakan ibu.

Se Gye memukul meja lalu berdiri, menyuruh Do Jae mengikutinya. Se Gye menuju sebuah kamar.

Ayah: Apa pun yang kalian lakukan, biarkan pintunya tetap terbuka.

Tapi Do Jae malah menutup pintunya.


Ibu:Astaga, kau tidak dengar? Dia bilang dia berubah. Sudah jelas itu tentang hubungan asmara. Pasangan kekasih mana mungkin membiarkan pintunya terbuka.

Eun Ho: Ibu, Ayah, hentikan pikiran kotor itu. Ah..


Se Gye mengalah, anggap saja omong kosong itu benar. Do Jae mengoreksi, itu bukan omong kosong, itu fakta. Se Gye menyuruhnya bertanya orang lain, maka tidak akan ada yang memercayai Do Jae.

"Haruskah kutanya orang-orang untuk memastikan mereka memercayaiku atau tidak?" Tantang Do Jae.

"Bagaimana kau bisa menemukanku? Ada banyak orang di sana."

"Apakah itu penting sekarang?"

"Tentu saja. Kau tidak bisa mengenali wajah."

"Kau membahas itu lagi?"

Kilas Balik..


Saat Se Gye menyuruh Do Jae menunjuk dirinya diantara foto para artis. 

"Yang mana? Kutanya, yang mana aku? Jika aku memberi tahu kau mana aku, kau bisa memercayaiku?" Tanya Se Gye.

"Apa aku harus menjawab? Kau pun tidak perlu menjawab."


Do Jae lalu keluar. Se Gye mengikuti dan menarik tangan Do Jae untuk menghentikan langkah Do Jae. 

"Ini berbeda! Kau menghindar menjawab pertanyaan itu."


Se Gye memaksa dan akhirnya Do Jae pun menunjuk Se Gye dan Do Jae benar. 

Kilas Balik Selesai..


Do Jae yakin itu sudah menjawab pertanyaannya. Ia memberi Se Gye jawaban hari itu, dan bahkan hari ini, aku memberi Se Gye jawabannya di lift. Belum cukup kah?

"Kau tidak mengenaliku saat pertama kali kita bertemu."

"Apa aku harus tahu siapa dirimu? Kenapa? Karena kau seorang bintang? Dan juga, bukankah aku yang seharusnya menanyaimu? Di kafe dan di gang. Dan orang yang bertemu denganku di rumahmu hari itu. Semuanya kau kan?"

"Berhentilah mengocehkan hal tidak masuk akal."


Do Jae kemudian menunjukkan video di ponsel Se Gye. Video yang ia buat tidap kali wajahnya berubah. Do Jae bertanya-tanya apa kira-kira maksudnya itu, tapi itu menjelaskan segalanya. Se Gye langsung mengambil ponselnya.


Se Gye ingin bertnaya, kenapa Do Jae membantunya? 

"Karena kau rekan bisnisku."

"Aku... Aku mengira.. kau memiliki situasi yang sama sepertiku. Setiap kali-- Tidak, bahkan sekali saja. Aku mengira kau membantuku atas dasar tersebut."

"Sejujurnya kukatakan, entah kau atau bukan, tidak masalah. Kala itu, aku membantu tanpa mengetahui itu dirimu. Media akan segera bungkam. Aku akan membungkam mereka. Jawablah saat aku meneleponmu."


Dan Do Jae meninggalkan Se Gye yang terdiam.


Do Jae mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat berhenti di lampu merah, Kakeknya menelfon.

"Ya, Kakek. Aku hendak menelepon--"

"Halo, Kakek?" Segera kemari kau!" Bentak kakek.


Do Jae pun segera kesana. Mengunjungi kakeknya di rumah sakit. Dan saat ia membuka pintu ruangan, ia disambut oleh lemparan kotak tisu. Do Jae sepertinya sudah hafal, jadi ia bisa langsung menangkapnya. 

Kakek: Lihat dirimu, bersikap seperti orang gila. Dengan situasi seperti ini, kau harus menyerah atas posisi direktur eksekutifmu.

Do Jae: Kakek sungguh sedang sakit? Kakek jelas tidak sekuat sebelumnya.

Kakek: Berhentilah bercanda, berandal. Aku menyuruh Sekretaris Kim kemari untuk bertemu denganku nanti.

Do Jae: Kenapa? Untuk merevisi wasiat Kakek?

Kakek: Hal itu yang membuatku terhibur belakangan ini. Satu hari, aku menulis namamu dalam wasiatku, dan kemudian mengubahnya menjadi nama Sa Ra keesokan hari. Kau bahkan tidak bisa mengontrol seorang model. Aku tidak bisa menyerahkan perusahaanku pada seseorang sepertimu.


Kakak memutar kursi rodanya untuk menatap Do Jae, bertanya apa Do Jae sungguh mengencani model itu. Do Jae mengatakan terjadi sesuatu, ia akan mengatasinya secepat mungkin.

"Kau itu pecundang. Mengencani model saja tidak bisa."


Do Jae melihat ke meja, ada karangan bunga dari ibunya, "Ibu dari sini?"

"Ibumu bilang dia sibuk."

"Putri yang jahat."

"Jangan bicara buruk tentang putriku!"

"Ibuku tidak mau mengunjungi Kakek karena terus bicara soal menghapus namaku dari ahli waris. Bagaimanapun, aku akan putranya Ibuku."

"Diam kau! Sana! Sana pergi dan lakukan pekerjaanmu, kecuali kau ingin terjun dari tebing. Jika kau memiliki satu celah saja, kau akan jatuh bahkan sebelum kusingkirkan."

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi."


Sebelum benar-benar keluar, Do Jae mengingatkan kakek untuk melakukan pemeriksaan dari kepala sampai kaki selagi sedang di Rumah sakit. Tapi kakek tetap menyuruhnya pergi.


Di lorong, Do Jae berpapasan dengan Sa Ra, tapi Do Jae melewatinya begitu saja, ia tidak bisa mengenali Sa Ra.

Sa Ra mengeluarkan suara, Do Jae tidak mau menyapa adiknya? Do Jae pura-pura tidak lihat. 

"Aku lihat kau melirikku." Balas Sa Ra lalu mendekat.


Sa Ra membahas skandal Do Jae, jadi sekarang Do Jae memiliki pacar?

"Sebenarnya, aku punya banyak. Aku tidak membutuhkan kekasih yang kau ciptakan."

"Aku tidak paham maksudmu."

"Aku kecewa. Pertarungan kita begitu melelahkan, tapi aku tidak pernah menyangka kau akan menggunakan muslihat rendahan seperti itu. Aku salah menilaimu. Jangan bertindak kelewatan. Semua ini berubah menjadi kegilaan sekarang."


Do Jae berbalik dan melanjutkan jalannya, tapi Sa Ra kembali bicara.

"Kau tulis atau tidak? Kau sedang memberiku kesempatan?"

"Maksudku adalah aku hanya akan memaafkanmu kali ini saja. Hanya karena pria yang dicintai oleh ibuku adalah ayahmu." Jawab Do Jae sambil berbalik.


Woo Mi membujuk Reporter Park agar tidak menerbitkan artikel tentang Se Gye. Hubungan itu tidak benar, Woo Mi membantahnya.

Tapi Se Gye malah berteriak pada Reporter Park kalau ia sedang berkencan dengan Do Jae. Woo Mi panik dan segera mematikan telfonnya.


Woo Mi: Hei, kau sudah gila, ya?

Eun Ho: Hei, sungguh? Kalian kencan?

Woo Mi: Hei, bahkan meski kencan betulan, kita harus menyangkalnya. Bagaimanapun caranya, kita harus menyangkalnya.


Se Gye: Kau menganggapku gila, ya? Aku tidak akan pernah mengencani bedebah sepertinya. Aku mengatakan itu untuk menyulitkannya. Skandal kencan dengan Seo Do Jae tidak akan berdampak banyak untukku. Tapi untuk Seo Do Jae, akan banyak sekali yang berubah. Aku gembira.

Eun Ho: Astaga. Otaknya pasti sedang melayang entah ke mana.

Woo Mi: Omong kosong apa yang kau bicarakan? Kau membuat hidupmu sendiri merana! Auh, aku kehabisan kata-kata. Auh, idiot ini! Apa yang harus kulakukan dengannya? Apa lagi? Lebih baik aku diam sajalah.


Se Gye tiba-tiba bertanya, kalau ia sampai menjalani beberapa pemeriksaan, mereka akan mengunjunginya, 'kan?

Woo Mi: Omong kosong apa lagi ini?

Eun Ho: Bukankah dia tadi mengancammu?

Woo Mi: Mengancam? Siapa? Seo Do Jae?

Eun Ho: Benar, dia mengancammu. Tadi, di depan orang tuaku, dia mengatakan padanya bahkan tanpa mengedipkan mata. Dia bilang, "Hari itu. Saat kau berubah". Wah, perutku sampai sakit. Aku bahkan mengonsumsi obat pencernaan.


Woo Mi kesal pada Eun Woo karena baru mengatakannya sekarang, ia bahkan menendang Eun Ho.

Woo Mi: Kami mengunjungimu? Kami akan meluluhlantakkan tempat itu dan menyelamatkanmu! Dia pasti sinting. Dia memercayainya? Bagaimana bisa dia memercayai omong kosong itu?

Se Gye: Aku ketahuan lagi olehnya di lain waktu. Dia datang ke rumahku dan melihat wajahku berubah.

Dan mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Se Gye mengatakan kalau Do Jae juga memiliki ponselnya dan ia yakin Do Jae sudah melihat semua videonya. Astaga, ia bisa gila.


Woo Mi lalu menelfon Reporter Park, ia membenarkan kalau Se Gye dan Do Jae memang berkencan. Bahkan ia meminta Reporter Park untuk menulis sebanyak mungkin artikel.


Eun Ho: Hei. Apa-apaan kau?

Woo Mi: Pertahanan terbaik adalah pelanggaran terbaik. Kita memberikan penawaran bagus. Jika Se Do Jae menolak bekerja sama, kita pun tidak akan.

Se Gye mulai mengerti maksud Woo Mi.

Se Gye: Jika dia membocorkan sesuatu, aku akan menyebut dia jadi gila setelah kucampakkan.

Woo Mi: Hal itu lebih dapat dipercaya.

Eun Ho: Bagaimana dengan bekerja? Kalian tidak pergi bekerja?

Woo Mi: Tidak terlalu buruk dianggap sebagai kekasih konglomerat. Dan dia tidak sekedar kaya saja.

Se Gye: Dia itu target terbaik. Karirku bahkan mungkin akan terbantu. Orang-orang akan penasaran.

Se Gye dan Woo Mi langsung bersalaman.

Eun Ho: Kalian sangat jahat. Jahat.


Do Jae membaca artikel terbaru. Ia langsung mengendorkan dasinya.

Do Jae: Jadi kau ingin seperti ini?


Di kantor Do Jae, Joo Hwan duduk di kuri Do Jae sambil menelfon Reporter Park untuk membantah pernyataan Se Gye. 

"Kami tidak menyetujui klaim Han Se Gye. Tidak, bukannya mereka putus. Han Se Gye pasti salah paham."

Do Jae datang, maka ia menyudahi telfonnya.


Do Jae langsung menuju ikan-ikannya. Do Jae tahu pasti Joo Hwan kurang tidur semalam gara-gara ia, 'kan?

"Aku harus dibayar untuk lemburku."

"Kuharap bukan berarti kau akan mengambil alih posisiku."

"Tidak mungkin. Tujuanku bukanlah berada di posisi puncak, tapi mendapat bayaran tertinggi. Aku ini ambisius. Aku terkejut. Kau masuk kerja."

"Kau berharap aku tidak datang?"


Joo Hwan mulai menggoda Do Jae.

"Aku hanya mengira kau akan sibuk kencan. Apakah pekerjaan antara kalian berdua lancar?"

"Begitulah."

"Jadi, sudah berapa lama sebenarnya kalian bersama?"

"Hentikan."


Do Jae menyuruh Joo Hwan meyingkir dari kursinya. Joo Hwan berdiri sambil mengatakan kalau Wakil Ketua (kakeknya Do Jae) meninggalkan pesan untuk Do Jae. 

"Apa katanya?"

"Jika kau tidak segera menyingkirkan wanita itu, aku yang akan melakukannya."


Reporter Park menelfon Joo Hwan lagi. Joo Hwan kesal, tapi Do Jae malah mengangkatnya. 

"Aku Seo Do Jae. Bisa kita bertemu pukul 1 siang? Reporter Park."

-ooo-

PS: Terus pantengin diana-recap.web.id untuk update sinopsis selanjutnya. Dan jangan lupa ajakin teman-teman kalian untuk membaca sinopsis ini. Sinopsis akan terus diupdate jika pembacanya banyak.
Terimakasih^^

0 komentar

Post a Comment