Sunday, September 30, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 1 Part 3


Sumber: jtbc


Ri Won bergabung dengan ayah dan ibu nonton drama.

Ri Won: Selalu saja diperlama. Lagipula pasti tak ada ciuman hari ini. Pasti pas episode minggu depan.

Ibu: Diam.

Tapi tebakan Ri WOn benar, ciumannya diundur minggu depan.


Ri Won: Mereka seperti babi kapitalis. Begitulah cara mereka membuat pemirsa terpikat.

Tiba-tiba terdengar teriakan Joon Young yang sangat keras membuat semuanya terkejut.


Ketiganya pun masuk ke kamar Joon Young dan melihat ada kepala manekin di lantai. Ayah ketakutan dan memeluk ibu.


Ibu mencoba membangunkan Joon Young, tapi Joon Young tidak menyahut, sudah teler.


Besoknya Sang Hyun cerita apa yang dilakukannya dengan So Hee, "Jadi kami membuka atap mobil dan melaju di Jayu Motorway. Suasananya bagus, dan musiknya bagus. Kemudian sambil menunggu, kami.. ciuman."


Teman 1 dan 2 menginterogasi Sang Hyun, mereka penasaran bagaimana melakukannya. Joon Young sebenernya juga menyimak dengan seksama.

"Rahasianya? Menurutku, waktu yang tepat. Dan matanya./
Matanya. Dan gerakan halus bibirnya. Harus manis dan sensual pada saat bersamaan. Juga, getarannya harus agak melankolis. "Sekarang". "Sekarang juga". Kau merasakannya sekarang? Ada kalanya kau tahu dia menginginkannya. Pastikan kau tidak melewatkan waktunya, kalau tidak... Kalian bayangkan saja sendiri."


Teman 1 dan 2 juga cerita apa yang dialaminya, tapi Sang Hyun lebih penasaran pada kisah Joon Young.

"Apa aku entah bagaimana caranya bisa dapat nomor teleponnya?" Tanya Joon Young.

"Apa? Tapi buat apa. Teman setiaku. Mari kita mendaftar wamil bersama, kawan." Jawab Teman 2.

Sang Hyun: Jadi barusan kaubilang ingin nomor seorang wanita? Begitukah?


DI mobil Joon Young menjelaskan kalau semuanya bukan seperti yang teman-teman kira, tas mereka tertukar, itu saja.

Sang Hyun: Sepertinya kau menyukai perempuan seperti itu, ya.

Joon Young: Aku tidak menyukainya. Aku hanya perlu mengambil tasku.

Teman 1: Dia cantik?

Joon Young: Entahlah.. Dia bukan tipeku, tapi beberapa orang mungkin berpikir dia cantik...

Teman 1: Maka seharusnya kau tidak terlambat hari ini.

Teman 2: Maka seharusnya bertemu dengannya lebih cepat dan pulang terlambat. Tapi penampilan tidak begitu penting.

Teman 1: Kenapa? Penampilan itu penting, tahu.


Teman-teman SO Hee juga iri karena So Hee bisa tukeran nomor dengan Sang Hyun.


Jadi tujuan para cowok adalah ke kampus para cewek. Saat ketemu, mereka langsung mendekati pasangan masing-masing.


So Hee: Kenapa kau datang jauh-jauh ke kampus kami?

Sang Hyun: Karena kami butuh nomor telepon.

Sa Hee: Kau lupa nomorku?

Sang Hyun: Tidak, bukan kau. Cewek yang terlambat datang kemarin.

So Hee: Apa?

Sang Hyun: Kenapa? Kau cemburu? Kau sendiri bilang kau punya pacar.

So Hee: Katamu kau tidak peduli. Dasar konyol.


Joon Young buka mulut, mengatakan kalau nomor itu bukan untuk Sang Hyun tapi untuknya.

"Oh. Kau?" Ulang So Hee.

"Kelas dia belum selesai?"

"Kelas? Aku tidak punya nomor teleponnya, tapi aku tahu dia dimana."


Sang Hyun menyuruh So Hee naik. Ia menyemangati Joon Young, semoga sukses!

"Ini bukan seperti yang kaukira."

"Aish.. Semoga berhasil dengan tasmu. Aku pergi, ya."


Young Jae membereskan salon dan saat ia melihat tas Joon Young ia kepikiran, maka ia menelfon Mi Young (teman 1) untuk menanyakan nomor Joon Young.

Young Jae: Tidak, dia bukan tipeku. Tas kami tertukar.


Saat itulah Joon Young datang, Young Jae pun menutup telfonnya.


Joon Young mengatakan kalau So Hee yang memberitahu kalau ia bisa menemui Young Jae ada disana.

Joon Young: Aku tadi ke kampusmu.

Young Jae: Kampus?

Joon Young langsung memberikan tas Young Jae kembali. Young Jae menerimanya dan tak lupa berterimakasih. Young Jae membukanya dan isinya masih lengkap.


"Aku sampai kaget lihat ada kepala manekin di dalamnya. Kau pasti bekerja di sini karena kau belajar tentang media dan hiburan."

"Begini... Aku sebenarnya.."

"Ibuku saja masih membayar biaya kuliahku dan kasih uang jajan. Kau keren sekali."

Young Jae pun kehilangan kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Joon Young segera bertanya dimana tasnya. Young Jae mengambilkannya dan langsung memberikannya pada Joon Young.


Joon Young: Aku.. pamit sekarang, ya.

Joon Young berbalik dan membuka pintu, tapi Young Jae memanggilnya.


Soo Hee pulang kerja diantar para Hyung. Hyung mengajak makan bareng tapi Soo Hee menolaknya.


Setelah mobil pergi, Soo Hee menelfon pacarnya untuk mengajak kencan karena ia dapat uang lembur. Ia akan mampir ke salon untuk menjemput Young Jae, tapi ia urungkan saat melihat Young Jae bersama cowok.

"Jeong In, Sebenarnya, bagaimana kalau kita nongkrong tanpa Young Jae malam ini? Bagaimana kalau kita minum berdua saja?"


Joon Young memakai kacamatanya, ia agak gimana dengan tatanan rambutnya.

"Bisa nanti saja bicaranya kalau tidak penting amat? Aku lagi fokus sekali saat ini." Kata Young Jae. "Tidak sakit, 'kan? Apa aku menarik rambutmu terlalu keras?"

"Tidak, tidak. Bukan begitu. Apa kau yakin keriting kelihatan cocok buat laki-laki?"


Young Jae lalu menunjukkan foto aktor hollywood, "Lihatlah. Keriting pria berbeda dari keriting ibu-ibu. Hasilnya tidak terlihat seperti itu. Tapi seperti ini. Keren sekali bukan?"

"Tapi orang ini rambutnya pirang, terus dia orang asing."


Young Jae pun mencari foto orang korea dengan rambut hitam, "Ini. Bagaimana? Kalau keriting, kau bisa kelihatan sekeren Lee Jung Jae. Dunia baru akan terbuka untukmu."

"Lee Jung Jae itu 'kan aktor. Terus dia tampan."

"Kau juga tidak jelek. Hei, kau tidak percaya padaku?"

"Bukan begitu. Aku percaya."


Akhirnya Young Jae pun bisa menyelesaikan prakteknya dan mereka harus menunggu selama 1 jam 45 menit.

"1 jam 45 menit?" Ulang Joon Young terkejut.


Jadi mereka duduk diam sambil mendengarkan radio. Young Jae membuka pembicaraan, bertanya apa Joon Young lapar? Joon Young menjawab tidak.

"Begitu, ya. Kau mau kopi?"

"Boleh."

"Oke."

"Tapi aku tidak minum kopi instan."


Maka YounG Jae memberikan bir untuk Joon Young, tapi ia minta Joon Young jangan terlalu banyak minum.

"Lupakan apa yang kau lihat kemarin." Pinta Joon Young.

"Aku belum pernah lihat seorang pria yang pilih-pilih makanan sepertimu. Kau tidak bisa minum kopi instan atau makan makanan pedas."

"Aku sensitif, bukannya pilih-pilih. Itu namanya salah paham. Dan soal kopi instan, aku tidak meminumnya karena aku lebih suka begitu. Juga, prasangka namanya jika menganggap semua pria harus jago makan pedas. Mungkin karena kau sangat pemilih dan sensitif."

"Tulisan tanganmu saja lebih rapi dari kebanyakan wanita."

"Hei, kau memeriksa barang-barangku?"

"Kau juga lihat kepala manekinku."

"Benar juga. Aku pun sampai kaget."

"Aku juga kaget. Kau pada dasarnya mengubah bukumu menjadi karya seni dengan pena multi-warna."

"Menjaga catatanmu agar tetap rapi bisa membantumu tetap fokus pada rencana belajarmu selama periode ujian."

"Jadi kau suka merencanakan, ya. Apa impianmu nanti?"

"Entahlah."

"Jadi kau punya rencana, tapi tidak ada tujuan. Orang-orang seperti kau harusnya jadi PNS saja."

"PNS?"

"Kau teliti dan pekerja keras. Kau tidak mencari cara yang lebih mudah. Kau selalu melakukan banyak hal menurut buku, jadi kau tidak akan menerima suap. Dan tidak seperti kebanyakan pria, kau tidak membual. Ini pujian dariku."


Joon Young balik menanyakan apa cita-cita YounG Jae. YounG Jae menjawab ia ingin kaya. Joon Young bertanya lagi, bagaimana caranya. Young Jae terdiam.

"Kau punya tujuan, tapi tidak ada rencana." Balas Joon Young.

"Hei, kau pernah lihat orang yang rambutnya tidak panjang-panjang?"

"Tidak."


"Pernah lihat penata rambut dengan tiga tangan? Ini pekerjaan yang sangat menjanjikan. Ini adil bagi semua orang. Sementara anak cewek lain bersenang-senang berdandan.. aku akan bekerja keras dan menjadi kaya. Itulah rencanaku."

"Kau berbeda dari kebanyakan wanita."

"Memang sangat berbeda."

"Padahal aku serius."

Dan sepertinya Young Jae agak tersentuh.


1 Jam 45 menit sudah lewat, waktunya melepas rol-nya dengan iringan lagu romantis dari radio.

Joon Young membayangnkan teori ciuman dari Sang Hyun.


Saat Young Jae ada di depannya, Joon Young merasa ini adalah waktunya. Sekarang. Sekarang.


Young Jae juga merasakan hal yang sama dan ia yang memulai duluan.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap