Tuesday, October 2, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 1 Part 4


Sumber: jtbc


Saat di perjalanan, Se Gye bertanya kenapa Do Jae menyuruhnya menggunakan gaun merah, rasanya tidak nyaman.

"Karena warnanya mencolok. Aku bisa mudah menemukanmu. Wanita yang keluyuran di malam hari dengan gaun merah. Itu penampakan langka."

"Rasanya seperti belenggu."

"Baguslah kau sadar."

"kau pasti sedang berkata sarkastis. Itukah yang membuatmu menjadi direktur?"

"kau pasti suka berada di situasi ekstrem. Itukah yang membuatmu menjadi aktris?"

"Licik sekali."

"kau mau keluar?"

"Boleh saja."


Dan Do Jae beneran nurunin Se Gye, meninggalkannya di jalanan yang ekstra sepi. Se Gye tidak tahu ia dimana.

"Ah.. Seharusnya biarkan saja aku di tempat tadi." Keluh Se Gye.


Se Gye terus berjalan dan ia sudah lelah. Ia juga mendapat pesan kalau tidak ada taksi di lokasinya. 

"Aku bahkan tidak bisa naik taksi dari sini. Bagaimana ini?"


Penolong datang, Do Jae kembali untuk menjemput Se Gye.

"Aku ingin menjemputmu. Sepertinya sekarang semua energimu sudah habis."

"Aku tidak bisa berdiri. Semua tenagaku habis berkat seseorang."


Do Jae pun mengulurkan tangannya. Se Gye meraihnya tapi ia terpelanting dan akan jatuh. Do Jae memutuskan memegang kedua bahunya. Mereka diam sebentar.

"Kau mau makan malam?" Tanya Do Jae. "Aku lapar."


Mereka makan bersama akhrinya. Se Gye mengira Do Jae mengajaknya makan pasti karena rasa bersalah. 

"Sudah sewajarnya mentraktir makan rekan bisnis. Jika kau ingin kabur lagi, kabari aku lebih dahulu. Dengan begitu, kita tidak akan berekan lagi."

"Aku tidak berencana kabur. Selalu terjadi dadakan, di saat tidak ada yang menduganya."


Do Jae meletakkan sumpitnya untuk menanggapi Se Gye, tammpaknya Se Gye menikmati hidup tanpa rencana, kalau dirinya sih bukan tipe orang yang bisa hidup seperti itu, iamemikul banyak tanggung jawab.

"Apa maksudmu?" Tanya Se Gye.

"Aku ingin kau berhenti merengek saat kita bekerja. kau tidak semanis yang kau pikir."


Se Gye tak peduli mau Do Jae menilainya begitu, baiklah,ia harus apa? Ia harus tahu tugasnya agar bisa berakting.

"Beraktinglah sebagai dirimu sendiri, Nona Han Se Gye. Bintang Demam Korea. Akan kuurus sisanya."

"Aku menjadi diriku? Bintang Demam Korea yang hidup ceroboh tanpa rencana?"

"Entah kau memang begitu atau tidak, tapi aku ingin berekan dengan orang yang menjadi dirinya sendiri."

"Baiklah. Kau akan bertemu dengan orang itu di pertemuan besok."

"Selagi kita bicara, bolehkah aku bertanya sebagai 

rekanmu? Ini masalah yang sangat penting. Kau benar-benar punya anak?"

"Tidak."

"Intinya, aku bukan ingin mencampuri soal itu. Kita memiliki masalah masing-masing."

"Sudah kubilang tidak benar."

"Aku bertanya karena kita harus membuat rencana jika itu 

benar. Ini untuk melindungimu."


Se Gye merasa Do Jae sangat kejam padanya. Do Jae mengelak, ia cuma menanyakan fakta, tidak bermaksud kejam. Tapi meski Do Jae memang kejam kepada Se Gye, apa Do Jae punya alasan untuk sopan terhadap Se Gye? Tidak ada kenangan baik soal mereka sejak kali pertama kita 

bertemu.

"Kukira kau orang baik." Kata Se Gye.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"kau ingin menjadi sponsor kami. Aku kira kau orang yang mengagumkan. Tapi sepertinya kau sama sekali bukan orang baik untukku. Ya, mungkin kau juga menganggapku kejam."


Sepanjang perjalanan mereka diam.


Di kamarnya, Se Gye menangis. 

"Bisa-bisanya dia bilang begitu? Benar-benar bedebah. Dia sangat menyebalkan. Ini sangat tidak adil!"


Se Gye memukul-mukulkan guling sambil terus menangis dan bicara, kali ini agak keras.  

"Benar-benar tidak adil! Aku juga tidak melakukan ini karena menyukainya! Aku juga membencinya! Dasar bedebah. kau dengar? Aku mau kau dengar! Dasar bedebah. kau memang bedebah. Kenapa kamu..."


Ternyata Do Jae ada di balkon dan bisa mendengar dengan jelas ucapan Se Gye. 

"Si Bedebah itu mendengarmu."


Sambil menunggu klien, Do Jae menyinggung mata Se Gye yang tampak bengkak. 

"Karena aku makan mi sebelum tidur." Jawab Se Gye dan itu membuat Do Jae tersenyum karena ia tahu yang sebenarnya.


Kilen mereka datang bersama putrinya. Do Jae akan mengenalkan Se Gye, tapi Se Gye bicara sendiri untuk mengenalkan dirinya sengan bahasa inggris.


Klien: Kau sungguh mengira aku menolak karena masalah model?

Do Jae: Karena itu kau mengajak Han Se Gye? Ini cara Maskapai T Road dalam menyediakan pelayanan terbaik untuk Anda dan putri Anda. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menyediakan pelayanan spesial dan terbaik untuk pelanggan kami.

Klien: Masuk akal, tapi kau membuang waktumu. Bukan Maskapai T Road yang membuatku bimbang. 

Do Jae: Sampaikan saja syarat apa pun yang Anda inginkan.


Sang putri ternyata bisa bahasa korea isyarat dan yang mengejutkan, Se Gye juga bisa, jadi mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat. 

"Aku penggemarmu."

"kau bisa berbahasa isyarat Korea?"

"Aku mempelajarinya karena ingin mengobrol langsung 

denganmu. Aku punya sesuatu untukmu."


Sang putri membuka tasnya dan memerikan hadiah yang ia bungkus sendiri. Se Gye menerimanya dan membukanya, "Terima kasih. Aku terharu. Dia mirip denganku?"

"Tidak, kau lebih cantik."

"kau lebih cantik daripada aku."

"Terima kasih."


Klien terkesan dengan Se Gye dan itu membantu kelancaran bisnis Do Jae. 

Do Jae: Model untuk kampanye sangat penting karena mereka akan mewakili perusahaan kita, termasuk kebijakan. Begitu kami menerima informasi tentang penumpang di awal, kami akan mengatur pelayanan berbahasa isyarat. Selain itu, bahasa isyarat dan terjemahan film akan disediakan selama penerbangan berlangsung. Demi pelayanan terbaik bagi semua penumpang kami, tidak akan ada pengecualian.


Di pesawat, Do Jae bertanya darimana Se Gye belajar bahasa isyarat? 

"Bisa saja aku akan kehilangan kemampuan bicaraku. Anggap saja ini karena akting. Untuk karakter yang mungkin akan kumainkan."

"Kukira aku tidak punya pilihan meski kau tidak hadir."

"Jika aku tidak hadir, kau akan berpikir aku kabur lagi. Sebenarnya, aku benci kabur dari masalah. Aku bukan melakukannya karena senang."

"Aku tahu."


Barulah Se Gye mau memandang Do Jae. Do Jae berterimakasih pada Se Gye karena berkat Se Gye pertemuan tadi lancar.

"Terima kasih. Da aku belum sempat mengatakan ini..."

"kau mau bilang apa lagi?"

"Jangan katakan. Kubilang aku tidak punya anak."

"Maafkan aku. Aku sudah bersikap kasar di rumah sakit dan kemarin. Aku selalu bersikap kasar kepadamu. Aku juga agak bermasalah."

"Seharusnya kau minta maaf lebih awal. Aku juga minta maaf. Aku minta maaf karena kabur, dan kabur lagi, dan lagi. Aku juga agak bermasalah."

"Aku tahu."


Se Gye kembali membaca koran dan Se Gye kemudian menyalakan musik dan memakai kacamatanya untuk bersiap tidur. 

Lama-lama Se Gye menyandarkan kepalanya pada Do Jae. Kali ini Do Jae agak tegang, ia bahkan berhenti membaca korannya.


Se Gye terbangun, ia merasakan sesuatu dan ia segera kabur.


Se Gye ke toilet dan ia pun berubah, ia menjadi seorang ahjumma.


Gawatnya, pesawat akan segera mendarat dan ia harus kembali ke tempat duduk. Pramugari menggedor pintu menyuruhnya keluar. Se Gye panik.


Lalu Do Jae datang.

"Apa yang terjadi?"Tanya Do Jae. 

"Sepertinya Nona Han ada di dalam, tapi dia tidak menjawabku. Apa dia pingsan?"


Do Jae menggedor pintu, "Nona Han. Jawab aku, Nona Han. Akan kuhitung sampai lima. Jika tidak, akan kudobrak. Satu, dua, tiga, empat, lima."

Pintu pun didobrak.


Se Gye menutupi wajahnya, ia panik. Do Jae mendekat, bertanya apa Se Gye baik-baik saja? 

"Aku... Kumohon..."

"Ya?"

Se Gye menarik lengan baju Do Jae, "Kumohon tolong aku. Tolong tutupi wajahku."


Do Jae tidak bertanya lagi, ia meminta selimut pada pramugari dan setelah mendapatkannya, ia langsung menutupi Se Gye dan ia bisa melihat perubahan Se Gye.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap