Tuesday, October 2, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 1 Part 3


Sumber: jtbc


Se Gye melepaskan stressnya dengan mengecat kuku. 

"Apa? Apa kau gila? Beraninya dia." Gumamnya yang ditujukan pada Do Jae.


Woo Mi datang dan ia dengan kesal bertanya apa yang sudah Se Gye lakukan. 

"Aku? Merefleksikan diri. Kau tidak lihat? Ini simbol merefleksikan diri dan penyesalan."


tapi tiba-tiba Woo Mi tersenyum lebar dan memeluk Se Gye. Se Gye sampai bingung dengan perubahan drastis Woo Mi itu. 


Lalu datanglah Eun Ho, ia memuji Se Gye yang sudah melakukan perbuatan baik, ia bangga pada kawannya itu.

Se Gye: Perbuatan baik? Aku sudah berbuat apa? Memakai cat kuku?

Eun Ho: Kudengar kau melakukan donasi. Tidak semua orang bisa beramal meski sangat kaya. 100.000 dolar.

Se Gye: 100.000 dolar?

Woo Mi: Hei, rumor tentang kau punya anak sudah tidak ada. Orang-orang bilang mereka itu anak-anak yang kau bantu. Kau bahkan mengundang mereka ke kediamanmu dan merawat mereka.

Se Gye: Itu bukan aku.

Woo Mi: Itu memang kamu.

SeGye: Tidak, bukan aku.

Woo Mi: Itu kamu. Semuanya bilang kau beramal.


Woo Mi menemani Se Gye ke tempat amal. Se Gye mengatakan kalau itu bukan dirinya, sungguh, ia mau balik, tapi Woo Mi menyeretnya karena semua orang bilang kalau Se Gye yang melakukannya.

Woo Mi: Kalau begitu, penggemarmu yang melakukannya. Penggemarmu sangat banyak.


Ada dua orang siswa yang lewat dekat mereka sambil bicara dan Se Gye mendengarnya.

Cowok: Dia mendukung kita agar kita bisa belajar dan terus mengundang kita ke acara-acara ini. Foto-foto hari ini akan beredar di internet, bukan?

Cewek: Manusia memang aneh. Mereka berasumsi orang miskin tidak merasa dipermalukan. Orang tua itu juga akan datang, bukan? Aku makin membencinya.


Se Gye tetap ingin pergi tapi Woo Mi tetap menyuruhnya masuk bahkan harus kembalimenyeretnya.


Acara pemberian Surat Penghargaan untuk para penyumbang,  Se Gye menjadi yang pertama.


Berikutnya, CEO Perusahaan Jinji, Pak Kim Tae Jin,ia juga menerima penghargaan sama seperti Se Gye.


Selanjutnya, seluruh pendukung dan pimpinan akan berfoto dengan para murid. Murid-murid dipanggil untuk maju ke panggung.


Cewek yang tadi berdiri disamping CEO Kim, namanya Ga Young. 

CEO Kim: Ga Young, kau makin tinggi. Baju seragammu tampak terlalu kecil untukmu. kau sudah hampir dewasa. Jika kita berpapasan di jalanan, aku tidak akan mengenalimu dan langsung jatuh hati.


Se Gye melihat hal itu dan mulai tidak nyaman sama seperti Ga Young karena CEO Kim mulai merangkulnya. 

CEO Kim: Kau sudah cukup matang untuk menjadi pacarku. Pacarku usianya lima tahun lebih tua darimu. Ga Young, kau mau menjadi pacarku?

Ga Young: Apa?

CEO Kim: Aku hanya bercanda. Kita harus berfoto, tersenyumlah.

Ahjussi disamping Ga Young mengatakan kalau CEO Kim berkata begitu karena amat menyukai Ga Young karena Ga Young manis, tapi siapapun juga tahu kalau CEO Kim mesum. Bahkan CEO Kim sekarang mengelus rambut Ga Young juga.

CEO Kim: Ya, dia memang manis. Aku menganggapnya putriku sendiri.


Se Gye nyeletuk, berkata kalau ia sudah tidak tahan lagi. Semua berhenti melakukan apapun, CEO kim pun melepaskan rangkulannya pada Ga Young. 


Se Gye lalu melanjutkan, ia terbiasa berfoto sendirian, berfoto beramai-ramai membuatnya tidak tahan. Semuanya ketawa kecuali Woo Mi karena tahu Se Gye akan membuat masalah lagi.


Se Gye menatap CEO Kim, "kau bisa memamerkan perbuatan baikmu. Tapi bukankah jahat jika kau memanfaatkan seorang murid seperti ini? Hanya aku yang berpikiran begini? Atau kalian cuma enggan memikirkannya? Selain itu...


Se Gye lalu mendekati CEO Kim dan tiba-tiba menyentuh bokong CEO Kim. Semua orang terkejut. CEO Kim langsung menepis tangan Se Gye. 

"Kenapa? Menurutku kau manis. Kau mengingatkanku akan ayahku. Bukankah semua gadis seperti ini kepada ayah mereka? Aku tidak tahu pasti karena tidak punya ayah." Kata Se Gye.


Se Gye: Tapi.. biasanya pria tidak begitu terhadap putri mereka. Ayah kandung pun tidak menyentuh putri mereka karena berhati-hati. Aku tidak mengerti kenapa ada pria yang merasa mereka bisa menyentuh anak orang lain, sambil mengatakan mereka manis.

CEO Kim merasa dipermalukan,ia langsung pergi setelah membanting buket bunganya dan melarang reporter untuk memotretnya.


Se Gye disalahkan sama yang lain. Woo Mi langsung naik panggung dan menarik Se Gye untukmengikutinya. 


Woo Mi kesel banget dengan kelakuan Se Gye. Se Gye menangkannya dan menjelaskan kalau ia tidak tahan karena semua berpura-pura tidak melihat. Bedebah kaya yang berpikir mereka bisa seenaknya setelah beramal, harus diberi pelajaran serius.


CEO Kim mendatangi Se Gye dengan mata menyala. Woo Mi berusaha bicara dengannya, tapi langsung di dorong. Tujuannya adalah untuk bicara pada Se Gye langsung.  

"Beraninya kau mempermalukanku seperti itu? Kau mencari uang dari senyum di depan kamera. Apa kau bahkan tahu siapa aku?"

"CEO Kim, tolong tenang. Kita bicarakan ini baik-baik." Pinta Woo Mi.


Tapi Se Gye semakin berani malahan, "Kudengar kau CEO suatu perusahaan. Siapa namamu? Tae Jin? Gae Jin (Bedebah)?"

"Apa katamu?"

"Bersyukurlah aku mencari uang dengan tersenyum di depan kamera. Jika pekerjaanku polisi, aku akan langsung menangkapmu."

"Lihat saja. Akan kuhentikan donasiku untuk yayasan ini."

"Silakan saja. Aku akan menyumbang lebih banyak untuk menutupinya."

"Bagaimana caranya? Aku akan menghubungi yayasan dan menarik semua donasi kami. Jika para murid ini kelaparan, ketahuilah itu semua salahmu. Di negara ini, uang yang menentukan kelasmu dalam piramida masyarakat. Dengan logika itu, ada banyak tokoh penting yang tunduk kepadaku. Kau tidak tahu cara kerja uang."

"Harus kuakui, kau memang tidak berkelas."

"Apa?"


Dan kita melihat Do Jae mendekat bersama sekretarisnya. Tepat saat CEO kim akan memukul Se Gye, Do Jae sampai dan langsung menahan tangan CEO Kim. 


CEO Kim bertanya siapa Do Jae. Do Jae mengatakan kalau iaadalah orang yang akan menggantikan CEO Kim menyokong Yayasan. 

"Apa? Beraninya kau bicara lancang kepadaku?"

"Kau bilang uang yang memutuskan level hierarki manusia. Lantas, levelku di atasmu. Aku akan bicara santai saja."

"Siapa kamu? Kau masih bocah ingusan.."

"Ah.. Aku belum memperkenalkan diri? Halo. Aku Presdir Perencanaan Strategis di T Road Air, Seo Do Jae."

"Seo Do Jae? Seo Do Jae.. Kalau begitu.."

"Jika kau sudah sadar, pulanglah. CEO Kim Tae Jin dari Perusahaan Jinji."

CEO Kim pun pergi dari sana.


Se Gye langsung berterimakasih pada Se Gye. Do Jae menyebut nama Se Gye lalu mencopot kacamatanya. 

Do Jae: Pertunjukan yang menarik.

Se Gye ingat siapa Do Jae dan pertemuan mereka di RS kemarin. 


Do Jae meminta ijin Se Gye untuk memandangnya. Do Jae mendekatkan wajahnya pada Se Gye sampai dekat banget, bahkan Se Gye harus mundur. 

Do Jae: Kau sudah paham situasinya? Baiklah, kalau begitu. Bayar aku kembali.


Do Jae meminta bayaran atas ponsel itu dengan Kontrak Model Iklan. Tapi Se Gye menolak menandatanganinya.

"Itu akan mempersulit keadaan. Kau difoto, dengan uangku."


Joo Hwan kemudian memperlihatkan foto-foto yang menampilkan image baru Se Gye.


Se Gye merasa Do Jae sudah mengancamnya. Tapi ternyata ancaman mereka belum sampai ke intinya. Lalu Joo Hwan membacakan artikel yang sudah ia tulis.

"Amal Malaikat Donasi terkenal, Han Se Hye, adalah palsu. Dia sudah sering muncul di acara sosial. Kami memperkirakan adanya protes keras. Donatur anonim yang mendonasikan 100.000 dolar berkata Han Se Gye, yang memanfaatkan tindakan dermawan demi keuntungan pribadi, tidak akan dihukum."

Do Jae menjelaskan kalau dalam sekali tunjuk, maka berita itu akan tersebar luas. Dunia memang sekejam itu.

Do Jin: Baiklah, keadaannya akan kian sulit jika kau enggan meneken kontrak. Bukan sulit untukku, tapi untukmu.

Se Gye: Terserah kau saja. Lagi pula, aku sudah ingin pensiun.

Woo Mi: Ya! Se Gye.

Se Gye: Aku tidak punya semangat lagi di bisnis hiburan. Saat ini, sepertinya sudah takdir bahwa aku harus pensiun.


Tapi Woo Mi tidak bisa membiarkannya, ia bahkan berlutut di depan Do Jae.

Woo Mi: Direktur, tolong maafkan kejadian ini.

Se Gye: Kenapa kau berlutut? Berdirilah.

Woo Mi: Jika kau perhatikan, Se Gye sungguh malang. Mohon belas kasihanmu dan ampuni kami.

Se Gye: Yu Daepyo!

Do Jae: Aku harus bagaimana? Semua tergantung keputusanmu.

Woo Mi: Se Gye-ya, kumohon! Aku bisa mati!

Akhirnya Se Gye mau menandatangani kontrak itu dan ia menarik Woo Mi berdiri.


Woo Mi langsung meminta pena Joo Hwan sebelum Se Gye berubah pikiran nanti. Se Gye pun menandatanganinya dengan berat hati.

Woo Mi: Sudah kami teken, hapus surel itu.

Joo Hwan: Baiklah. Oh! Sepertinya aku tidak sengaja mengirim surel itu.

Woo Mi dan Se Gye jelas terkejut.


Tapi Do Jae malah santai saja. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka email masuk lalu menghapusnya.

"Aku sudah menghapusnya. Aku tidak pernah bilang akan dikirim kepada siapa. Aku mengirim surel itu kepada diriku sendiri."

Se Gye kesal banget.


Dan karena mereka sudah menjadi rekan, Do Jae akan memberitahukan sesuatu.

"Saat kau meneken kontrak, pastikan memeriksanya lebih dahulu."

"Dasar penipu."

"Ah.. Bacalah kontrak pada halaman kedua."

Se Gye dan Woo Mi pun membuka dan membacanya, "Han Se Gye harus mengikuti tiap perjalanan dinas Seo Do Jae. Han Se Gye harus mengenakan gaun merah saat melakukan perjalanan bisnis dengan Seo Do Jae."

Dan di halaman terakhir ada tiket pesawat.

Do Jae: Itu cukup penting. Harap diingat. Mari kita lakukan perjalanan bisnis. Hanya kita berdua. Aku akan cuti setengah hari.


Se Gye pun harus pergi dengan menggunakan baju merah. Sampai di bandara, ia menelfon Woo Mi, Se Gye berkata kalau ini penipuan.

"Kau hanya pergi ke Gyeongju, bukan ke luar negeri. Pergilah. 100.000 dolar bukan jumlah kecil. Turuti saja mau mereka."

"Akan kukembalikan uangnya. Aku punya uang."

"kau tidak punya uang. Jika tidak pergi, kau harus membayar denda penalti kontrak."

"Sepertinya dia pria mesum. Dia menyuruhku mengenakan baju merah."

"Dia bilang ini rahasia penting. Pertemuan rahasia besar. Ini seperti film drama bisnis."

"kau benar-benar percaya itu? Naif sekali."

"Jangan membuat keributan. Hubungi aku jika ada apa-apa!"

"Aku takut aku yang akan menyebabkan sesuatu. Doakan aku agar tidak satu pesawat dengan orang mesum itu."


Di dalam pesawat, Se Gye dan Do Jae sama-sama membaca buku, tapi temanya berbeda. Se Gye membaca buku panduan wisata ke Gyeongju, sementara Do Jae majalan ekonomi.


Dan tiba-tiba pilot beserta awaknya menghampiri mereka untuk memperkenalkan diri.  


Usai mereka pergi, Se Gye berkata ini kali pertama ia melihat pilot datang menyambut penumpang.

"Benarkah? Aku sudah terbiasa."


Se Gye membuka kacamatany, ia tahu Do Jae saat ini tengah gugup karena duduk disebelahnya, memang sulit untuk bisa tenang saat melihat wajahnya.

"Kau mengganggu waktu membacaku, jadi, tolong diam." Jawab Do Jae.

"Hei?"

"Ada apa?"

"Aku Han Se Gye."

"Sudah kubilang diam. Kau berisik."

Se Gye pun kembali fokus pada bukunya, "Melihat reaksi kapten, pasti kau bedebah yang penting."


Se Gye melipat salah satu halaman. Ia sambil mengatakan kalau ia tidak mermaksud mengatakan tadi dengan keras.


Lalu Se Gye mendengarkan musik dan memejamkan mata.


Mereka sampai di hotel, petugas memberikan kunci kamar pada Do Jae.


Kemudian petugas menghampiri Se Gye, berkata kalau mereka akan membawakan koper Se Gye ke kamar.

"Baiklah, terima kasih."

"Biarkan kami bawakan tas itu ke kamar Anda."

Se Gye pun memberikan tasnya dan hanya membawa ponselnya.


Do Jae memberikan kunci kamar Se Gye, "Jika butuh sesuatu, datanglah ke kamarku. Kamar kita bersebelahan."

"Untuk apa aku ke kamarmu?"

"kau akan butuh ke kamarku. Koper yang kau berikan ke mereka akan diletakkan di kamarku."

"Sudah kuduga ini akan terjadi. Tadinya aku tidak yakin, tapi tampaknya kau memang mesum?"

"kau mau aku menjadi pria mesum?"

"Memangnya aku gila?"

"Syukurlah. Aku tidak bisa membuatmu salah paham kepadaku. Anggap saja semua kopermu sebagai tawananku. Aku ingin memastikan kau hadir pada pertemuan besok. Karena melarikan diri sudah seperti hobi bagimu."

"Kembalikan koperku selagi kuminta baik-baik."

"Aku tidak akan mengembalikannya meski kau meminta dengan kasar. Akan kukembalikan begitu pertemuan berakhir."


Se Gye malah jalan keluar. Do Jae heran, mau kemana? Se Gye menjawab menikmati hobinya.

"kau sudah meneken kontrakmu." Do Jae mengingatkan.

"Mungkin aku akan kembali sebelum pertemuan. Mungkin aku tidak akan kembali karena sangat menikmati hobiku."

"Kau tidak punya uang, bukan?"

"Apa pedulimu?"


Se Gye tetap naik taksi walaupun tidak punya uang. Do Jae bergumam kalau Se Gye itu sungguh wanita yang menyebalkan.


Se Gye sampai di tempat tujuan dan ongkos taksinya meminta Eun Ho yang mentranfer langsung ke supir taksinya.

"Ada apa lagi sekarang?" Tanya Eun Ho.

"Tidak ada apa-apa. Dompetku ketinggalan di hotel. Hei, jangan bilang Woo Mi soal ini."

"Memang tidak, tapi karena kau tidak ingin memberitahunya, aku makin ingin memberitahunya."

"Akan kubayar kau dua kali lipat saat pulang nanti."

"Dua kali?"

"Sepakat?"

"Sepakat."

Dan pembicaraan selesai.


Se Gye menikmati pemandangan kuil yang ada di depannya.




Tapi kemudian Do Jae memanggilnya. Se Gye heran, dari mana Se Gye tahu ia ada disana? Apa ada yang membuntutinya?

"Berhenti bercanda, ayo. Aku sudah memberimu banyak waktu untuk menikmati hobimu."

"Tadi kutanya, dari mana kau tahu aku di sini?"

Do Jae menunjukkan buku yang dibaca Se Gye tadi, yang ada lipatannya tepat di halaman yang membahas kuil itu.

"Kau membongkar isi tasku?"


Do Jae tidak menjawab, ia memberi Se Gye waktu 5 menit untuk menikmati hobinya.

"Kenapa kau membuka isi tasku?"

"Aku? Aku krediturmu. Pasti ada yang membuatmu salah paham. Aku kemari bukan untuk bermain-main. Jika kau mau, kontraknya bisa dibatalkan sekarang juga. Jawablah. Aku juga bisa mengirim surel kepada reporter dengan ini juga."


Se Gye langsung berbalik. Do Jae bertanya sedang apa Se Gye itu.

"Katamu aku punya waktu lima menit. Mulailah menghitung."

"Agak aneh orang sepertimu menyukai tempat bersejarah."

"Meski waktu sudah berlalu, tempat-tempat seperti ini akan tetap sama. Aku sangat iri."

"Tempat ini sudah direkonstruksi."


Se Gye berbalik dan menekan nada bicaranya, "Maksudku situs ini tetap sama. Situs ini!"

"Kau marah kepadaku? Kepada krediturmu?"

"Tidak. Tempat ini sangat indah dan suaraku tidak bisa terkontrol. Tempat ini indah sekali."

"Waktu lima menit sudah habis."

Do Jae jalan duluan dan Se Gye terpaksa ikut karena Do Jae kembali mengancam dengan email itu. 

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap