Thursday, October 4, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 2 Part 3

Sumber: jtbc


Mereka bertiga masih ingat hari itu, jika ini mimpi, Se Gyelah yang ingin terbangun. Se Gye tidak bisa membayangkan hidup tanpa mereka berdua. Nanti, ketika Woo Mi menikah, dan Eun Ho jadi Pendeta, apa yang bisa ia lakukan sendirian?

Eun Ho: Kenapa kau sendirian? Kau punya Kingkang.

Se Gye: Kingkang mungkin mati sebelum aku.

Woo Mi: Hei. Masa aku harus mengkhawatirkan pernikahan gara-gara kau? Hentikan omong kosongmu!

Se Gye: Benar. Aku bicara melantur karena mabuk. Aku akan pulang karena sudah mabuk. Minum hari ini aku yang traktir.


Woo Mi akan menemani Se Gye tapi Se Gye melarangnya karena dengan wajahnya yang sekarang, ia akan aman ke mana pun pergi. Ia tidak mau diusik kebebasan dan kesenangannya. 

Se Gye: Kau juga harus beristirahat dan bersenang-senang. Gara-gara aku, kau tidak bisa bersenang-senang.

Woo Mi: Tetap saja.

Se Gye: Aku akan memecatmu kalau kau meneleponku besok. Kau mengerti?

Woo Mi: Hanya tiga hari, oke? Aku hanya akan libur tiga hari.

Dan akhirnya Se Gye pergi.


Do Jae membandingkan tanda tangan Se Gye di nota dan di kontrak dan keduanya sama persis. Do Jae lalu membuka buku catatannya.


Do Jae membuka catatan berisi ciri-ciri wanita yang mengaku pengurus rumah Se Gye tadi.

"Wanita itu jelas bukan Han Se Gye. Tidak mungkin dia Han Se Gye. Tapi, kenapa Han Se Gye?"

"Ukuran sepatunya sekitar 240mm. Dia berjalan cepat dengan jangka langkah pendek. Dia melangkah tanpa terseok sedikitpun. Dan, gaya rambutnya. Terlalu biasa, dapat berubah dengan mudah. Kemudian pakaian yang tampak mahal. Dilihat dari modelnya, pasti dari merek rancangan desainer. Dan, kalung itu. Itulah yang menggangguku."


Do Jae kemudian membuka catatan berisi ciri-ciri Se Gye yang ia ajak meeting. 

"Dan suaranya.. Aku harus memeriksanya sendiri jika sepenasaran ini."


Do Jae mendatangi rumah Se Gye. Ia menunggu di mobil dan baru keluar saat ia melihat Ahjumma itu pulang.

Awalnya Se Gye mengira ia berhalusianasi melihat Do Jae karena terlalu mabuk. Dan saat menyadari kalau itu beneran Do Jae, ia mau kabur tapi malah jatuh dan lututnya berdarah. Ponselnya juga jatuh.


Do Jae tetap mendekat dan ia memberikan sapu tangannya untuk Se Gye gunakan mengelap darah di lututnya. Se Gye menerimanya dan berterimakasih, ia langsung bangun dan menuju pintu gerbang.


Se Gye tidak sadar sudah menjatuhkan ponselnya. Do Jae pun memungutnya, ia mau langsung memberikannya, tapi Se Gye keburu berlari ke gerbang, jadi ia memasukkan ponsel ke saku.

Do Jae mengikuti Se Gye yang sudah memencet kode pintu, ia berkata kalau ia datang karena seharusnya bertemu dengan Han Se Gye. Se Gye terkejut dan langsung berbalik.

"Dia ada di dalam?" Tanya Do Jae. 

"Tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Karena, aku tidak diberi tahu apa-apa soal itu."

"Kalau begitu, aku akan menghubungi Han Se Gye sekarang."

Do Jae mengeluarkan ponselnya. Se Gye sibuk mencari ponselnya di tas, tapi tidak menemukannya. Ia pun terpaksa menyuruh Do Jae masuk, tunggu saja di dalam. Do Jae tidak jadi menghubungi Se Gye. 


Di dalam, Kingkang langsung berlari pada Se Gye. 

Do Jae: Anjing itu pasti menyukai manusia. Dia tidak merasa malu sama sekali. Bukankah anjing biasanya hanya akrab dengan pemilik mereka?

Se Gye: Anjing ini berkepribadian santai.

Do Jae: Hari ini pasti hari libur Anda. Anda minum, 'kan?

Se Gye: Ah.. Ya, sedikit. Kopi... apakah kau suka kopi?

Do Jae: Tidak, terima kasih. Aku tidak datang untuk minum kopi.

Se Gye: Kalau begitu, aku akan coba menghubungi Han Se Gye.

Do Jae: Aku juga bisa menghubunginya.

Se Gye: Tidak. A--aku saja. Silakan duduk.


Se Gye masuk ke kamarnya, disana ia menumpahkan isi tasnya untuk mencari ponselnya tapi tidak ketemu, ia mancari dibawah bantal dan selimut, tapi tidak ada juga.

Se Gye merasa sangat mabuk walau hanya minum sedikit dan ia merasakan perasaan aneh. 


Do Jae melihat ponsel yang dijatuhkan Se Gye, ponsel itu menggunakan foto Se Gye sebagai wallpaper layar kunci. Ia mau membukanya tapi ada sandinya.


Tiba-tiba Kingkang menyalak dan masuk keruangan di dekan sana. Do Jae mengikutinya dan ternyata itu ruangan baju Se Gye.


Do Jae merasa aneh karena semua ukuran dan semua gender ada disana. Do Jae bahkan melihat pakaian yang Se Gye kenakan tadi untuk menemuinya di kafe. 


Se Gye keluar ka,ar dan melihat Do Jae ada di ruangan bajunya. Ia langsung masuk dan menegur Do jae, 

"Apa yang kau lakukan di sana?"

Se Gye segera menutup mulutnya karena ia ternyata sudah berubah menjadi dirinya sendiri. 

Do Jae: Suaranya milik Han Se Gye, tapi kau mengenakan pakaian yang sama.


Do Jae meletakkan pakaian itu dan mendekati Se Gye. Kalau dipikir-pikir pakaian itu juga terlalu mahal untuk seorang pengurus rumah.

"Pakaian ini.." Se Gye tidak tahu harusmenjelaskan bagaimana.

"Aku berpikir itu aneh."

Do Jae mencium aroma rambut Se Gye dan berkata sama. Se Gye segera menepis tanganDo Jae. Do Jae juga mencium aroma alkohol yang sama dengan aroma Ahjumma tadi.

Se Gye juga menggunakan kalung itu. 

"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Do Jae. 


Se Gye menarik tangannya.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanmu sendiri dulu? Kau menanyai orang asing apa dia Han Se Gye, lalu sekarang kau menanyaiku, Han Se Gye, siapa diriku. Kau... tidak bisa mengenali wajah, 'kan?"


Untuk membuktikannya, Se Gye menyuruh Do jae menunjuk dirinya diantara orang-orang yang berfoto bersamanya. 

"Yang mana? Mana aku di antara mereka? Jika aku memberi tahumu mana aku, bisakah kau memercayaiku?"

-ooo-


Hari berganti dan kita tidak tahu jawaban Do Jae. Do Jae diceramahi Joo Hwan karena bertindak ceroboh dengan datang ke rumah Se Gye sendirian. 

"Tidak ceroboh. Aku punya rencana."

"Ah.. Kau punya rencana untuk kecerobohan ini?"

"Apa kau guruku? Berhentilah mengomeliku."

"Kau terus melibatkan dirimu dalam masalah, tanpa hasil yang baik."

"Dia sangat aneh, wanita itu. Tidak ada yang masuk akal, tidak ada alasan. Tapi dia hanya terasa bagaikan seseorang yang berbeda. Dia terasa seperti orang lain, dan orang lain itu terasa bagaikan orang yang sama. Mereka semuanya sama."

"Kau itu bicara soal "saram = manusia" atau "sarang = cinta"? Kedengarannya seperti cinta. Tidak masuk akal, tidak ada alasan. Semua orang tampak seperti dia."


Se Gye menemui Dokter Oh sesuai jadwal. Ia menjelaskan tentang kondisinya. 

"Dalam kasusku, otakku mengalami dampak yang disebabkan oleh kecelakaan. Aku tidak bisa lagi mengenali atau mengingat detail visual dari wajah manusia karenanya. Aku memiliki masalah dalam mengingat. Sebagaimana Anda katakan padaku sebelumnya, aku bergantung pada latihan dan informasi (buku catatan tentang ciri-ciri semua orang). Menjalani metode pembedaan menggunakan informasi pendamping. Berkat latihan yang rutin, aku dapat membedakan orang-orang lebih baik dibanding mereka dengan kasus serupa."


Dokter Oh mengerti. Do Jae mengalami hal ini sudah sepuluh tahun, ia ingin tahu bagaimana pendapat Dokter Oh. 

"Dari segi mana?" Dokter Oh balik bertanya.

"Sesuatu belakangan ini membuatku bertanya-tanya. Aku terus salah mengenali seseorang dengan sosok yang tidak mungkin dirinya. Apakah kondisiku memburuk?"

"Itu, aku tidak tahu. Biar kuberi kau saran. Jika tidak bisa membedakan dengan mata, jangan gunakan penglihatan.""

"Maksudnya?"

"Bagaimana para tunanetra jatuh cinta pada orang lain? Emosi bukan berasal dari mata maupun otak. Tetapi dari tempat lain. Dan juga lebih akurat."


Do Jae keluar dari kamar hotel, ia berpapasan dengan seseorang dan orang itu menahannya. Do Jae bertanya, siapa?


Lalu datanglah Joo Hwan dan menyapa orang itu, Joo Hwan memanggilnya Wakil Ketua.


Akhirnya Do Jae bisa mengenali siapa orang itu yang tak lain adalah ibunya sendiri. 

Ibu: Aku hendak menghadiri rapat. Kau baru kembali menemui Dokter Oh?

Do Jae: Ya. Ibu memotong rambut.

Ibu: Aku harus bersyukur. Memiliki putra yang dapat langsung menyadari aku mengubah gaya rambutku.

Do Jae: Maafkan aku.

Ibu: Kalau merasa bersalah, lakukan sesuatu. Hari ini pukul 2 siang. Putri Menteri Cho.

Do Jae: Ibu.

Ibu: Kau pasti harus kembali bekerja, 'kan? Kau melakukannya dengan baik. Aku harus pergi sekarang, khawatir terlambat rapat.


Mereka melanjutkan jalan masing-masing. Dan Joo Hwan menerima telfon dari Ibunya Do Jae. 

"Joo Hwan-ah. Aku mengandalkanmu. Aku, putraku, dan seluruh grup.. semua bergantung padamu."

"Ya."

"Aku sanggup menahan situasi menyedihkan ini 100 kali lipat jika harus. Mereka hanya butuh satu kegagalannya. Satu kegagalan, segalanya akan tamat."

"Ya, saya mengerti."

"Aku mengandalkanmu."


Do Jae bertanya siapa yang menelfon Joo Hwan, tapi Joo Hwan berbohong kalau itu panggilan bisnis.

0 komentar

Post a Comment