Tuesday, October 2, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 1 Part 2


Sumber: jtbc


Do Jae berkata kalau ia cuma bisa memaksa mereka dengan uang. Apa lagi coba? Tapi Do Jae sadar Joo Hwan tidak setuju dengannya. Do Jae bertanya, apa terlalu dangkal?

"Anda punya banyak uang, rupanya. Kredensial akademik, penampilan, kepribadian dan banyak lagi."

"Kenapa kita tidak mengutamakan penampilan? Itulah yang paling aku suka."


Dan mereka berpapasan dengan Kang Sa Ra. Do Jae tidak mengerti Sa Ra rela memakai seragam pramugari, mau konsep apa lagi ini?

"Konsep seorang Presdir yang pekerja keras. Apa ini hanya hobi untukmu, Mr. Direktur?" Jawab Sa Ra.

"Jangan terlalu kasar, ini hampir seperti kau memarahiku."

"Pikiran yang menakutkan. Memangsa apa saja akan menyebabkan sakit perut."

"Semakin tua dirimu, semakin kau bertingkah."

"Bukankah menurutmu imut ketika aku bertingkah seperti ini?"


Sa Ra sudah pergi, tapi ia berbalik lagi, ia menyarankan agar Do Jae mengubah modelnya karena kakek sangat marah.


"Jika Oppa membuat kesalahan, aku akan berterimakasih. Tahu, 'kan? Kakek tidak bersikap mudah pada siapa pun, walau mereka ada hubungan darah."

"Aku tahu. Makanya kau Presdir, meski tak ada hubungan darah. Dia pria yang sangat berkelas. Meski cuma pembawa biaya rendah bagaimana dia bisa mempercayakannya kepada orang lain?"

"Oppa, jangan sakit. Kalau kau sakit akan kesulitan. Aku sudah terlalu banyak bekerja."

"Oke. Kau terlihat lelah. Kau harus istirahat. Beri tahu kalau mau cuti. Aku bisa melakukan pekerjaanmu, sebagai hobi."

untuk oara penumpang penerbangan One Air tujuan Pulau Jeju dipersilakan menuju Zona C. Sa Ra meunu kesana, sebelumnya ia berpesan agar Do Jae santai saja.

Setelah Sa Ra menjauh Do Jae menjawab, "Santai saja? Aku tidak sebodoh itu."


Sa Ra melayani para penumpang dengan telaten dan sabar. Sementara Do Jae memperhatikannya dari jauh.

Do Jae: Kita berada di hutan belantara. Di depanku ada orang-orang yang ingin memangsaku. Di belakang ada orang-orang yang ingin menghabisiku.


Do Jae bertanya pada Joo Hwan, apa Joo Hwan tahu harus bagaimana?

"Han Se Gye.. Temukan dia, apa pun caranya. Dia harus bertanggung jawab atas semuanya." Perintah Do Jae. "Pikirnya dia bisa terus kabur dari semua kekacauan ini? Betapa naifnya."


Se Gye di rumah sakit dan Woo Mi membantunya mengambil foto. Tapi jatuhnya seperti pemotretan.


Woo Mi memperlihatkan hasilnya pada Se Gye dan hasilnya bagus-bagus. Woo Mi mempersilahkan Se Gye mau bilang apa, tapi jangan bilang punya anak. Ia, presdir berkompeten, akan mengurus soal itu, jadi Se Gye berpura-puralah sakit saja.


Se Gye mengatakan belum terlambat untuk membeli lahan pertanian terlebih Woo Mi kan menyukai tumbuhan lasak. Ia akan ikut kursus daring, jadi, ayo bertani saja!

"Kwak!"

"Kalau begitu, aku akan berpura-pura sakit saja. Sama seperti peranku sebelumnya."

"Tidak boleh! Peranmu buruk sekali!"

"Aku tahu!"

"Kwak! Sebaiknya kamu periksa secara menyeluruh. Kamu terus berubah meski bukan saatnya berubah. Aku takut ada yang tidak beres denganmu."

"Astaga, Yu Daepyo. Aku menyayangimu, Yu Daepyo."

"Sudahlah, hentikan. Sampai nanti."


Do Jae menerima informasi dari Joo Hwan bahwa Se Gye ada di rumah sakit. Joo Hwan mengetahuinya dari unggahan Se Gye di internet. Joo Hwan membaca tulisan di seragam  Se Gye, Rumah Sakit Seo Dong. Do Jae langsung putar balik untuk menuju kesana. 

"Anda tidak akan menunggu sampai aku datang?" Tanya Joo Hwan.

"Memangnya aku bocah? Kita harus menangkapnya sebelum dia melarikan diri. Dia suka melarikan diri."


Di rumah sakit, diputar drama yang dibintangi Se Gye dan semua memuji kecantikan Se Gye.  

"Dia aktris hebat. Peran itu sangat cocok untuknya. Mereka bilang dia sinting."

"Benarkah?"


Peran Se Gye sangat sedih di drama, tapi ada dokter pria yang malah menganggapnya lucu dan membuatnya ketawa. Perawat wanita takut kalau Se Gye benar-benar sakit.

"Tidak akan. Han Se Gye sama sekali tidak sakit. Dia memalsukannya. Omong-omong, dia tidak pernah melakukan bedah plastik. Aku melihat fotonya dan tidak menemukan apa pun. Payudaranya juga asli."

Tak diketahui dokter itu, ternyata Se Gye ada di belakangnya dan dengan jelas bisa mendengar ucapannya itu.


Perawat mengingatkan kalau kata-kata dokter tadi itu pelecehan seksual.

"Apa maksud kalian? Kalian terlalu sinis. Aku hanya bergurau. Jangan dianggap serius."

"Jika tidak ada yang tertawa, artinya bukan gurauan."

"Baiklah, aku minta maaf. Sepertinya kalian menyukai Han Se Gye. Kudengar dia bahkan sudah punya anak. Pantas saja gaya hidupnya begitu."

"Anda tahu dari mana?"

"Aku bisa langsung tahu dari wajah wanita. Kalian tahu siapa yang menghamilinya?"

"Siapa?"

"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja dia mengadopsi anak entah dari mana?"


Ia berbalik dan melihat Se Gye disana. Se Gye langsung pura-pura bergurau, "Aku melemparimu karena bergurau. Kenapa kau tidak tertawa? Apa urusanmu jika aku bedah plastik atau tidak? Kaulah yang butuh bedah plastik. Terutama di sini (payudara)."

"kau gila, ya? Ini rumah sakit!"


Se Gye membenarkan, ia memang gila. Siapa yang tidak gila jika berada di situasi seperti ini? DOkter lalu mendekati Se Gye.

"Situasi ini? Situasi apa maksudmu? Karena kau menyebabkan kecelakaan dan bersembunyi di rumah sakit? Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri. Jangan salah paham. Di sini tidak ada yang menyukaimu. Tidak hanya di dalam sini. Keluarlah. Semua orang sibuk membicarakanmu. Apa masalahmu?"

"Apa?"

"kau bahkan tidak tahu anak siapa yang diam-diam kau besarkan. Aku bahkan tidak ingin berbicara denganmu. Terlibat denganmu sangat memalukan. Benar-benar hari sial."


Se Gye benar-benar kesal, ia mengambil kembali jeruk ahjumma itu, sekarang ia mengambil semuanya, satu kresek, lalu ia melemparkannya satu-satu kepada dokter itu tanpa ampun. 

Se Gye: Itu tidak benar. Aku bilang tidak benar! Tidak benar!


Dokter ketakutan dan segera menjauh. Se Gye kemudian menghubungi Woo Mi. Se Gye meminta Woo Mi membawa jeruk saat datang.

Ia mendekati Ahjumma tadi untuk bertanya nomor kamarnya. Ia lalu memberitahu Woo Mi untuk membawa jeruk itu ke kamar Ahjumma. 


Semua orang refleks menghindar saat ia jalan. Tapi Se Gye tak peduli.


Se Gye menangis sendirian, "Aku salah apa? Apa yang sudah kuperbuat? Aku hanya menjalani hidupku, mereka mau apa lagi? Aku harus bagaimana?"


Kemudian ibu menelfon, ibu mengatakan kalau ia malu harus tinggal di lingkungan sekarang karena Se Gye.

"Ini sebabnya aku tidak tinggal di lingkungan rumah Ibu."

"Kenapa kau melarikan diri dari hal remeh begitu? Ibu mengenalmu sejak kau kecil. kau selalu merengek tidak ingin ke TK. Ternyata kau masih sama saja."

"Ibu tahu apa? Ibu tahu apa tentang aku!"

"Jangan kasar kepada ibumu. Siapa yang bisa ibu salahkan? Ibu yang melahirkanmu."

"Benar, ibu tidak bisa menyalahkanku. Ibu yang mengandungku!"

"kau berada di rumah sakit? kau mau ibu jenguk?"

"Tidak perlu. Sudah, ya."

"Tetap saja..."

Dan Se Gye tetap menutup telfon. Se Gye kembali menangis, ibunya tidak mengerti apa pun.


Do Jae tiba-tiba mendekat, ia bicara di telfon sama Joo Hwan, bertanya apa benar Se Gye ada disana?

Do Jae melihat Se Gye menangis, ia pun meminjamkan sapu tangannya.


Do Jae melanjutkan bicaranya di telfon, berkata kalau Se Gye sudah melarikan diri dan jika ingin menemukan Han Se Gye, mereka harus mencarinya di kelab, bukan rumah sakit, bukan? Atau hotel, soalnya ia dengar dia agak liar.

"Cari tahu siapa teman kencannya dan minta seseorang mengawasi rumah pria itu."

Se Gye jelas mendengar semua itu, dan itu membuat tangisnya berhenti seketika.


Se Gye memandang DO Jae. Do Jae bertanya pada Joo Hwan, apa suaranya terlalu keras hingga membuat seseorang berhenti menangis?


Joo Hwan: Aku sudah menginformasikan pemegang saham dan rekanan yang kesepakatan modelnya ingin kita batalkan.

Do Jae: Informasikan media juga. Kita harus memastikan agar Han Se Gye atau siapa pun itu tidak mengambil keuntungan.


Se Gye tetap gak paham sama Do Jae yang dengan tenang membicarakannya walaupun ia ada di depannya. Se Gye pun memberinya isyarat. Menunjuk matanya dengan jari lalu menggunkannya untuk menunjuk Do Jae. 

Do Jae: Sekretaris Jeong. Apa kau.. tahu bahasa isyarat?

Joo Hwan: Bahasa isyarat?

Do Jae: Dia selalu memberi isyarat seperti ini dengan jarinya. Lupakan saja. Pokoknya, kudengar dia punya anak. Cari keberadaan anak itu di dekat rumahnya. Kafe anak-anak atau penitipan anak. Cari di tempat-tempat seperti itu. Semarah apa pun dia, anaknya tidak akan ditelantarkan.


Se Gye akhirnya bersuara. Do Jae mengira Se Gye mau membicarakan soal sapu tangannya, makanya ia bilang saputangan itu untuk Se Gye saja. 


Se Gye akhirnya bersuara. Do Jae mengira Se Gye mau membicarakan soal sapu tangannya, makanya ia bilang saputangan itu untuk Se Gye saja. 

Se Gye pun mendekat, "kau sudah bersikap kasar."

"kau mengenalku? Maaf, tapi siapa namamu? Aku cepat lupa nama orang." Kata Do Jae sambil menutup telfon. 

"Astaga, ada apa lagi ini? kau berbakat menyinggung perasaan orang lain."

"kau salah paham."

"Orang yang menyakiti orang lain akan mudah lupa, sementara yang menderita akan ingat selamanya. Baiklah. Aku juga akan bersikap terus terang."

Se Gye meraih ponsel di tangan Do Jae. Se Gye bicara agak kasar, tapi sebelumnya minta maaf dulu, apa Se Gye gila? Itukah sebabnya Se Gye berada di rumah sakit ini?

"Benar. Aku memang gila. Jadi, akan kuanggap ini permohonan maafmu." Se Gye melempar ponsel Do Jae ke bawah. "Aku akan menggantinya. Kirim tagihannya kepadaku untuk mengganti ponselmu. Itu bentuk permintaan maafku."


Dan Se Gye meninggalkan Do Jae tanpa melihat ke belakang lagi.


Sampe di kantor kembali, Do Jae sepertinya belum tahu kalau yg ditemuinya tadi itu adalah Se Gye. Ia sampe menulis di buku catatannya.


Lalu datanglah Joo Hwan membawakan ponsel baru. Joo Hwan heran karena Do Jae bisa kehilangan ponsel, kaya bocah saja.  

"Aku tidak menghilangkannya. Ponsel itu dirampas dariku."

"Siapa yang merampas?"

"Entahlah."

"Tentu saja tidak tahu."


Joo Hwan mengalihkan topik bicara soal ikan di akuarium, Do Jae sudah mengawasi mereka, bukan? Do Jae menjawab 12 dari mereka baik-baik saja, berat tubuh Yorong naik dan Mimi suka memilih makanan.

"Doktor Oh akan datang." Kata Joo Hwan dan itu membuat Do Jae butuh beberapa saat untuk menjawabnya. 

"Terserah saja. Itu tidak akan mengubah apa pun. Tidak ada yang tahu."

"Anda terlahir tanpa itu. Semua ini karena kecelakaan."

"Ya, harapan itu hebat. Ada masalah apa dengan sahamnya?"

"Aku hendak memberitahu Anda. Kaila ingin mempertimbangkan kesepakatannya."

"Karena Han Se Gye? kau tidak bilang kita sudah mengakhiri kontraknya?"

"Tentu saja sudah. Tapi itu dia masalahnya."


Masalahnya Putri CEO adalah penggemar berat Han Se Gye. Joo Hwan dengar mereka bersedia karena Han Se Gye model mereka.


Do Jae: Demam Korea sangat bodoh. Kita harus bagaimana? Kalau begitu, baguslah. Kita tidak harus membuang uang dan waktu untuk mencari Han Se Gye. Bilang kepada mereka, kontraknya akan dilanjutkan.

Joo Hwan: Itu akan sulit. Kita baru saja dihubungi manajer Han Se Gye bahwa dia ingin mengakhiri kontraknya.

Do Jae: Apa? Beraninya dia merendahkan kita? Kalau begitu, tidak ada cara lain. Aku tidak suka cara ini, tapi..

Do Jae tersenyum.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap