Friday, October 12, 2018

Sinopsis Alice: Boy From Wonderland Part 3


Hwan membawa Hye Joong ke luar. Di luar Hye Joong mencari sinyal. Hwan merebut ponsel Hye Joong. Hye Jong mencoba mengambilnya kembali tapi tangan Hwan terlalu tinggi. 


Hwan menarik ikat rambut Hye Joong dan mengacak-acak rambut Hye Joong. Tapi kemudian merapikannya kembali dan memakaikan mahkota bunga.

“Ini adalah hadiah.”

Hadiah yang ia buat bersama Myodori. Hye Joong kesal, ia minta Hwan berhenti, sekarang bukan saatnya untuk bercanda.


“Tapi, pastinya kau merasa tidak nyaman.”


Lalu Hwan menyibak rambut Hye Joong agar wajah Hye Joong terlihat jelas. Hye Joong kembali merebut ponselnya lagi tapi ia malah membuat hwan terjatuh bersamanya.

“peluklah aku seperti ini.”


Hye Joong tak peduli, ia mencoba meraih ponselnya lagi tapi hwan malah melemparnya. Hye Joong berdiri untuk mencari ponselnya di gerumbulan rumput. Ia berhasil menemukannya tapi saat ia berbalik, tak ada siapapun disana.


Hye Joong memutuskan untuk masuk ke hutan. Ada sisa-sisa bunga yang digunakan Hwan untuk membuat mahkota tadi, tapi ada darah juga. Hye Joong melewatinya begitu saja dan terus melangkah masuk ke dalam hutan.


Bibi dan Shaman sampai di tempat mereka mengantar Hye Joong dulu. Shaman mengeluh pegal. Shaman mengulangi perkataannya lagi kalau mereka tidak mungkin bisa ke Wonderland.


Tapi bibi tak menghiraukannya, bibi berjalan masuk ke hutan. Walaupun kesal tapi Shaman tetap menyusul bibi.


Bibimemanggil-manggil Hye Joong. Kelopak bunga berguguran, tiba-tiba wajah bibi berdarah. Lalu ia berteriak. Shaman mendekatinya.


Dan ternyata mereka melihat kalau Lee Sun Ja sudah meninggal. Bibi bergegas mengambil bungkusan itu. shaman merebutnya, bibi tidak bisa membukanya sekarang, harus menunggu saat itu.

“kenapa tidak? Ada apa saja di dalam sini?”

Shaman menghentikan bibi yang terus mencoba membuka bungkusan itu, ia menjelaskan kalau bungkusan itu tidak lebih hanya kulitnya saja, sekalipun dibuka tidak akan bisa melihatnya. Bibi tak peduli, ia harus tahu apa yang ada di dalamnya.

“Sadarkan dirimu! Semua orang yang ada hubungannya dengan kejadian ini sudah mati atau menjadi gila. Hye Joong juga… Hye Joong sekarang tidak meninggal, tapi tidak bisa dibilang hidup juga. Jika tidak bisa menemukan apa yang hilang, dia akan meninggal. Tapi berdiam saja tanpa melakukan apapun, dia juga busa mati. Karena itu harus Hye Joong sendiri yang mencari semuanya. Soon M, tidak ada yang bisa kau lakukan.”

Bibi tidak bisa diam saja, ia merasa kalau telah terjadi sesuatu pada Hye Joong-nya. Orangnya tidak bisa ditemukan dan teleponnya juga tidak bisa tersambung. Bibi mulai menagis, ia memohon sekali ini saja untuk melihat bersama ke sana.


Shaman menjelaskan kalau hal ini bukan hal yang bisa mereka campuri. Sebelum saatnya tiba mereka tidak bisa masuk ke Wonderland. 


Malam yang gelap gulita karena rembulan tertutup awan. Hye Joong masih ada di dalam hutan sendirian, ia berjalan tak tentu arah sampai kebetulan bertemu dengan Soo Ryeon. 


Soo Ryeon mukanya sembab seperti habis menangis. Ye Joong bertanya lembut, dimana Hwan. Soo Ryeon menunjuk tanah bekas galisn yang diatasnya banyak kelopak bunga. Hnye Joong teringat saat Hwan bersimbah darah kemarin.


Hye Joong menuju ke tanah itu lalu menggalinya kembali dengan tangannya. Hwan yang muncul entah darimana menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.

“Pergilah cari tempat yang indah dan membahagiakan. “

Hye Joong menatap Hwan dan menyentuh muka Hwan, ia meneteskan airmata.


“Hwan~aa, kenapa kau ada disana?” tanya Hye Juoong sambil melihat ke bekas galiannya tadi. lalu ia pingsan.


Hwan menggendong Hye Joong kembali ke Wonderland. Soo Ryeon yang masih menangis menyuruh Hwan untuk menurunkan Hye Joong tapi Hwan tak  mau.

“Lepaskan!” Mohon Soo Ryeon

“Dia adalah milikku. Bukankah kita sudah sepakat? Membawa dia kembali ke sini dan tidak melukainya. Jika sekali lagi kau begini, aku akan melepaskan semuanya dan pergi dari sini.”

Hwan akan membawa Hye Joong kembali ke kamarnya.

“Kau juga jangan lupa janjimu. Pada saat terakhir tiba, kau akan selesaikan sendiri.”


Setelah mendengar perkataan Soo Ryeon, Hwan naik ke atas.


Hwan tidur di samping Hye Joong. Hye Joong terbangun lalu minum air. Hwan bergumam minta air juga. Hwan menarik Hye Joong, ia minum air dari mulut Hye Joong.


-= Tanggal 24 maret =-


Hwan membungkus jari-jari Hye Joong. Hye Joong jadi tak bisa makan dan cuci muka dong? Tapi Hwan berjanji akan menyuapi Hye Joong dan membantunya mencuci muka.

“maksudnya supaya aku jangan menggali-gali tanah lagi ya? ada apa gerangan dibawah gundukan tanah itu?”

Hwan tak menjawabnya, karena kaosnya kotor, ia berganti baju.


Hye Joong berkomentar, apa baju Hwan hanya itu-itu saja. Hwan menjawab tidak. Lalu Hye Joong bertanya, kenapa Hwan selalu memakai kaos kaki yang bukan pasangannya.


“AKu masih punya sebelah yang menjadi pasangannya kok. Mau lihat?”


Hwan membuka lemarinya, disana ada banyak baju tapi semua warnanya putih. 

Kemudian Soo Ryeon masuk membawakan sarapan. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung pergi.


Hye Joong mengatakan kalau Soo Ryeon akan mati. Hwan bertanya, apa didalam mimpi Hye Joong hanya ada kematian?

“Kau tidak percaya padaku rupanya.” Ujar Hye Joong dan ia berjalan menuju jendela.


Tubuh Hwan kembali terluka tiba-tiba, darah keluar tanpa sebab. Hwan keluar dari kamarnya.


Hye Joong mengikuti jejak darah. 


Bibi menyentuh bungkusan yang diletakkan di dekat ember berisi beras. Boneka yang tertancap di beras itu tiba-tiba jatuh, bibi kaget tapi untungnya Shaman gak sadar, ia ketiduran.


Bibi membawa bungkusan itu kedalam mobil lalu membukanya. Semua tali sudah terbuka, tiba-tiba Shaman muncul, bibi refleks menatap Shaman dan saat mereka beraih menatap bungkusan itu, hanya terlihat kain pembungkus saja, isinya gak ada.


-= Tanggal 27 Maret =-


Hwan melukis dikamarnya sambil melihat keluar, ke arah Hye Joong yang sedang main bersama Myodori.

Kemudian Soo Ryeon masuk membawakan susu untuk Hwan. Memintanya untuk berhenti sekarang, toh semuanya akan usai besok.

“Maaf, aku hanya mencintai dia seorang. Harus bagaimana lagi?”


“Saat itu di sisimu hanya ada dia seorang.”


Papan nama Wonderlan kembali akan jatuh. Hye Joong mengejar Myodori dan papan itu benar-benar. Hye Joong menatap kea rah papan tersebut dan ada yang menarik perhatiannya, ternyata dibalik papan itu ada 6 garis dan setiap garis ada tanggalnya. Seperti bekas mengukur tinggi badan anak kecil.


Hye Joong menanyai Hwan, apa ia pernah ke Wonderland sebelumnya.

“Mungkin… Dulu.”

“kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Karena tidak peduli apa itu yang hilang darimu, harus kau temukan sendiri.”

“Kalau begitu, semua orang akan mati? Modori juga?”

“lalu?”

“Harus menemukan sesuatu yang hilang."

Hwan mengatakan kalau besok adalah hari ulang tahunnya yang ke 24. Terjawab sudah,tanggal 28 bulan 3, umur 24. Hye Joong mengajak Hwan pergi sekarang juga.


Hwan bertanya, apa yang sebenarnya begitu ditakutkan Hye Joong. Kematoan kah? Hye joong menjawab kalau hwan dan Myodoro akan mati. 


Hye Joong menanyai Hwan, apa ia pernah ke Wonderland sebelumnya.

“Mungkin… Dulu.”

“kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Karena tidak peduli apa itu yang hilang darimu, harus kau temukan sendiri.”

“Kalau begitu, semua orang akan mati? Modori juga?”

“lalu?”

“Harus menemukan sesuatu yang hilang.

Hwan mengatakan kalau besok adalah hari ulang tahunnya yang ke 24. Terjawab sudah,tanggal 28 bulan 3, umur 24. Hye Joong mengajak Hwan pergi sekarang juga.


Hwan bertanya, apa yang sebenarnya begitu ditakutkan Hye Joong. Kematoan kah? Hye joong menjawab kalau hwan dan Myodoro akan mati. 


Hye Joong berlutut di depan Hwan, ia mohon pada Hwan, pasti Hwan tahu Apa yang terlupakan olehnya danDi manakah ingatan itu berada. Hwan tahu, ia menggerakkan tangannya, persis sama seperti kode Hye Joong pada bibi saat ia akan ke Wonderland.
                              
Air mata Hye Joong semakin deras,,”tahu darimana kau tentang ini?”


Hwan menjawab kalau orang yang ia cintai yang mengajarkannya. Hye Joong berdiri, ia menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. Ia melihat nenek berjubah diluar lalu ia mengejar nenek tersebut.


Hye Joong kembali ke hutan, ia kembali menggali tanah tapi kali ini ia berbekal sekop kecil. Ia teringat kata-akata nenek berjubah kalau semua orang pasti memiliki sesuatu yang terlupakan dan nenek memintanya untuk mencari sesuatu itu sendiri, nenek juga yang memberikan sekop itu untuk Hye Joong. Sepertinya Hye Joong menemukan sesuatu.


Hwan dan Soo Ryeon di depan perapian. Hwan melemparkan sesuatu ke dalam perapian dan selanjutnya ia akan melemparkan bungkusan kain pink (seperti milik Lee Sun Ja). Soo Ryeon merebutnya, melarang Hwan untuk membakar bungkusan itu.


“hentikan sekarang juga! Waktunya hampir tiba.” Pinta Hwan, lalu dia memasukkan bungkusan itu ke perapian.


Shaman melihat kalau bungkusan Lee Sun Ha terbakar dan ia mulai mengamitkan mantera, dibelakangnya bibi sedang berdoa.


Hwan memeluk Soo Ryeon, Lalu Hye Joong datang, ia meminta hwan minggir, ia akan membunuh Hye Joong karena sekarang ia sudah menemukan buktinya.

Soo Ryeon melepaskan pelukannya, ia menatap Hye Joong,,” Pembunuhnya adalah kau! Kau yang telah membunuh orang.”

Hye jong bersikeras kalau ia tidak pernah membunuh siapapun. Itu hanyalah sebuah mimpi.

“Semua ini bukanlah mimpi. Tapi kenyataan. Kenangan yang ingin kau lupakan, kau anggap sebagai mimpi, hanya mimpimu.”


Soo Ryeon semakin mendati Hye Joong. Hye Joong histeris, lalu melemarkan sesuatu yang membuat Soo Ryeon tersungkur dan pipinya tergores. 


Hye Joong akan memukul Soo Ryeon dengan sekopnya tapi hwan menhalanginya dan mendorongnya sampai jatuh. Hwan mengambil jimat Hye Joong lalu ia mengeluarkan kedua jimat tersebut.

Ia melihat Soo Ryeon, lalu membuang jimat yang satu ke perapian keknya jimat yang dari nenek berjubah hitam.


“Hwan, pada akhirnya kau juga tidak sanggup melindungiku.” Kata Hye Joong kecewa.


Soo Ryeon mengambil besi dan menudukannya pada Hwan sampai tembus dari punggung ke dada, darah bercucuran dan Hwan melepaskan jimat Hye Joong. Hye Joong menangisi Hwan. Soo Ryeon belum berhenti, ia mengambil sekop lalu memukulkannya ke kepala Hye Joong.


Shaman masih mengamitkan mantera lalu ia menancapkan boneka rumput sat lagi ke baskom beras. Jadi totalnya sekarang ada 4.

Shaman terus konsentrasi untuk mengamitkan mantera. Bungkusan yang awalnya terbakar separuh perlahan kembali ke bentuk semula, dan sekarang bungkusan itu utuh kembali.

“Sudah berakhir sekarang.” Ucapnya lega.

Bibi yang kelelahan berdoa tersungkur ke lantai.


-= Tanggal 28 Maret =-


Hye Joong akan menyalakan lilin di luar, tapi ia terlalu pendek. Kemudian Hwan datang untuk membantunya.

“Kau juga diomeli. Mau ciuman?”


Lalu ia mencium Hye Joong. Dan mereka menghabiskan malam bersama.


Shaman masih focus.

“Tidak, Tidak, Hye Jung~aa” Gumamnya. 


Shaman membenarkan selimut bibi. Ia meletakkan bungkusan di samping bibi.

Shaman melihat foto Brazil, kemudian ia menyuruh bibi untuk ke Brazil saja.


 Hwan bangun duluan ia teringat kata-kata Soo Ryeong,,”Jangan lupa janjimu. Pada saat terakhir, kau akan mengakhirinya.”

Lalu ia menyibak rambut  Hye Joong ke belakang telinga. 


Darah menetes di pipi Hye Joong membuatnya terbangun. Tapi saat ia menyentuh pipinya tak ada darah atau sejenisnya.

Hye Joong melihat Hwan disampingnya, ia teringat perkataan Shaman,,”jika bermimpi buruk yang tidak menyerupai mimpi buruk, jimat ini harus dibuka.”

Hye Joong mengambil jimatnya di meja hendak membukanya. Hwan menarik tangan Hye Joong,meletakkannya di wajahnya. Hye Joong menyentuh wajah Hwan, tiba-tiba luka muncul di wajah Hwan. Hye Joong langsung menjauhkan tangannya.


Hye Joong merasa kalau semua ini Cuma mimpi. Lalu ia melihat kesekitar.

Semua ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan. Tidak, ini tidak mungkin. Kalau begitu Hwan... “

Hye Joong mulai berpikir,,
Saat Hwan bersimbah darah.. Saat ia mengikuti jejak darah Hwan.. Saat ia melihat Hwan membasuh tubuh yang penuh darah…

Lalu perlahan semuanya menjadi jelas. Saat ia mendekati dua orang yang bersimbah darah, sebenarnya dua orang itu adalah dirinya dan Hwan. 


Hye Joong melangkah ke kamar yang terkunci, ia mencari kunci di lantai untuk membuka pintu. Soo Ryeon muncul,

“Mana boleh kau melakukan ini? karena itu aku harus membunuhmu.”

Hye Joong cepat-cepat mencari kunci itu lalu membuka pintu dan masuk kedalam setelah itu mengunci pintu dari dalam.

Hye Joong mendengar suara ketukan pintu.


Anak kecil mengetuk ruang baca lalu membuka pintu. Ia berkata pada Ibunya kalau ia bosan, ibunya menjawab kalau ia sedang sakit/ lalu anak beralih pada ayahnya, ayah menjawab kalau ia harus melukis. Dan anak itu menutup kembali pintu dengan kecewa.


Ibu mengatakan pada ayah kalau ia sudah tidak sakit lagi dan mint ayah untuk memeluknya, tapi ayah menampik tangan ibu, ia berkata kalau ia harus melukis karena waktunya sudah mepet. Ibu terus memohon untuk dipeluk, sebentar saja, tapi ayah tetap enggan.

“Sekarang kau masih memikirkan orang itu? Kumohon, peluklah aku sebentar.”

Ibu memeluk paksa ayah tapi ayah malah mendorong ibu,,” Mau sampai kapan kau seperti ini?”

Dan ayah meninggalkan Ibu sendiri.


Soo Ryeon melihat majikannya (ayah dan Ibu anak tadi) di luar. anak tadi mengajaknya main-main. Soo Ryeon terus melihat keluar padahal ia sedang memotong sayuran, lalu jarinya teriris.


Anak itu bertanya,,”Sakitkah?”

“Tidak apa-apa, karena ini untuk orang yang aku sayangi.” Jawab Soo Ryeon, lalu ia menempelkan plester ke untuk menutup luka di jarinya.

“orang yang disayangi?” ulang anak itu.


Lalu ia mengambil pisau di laci dan menggunakannya untuk memotong tahu. Ia mulai bosan lagi tapi ia sudah tahu kalau semua orang tak mau bermain dengannya, ia memutuskan untuk main dengan adik kecil.


Anak itu  tetap membawa pisaunya, ia melihat Ibunya menangis di ruang baca. Lalu ia menuju kamar atas, kamar yang selalu terkunci. Ia masih membawa pisaunya.


Lanjutan dari suara ketukan pintu yang di dengar Hye Joong tadi, Hye Joong kaget lalu sembunyi dibalik lemari. But, Wait.. bukannya itu lemari nenek Hye Joong?

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap