Thursday, October 4, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 2 Part 2

Sumber: jtbc


Eun Ho mengatakan kalau Se Gye tidak bisa mengangkat telfon karena sedang mandi. Se Gye dan Woo Mi syok berat dengan jawaban Eun Ho itu.

"Benar, silakan telepon lagi nanti." Jawab Eun Ho selanjutnya lalu menutup telfon.


Se Gye memarahi Eun Ho, kenapa melakukannya? Dari semua hal yang dapat dijadikan alasan! Eun Ho memasang wajah polos, apa salahnya?

Woo Mi: Tamat sekarang. Berkemaslah. Ini benar-benar saatnya untuk pensiun.

Eun Ho tetap tidak mengerti, kenapa emang? Ia kan sudah membereskan dia.

Se Gye: Lihat betapa polosnya kau, tidak menyadari yang barusan kau katakan dapat menyebabkan sangat banyak kesalahpahaman.

Eun Ho: Apa? Apanya? Apa?

Se Gye: Kau tidak akan mengerti meski kami jelaskan. Tapi.. Kenapa rasanya seperti kita melupakan sesuatu?

Eun Ho: Apa yang kita lupakan? Makanan anjing? Aku sudah memberinya makan.

Se Gye: Berhentilah sebodoh itu!


Do Jae gak menyangka juga yang menjawab ponsel Se Gye bakalan seorang pria, ia langsung membanting ponselnya di kasur.


Se Gye ke kamar mandi dan sebelum menyalakan kran ia teringat jawaban Eun Ho kalau Se Gye sedang mandi sekarang.

"Mandi?" Ulang Se Gye lalu menyalakan kran.


Do Jae kembali heran memikirkan kejadian di pesawat, ia merasa Se Gye benar-benar wanita aneh. 


Usai mandi Se Gye bicara sendiri sambil menatap koper Se Gye. 

"Dia membuatku terganggu dalam banyak sekali cara. Haruskah kubuang saja?"


Do Jae mengirim pesan untuk Se Gye, 

"Aku ingin memastikan kau sampai rumah dengan selamat. Tidak ada maksud apa-apa."

Se Gye bingung, sebenarnya Do Jae itu tahu atau tidak? Lalu pesan dari Do Jae masuk lagi, 

"Dan juga, datanglah mengambil kopermu sebelum kubuang. Kantorku terlalu sempit untuk menyimpannya."

Se Gye ingat sekarang, yang ia lupakan itu adalah kopernya. 


Se Gye menghubbungi Woo Mi tapi nomornya tidak aktif. Ia bingung, apalagi pesan masuk lagi.

"Jika kau tidak menjawab dalam satu menit, kubuang."


Se Gye akan merelakan kopernya, tapi ia kemudian ingat sudah meletakkan hadiah dari putri CEO itu disana.

Ia pun membalas akan tiba disana dalam 1 jam. Do Jae mempersingkatnya, 30 menit. Se Gye langsung bersiap.


Ternyata Do Jae ditengah rapat saat ini, dimana Lee Timjang memaparkan hasil triwulan pertama.

Do Jae masih sibuk dengan ponselnya, ia mengirim pesan pada Se Gye, tempat ketemuan mereka di kafe depan kantor. Se Gye mengiyakan dan itu membuat Do Jae tersenyum.

Lee Timjang mengira Do Jae tersenyum karena pemaparannya, padahal di lapangan hanya mencapai 82% dari perencanaan manajemen.

Do Jae meletakkan ponselnya, "Bisakah aku mengharapkan 100 persen akhir bulan ini?"

Lee Timjang: Tentu saja, Pak.


Se Gye masuk ruangan baju, disana tersedia semua baju untuk semua usia dan semua gender. Sepatu juga ada beragam ukuran untuk semua gender. Jadi semua itu bisa ia gunakan kapapun penampilannya berubah.


Se Gye menemukan satu yang cocok untuk wajahnya saat ini. Ia memakai masker, kacamata dan syal juga, tapi menurutnya itu sangat mencolok, jadi ia hanya menggunakan syal saja, toh dengan wajahnya akan lenyap dalam sepekan.


Se Gye sampai duluan di kafe, ia menunggu dengan cemas.


Tak berapa lama kemudian Do Jae datang, ia melihat sekeliling dan memandang Se Gye yang sedang memutar-mutar cincinnya. 


Se Gye menutupi sebagian wajahnya dengan syal saat melihat Do Jae, Se Gye pun melambai.

Do Jae duduk di depan Se Gye dan memanggil nama Se Gye, ia tak menyangka Se Gye akan datang sendiri mengingat Se Gye bahkan tidak bisa menjawab teleponnya sendiri, karena sangat sibuk.

Se Gye ternyata terlambat 10 menit dan karena itu Do Jae memintanya membayar kopinya sebagai ganti parkir.

"Aku..."

"Kenapa? Kau bahkan tidak bisa membayar kopinya?"

"Bukan itu."


Se Gye melepas syalnya lalu bertanya, apa Do Jae mengenalnya? Do Jae pun permisi, ia sudah salah orang. 


Saat Do Jae berdiri, Se Gye mengaku sebagai orang yang bekerja untuk Se Gye.

Se Gye: Aku... pengurus rumahnya. Aku datang atas permintaannya. Aku akan pastikan mengantarkan kopernya.

Dan Se Gye mengambil koper itu dari Do Jae. Do Jae membiarkannya saja, ia tidak bertanya apapun dan langsung keluar.


Tiba-tiba ada anak berlari dan menabrak Do Jae, anak itu hendak menuju ibunya. Do Jae memberitahu anak itu jika berbahaya berlarian disana. 

"Di mana ibumu?" Tanya Do Jae dan anak itu menunjuk Se Gye.


Do Jae pun mengantar anak itu pada Se Gye. Ia bertanya, apa anak itu adalah anak Se Gye?

Batin Se Gye: Lagi-lagi dia mengungkit anak.

Ia pun berdiri dan menjelaskan, "Kubilang aku bukan seorang Ibu. Aku tidak punya anak."


Do Jae jadi ingat perkataan Se Gye di pesawat saat ia bertanya soal gosip anak itu, Se Gye sama membantahnya seperti saat ini. 


Ibu anak itu menghampiri dan anak itu langsung menuju ibunya. Sang Ibu berterimakasih pada Do Jae, lalu pergi bersama anaknya.

Do Jae berkata pada Se Gye kalau ia salah paham. Se Gye bergumam, lagi-lagi salah paham dan pergi membawa kopernya.


Tapi Do Jae memanggil, Se Gye udah tegang. Ternyata Do Jae hanya mau memberikan kalungnya. 

"Bukankah ini milik Anda?"

"Berikan padaku, milikku."

"Sungguh milik Anda?"

"Sudah kubilang."

"Anda yakin?"

"Aku yakin."

Se Gye pun mengambil kalung itu dan Do Jae memberikannya.


Se Gye langsung keluar dan berhenti sebentar untuk memandang Do Jae yang terus memandangnyaa sejak ia melangkah tadi.

Do Jae yakin Ahjumma itu adalah Han Se Gye. 


Do Jae lalu memandang tanda tangan di stuk kopi Se Gye. 


Saat pengantar minuman datang, Se Gye kebetulan mau keluar untuk olahraga, ia langsung menerima minuman itu. Ahjumma pengantar minuman mengira Se Gye mengganti asistennya lagi.


Orang yang datang ke rumahku setiap hari tidak mengenaliku. Dari semua orang-orang ini, tidak seorangpun yang mengenali siapa aku.


Tidak peduli apa pun yang kulakukan, bahkan jika aku mendadak mati, tidak seorangpun akan tahu.


Tapi.. kenapa dia memanggilku Han Se Gye? Bahkan meski dia mengenaliku, bukankah wajar baginya merasa salah orang?


Saat makan bareng, Se Gye menceritakan semuanya. Woo Mi marah, apa Se Gye sudah gila? Kenapa ke sana? Ingin ketahuan, ya?


Se Gye: Kalian tidak menjawab teleponku.

Woo Mi: Meski aku tidak menjawab, tunggu saja aku sampai datang. Kau menikmati ini, 'kan? Kau pikir ini lelucon? Auh, dasar sinting.


Ahjumma pemilik menghampiri untuk membawakan pesanan mereka, ia menegur Woo Mi yang bersikap kasar pada orang yang lebih tua. 

Se Gye: Tak apa. Aku sebaya dengannya, tapi wajahku mendadak berubah. Sejujurnya, aku mengidap penyakit di mana aku berubah menjadi orang lain sebulan sekali.

Eun Ho segera menyumpal mulut Se Gye dengan makanan karena sudah bicara jujur, mereka takut Ahjumma itu berpikiran aneh-aneh.

Eun Ho: Noona, kau pasti mabuk berat. Kau harus makan sesuatu juga.

Ahjumma: Benar. Jaga kakakmu. Dia kelihatan mabuk berat.


Ternyata Se Gye cuma ingin membuktikan kalau tidak seorangpun percaya walau ia mengatakan yang sebenarnya. 

Woo Mi: Terserahlah. Tidak ada gunanya mengatakan apa pun. Aku menolak kekasihku untuk kemari--

Eun Ho sungguh penasaran akan sesuatu, Woo Mi sungguh punya kekasih?

"Kurobek mulutmu!" Kesal Woo Mi.


Se Gye: Aku hanya penasaran bagaimana jika.. ada seseorang selain kalian berdua yang akan memanggilku Se Gye-ya~ bahkan meski tahu kebenarannya. Itu mustahil. Aku juga tahu. Kalian menghabiskan bertahun-tahun bersamaku, tapi masih tidak bisa mengenaliku.


Saat pertama Se Gye berubah, ia menangis di depan kamar menunggu Woo Mi, ia masih menggunakan baju rumah sakit.

Saat Woo Mi datang, ia memanggilnya dan ingin masuk ke kamar bersama Woo Mi, tapi Woo Mi tidak mengenalinya. 

"Kenapa Anda begini?"

"Kubilang ini aku. Aku. Tolong bicaralah denganku."

"Kurasa Anda salah ruangan, Nenek."

"Ini aku, Se Gye. Woo Mi, kumohon.. Woo Mi!"


Se Gye kembali menangis, ia duduk disamping pintu. Woo Mi membuka pintu sedikit dan dengan matanya sendiri, ia melihat nenek itu berubah menjadi Se Gye. 


Woo Mi pun langsung keluar, ia tidak mengerti apa yang terjadi, bagaimana bisa.. dan Woo Mi menangis karena Se Gye juga hanya menangis.

"Apa yang terjadi? Katakan sesuatu." Ucap Woo Mi.


Woo Mi kemudian menceritakannya pada Eun Ho dan Eun Ho sama sekali tidak percaya. Kebetulan Se Gye merasakannya lagi, ia langsung masuk kamar.


Dan saat keluar, Se Gye sudah berubah menjadi orang lain. Eun Ho syok berat, SIAPA KAU?!!!

"Eun Ho, ini aku. Se Gye."

Bahkan Woo Mi masih takut dengan perubahan Se Gye itu walaupun ia mencoba untuk tidak bereasksi berlebihan.


Eun Ho: Aku harus mati dulu supaya bisa bangun dari mimpi ini. Sampai jumpa nanti.

Eun Ho akan melompat dari jendela. Keduanya segera berlari mencegah Eun Ho melakukannya. 

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap